May 24, 2018

Narpati: Laksamana Keumalahayati akan difilmkan!

May 24, 2018 03:05 AM



(Perjuangan Laksamana Malahayati ditampilkan dalam bentuk tarian dalam acara mlah peserta menampilkan pertunjukan kolosal perjuangan Laksamana Malahayati pada acara Apel Bersama Memperingati Hari Kartini Tahun 2018 di Lapangan Silang Monas, Jakarta, Rabu (25/4/2018) Widodo S. Jusuf /Antara Foto -- dicomot dari Beritagar)

Beritagar memberitakan, Kisah Laksamana Keumalahayati dari Aceh akan difilmkan oleh Marcella Zalianty.

Sementara itu, Marcella dan kawan-kawan juga sudah menerbitkan komik Keumalahayati, jilid 1, dengan penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Jadi sudah bisa diburu di toko-toko buku Gramedia terdekat.

Digambar oleh Ardian Syaf (yang pernah menggambar Batgirl).




Laksamana Keumalahayati adalah wanita Aceh di abad 16 M yang mengepalai pasukan khusus Inong Balee yang terdiri dari para janda, bertempur melawan pasukan Eropa baik Portugis maupun Belanda yang datang ke Selat Malaka.

April 26, 2018

Narpati: [Bukan Review] AVENGERS: INFINITY WAR *Spoiler*

April 26, 2018 10:32 AM

(petunjuk bagi orang tua di akhir tulisan)

Di dasawarsa 1970an Dennis O'Neil menciptakan Ra's Al-Ghul, seorang teroris pecinta lingkungan yang berniat melakukan langkah ekstrim untuk melindungi flora dan fauna. Karakter ini muncul ke layar lebar tahun 2005 dengan perubahan motiasi dari kepedulian terhadap lingkungan hidup menjadi kebencian terhadap pemerintahan korup, dan Gotham adalah wakil dari korupnya dunia.

Pada masanya, kemunculan Ra's Al-Ghul di genre film superhero cukup radikal. Bahkan Iron Man yang muncul tahun 2008 yang mencoba meniru gaya Batman Begins, dikritik karena tidak memiliki penjahat dengan motivasi kuat. Karakter-karakter supervillain berideologi vacuum dari Marvel Cinematic Universe hingga akhirnya muncul kisah Civil War (Zemo) dan Black Panther.

Enam tahun lalu, saya tidak terlalu tertarik dengan Thanos maupun rencana Infinity War. Saya tak pernah menyukai pertempuran antar kosmik macam Fantastic Four vs Galactus, Justice League vs Apokolips, yada-yada-yada. Russo bersaudara tampaknya punya selera yang sama sepertiku dan mereka sudah dua kali mem-politisasi film Captain America dan kini mereka melakukan hal yang sama. Jika harus memilih antara karakter penjahat super yang memiliki motivisi mabuk kepayang cinta dan penjahat super yang ingin mengembalikan keseimbangan alam semesta, saya lebih menyukai kisah yang belakangan.

Maka, Thanos di adaptasi film pun berubah, menjadi seorang pungguk-merindukan-bulan menjadi sosok 'ala Thomas Robert Malthus yang meramalkan overpopulasi dan sudah terjadi di planetnya sendiri. Karena itu, ia menjelma menjadi pemimpin kultus berideologi macam Polpot, demi mencegah overpopulasi terjadi di alam semesta. "Aku sudah pernah menghindari takdirku dan tidak berakhir dengan baik, kini aku harus memenuhi takdirku" ujarnya pada putri kesayangannya, dan maka sepanjang film, Thanos berupaya mencari akik-akik mestika untuk mempermudah tugasnya semudah menjentikkan jari.

Setidaknya ada dua hal yang cukup rumit untuk membuat film ini, yang pertama adalah karakter terlalu banyak. Itu sebabnya Russo bersaudara tak terlalu ambil pusing menjelaskan masing-masing karakter dan berasumsi semua penonton atau setidaknya sebagian besar sudah mengerti karakter-karakter protagonisnya. Russo bersaudara justru lebih menekankan pada keluarga tak sempurna Thanos yang mengambil unsur-unsur Agamnenon.

Tantangan kedua adalah, bagaimana membumikan adegan perang kosmik superhero, dan Marvel tidak salah memilih Russo bersaudara untuk mengarahkan adegan ini. Russo berhasil di mana Joss Whedon, apalagi Zack Snyder gagal, yakni membuat pertempuran massal superhero memiliki kengeriannya. Dahulu saat Whedon membuat Avengers, tidak ada satupun adegan di mana kita cemas para penduduk bumi akan terluka oleh serangan Chitauri apalagi kekhawatiran tentang nasib protagonisnya. Snyder, walau mengumbar darah di mana-mana dalam film Watchmen tetapi tidak ada perasaan tegang saat menontonnya karena gayanya yang terlalu 'nyeni visual' apalagi ketika ia menyutradarai film superhero remaja yang minim darah, tak ada ketegangan sama sekali. Adegan Batman menyelamatkan Martha? Cih, itu cuma menunjukkan Snyder kebanyakan main game Arkham, tetapi tidak ada greget sama sekali.

Russo bersaudara fasih bermain dengan waktu ketegangan. Misalnya, ketika serangan pertama anak buah Thanos muncul, mereka menampilkan dari hal-hal kecil dahulu seperti getaran gempa, lalu suara-suara kepanikan dari luar. Dan ketika akhirnya karakter protagonis bertemu dengan anak buah Thanos pertama kali, ditampilkan betapa rapuhnya mereka. Ya, seperti kata teman-teman SD-ku dahulu, film laga yang bagus adalah kalau jagoannya kalah duluan.

Alhasil, bahkan walaupun sudah mendapat bocoran akhir film ini, saya tetap bisa menikmati ketegangan sepanjang film. Di sini, tak bisa hanya mengandalkan kekuatan untuk mengalahkan Thanos dan anak buahnya tetapi juga kecerdasan, kesabaran, dan tekad untuk mengorbankan diri maupun orang lain yang disayangi. Kata "war" yang berarti perang memang layak menjadi bagian dari judul film ini.


Petunjuk untuk orang tua:
Walau tanpa darah, adegan kekerasan di film ini cukup ganas. Dari adegan dada tertusuk tombak hingga dada tertusuk kapak ada di sini. Adegan mencekik leher hingga mati lemas juga muncul, begitu juga karakter sekarat karena leher tersaya juga ada. Adegan penyiksaan dengan benda-benda tajam juga muncul begitu juga adegan penyiksaan dengan cara mutilasi juga ada. Selain itu banyak ditampilkan tangan, perut, dan sejumlah anggota-anggota tubuh terpotong-potong.

Walau tidak ada ketelanjangan maupun hubungan seksual, film ini cukup banyak memuat ciuman antara karakter-karakternya sehingga mungkin untuk penonton Indonesia yang membawa anak akan kerepotan.

March 27, 2018

Narpati: Memperbaharui (Upgrade) PostgreSQL (di Ubuntu)

March 27, 2018 11:08 AM

Butuh upgrade Postgresql tetapi tidak mau kehilangan database dan role serta user yang lama?

Berikut langkahnya:


1. periksa cluster yang ada
$ pg_lscluster

2. install postgresql versi terbaru
$ sudo apt-get install postgresql-[no.versi]

3. periksa lagi cluster yang ada
$ pg_lscluster

4. matikan service postgresql
$ sudo service postgresql stop

kalau di-pg_lscluster mestinya teksnya bakal jadi merah
menandakan mereka sudah dimatikan.

5. hapus cluster postgresql yang baru
$ sudo pg_dropcluster [no.versibaru] main

atau kalau ragu, rename saja
$ sudo pg_renamecluster [no.versibaru] main nama_cluster_lain

6. upgrade cluster lama
$ sudo pg_upgradecluster [no.versilama] main

nantinya akan ada cluster baru, versi baru.
Coba saja pg_lscluster lagi


7.  silakan drop cluster lama.
$ sudo pg_dropcluster [no.versilama] main

Nah, sekarang bisa postgresql versi baru bisa dinikmati dengan password lama dan database yang lama.

petunjuk didapat dari:
https://gorails.com/guides/upgrading-postgresql-version-on-ubuntu-server

March 23, 2018

Narpati: [Bukan Review] LOVE FOR SALE (Spoiler)

March 23, 2018 03:35 AM




Sutradara: Andibachtiar Yusuf
Produser: Angga Dwimas Sasongko, Chicco Jerikho

Pertama-tama, film ini 21 tahun ke atas.
Ini bukan guyonan. Layar LSF sebelum film dimulai berwarna merah dan tulisannya menyatakan 21 tahun ke atas. Dengan kata lain, adik-adik yang masih SMU pun tak boleh menonton film ini.

Namun sejujurnya, film ini tidak layak dapat klasifikasi kejam 21 tahun ke atas kecuali untuk bagian sensitif non-seks dan itupun kalau sadar. Adegan seks, ya... sudah bisa diperkirakan ada, tetapi tidak banyak dan sebenarnya bahkan durasinya sangat singkat. Biar bagaimanapun, ini bukan film tentang seks.

Seperti yang bisa dilihat dari judulnya (dan iklannya), "cinta" di sini tidak nyata. Mungkin dari judul film atau dari iklan, kita akan geli, betapa bodohnya si karakter utama jatuh cinta pada wanita yang jelas-jelas ia "sewa". Mungkin ada yang kemudian menganggap film ini "contekan" dari "Pretty Woman" yang tersohor dari awal 90an, yaa... premis awal punya kemiripan tetapi film ini berkembang yang berbeda. Mungkin ada juga yang merasa film ini mirip dengan Her yang diperankan Joaquin Phoenix, dan ya... premis awalnya juga punya kemiripan tetapi akhirnya mungkin sedikit beda.

Kurasa, yang membedakan antara film ini dengan film-film dengan premis serupa adalah film ini mengajak berpikir, untuk apa sih jatuh "cinta"? Apakah "cinta" itu membuat diri korbannya berubah? Apakah "cinta" itu nyata seandainya obyek cintanya palsu ? Ketika si korban tersentak dari ilusinya, apakah berarti jatuh cinta itu bentuk dari perilaku sia-sia ?

Seusai menonton film ini, sejenak saya merenung, bukankah dalam kehidupan kita banyak sekali cinta pada hal yang kita anggap nyata tetapi bisa jadi sekedar ilusi belaka. Cinta tanah air misalnya, bukankah negeri ini berdiri di atas ide belaka. Kita bahkan tak tahu apakah negeri ini benar-benar mencintai kita walaupun kita sering dijejali propaganda untuk mencintai negeri ini. Apa yang membuat tanah air kita lebih layak dicintai daripada negeri orang lain? Kelak ketika kita menjadi korban ketidakadilan negeri ini dan dimusuhi mayoritas penduduk negeri ini, apakah kemudian rasa "cinta tanah air" yang selama ini kita tumbuhkan menjadi sebuah hal yang sia-sia belaka sejak awal? Jangan-jangan cinta tanah air itu tak lebih dari sekedar transaksi barter, "gue cinta ama tanah air, rela berkorban demi tanah air, selama tanah air memberikan kenyamanan buat gue".

Mungkin terlalu jauh membawa film ini ke ranah politik tetapi beberapa unsur sosial politik menyelinap ke dalam celah-celah kehidupan karakternya. Karakternya adalah sosok "Tionghoa" pemilik toko, yang memiliki teman-teman gaul nobar di kafe-kafe tetapi ketika ingin curhat, tempat mengutarakan uneg-unegnya adalah seorang konservatif yang doyan mengutip ayat-ayat Al-Quran dan tidak sungkan menunjukkan ideologi "Indonesia Tauhid"-nya. Bahkan identitas ke-Tionghoa-an karakter utamanya pun juga masih bisa dipertanyakan lagi dari dialog di tengah-tengah film.

Berbicara tentang cinta palsu, film ini bahkan di awal sempat menampilkan sebuah relasi "cinta" singkat, punah sebelum berkembang, dengan iringan dominasi "relasi kuasa" antara pihak laki-laki dan wanita. Ketika sang laki-laki menampilkan kekuasaan dalam hubungan mereka, sang wanita menangis tak bisa membela diri bahkan sukar berkata-kata. Sumpah, rasanya pengen nimpuk si laki-laki dominan yang tak lain adalah karakter utamanya, memanfaatkan hubungan 'bos - anak buah' karena kegagalan dia menjalin hubungan setara dengan wanita-wanita lain. Bahkan sebenarnya, awal hubungan "cinta" yang jadi plot utamanya juga diawali dengan sebuah relasi kuasa yang timpang, antara klien dan pemberi jasa.

Jika ada waktu, uang, dan pasangan (jomblo pun boleh tetapi lebih afdhol menonton ini berpasangan), maka tontonlah film "romantis" tak biasa dengan ketimpangan strata sosial dan nikmati bagaimana seorang pria jatuh cinta tanpa ia sangka sebelum ilusi cintanya hancur berkeping-keping. Tenang, tidak ada adegan tusuk-tusukan berdarah-darah 'ala psikopat dalam film ini.

PS: Film ini diproduseri oleh orang yang membawa Filosofi Kopi dan Buka'an 8 jadi jangan heran kalau ada poster film Filosofi Kopi nongol atau percakapan WA 'ala Buka'an 8. Selain itu, film ini dibuat oleh sutradara gila bola yang sudah bikin film-film tentang bola dari dokumenter, kisah cinta berlandaskan fanatisme bola, hingga kisah fiktif korupsi di jagat sepak bola, jadi jangan heran kalau banyak unsur sepak bola di film ini.

March 01, 2018

JePe: Perspectives and Fear

March 01, 2018 11:05 AM

Black Panther is an ongoing film with so many things to discuss. People often talks about Black movement et cetera. I find it interesting to dissect the characters, especially the lead and the antagonist.

T'Challa

T'Challa was an African descent. Raised in the protective world of Wakanda. As a Wakandan, he was born with the original environment. He would only see every other African tribes as his neighbour.

It is natural that he would have a view like the view of a Scotsman would to an Englishman. He would feel distinctive between his five tribes with the Zulu and the Ethiopian. They are not being viewed as brothers, but as neighbors that could possess national threat.

For me in Indonesia, it is like Indonesian and Malaysian would feel at each other. Both country would sometimes bring national issue and try to be hostiled at each other.

We would feel that we inherit different cultures. The language, national anthem and so on is different. While at it, Indonesian was free from the Dutch and the Malaysian is one of the British.

Yeah, it is ridiculous if we look as an outsider. I mean, both Indonesia and Malaysia is Malayan descendants. Both also having Chinese, Indian, Arab and so on. We also have the same root language in Malayan. Some of the cultures even overlapped with each other.

But, hey, sometimes we need a common enemy. That's why, N'Jadaka felt different.

N'Jadaka

N'Jadaka (a.k.a. Erik Killmonger) was an African diaspore. He was born with a washout identity. He never felt home on the land when he was born. He was raised without any original culture.

He was born in a melting pot where skin color is the differentiator. In that melting pot, he would love to identify all of the Blacks as his own. He didn't see African descent as tribes, he only see African American as his tribe.

And because he was in CIA special-op, he experienced how Black diaspore communities was on the bottom in almost all parts of the world.

That, with the heart of a weary young man who found his father dead for no reason, built his character. He felt connected with people in the same color.

As a Bataknese, I also felt that is also what is going on with many Diaspora. I see my tribemen in its origin would make different attitude than their counterpart.

As a Bataknese in Diaspora, I would often get help from fellow Diaspore. I'm a Rajagukguk Aritonang, but a Simbolon would gladly lend a hand. Everywhere we go, just because we are a fellow Bataknese, we feel we are brothers.

Oh, btw, Bataknese have their family tree intact. I could find a Simbolon in one of the leaf.

Fractures in Homeland

T'Challa is a mirror on my Bataknese homeland.

When I visited Toba Lake, North Sumatera, I saw fractures. I saw they would see us cynically. At one point, when I visitted a gift shop, I got cold shoulder. I was going to spend a sum of money at that day. But, because of the attitude, I stopped shopping.

It didn't happen quite often as I write. But, the fracture is there. Perhaps, they might feel bitterness of how the successful Diaspores would built tomb monuments instead of fixing their place.

National Interest

In film, we would support Erik. In real life, so many would love to support T'challa. We see how many far-right factions accross the globe gaining supports. Even here in Indonesia, elitist of certain part of a major religion tried to divide Indonesian for gaining support.

That's why Black Panther really pose a question that needs hard answer. Answer that would not be solved easily. But, it is an answer that many should be answering.

How would we open ourselves?

Globalization

In the advent of global economy, borders become thinner. Nations no longer  sovereigns. Merchants (mega corporations) becoming rulers.

The first mega corporation was V.O.C. at the old time. Now, we have Amazon as global stores. IBM, Apple, Nike, Honda, etc building things offshores and sell it to many countries.

These corporations would pick countries with the better incentives to put their production. Many countries now even now beg at their mercy and compete just to become the cheapest bidder.

They would put their funds on many tax havens.

Here I wonder, is tax the only way to build infrastructure? Ahok gives a clever solution with CSR to build Jakarta infrastructure. Jokowi made Toll-based high ways just to entice corporations to build infrastructure.

Anyway, corporations with the power to influence national interests really made us rethink, are we really that different anymore?

I don't want to wait until the advent of A.I. just to come with the answer.

Nationalism vs Internationalism

I can see that Wakanda becomes like Indonesia. Especially, in peace keeping.

Indonesian founding father put internationalism as one of the base -- known as Pancasila, five base points. I think that's why Indonesia is a successful melting pot despite all the drama.

Indonesia stated in its introduction to state law that it was against any of colonization.

That's why, when nations divided in cold war between the East and West, we stand as Neutral.

Unfortunately, we are not strong enough to stand as Neutrals. History wrote each Neutral countries getting shot down and replaced by different reggimes.

But, hey, at least Indonesia once becomes a force that bridging those two.

The unique Indonesian culture as a melting pot also became apperent in our Garuda Peacekeeping Army. We are accepted from Yom Kipur, Sinai, Quwait-Iraq, Iraq-Iran, Bosnia, etc.

Why?

Perhaps, we often have the same religion. Perhaps, we have the stand of humble people. Of how our culture always try to accept every people with humility and respect.

Like Obama said, Indonesia should've teach the world about becoming a melting pot.

I think the solution of this world's problem is melting pots. Too few of them. There are too many tribalism in this world.

People who would care are ones that live in those melting pot.

But, to open up is not without a risk. Some old wound in old generation would find its way to terrorize civil order. Would a society that starts to open up have the ability to forgive?

The London Bombing and so on....

Would the world cower to isolation and tribalism or we try to embrace that wounded.

No answer is easy. We need time to heal up. And its duration isn't short.

February 16, 2018

Narpati: [BUKAN REVIEW] Black Panther

February 16, 2018 09:31 PM

*dan seperti biasa Spoiler*
*untuk panduan orang tua, ada di bagian akhir*

Black Panther adalah film Marvel yang akhirnya bisa melampaui genre-nya, seperti halnya film The Dark Knight. Layaknya The Dark Knight, ada isu-isu kontemporer dalam film ini dan dapat dikatakan lebih dalam daripada Winter Soldier. Kabar buruknya, sementara The Dark Knight bisa dinikmati tanpa harus berpikir berat, Black Panther mungkin sulit dinikmati. Kuamati, banyak kawan-kawan yang mengeluh filmnya membosankan dan bikin mengantuk. Bahkan saat kutonton tadi, saya dan ibu putriku tertawa sendirian sementara sekitar kami diam sunyi.

Jadi, apa sih kisah film Black Panther ini? Kalau ada yang menceritakan film Black Panther sebagai "perebutan tahta" atau "intrik politik Wakanda", maka itu sama saja menganggap The Dark Knight sekedar film tentang Joker memasang bom di rumah sakit, di kantor polisi, dan bikin onar di sana-sini. Berbeda dengan Joker yang menghibur penonton di kemunculannya, maka Killmonger tidak semenawan Joker, tidak teatrikal, tidak memancing tawa macam Loki. Jadi gak usah heran, film yang dapat pujian dari para kritikus ini justru dianggap membosankan bagi para fans di Indonesia.

Film ini dibuka dengan seorang ayah menceritakan tentang Wakanda, negara yang menerapkan politik isolasi ala tirai besi dengan struktur monarki. Kemudian adegan beralih ke tahun 1992 pasca kerusuhan Los Angeles yang disebabkan tindakan kekerasan polisi rasis. Sementara sekelompok anak-anak afro-Amerika bermain basket di luar, di dalam apartemen, dua orang kulit hitam resah, khawatir polisi kulit putih datang menyerang. Sementara itu, di balik awan, cahaya biru menyelinap menuju ke apartemen. Kelak apa yang terjadi di apartemen ini menjadi latar belakang penyebab cerita dalam film.

Seusai 1992, film mengajak penonton ke Nigeria masa kini, salah satu negara Afrika yang menyimpan problem kekerasan oleh milisi-milisi bersenjata (misalnya Boko Haram). Kita menjumpai sang pahlawan berusaha menyelamatkan mantan kekasihnya yang sedang menyamar menjadi wanita yang diculik oleh milisi. Uniknya, ketika sang macan kumbang berniat menghabisi seorang milisi, si wanita malah menghalanginya, menyadarkannya bahwa sosok milisi yang nyaris dihabisi itu tak lebih dari prajurit anak.

Ketika karakter antagonis diperkenalkan kepada penonton, pembuat film mengajak kita melihat sebuah diskusi di kota London, salah satu bekas penjajah yang kekuasaannya meliputi seluruh penjuru bumi di abad 18-19. Sang antagonis, berdiskusi dengan seorang kurator kulit putih tentang koleksi-koleksi Afrika Barat di museum. Tentu saja, sang antagonis akhirnya menyindir bagaimana museum berhasil mendapatkan koleksi benda-benda Afrika dan bagaimana sang kurator memandangnya jijik sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di museum itu.

Apa yang dikisahkan tadi barulah menit-menit pertama dan dengan latar belakang inilah, film ini menempatkan mitologi budaya pop-nya. T'challa, sang raja muda yang baru dilantik resah melihat ketidakadilan di sekitar negaranya dan mulai mempertanyakan kebijakan isolasi yang dianut leluhurnya. Namun hal itu tidaklah mudah karena rakyat-rakyatnya tak sependapat dengannya. Berbagai perbedaan pendapat timbul mengenai sikap Wakanda terhadap dunia. Di saat yang sama, reputasi raja muda tidaklah sekuat ayahnya.

Dan ya,
film ini bercerita tentang trauma penjajahan, solidaritas atas ketertindasan, isolasionisme, pengucilan, keterasingan, kesetiaan.

Walau karakter komik Black Panther tidak diciptakan oleh Afro-Amerika -- diciptakan oleh duo Yahudi Stan Lee dan Jack Kirby --, si sutradara, Ryan Coogler, memanfaatkan kesempatan ini memamerkan budaya-budaya Afrika yang selama ini diabaikan. Mantra-mantra, siul-siul, dan dentuman musik-musik perkusi? Ada! Tato dan riasan cat tubuh? Ada! Pernak-pernik perhiasan termasuk yang unik? Ada! Bahkan baju koko dengan pola hiasan yang mirip kaligrafi Arab! Menonton tata artistik dan tata busana film ini seperti sebuah jeritan kepada kaum Afro-Amerika: ini budaya leluhurmu!

Layaknya film Marvel di bioskop lainnya, film ini aslinya untuk 13 tahun ke atas (PG-13), namun LSF dengan bijak menaruhnya di 17 tahun ke atas, sayangnya ketertutupan LSF mungkin membuat orang tua garuk-garuk kepala mempertanyakan alasannya. Tidak ada adegan darah di sini (kecuali adegan darah menetes dari luka tembak) namun sepanjang film kita dijejali penuh tembakan membawa maut. Tak hanya itu, film ini juga memiliki adegan-adegan kekerasan akibat pertarungan senjata tajam seperti tombak dan pisau. Pernah melihat adegan Captain America menusuk pembajak dengan pisau di Captain America: Winter Soldier? Nah, adegan tertusuk tombak di film ini lebih banyak, lebih lama dan menampilkan wajah korban yang kesakitan.

Kalau anda adalah orang tua yang ingin mengajak anak nonton film superhero macam Spider-man, maka sebaiknya hindari film ini dan tunggu Ant-Man dan Wasp di bulan lain. Sebaliknya, kalau anda ingin memperkenalkan bahwa kulit hitam memiliki budaya menarik, wanita-wanitanya bisa menjadi wanita-wanita yang luar biasa, dan anda ingin menunjukkan pada anak anda bagaimana perbedaan tentang politik yang membawa perang saudara, maka Black Panther adalah film yang tepat.

Oh iya,
layaknya film sarat politik,
tentu saja, tidak ada solusi 100% benar di sini. Bisa jadi anda justru lebih simpati pada karakter antagonisnya dan menganggap solusi protagonis sebagai sebuah solusi naif. Atau, bisa jadi anda adalah tetua yang pro status-quo cinta kedamaian dan kestabilan walau berarti menutup mata atas ketidakadilan di luar zona nyamanmu.

January 26, 2018

Narpati: [Bukan Review] THE GREATEST SHOWMAN *spoiler*

January 26, 2018 09:31 AM

Secara pribadi, menyadari film ini berjenis musikal, menontonnya sedikit membuatku kecewa. Aku punya harapan tinggi tetapi semua rontok kecuali beberapa adegan. Tapi bisa jadi itu semata karena aku sudah menua, tak sanggup menonton gaya sunting potong cepat (quick cut editing).

Tanpa Wikipedia, tanpa google, semata dari film semata, aku sok menerka "perlawanan" di film ini. Kisahnya mengambil masa Victoria muda, yang masih berpikiran maju (belum kolot), belum menikah dengan Pangeran Albert.

Di masa ini, kaum kapitalis sedang mencoba meraih tempatnya sementara kaum aristokrat mencoba mempertahankan posisinya. Tokoh utama film ini adalah sosok proletar yang menjelma menjadi kapitalis namun masih memiliki dendam ingin dihormati kaum aristokrat. Walau ia sudah memiliki modal besar, dendamnya membara melihat anaknya dilecehkan "bau kacang" oleh kawan-kawan balet yang rata-rata dari para aristokrat.

Tokoh utama sang kapitalis, berhasil menarik aristokrat muda menanggalkan kastanya, warisannya, dan bersama-sama mengais rezeki dengan mengeksploitasi kaum yang terpinggirkan antara lain para cacat tubuh hingga hasil campur ras.

Bisnis mereka sukses, dengan pangsa pasar para kapitalis lain dan kelas menengah namun kerja mereka tak disukai kelas aristokrat maupun kelas proletar. Bagi kelas aristrokat, usaha sirkus mereka tak lebih dari sekedar upaya tipu-menipu sementara bagi para proletar, usaha berbasis eksploitasi mahluk terpinggirkan ini tak lebih dari penyebaran kesesatan.

Phineas, sang tokoh utama, berhasil merayu seorang penyanyi opera kelas atas untuk melakukan pertunjukan tunggal. Melihat akhirnya ia sukses menarik perhatian kaum aristokrat, ia tertarik memanfaatkannya walau - - dasar kapitalis - - dengan mengeksploitasi seniman-seniman miskin agar untung yang didapat lebih tinggi.

Sementara itu, usaha eksploitasi orang-orang terpinggirkannya terlantar, hanya diserahkan pada rekan muda aristokrat yang jatuh cinta pada wanita ras campur. Rekan muda aristokrat ini tak tahu rasanya menjadi kaum bawah dan ia tak punya kemampuan menghadapi proletar konservatif yang berunjuk rasa.

Singkat cerita, bencana pun terjadi dan sang kapitalis pun bangkrut. Di akhir cerita, sang kapitalis menerima takdir bahwa kelasnya adalah kelas kapitalis dan ia tak perlu mencoba menjadi aristokrat. Sementara sang rekan aristokratnya menerima kenyataan bahwa dengan berpindah menjadi kapitalis, ia justru menemukan cinta dan hasratnya dan ia rela kehilangan warisan untuk itu.

Jadi, ya The Greatest Showman bisa ditafsirkan sebagai propaganda kapitalisme. Film ini menjual mimpi bahwa seorang proletar bisa naik kelas menjadi kapitalis. Film ini juga mengajarkan, eksploitasi orang-orang terpinggirkan bisa menjadi bentuk upaya "kemanusiaan" dengan menampilkan mereka di depan penuh percaya diri. Film ini juga mengritik para proletar konservatif yang menghambat upaya kapitalisme "memanusiakan" orang-orang terpinggirkan.

-- ditulis di Mikrolet 16 Ps Minggu - Kp Melayu

January 24, 2018

JePe: Kumbayah

January 24, 2018 11:32 PM

WARNING: This writing is the reflection of my knowledge and perception. It will absolutely contains my opinion. Some subjects may be uncomfortable for you to read as this writing explains things from many expert views which may not conform to your faith. You may disagree, but this is my honest opinion of what I've known so far.
 

Some people think "kumbayah" was a word lend from Africa. That's why there are people who would think twice to sing "Kumbayah, My Lord". They suspect "Kumbayah" is a name for an unknown African Idol. They don't want to call their God a name registered for other deity.

As a Christian, I too asked myself, "what is the proper name of our God?"

Christianity which derived from Judaism borrows many names for calling God. And from the Old Testament, we also know that even the Israelites call God with different name. Some name like Elohim was a name borrowed from a word of Canaanites for the Supreme God of gods, El. In fact, Elohim itself a plural word for gods, which in Hebrew pointed into the one God.

Interestingly, El got generalization and was refer not to an individual deity, but was referenced to any supreme God. The word also get translated into many tongues, such as Arabic ʾilāh, Aramaic ʾAlāh and Hebrew's ʾelōah. From the word Ilah, like Moslem and our Arabic speaking Christians, me and my countrymen would use Allah to call "The God".

Some people may find it uncomfortable to call "Allah" because the name seems like a borrowed word for deity from another religion. They feel that the name "Allah" is not the real name of our God. It was a trademark name for Islamic God name. A Malaysian scholar said "Allah" is a name, not a thing.  Even Malaysian court forbid other religion other than Islam to call that name.

Funny thing is, in Indonesia some Islamic people also want to have an exclusive God's name. AA Gym, a famous Islamic preacher, was using "Alloh" [A-loh] to call their God. It was derived from the Arabic pronunciation of "Allah". Some of my childhood friends also confessed that their spiritual teacher often emphasized that the name should be called "Alloh" not "Allah".

They think that "Allah" is a shared name that used in Christianity. They too seems feel uncomfortable to call a name that wasn't exclusive in this country. Well, religion is a game of exclusivity. In Indonesia, both sides purists want to be exclusive -- which is fair, I think.

The Tetragrammaton


A group of Christian purists in Indonesia made copies of Bible with the omission "Allah" from its content. They want to call their God with a Tetragrammaton name. They use the Tetragrammaton with pronunciation of Yahweh as the name of God. The pronunciation of Yahweh was actually proposed by a modern researcher, Wilhelm Gesenius. Many people also agreeing to that pronunciation.

Some people call the Tetragrammaton with Jehovah. It was a Tetragrammaton name with the "o" pronunciation like Adonai into YHWH. The word was proposed in the 13th century and first written use of this word was by a Dominican monk, Raymundus Martini, 1270.

Ah, the Tetragrammaton, YHWH. The word was such a mystery because until this day, nobody knows how to pronounce it right. There is no single known person in this world today knows how to pronounce it right.

In ancient time of Israelites, it is forbidden to even write the Tetragrammaton itself! Let alone to call The Name. Only selected priests of Israel that could call YHWH. Most Israelites would call God with substitute name such as Adonai, in which means "LORD".

The high respect for God's name was because of one of the Ten Commandments,
Thou shalt not take the name of the LORD thy God in vain; for the LORD will not hold him guiltless that taketh his name in vain.
Exodus 20:7

And to make it more complicated, the original Hebrew alphabet knows no vowels. That's why, until this day, people still trying to figure out which vowel should be in YHWH. Be it Yahweh, Jehovah, Yehuwah, et cetera, people would call Him the best they think about.

Searching More Deeper and Crazier Interpretation

To my surprise, Wikipedia stated that the first God of Israel in the bronze age was El. Based on a poet in the Bible, Deutoronomy 32:8-9:
When the Most High (Elyon, i.e., El) gave the nations their inheritance,
when he separated humanity,
he fixed the boundaries of the peoples according to the number of divine beings,
for Yahweh's portion is his people,
Jacob his allotted heritage.
Or in the unrevised form, it reads:
When Elyon gave the nations an inheritance, when he divided humankind, he set the bounds of the peoples according to the number of Bull El’s children, and Yahweh’s portion was his people, Jacob, the lot of his inheritance.
In this notion, John Hobbins noted that some scholar, like Joosten, suggested that earlier Israelites was a polytheistic nation. From this text alone, it was suggested that the Supreme High, El, was blessing his child's, Bull El, people and a rogue God from desert, Yahweh. And the million dollar question is: who was Bull El?

In this state, I think it is best to not stop but you have to search more deeper. A stop in searching for truth may detrimental to faith at this point. Half-baked idea would surely makes me an atheist or something else. So, this time I search deeper for the meaning.

It seems from the reconstruction of Old Testament by various original Bible script, the term Bull El's children constructed as:
  • Sons of Israel in Septuagint.
  • Angels of God in LXX.
  • Sons of God in some other LXX copies, Qumran text (DSS) 4QDtj and DSS 4QDtq
It seems that Bull El was none on the original Bible manuscript. It may be deemed that the conclusion of the word Bull El children should be translated with "sons of God". The argument was because of the other part on Deuteronomy and Daniel's writing containing the word explain that clearly.

Luckily, I read the comment by Mike Heiser in the John Hobbins' article, that stated Bull El and El is interchangeable. The evidence was on the verses 6 and 7. Therefore, I think we can safely assume that the three names pointed into one Being. You know, it is just a poet thing like to have diverse vocabulary and such.

My Faith

There will always be a debate and revisions to what the original scripture meant. Old Testament was written in the archaic language from an archaic time of Israelites. To make it worst, Hebrew is a dynamic language more than modern language. Many scientists will always pulling their hair just to understand the text and the context that is not exists anymore.

Some would love to write with hidden agenda of his group or backers. Some might lost at translation. Some might get it right. Who knows. As for me, I would love to draw God's name from the original context that I've read in the Bible.

The Tetragrammaton (YHWH) was an abbreviation from God's introduction to Moses as "I AM WHO I AM". As Abarim Publication write about Etimology of the name YHWH:

The key scene in this respect seems to be Exodus 3:13-15, where God names Himself first: אהיה אשר אהיה (I AM WHO I AM), then אהיה (I AM), and finally יהוה (YHWH) and states that this is his name forever and a memorial name to all generations.
Here's what I derived from the text, I think God would not want to be known by a name. Name is the label that we put to differentiate one from other. Moses lived in the age of many gods and God wouldn't wanted HIM to be on the same page as many deities.

This God, Moses, is the one and only. I think that was the simplified statement that I would conclude from the passage.

There is none other than HIM. When we said The LORD, GOD, ALLAH, Yahweh, or any respectful name, we call HIM with no other equal as HIM. He is so exclusive that He shouldn't be named for differentiation.

Even when the Israelites called HIM as Adonai, El Shaday and Elohim, He would still know that the Israelites was calling HIM. Even when the Bible itself wrote HIM with many names derived from many culture, He knows when His people calling HIM.

In my humble opinion, the state of mind when we call our God is what matters. As we call HIM, we are not in negotiation of making him the same as other gods or goddesses. For there is only one of HIM.

That's why we also call God with male term. We live in the Patriarchal society where men put above women. We call HIM "Abba Father" because the word was placed for an individual that provides guidance, food and shelters for his children. The one that put one's seed into one's children. The one that the most high in the family hierarchy. The one that should be respected.

To say that there is many tongue version of calling God, to me is a statement also that God's people should be universal. You don't need to call our Savior Yeshua Ha-Mashiach. The founding father of Christianity call him Iesos Kristos as it is evidently symbolized in IKTUS.

All in all, God not need His people to be exclusive. He only asks us to be respectful. A deep veneration to God, not just a skin deep theology that divides people with hate.

Oh, Btw,

Kumbaya is not a word for any deity. It was a phrase in an African American society on Gullah, a place in Sea Island near South Carolina. It means, "come by here".

January 10, 2018

Cynthia: Ik ga je zien, Holland!

January 10, 2018 10:15 PM




Hallo Holland!

The land of freedom, windmills, bicycle, and red light district. This country is like an European version of Japan in my opinion, looking at their organized cities, amazing technologies, and beautiful landmarks. I can picture myself growing old here. *crossing fingers*

Day Four, September 5, 2017 - Touch down Red Light District!

We arrived at Schiphol train station and getting picked up by our long lost college friend, Iang, around noon. The two lovely couple, Iang and Kania, welcoming the four of us to their beautiful home in Niew Sloten, a quiet residential area in North Amsterdam. Not long after that, we are ready to explore Amsterdam for the next five days yay!


First stop, Amsterdam Centraal (and Red Light District, hoho)

How could I know that the Red Light District is very near to the Centraal Station? I am excited already. Sex shops and marijuana kiosks are everywhere. There are windows full of women showing off their skins, yet the place seems very normal. No pickpockets. No scams. No one begging for money on the street.


After fulfilling my dark desire to see them all, we went to Dam Square. It's where all the magic (read: shops) happening. Kania warned me about this department store, called Primark. You won't get out of there empty handed, she said. Challenge accepted, I bluffed. And I lost. Happily lost, if I might say.

A beautiful evening in Dam Square


It's dark already when we get out of Primark on day one with TWO big paper bag. We promised ourselves we'll be going there again. And we did. Again and again.

Today's expense: Eur 3 from Schiphol to NinaMia's house. Eur 12.5 for GVB 48-hours ticket. Eur 2.5 for foods in Albert Heinz. Total: Eur 18. Excluding souvenirs and all the "damages" in Primark.

Day Five, September 6, 2017 - Have us some I AMsterdam and Jordaan evening stroll.

I AMsterdam is not what I expected. The spot is so touristy we can not have the whole words for ourselves. There are stickers everywhere, and I bet it's not the local who vandalize the spot.


After doing the mandatory photo shoot, we went straight to Rijksmuseum when the rain started pouring heavily with strong wind blows. My hands are literally shaking because of the cold. To avoid getting sick, we go inside a tent and I started to eat my lunch pack there to bring some of the heat back. To minimize the effect of the wind, I opened my umbrella while eating inside the tent. I don't care, I just need to get warm no matter what people around me thinking.

Finally the rain and the breezy wind stopped, we went out of the tent. There is a fountain spot outside and there we were, forget about the freezing cold moment, playing with the fountain that goes ups and downs just like a child.


Next stop, Jordaan area. Lucky us it was located in a walking distance from the Rijksmusem so we happily walk there. Passing through Anne Frank Huis museum, tempted to enter the infamous house but looking at the long queue, uh uh uh, we don't have time for that since it is almost dawn and we got hungry already.

So we just strolling in the beautiful Jordaan district and have some late snack. Kania recommend us to try the famous dutch apple pie in Cafe Winkel 43 for Eur 4.2 a piece. No kidding, it tasted really good. The crispy pie melted in your mouth effortlessly. Love it! Surprisingly even the small portion can make you full and be ready to explore the rest of Jordaan district.

The rain poured romantically as we get out of the cafe. Yes, romantically, since you don't really have to open the umbrella yet it might ruined a non-waterproof makeup. Since I didn't wear one, whatever, there I was, dancing in the rain, ignoring passerby along the bridge.











A quick hop to our favorite spot near the house, Albert Heinz! It is like Alfamart in Indonesia, but with cute and helpful young shopkeeper. WE LOVE ALBERT HEINZ! Love the crazily cheap (discounted) ready-to-cook meal and their cheap Suriname rice. We missed rice already after fed up with kebab, croissant and crepes in France, hahaha. It only cost us not more than Eur 18 for decent meal in five days!




Today's expense: Eur 4.5 in Albert Heinz. Eur 6 in Cafe Winkel. Total: Eur 10.5. Excluding gimmicks from Rijksmuseum.


Day Six, September 7, 2017 - GIETHOORN I'M IN LOVE. 

One of the unforgettable (expensive) one day road trip to Volendam - the port cities, Zaanse Schans - the windmills zone, and Giethoorn - the non-polluted village with beautiful waterways. Actually I  really dislike the idea of paying an expensive tour if we can have it cheaper self-arranged. (Un)fortunately, we can't find any cheaper way to go to Giethoorn by ourselves, let alone visiting three places in the same day. After calculating the transportation fee, even a return ticket to Giethoorn from Amsterdam will cost us nearly Eur 60/person with 4 hours bus-time. So I surrender to the only feasible option, getting a private tour.

That was a smart decision. Thank you Serbalanda, for the greatest experience ever. Meet Pak Eka Tanjung, our funny and smart companion, with knowledge, passion and love for this country I never heard about. He successfully inspired me to live the rest of my life in Holland (with my mom of course! Hahaha).


The trip started really early in the morning for sleepy-head like us. Volendam, here we come!


  
 
  The lovely wooden houses and the harbor

After enjoying the (freezing) view, we went straight to Fotograaf Zwarthoed. It's like a must visited place to shoot photo wearing traditional Dutch costume. Since we went there really early, the place is quite empty so we can took loads of photos without anyone waiting. Surprisingly the staffs can speak Bahasa really well. Outside the place, there are photos of famous Indonesian well-known and celebrities. I am amazed.



After that we continue or road trip to historical windmills in Zaanse Schans. This is where things are getting interesting. We learn how the windmill works, how the Dutch came to Indonesia to look for spices. Inside the mills, there are spices shop and a big barrel where we can guess what spices we smell without seeing it. Outside the windmill, there are clogs (dutch wooden shoes) warehouse where you can see how the clogs-maker make the clogs in real life. You can also buy authentic clogs here for quite an affordable price.



Be sure not to miss the chocolate and cheese factory too. I am going on rampage here for chocolate since it tasted really delicious and really cheap too, even cheaper than Silver Queen here. Inside the factory you can taste the cheese and chocolate for free. You can even go for rounds tasting all of them repeatedly if you still hungry, but don't forget to buy it too! I'm in love with the smoked cheese here so I bought one for home.

Satisfied with our snack souvenirs, we went outside to take photos. It is freezing already but Pak Eka didn't even put his jacket on. He said, you will go to Switzerland after this right? If you use your winter coat already here, what will you wear there? Enjoy the weather, it's not even THAT cold. And I was like &%[email protected]#!&^!!! I DON'T CARE I AM WEARING MY WINTER JACKET!

 
 
It's past our lunch time already when we go to Giethoorn. Our stomach growled crazily so Pak Eka decided to go to a fruit market owned by a family who grown the fruits by themselves. All fresh product in here is cheaper than in Jakarta. We went nuts for fresh juice, berries, bananas, peaches and plums. I tried peach for the first time here, and I love it. Never knew that peaches will be this sweet!

Arrived at Giethoorn, we went to a restaurant there to have some lunch. Cheapo me, I just ordered one small fried croquette since I bring my own lunch, haha! I will eat it on the boat!






Giethoorn, what can I say. It is so breathtakingly beautiful. The clean water, the smell of the fresh air. The wild berries you can pick freely along the waterways. The playful birds that tag you along if you feed them. And especially the lovely well-groomed house in the neighborhood. Would I came here again? DEFINITELY!



On our way back to the car, we meet one backpacker, Huseyin Patat, an under graduate student from Turkey. Pak Eka voluntarily asked him to join us and give him free ride from Giethoorn to Pesse, near German border. Quickly, he amazed us with his story traveling around the Europe from Turkey in FOUR MONTHS with only EUR 70 in his pocket. His target is coming back with more money, and of course a great experience that money can not buy. What an independent and brave young guy he is. Hopping from Turkey, Bulgaria, Serbia, Croatia, Austria, Spain, France, Belgium and Netherlands. After this, he will continue his journey to German, Poland, Ukraine and back to his family in Ankara. Best of luck for him!


Today's expense: Eur 75 for Serbalanda. Eur 3.5 for croquette. Eur 12.5 for fotograaf. Total: Eur 91. Excluding snacks and souvenirs from cheese and chocolate factory.

Day Seven, September 8, 2017 - Maid in Turnhoutplantsoen. 

After the long road trip yesterday, we start the day lazily. Outside is raining hard, we don't even have the guts to open the window and door. Today's plan is resting, cooking, washing dishes and clothes, deciding what cities to go tomorrow, and playing with NinaMia.




Today's expense: NONE! Yihaaaa...

Day Eight, September 9, 2017 - Utrecht or The Hague?

We decided it in front of the vending machine that sells train ticket, hahaha. Team Utrecht wins, so Utrecth, here we come!








Utrecht is a beautiful city with more bicycle rider than in Amsterdam. They are very skillful at riding bicycle in a steady pace that is quite fast but safe enough if there are stupid passerby not seeing them on the road.

Last but not least, eye candy spotted inside the market. Hahaha..


After collecting souvenirs in this city we went back home, get ready for the farewell dinner with The Rusadi's. We went to Wagamama Restaurant near Rijksmuseum, Papa Rusadi's favorite restaurant. The one and only restaurant I had in Amsterdam, hahaha. Cheapo me hardly ever eat in a restaurant!


 

We have to pack our bags, NOOOOO!! I have hesitation in leaving this place more than when we leave France. Maybe it's because we have to fly to Switzerland, the land of EXPENSIVE THINGS.

Today's expense: Eur 3 for return ticket to Wagamana. Eur 16 for return ticket to Utrecht. Total: Eur 19. Excluding Wagamama farewell dining and Utrecht's souvenirs.

Day Nine, September 10, 2017 - Fly to Zurich, Switzerland

Expense: Eur 8 for Uber to Schiphol Station. Pardon me, it's a really morning flight, hoaamm..

 
So total expenses in Cheapo Backpacker Trip in Amsterdam:
Five days expenses: Eur 146.5: IDR 2.344.000 (1 Eur: IDR 16.000)
Easyjet to Zurich: IDR 1,126,723/person

TOTAL: IDR 3.470.723
exclude: primark's damage, souvenirs and farewell dining.

January 05, 2018

Ramot: Mengurus KTP Riau ke KTP DKI Jakarta

January 05, 2018 09:47 AM

Akhir tahun lalu saya mengurus perpindahan KTP dari Riau ke DKI Jakarta untuk memudahkan pengurusan administrasi. Pindah dari Pekanbaru ke Jakarta sebenarnya sudah saya rencanakan sejak beberapa tahun yang lalu tapi baru mendapat kesempatan akhir tahun 2014.



Pertama-tama yang saya lakukan adalah mengurus surat pindah domisili di sebuah kelurahan di Kecamatan Sail. Selanjutnya ke Kantor Kependudukan dan Pencatatan Sipil di Pekanbaru. Di situ saya sudah langsung menerima bundel yang memiliki masa berlaku selama 1 bulan untuk segera diurus ke Jakarta.

Target kepindahan saya adalah sebuah alamat di Kelurahan Jati Padang tempat istri saya mencatatkan Kartu Keluarganya selama ini.


Rumah keluarga istri saya sebenarnya sudah lama dijual tapi Ketua RT yang lama masih mengijinkan istri saya berdomisili di situ. Ternyata pembeli pertama rumah menjual kembali ke keluarga teman SMA saya. Ketika saya menghubungi Ketua RT ternyata ketua RT telah berganti dengan kepengurusan yang baru. Sang Ketua RT Baru pun meminta saya untuk membawa surat bahwa saya diijinkan oleh pemilik rumah untuk membuat Kartu Keluarga di situ.

Saya sempat khawatir tidak memiliki cukup waktu mengingat ada masa berlaku bundel dari Pekanbaru tersebut sementara pemilik rumah masih berlibur ke luar kota. Untung saja Pak RT yang baru meyakinkan saya masa berlaku bundel tersebut tidak terlalu penting. Setelah mendapatkan Surat Keterangan Ijin Berdomisili dari pemilik rumah (yang mana beliau adalah ibu dari teman SMA), saya pun mencari waktu untuk kembali ke Pak RT sehingga mendapat Surat Pengantar untuk dibawa ke kelurahan Jati Padang. ternyata selain bundel Surat Keterangan Pindah ini perlu dilengkapi Surat Keterangan Kelakuan Baik dari Pekanbaru. Sayangnya saya tidak mungkin terbang lagi ke Pekanbaru hanya untuk selembar Surat Keterangan Kelakuan Baik. Akhirnya petugas kelurahan menyarankan saya untuk membuat sendiri Surat Keterangan Berkelakuan Baik yang kurang lebih isinya :
Menyatakan sampai saat ini tidak pernah terlibat dalam proses perkara tindak pidana dan kejahatan lainnya atau menjadi pelaku atau anggota organisasi dan atau gerakan terlarang.Surat pernyataan ini diberikan untuk keperluan pindah alamat kependudukan ke _____.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dalam kondisi sadar dan tanpa paksaan pihak manapun. Bilamana di masa depan ada pernyataan saya yang terbukti tidak benar, saya bersedia diproses sesuai hukum yang berlaku.
Nah sambil mengurus pindah domisili, saya secara bersamaan mengurus pencatatan sipil pernikahan karena memang di daerah kami hanya mengadakan pemberkatan dan acara adat. memasukkan data, memperoleh jadwal sidang, dan memperoleh surat pencatatan sipil membutuhkan total waktu sebulan. Kurang lebih Depok - Radio Dalam ditempuh 4x. Setelah saya memperoleh Akta Nikah dari Kantor Catatan Sipil baru saya kembali ke Kelurahan Jati Padang melampirkan semua dokumen yang diperlukan. Setelah memperoleh surat pengatar dari Kelurahan, hari itu juga saya antar kembali semua dokumen untuk dibawa ke Dinas Kependudukan Jakarta Selatan di Radio Dalam V. Mengantri kurang lebih 1 jam, dokumen diterima dan saya diberikan tanggal untuk kembali ke kelurahan Jati Padang.

Sesuai dengan tanggal yang diminta, saya pun kembali ke Kelurahan Jati Padang untuk foto KTP. Karena alasan kepindahan saya pindah adalah gabung kartu keluarga dengan istri, maka istri pun juga perlu memperbarui KTP nya dan Kartu Keluarganya yang lama ditarik. Usai foto, esoknya kami pun sudah dapat mengambil KTP dan Kartu Keluarga yang perlu ditandatangani oleh saya, ketua RT dan dikembalikan ke kelurahan untuk ditandatangani Pak Lurah.

Kurang lebih beginilah cerita kepindahan saya dari Propinsi Asap Hutan ke Propinsi Asap Knalpot.

December 24, 2017

Narpati: Fenomena Sejumlah "Skeptis" Terhadap Palestina: Netral atau Berkhayal Netral ?

December 24, 2017 01:15 AM

Ada bedanya antara mencoba bersikap netral dengan berkhayal telah bersikap netral tetapi sebenarnya telah menelan mentah-mentah propaganda Zionis. Keinginan bersikap netral dan adil adalah hal yang layak dipuji. Namun apatah artinya netral jika sikap kritis itu ternyata tak lebih dari hasil menelan mentah-mentah propaganda?

Sepuluh tahun lalu, propaganda zionis biasanya hanya beredar di antara kecil orang-orang Kristen yang percaya Yahudi adalah bangsa terpilih. Sementara kaum Muslimin, bahkan yang paling liberal sekalipun, yang menginginkan hubungan dagang dengan Israel sekalipun, tidak akan menyebarkan propaganda zionis melainkan hanya bersikap realistis bila tidak bisa disebut opportunis.

Sekarang, saya melihat sejumlah skeptisme menyebar bahkan di antara kaum muslim. Dengan gagah berani, menyatakan diri bersikap netral, mereka menyebarkan sejumlah propaganda-propaganda zionis yang sebenarnya tak asing. Propaganda ini mencoba menyebarkan keraguan di antara para pendukung perjuangan Palestina. Bahwa sudah ada beberapa muslim yang mulai ikut menyebarkan propaganda ini, bukti bahwa propaganda ini sudah mulai berhasil.

Berikut tiga contoh propaganda zionis yang mulai menyebar di antara orang-orang yang mengira bersikap netral:

1. BANGSA PALESTINA TIDAK ADA, YASSER ARAFAT BUKAN ORANG ASLI PALESTINA
Bangsa Palestina sesungguhnya memang tidak ada dalam sejarah zaman dahulu, dan bisa disebut bangsa khayalan -- tunggu dulu -- sama fiktifnya dengan Bangsa Indonesia yang tak pernah ada hingga munculnya Perhimpunan Indonesia dan dikukuhkan oleh Sumpah Pemuda. Jika Bangsa Indonesia awalnya adalah etnis Melayu-Austronesia yang memiliki persamaan nasib dijajah oleh Belanda, maka Bangsa Palestina adalah etnis Arab yang memiliki persamaan nasib, yakni tanah mereka dijajah oleh Zionis atau bahkan mereka terusir dari tanah mereka dan tidak terserap secara emosional oleh etnis Arab lain yang sudah membentuk negara sendiri yang tercipta di masa pan-Arabisme.

Yasser Arafat memang lahir di Mesir, sebelum negara Israel lahir. Namun ayahnya dan keluarga dari ayahnya punya ikatan emosional dengan tanah Palestina. Seandainya Yasser Arafat tak punya hubungan keluarga dengan penduduk Palestina, maka kepeduliannya dan rasa emosi terhadap tanah Palestina sudah tak diragukan lagi bahkan ia sudah diakui oleh rakyat Palestina sebagai bagian dari mereka. Ini bukan hal yang asing bagi Bangsa Indonesia. Dalam sejarah Indonesia, sejumlah kaum Indo-Belanda macam Setiabudi (Douwes Dekker) atau HC Princen juga diakui sebagai Bangsa Indonesia oleh rakyat Indonesia.


2. BANGSA PALESTINA SUKA MENCARI MASALAH, TERPECAH BELAH
Para sok-netral biasanya akan memberikan daftar kekerasan yang dilakukan oleh faksi-faksi yang ada dalam perjuangan Palestina terhadap rakyat sipil Israel. Terkadang mereka juga memberikan pertikaian antar faksi-faksi di Palestina, mencoba memberikan pesimisme bahwa perjuangan Palestina akan gagal karena dinilai "menciptakan neraka sendiri".

Seharusnya para sok-netral itu paham bahwa dalam perjuangan meraih kemerdekaan, terkadang munculnya faksi-faksi yang saling bertikai tidak terelakkan. Bahkan Indonesia pun pernah mengalami semula di mana antar faksi saling mengejek, culik-menculik, bahkan bunuh-membunuh. Bahkan di antara faksi yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, kadang ada juga yang melakukan kejahatan perang. Namun semua insiden dalam perjuangan itu tidak berarti keinginan sebuah bangsa untuk merdeka layak diabaikan.

Selain itu, salah seorang sok-netral itu tak sadar, bahwa di antara faksi-faksi bertikai di Palestina sudah ada usaha-usaha rekonsiliasi bertahun-tahun. Bahkan salah satu usaha terbaru untuk rekonsiliasi itu terjadi di tahun 2017 ini. Tapi karena pada dasarnya si sok-netral itu memang sudah menelan propaganda zionis, pengetahuan tentang perpecahan faksi yang ia sebarkan di medsosnya itu tak lebih dari sekedar berita basi.

3. ISRAEL ADALAH NEGARA MODERN YANG JAUH LEBIH DEMOKRATIS DARIPADA NEGERI-NEGERI ARAB
Pertama, harus dibedakan antara bersikap realistis dengan menelan propaganda.
Kita menerima Amerika Serikat adalah negeri yang berdaulat tetapi bukan berarti kita membenarkan berbagai konflik terhadap penduduk asli dalam sejarah negeri mereka. Begitu pula, kita menerima Australia adalah negeri yang berdaulat tetapi bukan berarti kita membenarkan berbagai kebijakan yang merugikan penduduk asli di negeri mereka.

Israel, adalah negara yang sudah menunjukkan kekuatannya berkali-kali, jadi adalah wajar keinginan untuk mengakui kedaulatannya. Namun, bahkan seandainya diakui kedaulatannya pun, bukan berarti harus menutup mata atas penjajahannya terhadap Palestina, menutup mata atas sejarah mereka mengusir etnis Arab di awal-awal berdirinya negara mereka.

Berbicara tentang keterwakilan pun, benar bahwa etnis Arab cukup terwakili secara proporsional di Knesset mereka namun itu hanya jika kita mengabaikan sejarah perubahan drastis perbandingan populasi etnis di wilayah ini pasca Aliyah dan juga mengabaikan populasi yang terusir dari tanah mereka dan belum terserap di negeri tetangga melainkan masih mendamba kembali ke tanah leluhur.

Berbicara tentang "kebaikan Israel", mungkin sebaiknya kenang juga "kebaikan Belanda" atas negeri ini. Dahulu, pasca Perang Jawa, Belanda hanya minta seperlima tanah untuk ditanam tanaman komoditas dan mereka membantu menjualkan ke pasar Eropa dan membagi sebagian kepada penguasa-penguasa lokal. Belanda dengan politik etisnya juga mendidik bangsa Indonesia, bahkan memberikan beasiswa kepada beberapa siswa untuk belajar di negeri mereka. Belanda juga menyediakan posisi-posisi kerja dengan upah lumayan. Perusahaan-perusahaan Belanda di negeri Indonesia juga mempekerjakan tenaga-tenaga kerja pribumi. Lalu kenapa Indonesia masih ingin merdeka dari Belanda ?

Selalu ada kisah di balik kisah, narasi di balik narasi. Tak perlulah saya yang awam ini memaparkan beberapa perbedaan antara teori legal Israel dan praktek di lapangannya. Kalau para sok-netral itu bisa bersikap skeptis kepada perjuangan Palestina, kenapa mereka juga tidak bisa melakukan hal yang sama kepada setiap cerita indah dari Israel ?



SAYA TIDAK BISA NETRAL, SETIDAKNYA SAAT INI TAK BISA NETRAL
Berbeda dengan para sok-netral, saya akui saya tak bisa netral.
Walau sudah bertahun-tahun saya berusaha obyektif, membaca dari kedua sisi, namun saya tetap tak bisa netral dalam memandang konflik ini.
Ketidaknetralan saya sebenarnya irasional dan emosional, yakni hanya karena saya melihat banyak kemiripan antara kisah Indonesia dengan Palestina.

Untuk saya, argumen para zionis yang merasa berhak menguasai tanah Palestina, bergelombang penuh bagai air bah datang dengan gerakan Aliyah mereka, sudah ketinggalan zaman selama tiga belas abad. Ya, sebenarnya, sejak Muslim menguasai Yerusalem, sejak itu pula lah kaum Yahudi sudah bebas pulang ke Yerusalem. Tentu saja, prakteknya, beberapa Yahudi pra-Islam sebenarnya juga sudah ada yang pulang walau harus takluk dan berpindah agama menjadi Kristen di masa Romawi. Sungguh, tak ada alasan buat para imigran Yahudi yang belakangan untuk membuat negeri sendiri dengan mengusir etnis Arab dari tanah mereka yang sudah ditinggali berabad-abad.

Bicara tentang kedaulatan Yahudi pun, bahkan dalam sejarah pasca pendudukan oleh Babylonia, hanya beberapa masa singkat Yerusalem benar-benar merdeka. Kebanyakan berada di bawah kekuasaan bangsa-bangsa lain seperti Persia, Yunani (Seleucid), dan tentu saja Bangsa Romawi. Sangat menggelikan kalau para imigran Yahudi merasa berhak mendirikan negara sendiri dengan alasan sejarah karena kenyataannya, sebagian besar sejarah mereka pasca Babylonia, tak lepas dari campur tangan bangsa lain.

Sejujurnya, ada masa saat berita-berita baik dari Israel membuat saya terlena dan mengira bahwa konflik akan cepat selesai jika Palestina mengakui kekuasaan Israel dengan segera namun ternyata praktek-praktek penyebaran propaganda ini membuat saya kembali berpihak pada Palestina.  Kenyataannya, perlawanan-perlawanan itu tetap ada bahkan usaha-usaha rekonsiliasi antara faksi-faksi Palestina yang selama ini bertikai membuktikan bahwa keinginan Palestina untuk merdeka itu masih ada.

Dan selama nyala api perjuangan Bangsa Palestina masih ada,
saya tetap mendukung Palestina.

December 18, 2017

Narpati: Umar Ibn Khattab Memperbolehkan Orang Yahudi Pulang ke Yerusalem

December 18, 2017 10:14 AM



Setelah ini orang-orang Yahudi mengirimkan (kabar) pada sisa (orang Yahudi di) Yerusalem. Mereka (orang-orang Yahudi lain) mengirimkan (kabar) kepada mereka (orang Yahudi di Yerusalem), mengatakan: "Berapa jumlah orang yang boleh pindah ke Yerusalem?" 
Jadi mereka menghadap Umar dan berkata padanya: "Berapa yang engkau perintahkan, hai pemimpin orang beriman, yang diperbolehkan pindah ke kota orang-orang (Ta' ifat) Yahudi? " 
Umar menjawab: "(aku akan mendengar) kata-kata lawanmu, kemudian kau bicara, dan setelahnya aku akan berkata menghilangkan perselisihan di antara kamu." 
Kemudian ia memanggil Uskup dan rekan-rekannya dan mengatakan pada mereka: "aku telah setuju pada mereka (yang tinggal) dibagian reruntuhan kota. Akan ada perpindahan ke sini berapapun yang engkau terima." 
Sang Uskup berkata:"Mereka yang mau pindah dengan keluarga dan anak-anak harus hanya lima puluh keluarga, " yang dijawab para Yahudi: "Kami tidak kurang dari dua ratus keluarga". 
Dan negosiasi terus berlangsung di antara mereka hingga Umar mengusulkan tujuh puluh keluarga dan mereka sepakat atasnya. Kemudian ia berkata: "Di bagian mana kalian akan tinggal?" Dan mereka menjawab: "Di kota sebelah selatan" yaitu pasar para Yahudi karena tujuan mereka agar dekat dengan tempat suci dan gerbangnya dan mata air Silwan untuk upacara membenamkan diri. 
Pemimpin orang beriman mengizinkan mereka dan lalu dari Tiberias sekitar tujuh puluh keluarga pindah bersama wanita-wanita dan anak-anak dan membangun rumah-rumah yang dahulu pernah diruntuhkan bergenerasi-generasi hingga tua.

Diterjemahkan bebas dan ngasal dari kutipan Geniza yang ada di "Seeing Islam as Others Saw It: A Survey and Evaluation of Christian, Jewish, and Zoroastrian Writings on Early Islam" yang disusun Robert G. Hoyland (muridnya Patricia Crone).

Sumber Geniza ini relatif belakangan, mungkin bisa dicurigai turunan dari sumber Muslim tetapi Hoyland berpendapat bisa juga sebaliknya. Adanya detail jumlah keluarga yang pindah kemungkinan diturunkan dari catatan-catatan komunitas Yahudi dari kota tersebut.
sumber foto: http://cojs.org/28857-2/

December 11, 2017

Tya: 8 Desember 2017 - Hari Sunatan Sayyid

December 11, 2017 12:16 PM

Bismillahirrahmaanirrahiim

Alhamdulillahirabbil'alamiin setelah ditunda2 berkali2... akhirnya 8 Desember kemarin, terlewati juga
fase sekali seumur hidup bagi setiap anak laki2 muslim termsuk Sayyid.
Yups, khitan atau sunatan ...

Bagaimana prosesnya?
Setiap ada yang nanya hal tersebut via WA atau lainnya, jawabanku adalah
"Berasa nonton film thriller. Hororrrr!"

Kenapa?

Jadi dimulai dari H-1 entah dapat informasi dari mana. Sayyid tiba2 bilang, "jangan pake laserrrrrrrrr. nanti panass"
laah tau dari mana?
"pokoknya jangan pake laser!"

lalu pas hari-H, jam 10 lebih, Mbak Yuni dan Pak Rahmat yang akan menjadi eksekutor (duuh bahasanya apa ya) udah siap dengan segala peralatan dan Sayyid juga udah siap posisi di kamar.

Drama pertama, ketika suntikan bius di P*, sayyid udah teriak2 ...
lanjut suntikan ke2 di posisi lainnya, udah makin gak jelas...
Yang harusnya setelah suntikan udah berasa gak sakit, otak sayyid masih paranoid. apalagi lihat mesin lasernya...
Pak Rahmat ngetest apa sakitnya beneran atau cuma karena takut dengan nanya di berbagai posisi "ini sakit?" semua dijawab "sakit" padahal yang disentuh itu bagian lain.

Udah diajak sambil nonton youtube di handphone, tetep bergeming, tetep nangis teriak2... padahal belum mulai .. terus Mbak Yuni dan suaminya udah mulai panik.. .
kita udah berusaha bujuk2.. bahkan bisa dibilang aku dah mulai nyerah... tapi masa mau mundur lagi.. takut2 biusnya malah hilang.
 Jadi Bismillah dilanjutkan saja... dengan bantuan bapak pegang kaki, aku pegang kepala sayyid sambil peluk2.
Segala macam teriakan keluar
Mulai Istighfar berkali2.
Minta tolong!
Teriak kencang!
Sakittttttt!
Bapak Quntum (Pak Rahmat) jahatttt!
Ummi pelukkkk!!
sampe kata2
"Pergi semua dari siniiiiii!!"

Ya Allah... aku beneran gak tega... 
tapi masa iya mundur lagiii
jadi terus dilanjutkan sampai entah jam berapa selesai, itu rasanya lega banget..
Terus minum obat,sambil terus aku peluk2... masih nnagis terus...
Pokoknya rewel bangett...
terus akhirnya siangan bisa tidur juga sayyid nya..
bangun2 udah gak terlalu rewel,
habis ashar aku tinggal sholat, tau2 udah jalan sendiri, duduk di depan TV.
Udah ngoceh ini itu lagi.
ditengokin temennya juga udah ngobrol lagi

PR nya hanya belum mau pipis sampe akhirnya malam pipis..
baru ada drama lagi, karena kena perban.
Sebenarnya itu udah beberapa kali ditawarin lepas perban yang sebenarnya cuma nempel aja cuma untuk nahan P* nya. Cuma Sayyid gak mau..

Akhirnya mau gak mau dong saat itu juga perbannya dilepas, baru deh kedengeran tangisannya lagi :D
tapi gak lama kok
habis itu biasa lagi...
Alhamdulillah tidurnya juga nyenyak...
Sayyid tidur berdua sama neneknya.
karena kalau bareng aku dan Salman, pasti keganggu Salman yang gak bisa diem ...

terus hari ke-2 bener2 gak kelihatan sakit atau gimana.
Mau pake celana batok (beli di apotik 25rebu), terus udah jalan2 mondar mandir main ke luar duduk sama temennya.

Sampai hari ini (hari ke-4) udah mulai kering,
cuma anaknya teteeeeeeeeeepp masih parno. gak mau mandi
jadi masih dilap aja
padahal pipis kena air juga udah gapapa...
tapi dia janji sore nanti mau berendem air hangat.

Mudah2an minggu ini bener2 bisa lepas dari celana batok nya juga :)
Alhamdulillah kelar 1 milestone sebagai orangtua dari 3 anak laki2

Masih ada 2 anak laki2 lagi .. harus siap2 mental lagi

Sebenere adiknya Sahal juga kepingin sunat. Malah semangat banget udah dari beberapa minggu lalu minta sunat. Efek baik dari film Upin Ipin (cerita Mail dan Upin ipin sunat), dan lebih lagi setelah lihat temannya sunat juga.

Dan itu pas hari Jumat, malah Sahal yang tadinya minta sunatan duluan.
tapi aku pikir yang utama sekarang itu Sayyid
kalau Sahal duluan sunat, lalu nangis teriak2 (terakhir imunisasi Sahal itu nangis teriak2 juga soale), takutnya Sayyid jadi gak mauuu ...
jadi diputuskan tetep Sayyid duluan

dan akhirnya setelah tangisan pertama Sayyid.. Sahal ikutan nangis juga kejer... sampe harus diungsikan suami dulu ...

jadi so pasti gak jadi sunat.
Meskpun setelah itu, ditanya lagi, "sahal mau sunat?"
"mauuuuuu"
tetep mau boooww

Ohya ada 1 kalimat sayyid yang diungkapkan ke temen2nya.. saya lupa mama atau bibi yang bilang mengenai hal ini lalu nancep banget di otak sayyid sampe dishare juga ke temen2nya
"Kalau laki2 mah sakitnya sekali aja pas sunat. kalau perempuan sakitnya berkali2 pas melahirkan" :)

Alhamdulillah kelar juga urusan sunatan anak pertama
Syukuran juga udah kelar, tanpa kendala berarti

Pakai acara resepsikah?
Karena keluarga mama gak pernah ngadain resepsi dan kami takut merepotkan tetangga. teman juga keluarga lain kalau kami buat resepsi dan undang2 yang jauh2.. *maklum rumah kami diantah berantah hehe*
jadi kami putuskan untuk adain syukuran aja.
Pengajian Ibu2 di Sabtu sore dan pengajian bapak2 di minggu malam.

Sejujurnya saya gak paham juga, sejak kapan budaya sunat dengan angpau ini dimulai. Gak paham juga kenapa harus ada resepsi sunatan (selain resepsi nikahan).

Yang pasti aku terharu dan bersyukur banget...  banyak temen2 dan sodara2 yang sempetin jenguk ke rumah, dan kasih angpau ke Sayyid.

Terimakasih semuanya...love you all

Dan special thanks untuk Mbak Yuni dan Pak Rahmat ...
Bapakku tercinta yang udah bantuin pegang Sayyid.
Mama yang udah bantu rawat Sayyid sampai hari Minggu.

Semoga semua sehat selalu dan bertambah selalu rezekinya.. 

Aamiin yaa rabbal 'alamiin

btw ini foto pas sunatan Sayyid






















Sebenarnya ada video nya, tapi gak etis lah kalau dipublish. jadi konsumsi keluarga saja :D

Demikian ...
Doakan ya biar Sayyid cepat pulih dan tambah sholeh Aamiiin

JePe: Trumpocalypse

December 11, 2017 09:30 AM


At Wednesday, Trump making a statement that US acknowledge Jerusalem as a capital of Israel. To support his decision, he also moving US embassy from Tel Aviv to Jerusalem. This sparks many retorts around the globe.

Why must Trump administration makes it even harder all the rest of the Christian communities around the world?
 I know that Trump is trying to please his domestic friends. He wanted to please some Christian evangelisms. He also wanted some Jewish organizations. Apparently, this is also one of his campaign commitment at the election.

I wrote this post after watching Phil's video about Trump's decision. I read the comment sections and saw even many Jews that live there also not liking his decision. Even in the US, not all of the Jewish organization support this.

As a Christian live in another country, I can only say that what Trump's doing is only to please few domestic evangelism. In doing so, he put me and other Christians in danger of persecutions. Nowadays, religion and alt right movement is a sexy toy to play with for many interested factions to move the masses.

I'm afraid that because of the rise of Christians being persecuted, people might want to see the US as an Anti-Christ country. All of her actions knowing that as the whole world perceive her as a Christian country, would make the world view all of the Christians differently now.

I mean, people who are suffering would often see who cause their misery in the first place.

Saddam might be a cruel ruler, but his Baht party made it that even Christians felt suffer. Look at the Iraqi war did. Who got the most head falling over their bodies now? Christians.

Many places of the world are in peril because of war. Syrian war also making the place inhabitable for Christians. Syria was the refuge of many Christians around. Now it also becoming dangerous.

Where should they go now?
What Trump administration have done lacks of a good strategy.

They should've see how Putin's administration way to please Christians. He made himself a Defender of Christianity. Even if there is an accusation that stated Christian Orthodox organization is under KGB, Putin's administration successfully made the world believe that he is a Christian Protector. Trump statement made the whole world against him, even PGI (Council of Churches in Indonesia) made a statement against it.

I hope his statement doesn't get used by some evil organizations to brainwash its member into persecuting Christians.

December 05, 2017

JePe: Coco

December 05, 2017 10:00 AM

The media wrote about China letting Coco be released on its theaters. The one reason is because of the family and ancestor tradition that the Chinese and Latino share as a common theme. Coco promotes family value and the gist of balancing dreams and family. Based on China's censorship guide, the movie should've been banned because of ghosts.
 
Well, actually China could flame international incident if Coco banned from mainland. I mean, come on, this movie has the heart of many Mexicans in it. A ban would sour Latino community at least. This movie researched well by the movie maker.
 

November 22, 2017

Narpati: [Bukan Review] NAURA & GENG JUARA : Petualangan Sherina + Home Alone

November 22, 2017 09:02 AM

*Spoiler*
*bagian untuk orang tua ada di bagian menjelang akhir*
*bagian tuduhan pelecehan agama ada di bagian akhir artikel*






"Kalian cuma perduli piala! Buat apa kalian pintar (tapi) kalau melihat penculik satwa kalian diam saja" -- Kipli

Jujur saya awalnya tidak tertarik dengan film ini karena saya sudah pasang target menonton dua film lain. Poster filmnya pun tak mengesankan, tidak menunjukkan tema khusus yang membedakan film ini dengan film lainnya. Kurasa, puteri 6-tahunku akan lebih tertarik menonton film bertema gebuk-gebukan atau film kartun sekalian.

Semua berubah ketika seorang ibu mengajak kawan-kawannya tidak menonton film ini. Selain itu ada juga seorang ibu lain yang sudah menonton dan menyayangkan ucapan istighfar dan takbir dalam film ini. Penasaran akibat berita tersebut, saya pun melihat iklannya dan... oke, saya kelak harus mengajak putri saya menonton ini. Namun karena agak khawatir film ini turun layar sebelum akhir pekan, saya memutuskan menonton film ini selepas bekerja semalam. Tentu saja penonton di bioskop saya sedikit, hanya para ibu-ibu berjilbab bersama putra-putranya.

PLOT CERITA
Awal film, kita diperkenalkan pada tiga dari empat tokoh utama film ini yakni Naura, Bimo, Okky yang sedang berkompetisi di sekolah mereka, SD Angkasa. Seusai penjurian, sekolah mereka memutuskan tiga tokoh ini menjadi wakil untuk perkemahan kreatif di Situ Gunung. Bimo, yang meraih nilai tertinggi, sayangnya tidak terpilih menjadi pemimpin tim. Sekolah memutuskan Naura yang punya pengalaman sebagai pemimpin kelompok. Ini konflik pertama.

Setelah menelusuri selintas tentang latar belakang Naura dan minat Naura serta minat-minat dua tokoh lainnya, kita diperkenalkan pada tiga karakter jahat yang sedang menjelajah hutan dan masuk ke dalam ruang karantina. Di bagian ini kita diperkenalkan pada tokoh utama keempat, Kipli, anak yatim piatu yang dipekerjakan di Kemah Kreatif.

Cerita pun bergulir, dari basa-basi perkenalan di Kemah Kreatif, konflik meningkat antara Bimo dan kedua temannya, dan cerita akhirnya baru benar-benar dimulai ketika alat yang dibuat Bimo tak bisa didemonstrasikan karena satu komponennya hilang dan pencariannya membawa mereka bertemu Kipli di tengah hutan. Pencarian komponen ini juga akhirnya membawa mereka ke mobil para pencuri satwa yang disembunyikan.

Naura dan kawan-kawan menolak ikut campur tetapi Kipli memaksa mereka untuk bertindak tetapi akhirnya berujung pada ditahannya Okky oleh para penjahat. Menyadari kurangnya kekuatan mereka, Kipli, Naura, dan Bimo berlari ke Kemah Kreatif melaporkan pada kakak-kakak "rangers" tetapi mencurigai ada oknum bermain, tiga anak ini akhirnya memutuskan menggunakan kawan-kawan sebayanya sebagai pasukan pelacak penjahat.

KEUNGGULAN TEKNIS
Jika ada yang bilang "sains-nya hanya tempelan", "petualangan so and so", percayalah, mereka sudah bias dengan film ini.

Ada beberapa film anak-anak Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir, sebagian saya lewatkan, sebagian lagi sudah saya tonton, dan film ini, sebenarnya termasuk di atas rata-rata.  Lagipula, saya juga menonton Petualangan Sherina di bioskop (dengan segala degradasi audio-visual) sekitar satu-dua tahun lalu, jadi ingatan saya masih cukup jelas, dan saya berani bilang, dalam beberapa hal Naura di atas Petualangan Sherina.

Pertama, sebagai film anak-anak, tentu saja wajar karakter antagonis dibuat selucu mungkin. Berbeda dengan Petualangan Sherina yang penjahatnya tampak tidak kompeten bahkan tidak tahu apa yang  harus dilakukan, tiga karakter antagonis ini jelas tahu apa yang mereka lakukan. Melihat postur tubuh mereka, kamu tahu bahwa jangan macam-macam dengan mereka.

Kedua, skenario Petualangan Sherina menempatkan tokohnya dalam situasi terisolasi dan hanya di bagian akhir mereka baru bertemu dengan orang dewasa. Cerita Naura melibatkan karakter dewasa namun ternyata situasi menempatkan para anak-anak harus bertindak sendiri. Di sini, Eugene jelas lebih terinspirasi model Home Alone daripada Petualangan Sherina. Ini juga sebenarnya kritikan kita buat orang dewasa yang kadang mengabaikan permintaan tolong dari anak-anak.

Ketiga, saya suka bahwa di Kemah Kreatif, para anak-anak ditugaskan agar karya mereka berhubungan dengan alam. Ada perdebatan panjang di film ini membahas apa pengaruh karya mereka terhadap alam. Sayangnya, penulis skenario tidak membahas lebih panjang, tetapi orang tua yang ajak nonton anaknya mungkin bisa memperpanjang diskusi ini setelah menonton filmnya.



KELEMAHAN TEKNIS
Film ini bagus dan karena bagusnya, saya jadi tergoda untuk mengurangi kelemahan teknis film ini. Sekali lagi, kelemahan di sini bukan berarti film ini buruk.

Juru Keker Kamera di bagian awal film tampak gagap. Ada beberapa ruang kosong yang mengganggu, tampak tidak seimbang dan tidak pula menuruti kaidah sepertiga. Untungnya, kegagapan ini hanya terjadi pada adegan di SD Angkasa di awal film.

Sebagai sutradara film musikal, Eugene Panji tampaknya kurang galak dalam mengarahkan. Ada beberapa adegan menyanyi yang gerakan bibirnya kurang jelas dan begitu disatukan dengan musik oleh penyunting, jadi tampak tak sesuai antara audio dan visual. Selain itu, ada beberapa ketidakkompakan di antara penari yang membuat saya bertanya-tanya, si Eugene ini butuh berapa take untuk setiap adegan tarian? Pengalaman pribadi menemani adik saya, untuk video klip kurang dari 4 menit, bisa butuh seharian di Ancol.

Selain itu, tarian dan musikal bukan berarti harus menghancurkan karakternya. Si Bimo yang sedang kesal pada teman-temannya, begitu adegan musikal tiba-tiba menjadi berwajah riang gembira. Seharusnya, sebagai sutradara, ia memasang Bimo tetap berwajah kesal.

Ada satu ide bagus namun gagal dalam eksekusi, yakni memanfaatkan api obor sebagai "equalizer" untuk panggung musik. Sayangnya ide tersebut tak berhasil karena dua hal, yakni sutradara lebih suka menampilkan tarian Naura sementara ketika si gitaris dan equalizer obor ini ditampilkan, pas bagian yang kurang greget.

Namanya film yang dibiayai sponsor, wajar bila ada penempatan produk. Namun saya menyayangkan minimnya inisiatif sutradara untuk menyusupkan pesan kebersihan. Seharusnya Eugene bisa menyelipkan pesan dengan sederhana, seperti menampilkan kakak pembina yang mengingat untuk membuang sampah pada tempatnya, atau adegan tokoh utama, menaruh sampahnya di dalam tas mereka seusai mengonsumsi produk sehingga tidak mencemari alam.

Pakaian Naura juga layak dikritik, bukan soal moralitas, tetapi soal fungsi. Saya tak bisa membayangkan berjalan dengan celana pendek di tengah hutan melewati rumput-rumput dan semak-semak. Belum lagi dengan suasana yang mungkin berubah dingin dengan cepat. Dan lucunya, saya mencoba memperhatikan anak-anak lain, mereka celana relatif lebih panjang daripada karakter Naura. Jadi bisa disimpulkan, pemilihan pakaian ini hanya sekedar untuk pemanis saja.

Celakanya, pemilihan pakaian ini juga menimbulkan problem kesinambungan ketika adegan beralih dari dunia nyata ke dunia khayal yang divisualkan dalam bentuk kartun. Jelas tidak ada komunikasi antara studio kartun dengan tim produksi sehingga pakaiannya tidak sama. Memang, ketidaksinambungan ini bisa dibela bahwa yang satu adalah dunia nyata sementara yang lain adalah dunia khayal tetapi bukankah  akan lebih baik jika model pakaian sama, untuk menunjukkan persamaan karakter.

Saya juga mengritik penggunaan istilah "ranger" di sini. Kenapa harus menggunakan istilah asing? Kenapa tidak menggunakan istilah macam "Jagawana" atau sesederhana "Kakak Pembina" ?


UNTUK ORANG TUA
Saya bilang, ini film wajib untuk ditonton orang tua dan anak. Ada beberapa pesan yang bisa diajarkan melalui film ini.

Pertama, film ini mengajari anak untuk inisiatif menolong. Tentu saja, ada hal yang membutuhkan bantuan orang dewasa tetapi kurangnya bantuan bukan berarti anak harus diam pasif mengabaikan tindakan kejahatan yang berada di depan matanya.

Kedua, film ini mengajari anak untuk bersedia mengalah untuk kepentingan yang lebih besar baik itu kepentingan kelompok atau bahkan kepentingan universal. Masing-masing anak di film ini memiliki keunggulannya sendiri dan di babak akhir, masing-masing alat punya kegunaan walau ya... mungkin tak semuanya.

Ketiga, film ini mengajari anak untuk mencintai ilmu pengetahuan. Bahkan ada satu adegan anak-anak ini menciptakan hantu menggunakan salah satu sifat koloid.

Memang nyaris semua percobaan yang dilakukan di film ini, kita sudah sering melihatnya di pameran-pameran ilmu pengetahuan tetapi kapan terakhir anda melakukan percobaan ilmiah bersama anak anda? Lagipula, apakah anak anda sudah pernah melihat seluruh hasil oprekan yang tampil di film ini ?


TUDUHAN PELECEHAN AGAMA
Jawaban singkat, saya berpendapat film ini tidak melecehkan agama.
Anggota-anggota LSF yang menonton dan meloloskan film ini untuk Semua Umur berpendapat film ini tidak melecehkan agama.

Namun untuk yang penasaran, baik saya jelaskan.
Ada tiga adegan menyerempet di film ini, dan adegan-adegan ini sangat singkat. Saya mulai dari adegan kedua di tengah film dahulu sebelum membahas yang pertama dan ketiga karena dua adegan tersebut berkaitan.



Di tengah-tengah film, untuk menghentikan aksi, Naura dan teman-temannya menciptakan hantu. Dua dari tiga penjahat yang sedang ditakut-takuti, bergidik dan langsung meringkuk di dalam mobil. Salah satunya langsung membaca doa, namun entah karena panik atau karena memang dungu, ia membaca doa sebelum makan. "Hei, itu kan doa sebelum makan," tegur temannya. Yang ditegur langsung mengambil cemilan, "kalau takut, bawaannya pengen makan".

Ini adegan humor. Tidak ada unsur pelecehan Islam di sini.

Adegan pertama dan ketiga, semua ucapan istighfar dan asma Allah itu dilakukan oleh karakter yang bercelana pendek (di atas lutut), berbaju jingga, bertopi kupluk, jelas bukan simbol Islam. Karakter ini, tampaknya memang dahulu dibiasakan mengucapkan asma Allah. Jadi di bagian awal, ketika dia menerangkan rencana sementara temannya tidak memperhatikan, dia kesal dan bilang, "Astaghfirullah, Li! Dengarkan!".

Di bagian akhir, mobil yang membawa ketiga penjahat ini dihunjam berbagai macam bom dari roket air, bom pasir warna-warni, bom semangka. Dalam rasa takut ini, si karakter spontan mengucapkan, "astaghfirullah.. ya allah.. allahu akbar... astaghfirullah..".

Saya berpendapat ketiga adegan itu bukan pelecehan Islam. Ketiga karakter tersebut memang berasal dari daerah yang beberapa kali terjadi kejahatan pencurian hewan dan mereka melarikan diri ke Jawa. Silakan googling "pencurian satwa [nama daerah tersebut]" dan niscaya anda akan menemukan banyak berita. Kebetulan,  orang-orang di daerah tersebut memang rata-rata beragama Islam. Saya curiga, aktor yang memerankan antagonis bercelana pendek dan bertopi kupluk, dalam menghayati peran, melakukan improvisasi. Ia mungkin mempertimbangkan, kalau seandainya ia menggunakan kata-kata umpatan padahal film ini untuk anak-anak, mungkin malah takutnya ditiru oleh penonton cilik.

Saya tidak berpendapat film ini melecehkan agama dan begitu juga para anggota LSF.

Kalaupun ada yang bisa dikritik, maka saya menyayangkan sterilisasi film ini dari unsur-unsur agama untuk karakter protagonisnya. Seharusnya, kalau antagonis sudah dibuat latar khusus budaya tertentu, maka protagonis pun seharusnya demikian. Namun mungkin karena terlalu takut, maka setiap dialog protagonis bersih dari unsur budaya dan agama. Dengan demikian ucapan spontan karakter antagonis malah jadi terasa menonjol untuk mereka yang sensitif.



Sekali lagi, saya berpendapat film ini tidak melecehkan agama.
Bahkan kalau mau teliti, karakter Bu Laras -- salah satu tokoh baik dewasa -- , yang sangat medok Sunda-nya, kemungkinan besar ya beragama Islam.

Selain itu, di kantor pengurus Kemah Kreatif, selain stiker-stiker bernada pelestarian alam ( macam stiker "STOP DEFORESTATION" ), ternyata juga nyempil stiker wanita berjilbab menggunakan bendera Amerika Serikat (model macam poster "We The People Are Greater Than Fear"). Jelas berarti salah satu tokoh dari jagawana di Kemah Kreatif (dan jelas bukan sosok oknum) juga seorang muslim yang tergolong idealis.

November 08, 2017

Narpati: Revenge Porn (Penyebaran Porno dengan Motivasi Balas Dendam)

November 08, 2017 06:19 PM

Begini ya, Bung.
Kita sudah tahu-sama-tahu kalau nonton bokep itu dosa.

Dan kita tahu sama tahu, menyebarkan bokep itu juga dosa dan melanggar peraturan. Jadi kalau kalian nyebar bokep, sudah dua dosa kalian lakukan.

Nah, ada genre porno yang disebut "revenge porn". Intinya, pemeran porno dalam film ini tidak berniat menyebarkan videonya tetapi karena ada seseorang yang sakit hati, video koleksi pribadi ini disebarluaskan.

Nah, untuk kasus penyebaran "revenge porn", selain dosa karena nonton bokep, kalian tuh sudah menambah dosa lain karena:
1. kalian membantu pelaku menganiaya korban;
2. Korban "revenge porn" akan punya tekanan mental dan bahkan ada beberapa kasus, korban begitu tertekan hingga memilih bunuh diri.

Keterlibatan polisi menyelidiki kasus ini juga tidak membantu korban. Kalau kalian biasa mendengarkan cerita korban-korban pemerkosaan ditanyai polisi, saat-saat interogasi itu sudah seperti pemerkosaan kedua kalinya. Jadi ya, kalian menambah dosa lagi kalau ternyata polisi yang menangani kasus ini tidak sensitif dan penuh prasangka.

mBok kalau sudah punya dosa nonton bokep, ya jangan ditambah dosa berbagi bokep.
Kalau sudah punya dosa berbagi bokep, ya jangan menambah dosa menyakiti orang.

Nah,
kalau mendapat video porno berkualitas amatir lengkap dengan informasi identitas nama jelas bahkan latar belakang si pelaku, sebaiknya jangan disebarkan. Bisa jadi itu "revenge porn".

Asal tahu saja, Pornhub, salah satu situs porno, menolak situsnya dijadikan tempat "revenge porn" dan menyediakan fasilitas untuk melaporkan video-video yang diduga "revenge porn".

Ayolah.. masa situs porno bisa lebih bermoral daripada ente-ente yang ngakunya cuma penikmat bokep ?

berita tentang Pornhub berusaha memerangi "Revenge Porn".
http://time.com/4072036/pornhub-revenge-porn/

Narpati: Dwipangga, sang Penyair Pemerkosa

November 08, 2017 06:17 PM

Ada pria manipulatif macam Dwipangga yang mampu mendapatkan wanita dengan cara "sopan". Pertama, ia menurunkan kewaspadaan si target baik melalui bujuk rayu kata-kata maupun bantuan obat-obatan.

Kemudian saat wanita tersadar ia tak mau melakukan, ia sudah mendapati dirinya dalam kondisi tak sanggup melawan.

Pria macam Dwipangga ini, mungkin saja berusaha membuat korban senyaman-nyamannya untuk memperkecil kemungkinan korban melawan. Ia mungkin melakukan godaan-godaan sensual untuk memancing reaksi biologis korban.

Ketika hubungan usai, korban berada dalam keadaan bingung apa yang baru saja terjadi. Apakah pemerkosaan ataukah hubungan suka sama suka? Begitu juga Nari Ratih dan Mei Hsin, keduanya pucat dan tak tahu apa yang sesungguhnya baru saja terjadi.

Nari Ratih terkekang oleh desakan lingkungan sosial. Sebagai gadis yang tak punya kemandirian dalam membuat keputusan, ia didesak menikahi si perayunya walaupun sebenarnya ia menyukai pria lain, Kamandanu yang tak lain adik si pemerkosanya.

Ketertundukannya pada tekanan sosialnya membawanya ke kehidupan pernikahan tanpa cinta. Penyesalannya membuat sang suami kesal dan akhirnya membuat si suami menyiksanya bahkan di depan anaknya.

Mei Hsin berbeda, sebagai pendekar ia punya keputusan sendiri. Tubuhnya boleh telah dinodai tetapi ia tak sudi menikahi pemerkosanya.

Ketika pria lain, yang lagi-lagi ternyata Kamandanu, menawari menikahinya, ia tak langsung mengiyakan, melihat apakah sang pria dermawan mencintainya atau sekedar bersimpati padanya.

Apa yang dilakukan Dwipangga kepada Nara Ratih maupun Mei Hsin pada dasarnya tindakan yang sama, pemerkosaan, gak perduli senyaman apapun si korban saat mereka digauli. Pada dasarnya, si pelaku ingin menguasai tubuh korban walau tahu korban tak mencintainya, tak menginginkan akibat dari hubungan itu.

November 03, 2017

Cynthia: 13 Reasons Why (2017)

November 03, 2017 09:34 PM

I never think about bullying in serious mode. In my opinion, bullying can only happen to those who are weak, those who never respect themselves, those who don't love themselves, those who don't have anything interesting enough in their life to move on to. This is the best sentence showing how I mocked bullying:

How does it feel to be so weak that mere words can hurt you?


I don't know how and when I became such a heartless bitch, but as long as I can remember I never getting hurt because of someone insulted me. Maybe I'm just good at forgetting bad things. Maybe my skin are that thick. Maybe that's how unimportant they are in my eyes. But getting hurt because of someone's words? Never happened.

It's not like I never heard bad things come my way. Sometimes I'm surprised of how I can get a little offended by someone's words, but come again? Who are them anyway. Either I know that my friends are just teasing me, that's okay. We become best friends by scolding each other. Or the worst case is they mean those harsh and hurtful words to me, but hello again, who are them anyway?

Those who matter to you, don't mean it. Those who mean it, don't matter to you.

I am building my zen palace like decades ago. I never let anyone get near it, let alone through it. I don't even let my families touching those zen palace too often. I am that good in compartmentalizing things. I know sometimes it gets lonely, but that's how I put myself together. So far that is the best way to keep up with life.

But after watching this depressing series, all of those principles that I had seems won't working at all.

What to do if I were Hannah Baker?
What is going to be on my thirteenth tape?

First of all, she doesn't have any friend. Why doesn't she have friends? Because she thinks everyone think she's a slut?

#First lesson. Never think about what everyone will think about you. Thinkception.

Basically, I think of myself as everyone's friend, unless I'm stating otherwise. I would never speak bad about my friends. Every time I heard not so good information regarding a friend of mine, I tend to rationalize their action. I'm trying to find an excuse on why he/she did that not so good thing. Positive thinking to a friend is a must. Unless, she/he is not your friend.

Secondly, Why keeping it all to yourself, hey Hannah Baker?

#Second lesson. Never trust what your heart says. Let the logic works.

If something that I don't like came up with my supposedly friend, I always let them all out. You don't need a reason to remind your friend if they did something bad, even if it's just in your opinion. Just let them know what you feel, the rest is up to them. It's like shifting problems. Hey I did my part, it's your problem now-kind of thing.

Do I never had any dislike to a friend that I never told them about? No, sometimes I just keep them to myself. That means, that "dislike" won't affect what I feel for him/her. If I accept them the way they are now, that means there are nothing wrong about them that I'd like to change. As simple as that.

Last, but not least. Always love yourself more than you love others.

#Third lesson. If you don't like you, why should them?

Wait, that doesn't mean that you can be a reckless bitch that always think yourself is higher than any other. See yourself in front of a mirror, WOULD YOU LIKE TO BE A FRIEND WITH YOU? If the answer is yes, good, you are already in the right track. If the answer is no, then put yourself together and be the best version of you that you like enough.

I know I can not simplify suicidal thoughts like this because I never had any. I hope I would never had that thoughts, but who knew? Start being nice to others, it won't hurt and it won't cost you a dime. Especially in virtual world, where people seems to be more harsh to others just because they can say those harsh things without seeing their face.

Just because they deserved getting bullied and you have the ability to bully them, does not mean that you have to. Think of those deserving people as your mother/father/brother/sister/son/daughter that can make mistakes too. It's human.

Educate them, don't bully them.

October 25, 2017

Narpati: Hatta dan Orang-Orang Tionghoa

October 25, 2017 12:39 PM



Tahun lalu, saya mendapatkan sebuah artikel yang konon berisi surat Bung Hatta terhadap AR Baswedan. Situs aslinya sudah tidak memuat surat tersebut namun surat tersebut masih dikutip di berbagai situs, blog, dan media sosial. Berikut isi artikel tersebut.

Surat Bung Hatta:*
Tentang Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab 1934
Sumpah Pemuda Keturunan Arab ini, yang berisikan:

1. Tanah Air Peranakan Arab adalah Indonesia.
2. Karenanya mereka harus meninggalkan kehidupan sendiri (isolasi).

Dengan sumpah ini, yang ditepati pula sejak itu dalam perjuangan nasional Indonesia menentang penjajahan sambil ikut dalam organisasi GAPI dan kemudian lagi ikut dalam peperangan kemerdekaan Indonesia dengan laskarnya denganmemberikan kurban yang tidak sedikit, ternyata bahwa pemuda Indonesia keturunan Arab, benar-benar berjuang untuk Kemerdekaan Bangsa dan Tanah Airnya yang baru.

Sebab itu tidak benar apabila warga negara keturunan Arab disejajarkan dengan WN turunan Cina. Dalam praktik hidup kita alami juga banyak sekali WNI turunan Cina yang pergi dan memihak kepada bangsa aslinya RRC, WN Indonesia keturunanArab boleh dikatakan tidak ada yang semacam itu. Indonesia sudah benar- benar menjadi tanah airnya.

Sebab itulah, salah benar apabila kedua macam WNI itu disejajarkan dalam istilah “nonpribumi”.
Jakarta, 24 November 1975

Mohammad Hatta
*Catatan asli surat tersebut ada pada A.R. Baswedan, Yogyakarta, Bapak Hari Kesadaran Bangsa Indonesia keturunan Arab dan Perintis Kemerdekaan Bangsa dan Negara Indonesia.

Ternyata, surat tersebut sudah beredar lebih lama.  Bunyi surat tersebut, dalam bahasa Inggris, dikutip oleh Abdul Rachman Patji bulan Juni 1991 dalam halaman 14 tesis-nya "The Arabs of Surabaya: A Study of Sociocultural Integration" yang diajukan kepada Australian National University. Sayangnya, dalam tesis tersebut, tidak ada kejelasan dari buku apakah surat itu berasal ataukah si penulis melihat sendiri.

Saya sempat mengirimkan surel kepada info(at)aniesbaswedan.com pada 26 Oktober 2016 dan menyenggol Anies di Twitter pada tanggal 18 Oktober lalu namun tidak berbalas hingga kini.




Sementara menunggu jawaban dari keluarga Baswedan, saya mencoba melacak pendapat Bung Hatta tentang Tionghoa.

Salah satu informasi adalah tulisan Pramoedya Ananta Toer yang dibukukan dengan judul "Hoakiau di Indonesia", menyebutkan bahwa dalam sebuah majalah, Bung Hatta menulis artikel berjudul "Facets of Indonesia's Economy" dengan kutipannya:

The Indonesian was poor in the midst of overflowing wealth. Those with money were the foreigners who ruled the country; they had authority, capital, and their technical skill. Next to the Dutch, the best off were the Chinese, who were their chief helpers in business and administration, and formed, as it were, a middle class.

Terjemahan bebas: Orang-orang Indonesia dahulu sangat miskin di tengah-tengah kekayaan yang mengalir. Mereka yang memiliki uang adalah orang-orang asing yang menguasai negeri. Mereka memiliki otoritas, modal uang, dan kemampuan teknis. Setelah Belanda, yang di atas rata-rata adalah orang-orang Tionghoa, yang merupakan pembantu utama para Belanda dalam bidang bisnis dan administrasi, dan membentuk, saat itu, kelas menengah.

Pramoedya Ananta Toer mengritik keras kutipan itu dan menganggap Bung Hatta tidak tahu sejarahnya sendiri. Sejujurnya, kritikan Pramoedya benar, bahkan dalam masa kolonial, kita masih bisa menemukan orang-orang Tionghoa miskin. Jadi kurang tepat kalau mereka disamaratakan dalam cap sebagai "pembantu Belanda dalam bisnis dan administrasi".

Walau begitu, tulisan yang dikutip Pram adalah menjelaskan masa kolonial Belanda. Apa sih pendapat Bung Hatta tentang orang-orang Tionghoa di masa sekarang?

Mungkin saya awali dari kutipan beliau di buku "Hatta Menjawab" disunting dan diwawancara oleh Zainul Yasni tahun 1978.

Itulah hebatnya Cina ini.
Kalau jadi kapitalis betul-betul kapitalis.
Kalau jadi nasionalis betul-betul jadi nasionalis Indonesia.
Ada juga yang jadi orang agama dalam Muhammadiyah, betul-betul ia jadi alim.
Tetapi kalau jadi komunis Cina itu betul-betul jadi komunis tulen.

Saat mengatakan ini, Bung Hatta sebenarnya sedang memuji Tan Ling Djie, salah satu lawan politiknya, anggota PKI, yang sengaja mengurangi makan nasi sehingga sisa gajinya bisa diserahkan semua kepada partai.

Dari sini saja sudah jelas, Bung Hatta mengagumi komitmen orang-orang Tionghoa ketika individu-individu dari etnis ini mulai bersikap.

Kalau kita membaca polemik yang dilakukan Bung Hatta di masa kolonial, kita bisa melihat bahwa Bung Hatta menyadari peran-peran pers Tionghoa. Misalnya dalam penjelasannya tentang sikap Non-Kooperasi PNI baru (Daulat Ra'yat no 47, 30 Desember 1932), ia membaca pendapat lawan politiknya, Bung Karno, dalam surat kabar Tionghoa dan surat kabar Indonesia.


Pada tanggal 17 September 1946, Bung Hatta berpidato di depan kelompok Tionghoa. Beliau menyatakan bahwa kelompok-kelompok Tionghoa, karena posisi di masa lalunya sering dianggap sebagai perpanjangan kapitalisme asing bahkan di masa Jepang, bangsa Jepang masih memanfaatkan orang-orang Tionghoa ini sehingga kelompok Tionghoa masih menjadi penyangga. Lebih lanjut, beliau mengatakan -- saya menemukan pidato ini dalam buku berbahasa Inggris "Hatta: Portrait of Patriot" :

It is for this reason that there is still a feeling of dislike for the Chinese, a feeling which tends to become stronger. Often we hear people lamenting 'The Chinese are always in a good position. During the time of the Dutch colony, they were on top. During the Japanese occupation they were still on top. If the Japanese come to power, they will be protected by the Nanking government. If the Allies win, they will be protected by the Chunking government'. These are the feelings as expressed by the ordinary, every-day Indonesian. 

Terjemahan bebas: 
untuk alasan inilah, masih ada perasaan kebencian terhadap Cina, perasaan yang semakin menguat. Seringkali kita mendengar orang-orang mengeluh, "orang-orang Cina selalu dalam posisi bagus. Selama masa kolonial Belanda, mereka di atas. Selama masa penaklukkan Jepang mereka masih di atas. Jika Jepang berkuasa, mereka dilindungi Pemerintahan Nanking. Jika Sekutu menang, mereka dilindungi Pemerintahan Chunking". Inilah perasaan yang sering diutarakan oleh orang-orang Indonesia kebanyakan.

Namun apakah Bung Hatta setuju dengan pendapat kebanyakan itu?
Ternyata tidak. Dalam lanjutan pidatonya, ia mengutarakan:

It is this feeling which often creates hostility between the Indonesians and the Chinese. In peacetime these feelings of hostility can be avoided and abolished. You yourselves know the serious efforts which the government of the Republic of Indonesia made right from the beginning to create a feeling of brotherhood between the Indonesian people and the Chinese people. At first they were to some extent successful. But after the Dutch return to take control of Indonesia and after the considerable amount of fighting, when many Chinese were used as tools of the Dutch, either as policemen or as merchants, the anger against the Chinese rose again to such an extent that hostile action was taken against them. In particular I can say that the government of the Republic of Indonesia expresses its sincere regret for the incidents which have been experienced by the Chinese. We must not forget that the group whose desire it is to destroy the Republic of Indonesia was the group which instigated the people to fight against the Chinese especially around the battlefield. Foolish people and emotional people tend to get swept away by the provocation of the enemy. Because, let us face it, the aim of the enemy is to ensure that the Republic of Indonesia has a bad reputation in the matter of international relationships, the reputation of a nation which is unable to guarantee the security of foreigners residing in its territory. Because of the actions of these people, there are counter-actions on the part of the Chinese, especially in the regions ruled by the Allies. Consequently the relationships between the Indonesian and the Chinese people becomes confused and this in turn makes difficulties for the government.  
We are fully aware of this situation. It is not necessary to keep it in existence. Under the protection of the Constitution we must make all the necessary investigations so as to find out all the various reasons which are at the bottom of this situation so that we can find a remedy which will solve the problem and create an atmosphere of prosperity and goodwill.

Terjemahan ulang bebas:
Perasaan inilah yang sering menciptakan pertengkaran antara orang-orang Indonesia dan orang-orang Cina. Di masa damai, perasaan kebencian bisa dihindari dan dihilangkan. Kalian sendiri tahu betapa serius usaha Pemerintah Republik Indonesia sejak awal untuk menciptakan persaudaraan antara orang-orang Indonesia dan orang-orang Cina. Awalnya, usaha-usahanya tampak berhasil. Namun setelah Belanda datang untuk mengambil alih Indonesia dan setelah beberapa kali berseteru, ketika banyak orang-orang Cina dijadikan alat oleh Belanda, entah sebagai polisi atau pedagang, kemarahan terhadap orang-orang Cina bangkit lagi hingga ada aksi-aksi kebencian dilakukan terhadap mereka. Dengan ini, saya dapat mengatakan bahwa pemerintah Republik Indonesia menyatakan penyesalannya secara tulus terhadap insiden-insiden yang telah dialami oleh orang-orang Cina. Kita tak boleh lupa bahwa kelompok yang menginginkan hancurnya Republik Indonesia adalah kelompok yang memancing rakyat untuk melawan orang-orang Cina terutama di peperangan. Orang-orang bodoh dan emosional cenderung mudah tersapu oleh provokasi musuh. Karena itu, mari kita hadapi, tujuan musuh adalah memastikan bahwa Republik Indonesia memiliki reputasi buruk dalam hubungan internasional, reputasi sebuah bangsa yang tak bisa menjamin keamanan orang-orang asing dalam wilayahnya. Karena tindakan-tindakan orang-orang ini, ada tindakan balasan dari kaum Cina, terutama di daerah-daerah yang dikuasai Sekutu. Akibatnya, hubungan antara orang-orang Indonesia dan orang-orang Cina menjadi semakin membingungkan dan ini membuat kesulitan semakin sukar bagi pemerintah. 
Kami sangat menyadari situasi ini. Kita tidak harus membiarkannya berlarut-larut. Dalam perlindungan Undang-Undang Dasar, kita mesti membuat seluruh penyelidikan untuk menemukan semua alasan di bawahnya sehingga kita bisa menemukan obat yang memecahkan masalah dan menciptakan atmosfer kesejahteraan dan niat baik.

Bung Hatta melanjutkan bahwa ia percaya, masalahnya berawal pada ekonomi.

Perhaps I should clearly explain here that it is my conviction that it is impossible to reach a true solution to the 'Chinese problem' within the economic structure of capitalist colonialism nor within the politics of liberalism. In the capitalist colonial structure, the Chinese group are the wheel of the class struggle, which will feel every stress of the differences in the nation. Consequently the feeling of dislike for the Chinese will become stronger.  
But now we have a new structure, a new economic structure based on social prosperity. The economic life of the country will no longer be controlled by the private employers themselves, but must be coordinated by the Government and this in turn will create an ordered structure. The Government possesses full authority in regard to the coordination of production and the distribution of the goods which are produced.  
If the Chinese here can adapt themselves to fit in with the spirit of the new economy which forms the basis of the economy of the Republic of Indonesia, their position in the economy of Indonesia can be different from what it has been in the past. The Chinese and the Indonesians will no longer oppose one another. Even their economic powers can be coordinated by the Indonesian economic authority. The Chinese will cease to be an opposing party and will become a partner. In this way the 'Chinese Problem' will have disappeared. 

Terjemahan ulang bebasnya:
Mungkin saya harus menjelaskan lebih jernih bahwa keyakinanku mustahil mencapai penyelesaian sungguh-sungguh untuk 'masalah Cina' ini dalam struktur ekonomi kapitalis kolonial dan tidak pula dalam politik liberalisme. Dalam struktur kapitalis kolonial, kelompok-kelompok Cina adalah roda dari perjuangan kelas, yang akan merasakan seluruh tekanan perbedaan dalam negara. Dampaknya perasaan kebencian terhadap orang-orang Cina akan menguat. 
Tetapi sekarang kita memiliki struktur baru, struktur ekonomi berdasarkan kesejahteraan sosial. Kehidupan ekonomi dari negeri tidak lagi dikendalikan oleh pemilik modal swasta sendiri tetapi harus dikordinasikan oleh pemerintah dan selanjutnya akan menciptakan struktur teratur. Pemerintah memiliki otoritas penuh terhadap bagaimana kordinasi produksi dan distribusi barang yang dihasilkan. 
Jika orang-orang Cina bisa beradaptasi dengan jiwa ekonomi baru yang membentuk dasar ekonomi Republik Indonesia, posisi mereka dalam ekonomi Indonesia bisa berbeda dengan apa yang terjadi di masa lalu. Orang-orang Cina dan Indonesia tidak akan saling menyerang. Bahkan kekuatan ekonominya akan dikordinasikan oleh otoritas ekonomi Indonesia. Orang-orang Cina akan berhenti menjadi kelompok berseberangan dan menjadi rekan kerja. Dalam hal ini 'Masalah Cina' seharusnya terselesaikan.

Sejarah mencatat bahwa selama masa demokrasi liberal hingga masa orde baru, sejumlah eksperimen dilakukan oleh rezim untuk menciptakan struktur ekonomi baru di mana kelompok 'Tionghoa' tidak menjadi musuh seperti yang diimpikan Bung Hatta namun ternyata berkat korupsi yang terjadi pada rezim penguasa, ternyata malah menciptakan struktur serupa walau tak formal. Kita masih punya hutang untuk memecah struktur ini, bukannya dengan melestarikan piramida struktur sosial lama.

Kembali ke topik, masih dalam pidato yang sama, Bung Hatta menjelaskan kewarganegaraan orang-orang Tionghoa. Sekedar catatan, saat itu sedang berlaku UU no 3 tahun 1946 (diterbitkan 10 April 1946) di mana orang-orang Tionghoa secara pasif dianggap sebagai warga negara Indonesia kecuali bila mereka menolak. Bung Hatta menegaskan hal tersebut dalam pidatonya:

The Chinese who live here can generally speaking be classified into two groups. The first group consists of those who are citizens of the Republic of Indonesia. In the second place, we have those who are foreigners, who still regard themselves as fully Chinese.  
As citizens of the Republic of Indonesia, the Chinese group will obtain the same positions and the same rights as native Indonesians, in accordance with the provisions of Chapter 27 of the Principles of the Constitution of the Republic. In regard to the distribution of employment and the rational application of power. Chinese who are citizens of the Republic of Indonesia will get jobs and positions solely in accordance with their ability and intelligence. This does not constitute a problem, even thought the Republic of Indonesia is now in need of manpower. Every employable person in our society will be made use of placed in work in a rational manner. These conditions will not only hold good in respect of the Chinese, but also will apply to all citizens of Dutch and Arab origin.  
As regards Chinese who refrain from becoming citizens of the Republic, the Republic which is based on a sense of social justice will be acting rather like the head of a family who shows a courteous and honourable attitude to visitors. There are still many obstacles of a political nature and there are still many difficulties in the way of solving these problems. But our strong desire for goodwill will be bound to succed in the future.  
Terjemahan ulang bebas:
Orang-orang Cina yang hidup di sini secara umum bisa dikelompokkan menjadi dua grup. Grup pertama berisi mereka yang menjadi warga negara Republik Indonesia. Di tempat kedua, kita memiliki orang-orang asing, yang masih menganggap dirinya orang Cina sepenuhnya. 
Sebagai warga negara Republik Indonesia, kelompok Cina akan memiliki posisi dan hak yang sama sebagai pribumi Indonesia, sesuai bunyi pasal 27 dari Undang-Undang Dasar Republik tentang pekerjaan dan kekuasaan. Orang-orang Cina yang merupakan warga negara Republik Indonesia akan mendapatkan pekerjaan-pekerjaan dan posisi-posisi hanya berdasarkan kemampuan dan kecerdasan mereka. Ini tidak akan menjadi masalah walaupun Republik Indonesia sekarang membutuhkan banyak tenaga kerja. Seriap orang yang bisa dipekerjakan dalam masyarakat kita akan diperkerjakan secara rasional. Kondisi ini tidak hanya berlaku untuk orang-orang Cina tetapi juga untuk semua warga negara berasal dari Belanda dan Arab. 
Mengenai orang-orang Cina yang tidak mau menjadi warga negara Republik, Republik ini yang dibangun berdasarkan keadilan sosial akan bersikap seperti kepala keluarga yang menunjukkan keramahan dan penghormatan kepada para pengunjung. Tentu saja akan ada masalah-masalah dari sisi politis dan akan ada kesulitan dalam memecahkan masalah-masalah ini. Tetapi keinginan kami untuk beriktikad baik akan menghasilkan kesuksesan di masa depan.

Pidato ini menunjukkan optimisme Bung Hatta tentang orang-orang Cina. Sayangnya, perjalanan sejarah kelak mengubah stelsel pasif menjadi stelsel aktif yang kelak mengasingkan orang-orang Tionghoa dan menjadi alat pemerasan buat mereka.

Tentu saja menjadi pertanyaan,
setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, setelah UU kewarganegaraan baru ada dan setelah terbitnya PP 10 tahun 1959, apakah Bung Hatta masih berpandangan sama tentang keturunan Tionghoa?

Dalam Asian Survey vol V no 3 yang terbit Maret 1965, ketika membahas tentang Malaysia, Bung Hatta menyinggung perilaku orang-orang Tionghoa di Indonesia dan membandingkannya dengan orang-orang Cina di Malaysia.

The attitude of the overseas Chinese in Malaya is completely different from their counterparts in Indonesia. The 'Tionghoa peranakan' (the Chinese who have lived here for generations) do not want to be called Chinese, but consider themselves as Indonesian citizens of Chinese descent. Generally speaking, their feelings are those of Indonesian nationals, with the same national ideals. Their grandparents may still speak Chinese, but they themselves do not. Before Indonesian became the national language -- that is, in the former Netherlands Indies -- the Chinese used to speak the language of the region in which they lived. If they were born in Central or East Java, they spoke Javanese. If they were born in West Java, they spoke Sundanese. If they were born in Minangkabau, they spoke Minangkabau. Chinese intellectuals and those with Western education learned to speak Dutch and 'pasar' Malay, over and above their own regional language. In those days, the Chinese newspaper were written in 'pasar' Malay or in 'Chinese-Malay', a mixed language closely related to Malay. These language no longer exist and have since been replaced by the Indonesian language.  
Why is there such a difference in mentality between the overseas Chinese in Malaya and those in Indonesia? The reason is that before World War II there was no national movement demanding an independent Malaya. This national feeling only came into existence after the emergence of several new independent and sovereign nations in Southeast and South Asia. During the Dutch colonial period a national movement had already become active in Indonesia, and exerted a strong influence upon the Chinese community in Indonesia. In addition, this national movement and the Partai Serikat Islam, which included a number of Chinese among its membership, the Partai Tionghoa-Indonesia, a 'Tionghoa-Peranakan' party under the leadership of Liem Koen Hian, was also striving towards Indonesian independence; its members wanted to give up Chinese nationality and become Indonesian citizen once Indonesia became free. Thus, the Indonesian freedom movement during the Dutch colonial period influenced the development of Indonesian national feelings among the Chinese in Indonesia. At present they no longer like to be called Chinese, but only Indonesians. The course of history in Indonesia has gradually made them real Indonesians. Only their names remind one of the country from which their ancestors came; their language and way of life are Indonesian.  
Terjemahan Bebas:
Perilaku orang-orang Cina perantauan di Malaya sangat berbeda dengan saudara-saudara mereka di Indonesia. Para 'Tionghoa Peranakan' (orang-orang Cina yang sudah tinggal di Indonesia selama beberapa generasi) tidak mau dipanggil Cina, tetapi menganggap mereka sebagai warga negara Indonesia keturunan Cina. Umumnya, perasaan mereka adalah perasaan nasionalis Indonesia, dengan ide nasionalis yang sama. Kakek-kakek mereka mungkin masih berbahasa Cina tetapi mereka sendiri sudah jarang. Sebelum bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional -- yakni, di masa Hindia Belanda -- orang-orang Cina sudah menggunakan bahasa di mana mereka tinggal. Jika mereka tinggal di Jawa Tengah atau Jawa Timur, mereka berbicara bahasa Jawa. Jika mereka lahir di Jawa Barat, mereka berbahasa Sunda. Jika mereka lahir di Minangkabau, mereka berbahasa Minang. Para intelektual Cina dan mereka yang menerima pendidikan barat belajar berbahasa Belanda dan Melayu 'pasar'; lebih sering dan lebih utama dibandingkan bahasa daerah mereka. Di hari-hari itu, koran-koran Cina ditulis dalam bahasa Melayu Pasar atau dalam bahasa Melayu Cina, bahasa campuran yang lebih dekat ke bahasa Melayu. Bahasa-bahasa ini kini sudah tiada dan sudah digantikan oleh bahasa Indonesia. 
Mengapa ada perbedaan sikap mental antara Cina perantauan di Malaysia dan di Indonesia? Alasannya adalah sebelum Perang Dunia II, tidak ada pergerakan nasional yang menginginkan Melayu merdeka. Perasaan ini baru muncul setelah timbulnya beberapa negara merdeka di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Selama masa kolonial Belanda, pergerakan nasional sudah menjadi aktif di Indonesia dan menimbulkan pengaruh pada komunitas Cina di Indonesia. Apalagi, pergerakan nasional ini dan Partai Serikat Islam -- yang juga memiliki sejumlah orang Cina sebagai anggota --, Partai Tionghoa-Indonesia, partai Tionghoa Peranakan di bawah kepemimpinan Liem Koen Hian, juga berjuang untuk Indonesia merdeka; anggota-anggotanya rela menyerahkan kebangsaan Cina dan menjadi warga negara Indonesia begitu Indonesia merdeka. Karena itu, pergerakan kemerdekaan Indonesia selama masa kolonial Belanda mempengaruhi perasaan kebangsaan Indonesia di antara orang-orang Cina di Indonesia. Saat ini, mereka sudah tidak mau disebut Cina tetapi hanya sebagai orang Indonesia. Perjalanan sejarah Indonesia secara berangsur-angsur telah menjadikan mereka orang Indonesia asli. Hanya nama-nama mereka yang mengingatkan asal-usul nenek moyang mereka; (sementara) bahasa dan cara hidup mereka adalah orang Indonesia.

Pendapat ini dikemukakan oleh Bung Hatta ketika budaya-budaya Tionghoa belum diberangus oleh orde baru dan orang-orang Tionghoa belum "dianjurkan" penguasa untuk mengganti nama. Walau begitu, Bung Hatta sudah mengakui ke-"pribumi"-an orang-orang Tionghoa Indonesia.

Dengan banyaknya tulisan-tulisan Bung Hatta dalam berbagai kesempatan yang mengagumi orang-orang Tionghoa, sukar dipercaya Bung Hatta membedakan keturunan Tionghoa dengan keturunan Arab.


Bacaan lebih lanjut:
1. Pramoedya Ananta Toer. Hoakiau di Indonesia. Pertama terbit sebagai artikel berkala di masa orde lama. Sekarang sudah dibukukan.
Pram dengan cemerlang menceritakan bagaimana para Tionghoa datang dari masa sebelum Belanda dan bagaimana kegiatan mereka hingga masa ditulisnya artikel tersebut.

2. Zainul Yasni. Hatta Menjawab. Terbit tahun 1978.
Berisi wawancara Hatta yang dilakukan oleh Zainul Yasni.

3. Hatta: Portrait of Patriot.
Berisi terjemahan-terjemahan tulisan Bung Hatta dalam bahasa Inggris.

4. Tulisan Hatta terbitan Bulan Bintang.
Ada beberapa artikel dari Daulat Ra'yat di sini.

October 22, 2017

Cynthia: Bonjour, Mademoiselle..

October 22, 2017 08:21 PM


Bonjour, Paris!

Despite not having internet connection most of the days here, we survived! Paris has so many free beautiful landmarks that is worth to visit. Even though many said that Paris is not a safe city, for me it is. But still, precaution is a must, especially if you travel alone at night. Act like a local by not showing off your fancy mobile phone and flashing expensive jewelries. Learn some phrases that might be needed there, like please: s’il vous plait (see voo play) or thank you: merci (mare-see).


Day One, September 2, 2017 - Exhausted Already.

Thankfully, I did not experience any jet lag on my first day here. Maybe it is because I sleep like a cow during that 12-hours flight. I only open my eyes when it's time to have dinner and breakfast.

Using RER train from CDG Airport, the four of us arrived at our place around 1 PM. Sorting this and that, we are ready to roll around 3 PM. Lucky us, we booked a place very near to Eiffel Tower, we can see it as a background in the nearest station from our place.


It was raining that afternoon, so we geared up with heat-tech uniform and long coat. Miraculously it seems that it never rained when we got to the Eiffel Tower which located less than 2 KM from our place. The weather is so confusing here. The minute it rain hard, the next minute the sun shine so bright.
 

Paris is a city of love, literally. Couples suddenly stopped in front of us and started kissing passionately (like grabbing ass and grepe2) is a common scenery here. If you hear krecep2 sound behind you when you sit in the train, NEVER turn your head around to find out what was that sound. If you think that you can not handle these, don't come to Paris. If you think that you had a chance to find a lost lover here, think again. They usually come in package. Unless you like challenges and ready to steal the boyfriend/girlfriend away, never expect to find one here.

After realizing my mistake, I walked away and went to Champs-Elysees. If I don't have to see Arc de Triomphe today, I would like to sit around here just to contemplate. The air is so fresh, the sky is so blue, and there are so many beautiful parks here that I can just sit for hours looking for all those handsome men that can be trapped and wrapped and shipped back to Depok.
 

Arc de Triomphe, checked. Finally the sun is setting. We looked at the clock and shocked because it is already 9 PM when it started to dark. We have to go home and prepare for tomorrow.


Today's expense: Eur 10 for the train from the airport to city center. Eur 2.5 for pain au chocolat in Brioche Doree. Eur 1.5 for the train from Arc de Triomphe back to Javel. Total: Eur 14.


Day Two, September 3, 2017 - Getting Lost to Versailles.

So there are two different RER C train to go to Versailles. We took the farther one by mistake. Instead of arriving in Versailles Rive Gauche that is only five minutes walk to Versailles, we arrived in Versailles Chantiers that require us to walk for another ten minutes to there. Fortunately on our way there, we unintentionally went to a kebab restaurant named Le Delice near the station. Surprisingly that is the best kebab I ever tasted in my whole life #lebayabis. It only cost us Eur 5, and it is so huge even for the four of us. They set the bar too high, because unfortunately there is only one Le Delice in Versailles, and there is none in Paris. We are sad already T__T


 


What can I say about Versailles.... No wonder the French Revolution took place. Even the replication in the museum looked very flashy. Seeing pictures of women back then in 1792, I think I was born at the wrong decades. People might see me adorable if I was born in 18th century.

The kebab effect wore off, we feel a bit hungry so we stopped at the nearest pancake named La Place Creperie. The owner is so hot, like the pancakes. The cost varied between Eur 6-15 for the crepes, and of course free tap water for me.

Tap water = une carafe d’eau = spelled oon giraffe doh.

Today's expense: Eur 7.5 for the train to Versaille. Eur 1.25 for kebab. Eur 18 for Versailles' entrance fee.  Eur 8 for the crepe au chocolat. Total: Eur 35.


Day Three, September 4, 2017 - Hopping freely in front of the landmarks.

Today's itinerary: Basilica du Sacre-Coeur de Montmartre, Moulin Rogue, Place de la Concorde, Louvre Museum and Notre Dame Cathedral. Checked.

First stop. Sacre-Coeur and it's famous 90-steps of stair to get out from the train station. Even there are encouraging pamphlet stapled on the wall every 15 steps telling us not to give up until the last steps. We are hungry already when we get out of the train station.

Feeling challenged by the Montmartre hill? You can try to climb another 300 steps of stair to reach the Basilica du Sacre-Coeur de Montmartre. For us? Funicular please, thank you.


After getting out of the Basilica, we are surprised that there are so many people lined up to go inside. Thankfully we arrived in the morning so there are less people to deal with. After that we went down to the Moulin Rouge from the road behind the Basilica. The road is quite packed though it is almost lunch time. If you want to find good but cheap souvenirs, look for them here. It's the cheapest place among all tourist sites in Paris.


Moulin Rouge is located on the bottom of Montmartre hill. Montmartre is like a Red Light District in Paris. So many sex toys here open during the day. I can not imagine how is it around midnight. Some said this is the unsafest place in Paris, so we don't have enough guts to come here during the night.

Some of you might wondering that I rarely eat here. The answer is no, I always eat but rarely in a restaurant. One course of meal varied between Eur 15-25 for a complete dine in, of course I'd rather spent that money on magnets and collectibles. I always packed lunch before leaving the apartment and bring NutriSari or GoodDay sachet in case I want to drink something sweet during the day. See, this is the real cheapo backpacker right?

Today I eat my lunch pack in front of Moulin Rouge. The lunch is always the same. Half of microwavable rice, noodle, sausages/cornet/egg/anything left from the breakfast menu. Finished refueling the empty stomach, we continue the trip to Place de la Concorde and Louvre Museum.





=} this is supposed to be France flag.
Since we are cheapo backpackers and we are lack of knowledge regarding art, we don't have any intention to go inside the Louvre Museum. Just a mandatory selfie and wefie in front of the famous pyramid. 

Our last day is very exhausting, we have to sit down and take a rest before walking again to Notre Dame Cathedral. The best thing about Paris is, most of the religious sites are free. The inside is magnificent as always, we have to stopped for a moment and enjoy the relics.


Today's expense: Eur 1.5 to Sacre-Coeur. Eur 1.5 for the funicular. Eur 1.5 to Louvre. Eur 5.5 for kebab. Eur 1.5 for gelato. Eur 1.5 to go back to Javel. Total: Eur 13.

Day Four, September 5, 2017 - Train to Amsterdam, to be continued.

Expense: Eur 1.5 to Gare Du Nord Station

So total expenses in Cheapo Backpacker Trip in Paris:
Three and half days expenses: Eur 64: IDR 1.024.000 (1 Eur: IDR 16.000)
Airbnb apartment in Javel for 3 nights: IDR 1.102.000/person
Thalys train to Amsterdam: IDR 672.000/person

TOTAL: IDR 2.798.000
exclude: magnets and collectibles.

PS: Paris magnets are the cutest magnet comparing to other countries that I visited.






October 18, 2017

Narpati: Isu Pidato Soekarno di Semarang 1948 Tentang Hanya Stelsel Pasif

October 18, 2017 01:16 PM

Ada yang sedang menyebarkan ringkasan pidato Bung Karno di Semarang tahun 1948 soal stelsel pasif untuk salah satu etnis tertentu ?

Saya jadi tergelitik ingin tahu sejarah peraturan kewarganegaraan di Indonesia dan... 
TERNYATA di tahun 1946, RI menganut stelsel pasif, sesuai UU no 3 tahun 1946 Pasal 1 ayat b beserta pasal 4.

Artinya, sebagian besar keturunan Tionghoa di Indonesia adalah warga negara Indonesia secara otomatis tanpa embel-embel pendaftaran!

Namun setelah KMB tahun 1949 yang mengaktikan kembali strata sosial, dan kemudian pengakuan negeri RRT tahun 1950 sehingga muncul model kedwiwarganegaraan dan kemudian diubah jadi stelsel aktif berdasarkan UU no 62 tahun 1958 (lihat pasal 4 dari peraturan tersebut). Di sinilah baru muncul metode "pemerasan" yang puncaknya pada kebijakan SKBRI di masa orde baru.

Kembali ke (konon) ringkasan pidato Bung Karno tersebut, agak aneh, kalau jika beliau di tahun itu mengistimewakan satu "golongan" sebagai stelsel pasif. Ini antara ringkasan tersebut berbohong atau si pembuat ringkasan salah memahami pidato beliau. Selain itu pidato tidak seharusnya menjadi sumber peraturan.
Dalam tambahan tulisannya, si penyebar juga menegaskan dengan "fakta" bahwa Bung Karno menerbitkan PP no 10 yang "yang disetujui MPR" bahwa keturunan etnis tersebut status Kewarganegaan ‘Stelsel pasif’ yang sama dengan warga Pribumi yaitu otomatis dianggap dan dicatat sebagai WNI".

Saya bertanya, Peraturan Pemerintah no 10 tahun berapa? Karena PP no 10 tahun 1948 adalah tentang "Komisariat Pemerintah Pusat di Sumatra". Sementara "PP no 10" lain yang cukup terkenal adalah PP no 10 tahun 1959, tentang pembatasan "orang asing" berdagang eceran dan jelas tak relevan dengan pidato Soekarno tahun 1948 karena sudah ada UU baru tentang kewarganegaraan di tahun 1958.

Untuk cerita lebih lengkap tentang sejarah kewarganegaraan keturunan Tionghoa, mungkin sebaiknya baca tulisan yang ada di blog Lisa Suroso tahun 2007 ini.


Narpati: Saya Bukan "Pribumi" Jakarta

October 18, 2017 01:12 PM

Ada masa saat saya tertekan menyadari saya bukan "pribumi" Jakarta sementara "pribumi"-nya tersingkir ke pinggir-pinggir kota. Sebagai anak pendatang dari Jawa, saya gelisah saat pertama mendengar kisah suku Betawi terpinggirkan karena mahalnya taraf hidup di tengah ibukota. Lalu saya harus bagaimana? Pulang ke kampung halaman walau ngomong bahasa Jawa ngoko saja gak becus?

Sekarang, setelah dipikir-pikir lagi, MH Thamrin pun sesungguhnya bukan murni "pribumi" Jakarta karena tubuhnya mewarisi gen pendatang. Walau demikian, di Volksraad ia kencang mengritik pemerintah kolonial yang abai terhadap "pribumi" Jakarta, mengindentifikasi dirinya sebagai "pribumi".

Setelah 72 tahun Indonesia Merdeka, saya menyadari, perasaan "tersingkir" dan "terjajah" itu masih ada. Pertanyaannya adalah, "terjajah" oleh siapa? Apakah narasi "pribumi" tepat untuk menggambarkan perasaan itu? Jawaban untuk pertanyaan kedua adalah TIDAK!

Tahun lalu saja, seorang "non-pribumi" terluka saat membela kampung yang sedang digusur.
Jauh sebelum KPK mengungkap kasus penyuapan reklamasi, kawan-kawanku yang "non-pribumi" sudah teriak-teriak di linimasa Facebook-nya menentang kebijakan Gubernur yang satu etnis dengan mereka. Mereka yang doyan teriak-teriak "Cina" justru adalah penumpang belakangan dalam isu reklamasi.

Pribumi punya konotasi negatif. Seseorang boleh berpendapat bahwa pribumi adalah semua orang yang asli lahir di daerah itu. Namun kalau bicara konteks kolonial, keturunan dari para pendatang pun tidak dianggap sebagai pribumi, kebijakan untuk mencegah terjadinya persatuan di antara warga, mempermudah penguasa mengawasi jajahannya.

Okelah, saya berbaik sangka bahwa "pribumi" yang dimaksud Anies adalah seluruh warga Indonesia di Jakarta. Namun reaksi-reaksi beberapa pendukung Anies yang menyebarkan perbedaan "keturunan Arab" dan "keturunan Tionghoa" dari berbagai sumber termasuk yang diragukan asalnya, tak pelak menegaskan pengertian "pribumi" yang digunakan adalah pemahaman warisan kolonial. Berdasarkan pengertian warisan kolonial ini, walau seseorang lahir di negeri ini, kakek mereka mungkin dari luar negeri tetapi sudah menanggalkan warga negara asal dan memilih Indonesia (atau pasca 1958 lupa melapor dan kelak pasrah "diperas" pakai SKBRI),  dan ayah-ibu mereka bahkan pasrah tidak mengajarkan budaya leluhur mereka semasa orde baru demi "asimilasi", tetapi tetap saja mereka dicap sebagai "non-pribumi".

Ya, para "non-pribumi" yang dimusuhi itu, bahkan pernah kujumpai sedang belajar bahasa leluhurnya dari guru-guru "pribumi"!
Mau sampai kapan kalian memusuhi warga keturunan Tionghoa dan menganggapnya sebagai "non-pribumi" ?

Sampai pola pikir cuci otak ala Kolonial Belanda ini hilang, memang sebaiknya kata "pribumi" tidak dipakai dalam konteks apapun dan karena itu, Pak Habibie (yang kebetulan juga keturunan Arab) sudah benar dalam menerbitkan Inpres nomor 26 tahun 1998!

October 17, 2017

Narpati: Hentikan Penggunaan Istilah 'Pribumi' SEKARANG JUGA!

October 17, 2017 11:15 AM

Saya keturunan Jawa, lahir di Jakarta, lebih akrab dengan lenong Jakarta daripada ketoprak atau ludruk, lebih akrab dengan Gambang Kromong dan Tanjidor daripada Gamelan Slendro atau Pelog, lebih menyenangi suara Tekyan digesek daripada Rebab milik ayah saya. Ayah saya pernah begitu marahnya pada saya dan melarang saya berbahasa Betawi. Sebagai gantinya, saya ngambek tidak mau belajar bahasa Jawa.

Singkat kata, latar belakang pribadi saya membuat saya menolak segala sekat-sekat berbasis sukuisme dan rasisme. Sekarang bagaimana pengalaman saya bergaul dengan kawan-kawan keturunan Tionghoa?

Saya pernah memiliki kawan keturunan Tionghoa Palembang, hidup di gang-gang kecil. Si kakak yang jadi teman saya, masih tetap beragama Buddha (setahu saya) sementara adiknya masuk Islam. Jadi penasaran, bagaimana kabar mereka sekarang, karena sudah lama tak bertemu.

Saya punya kawan keturunan Tionghoa Medan, hidup di rumah toko, juga pernah mengalami pahitnya dipecat dalam perjalanan ke kantornya.

Saya punya kawan keturunan Tionghoa Jawa, tak bisa membaca tulisan Pinyin sama sekali dan tidak pula bisa bahasa-bahasa etnis Tionghoa. Kalau dia terjebak di antara orang-orang berbahasa Hanyu atau Tiochiu atau Khek, pastilah dia rekam diam-diam untuk kemudian dia tanya ke kawannya, "mereka ngobrol tentang apa sih".

Saya pernah beberapa kali menemukan "pribumi" begitu asyik bicara tentang cara menyuap untuk mendapat proyek. Dalam salah satu kesempatan, saya sampai marah mendengar ocehan salah satunya dan mendampratnya. Di sisi lain saya malah pernah menemukan pengusaha keturunan Tionghoa, memilih pasrah (tapi ngedumel) "bayarannya ditunda" daripada memberikan uang pelicin proyek. Bahkan ketika salah satu kliennya menawarkan "kamar hotel", dia memutuskan menolak. Hanya menggunakan kamar tersebut agar temannya bisa shalat, dan setelah itu ia dan kawannya pulang, khawatir bila menginap di kamar tersebut nanti didatangi "tamu wanita".

Dan saya punya beberapa teman non-Tionghoa yang acapkali disangka Tionghoa karena bentuk matanya. Cuma ya, tetap saja mereka mendapat "perlakuan berbeda" hanya karena bentuk fisik.

Jadi apa yang salah dengan membawa narasi "pribumi"?
Banyak!
Dari sisi peraturan salah. Zaman Pak Habibie jadi presiden sudah mengeluarkan larangan menggunakan istilah ini.

Dari sisi agama yang kuanut pun salah. Di masa Nabi, beliau sudah memiliki sahabat keturunan Ethiopia dan keturunan Persia. Kenyataannya banyak para pelestari agama Islam berasal dari non-Arab seperti dari Bukhara.

Dari sisi cita-cita para pendiri negara ini pun salah. Coba lihat pidato Bung Hatta di depan orang-orang Tionghoa tahun 1946. Sistem ekonomi negara kita yang baru seharusnya menghapus semua sekat-sekat sosial di masa kolonial. Jadi bukan untuk membalik piramida dan balas dendam.

Dari sisi kenyataan sosial di negara ini pun salah. Orang-orang Tionghoa juga mengalami sebagai pihak terzalimi secara ekonomi sementara orang-orang pribumi juga ada yang di tingkat atas piramida ekonomi.

Dan yang paling berbahaya, narasi 'pribumi'-isme menghalangi isu sesungguhnya.
Kalau seandainya, yang korupsi adalah 'pribumi' apa kita harus menerima karena pelaku adalah 'pribumi'?
Kalau seandainya, para pengusaha yang kelak menguasai dan mengendalikan harga-harga fasilitas yang seharusnya milik publik adalah para pengusaha 'pribumi' apakah kita diam saja karena pelaku adalah 'pribumi'?

October 11, 2017

Maya: The Day I Stepped Onto Another Continent Called.. Europe

October 11, 2017 08:12 PM

So one thing that I remember from my junior high was this assignment where you should draw a HUGE map on a certain continent, and I got Europe for mine.

I loved it. I studied the countries in it. I wished I can visit and see how they live. I become the dreamer that I am today.

And my wish came true. I visited Europe last September 2017. So yay me!

Anyhoo.. Europe is amazing, in a sense that their cities are so highly affected by arts. Sculptures are everywhere. Big architectural buildings, preserved from old ancient times (and roads too, for that matter), making you feel so damn humbled and amazed. The lake, the sky, the traffic, the culture, the lifestyle .. molto bene!

Paris

This is the first city I stepped on. I have no expectations to be honest, so I enjoyed this city a lot. Aside from the shock due to the Euro quoted price on stuff, I largely enjoyed everything, from hearing the people talk, the stinking metro, Eiffel and all those shopping avenues. To be honest, walking around in Paris reminded me of Morocco. Dunno why.

Amsterdam

The most laid back period of my trip. Haha. Thanks to my very kind uni friends who met at college and decided that they love each other and now are blessed with two beautiful kids. Amsterdam is amazing with that cookie cutter houses and the canals and the smell of weed. I found a lot of familiar words in Bahasa and it downed on me how thick the Dutch influences on Indonesia.

Interlaken, Swiss

Fuckin expensive country.

Florence & Rome

Italy is my obsession throughout the whole Eurotrip. Tuscany area is famous for retirement place, and I can see why. The food in Italy is just delicioso. Mamma mia! And it's freakin affordable. If I don't have the luggage constraints, I would've bought A LOT of things there. Too bad the area we visited is very touristy since, similarly like in Morocco, they segregated the old and new cities. Old ones are dedicated for tourists so it's pretty difficult to make sense of how local is doing.

Barcelona

Well, now I understand why local people of Barcelona protested the influx of tourist coming into their city, because I can see how residential the city is. It's very... local. The price is also affordable. Culinary wise, I'd still prefer Italy though. The level of cute guys, still comparable to hot Italian males. Amsterdam might have been the city with the most so-so looking male, btw.

Anyway, this trip is more "landmark-hunting" kind of trip so I'll be back, for sure!

~written in a car whereas the driver refused to let me drive, so I wrote this blog instead


Sent from my iPhone

October 10, 2017

Narpati: Mengenalkan Ilmu Pengetahuan Melalui Budaya Populer

October 10, 2017 02:01 PM

Zaman saya kecil, ayah saya memandang buruk tayangan di TV, menganggapnya sebagai media pembual yang membuat anak-anak berimajinasi yang tidak-tidak. 

Entah kenapa saya tidak setuju pandangan ayah saya dan kini, saya sekarang mencoba bereksperimen pada putriku untuk memperkenalkan konsep-konsep ilmu pengetahuan, salah satunya menggunakan animasi yang dibuat oleh tim KOK BISA.

Sudah beberapa kali saluran animasi KOK BISA membantuku mendongeng kepada Ara. Ada yang sudah kuceritakan dahulu dan ternyata beberapa minggu kemudian muncul versi Kok Bisa. Ada juga sebaliknya, episode Kok Bisa memancing diskusi antara Ara dan saya.

Sebenarnya, selain KOK BISA, ada beberapa tim animasi lain yang mempopulerkan ilmu pengetahuan antara lain:

1. Sains Bro 
2. Hujan Tanda Tanya
3. Kamu Harus Tahu
4. Ayo Mikir

Namun yang gaya dan tema paling konsisten serta paling aktif unggah video adalah KOK BISA.

Tentu saja,
kombinasikan pengetahuan dari channel ini dengan eksperimen sederhana, hitung-hitungan, atau bahkan nonton film fiksi-ilmiah, dystopia, dan superhero lalu kombinasikan juga dengan mengajari tentang sejarah masa lalu. Dengan demikian, saat berdiskusi, bisa merujuk pada budaya populer lainnya.

Sekedar catatan terakhir,
jangan lupa ajak anak berolahraga, berkreasi dan makan-makanan sehat seperti makanan yang mengandung betacarotene.

Jangan sampai anak keasyikan lihat Youtube dan ujung-ujungnya merusak mata dan lemah fisik. Ujung-ujungnya nanti malah tak bisa belajar di sekolah.



October 08, 2017

Cynthia: Barisan Pengabdi Set..tingan Multi Exposure

October 08, 2017 01:36 AM

Pardon the internal joke, anyone. The title is inspired by the recently booming horror movie called "Pengabdi Setan". Some said that they are satisfied with the movie, thus leading the others to watch, thus increasing the amount of free movie offering for me too.

Nay nay nay, never, I said. The last horror movie that I watched is Conjuring 2, and I watched it without my glasses. That's why I'm free from any horror dream that usually took place after watching it. I would never spend a dime on a horror movie, never!

Back to the topic, actually it's not about the movie at all, haha. It's about new photography skill that I learned today. It's called Multiple Exposure.



It's a photography technique that combines more than one exposure using a flash in one long shoot. The image above is one ballerina, doing three different movement that frozen by a flash firing at three different time. It sounded complicated, but since I can do it, I can say that it's not, haha.

What you need:

- A camera. d'oh! Prepare backup batteries, since the setting will drain your battery.
Set the camera into Manual mode, set the time to Bulb (B), the ISO to the smallest number, and the focus to be the biggest number that your camera had so it will make your picture looks more concrete. For me, the ISO is only 200 and the focus is 22.

- A tripod. One can not survive without a tripod since you will fire the shoot and hold it for quite a long period (around 20-25 seconds). If there is no tripod available, you should put your camera on a bench or just gamble on your skilled hand to not trembling.

- A dark room.

- A powerful flash.

- And last but not least, actually it is the most important thing, an INTERESTING moving object. Later I will edit this post, added the different result of having interesting object (like a ballerina or a martial art athletes) and uninteresting object (like me -_-)

All set, all you have to do is making sure the focus is on the object, hold the shoot while the ballerina started moving, fire the flash for the first, second and etc etc until the last image. The result will appear as of there are n different image but the same person in one photo.


Cool, huh!

You can also make a still image doubled with a ray of light coming from a moving light like flashlight.



In this image, I sat still while the camera started shooting, one using red flashlight moving from the right to the left corner, one using white flashlight to add more effect at the top of my head. After the flashlight movement, the flash fired for the last time and after that you can release the shoot. Amazing. This is the true "Pengabdi Setan" cover photo, haha.


The same goes to this picture, the words on top of our head is coming from a flashlight, meanwhile the color below us is coming from a cheap colorful saber bought in traditional market. I am amazed.

ONE SKILL UNLOCKED. Can not wait for the new one after this.

October 06, 2017

Narpati: "Esa" Dalam Pancasila, dari Bahasa Sansekerta-kah Ataukah Bahasa Melayu?

October 06, 2017 11:18 AM

Pemikir Ali Shariati Menafsirkan Monoteisme

Akibat pernyataan Eggy Sudjana di sidang Mahkamah Konstitusi yang menjadi viral, diskusi tentang kata "Esa" muncul kembali. Mereka mengatakan bahwa "Esa" dalam Bahasa Sansekerta bukanlah "Eka" dan demikian sila pertama dalam Pancasila tidak menunjukkan monoteisme.

"Esa hilang dua terbilang" , pernahkah dengar pernyataan tersebut?
Ya, mereka lupa bahwa kata 'Esa' juga ada dalam Bahasa Melayu.

Mari kita tengok lagi bunyi Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang diresmikan 18 Agustus 1945.

"... dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab... "

Apakah 'Esa' di kalimat itu adalah kata Sansekerta yang artinya tak umum diketahui orang termasuk penyusun kalimatnya (kecuali orang macam M. Yamin) ataukah dari Bahasa Melayu yang umum dikenal orang?

"Ketuhanan Yang Maha Esa" tidak berarti orang Indonesia wajib memilih agama monoteisme sempit. Menurut hamba, sila ini, hanya menegaskan para penyusunnya mempercayai satu tuhan dan keyakinan itu melandasi bahwa manusia itu sesungguhnya satu umat apapun ras dan bangsanya.

Mungkin sebaiknya kita melihat tafsir Bung Hatta, salah satu anggota BPUPKI yang termasuk Panitia Sembilan yang merumuskan ulang pidato 1 Juni 1945-nya Bung Karno menjadi dasar negara yang kita kenal, dan kebetulan beliau juga yang mendesak agar sila 1 diubah agar tidak memecah belah bangsa Indonesia.

Dalam pidatonya kepada orang-orang Tionghoa di Yogyakarta tanggal 17 September 1946, Bung Hatta mengatakan (diterjemahkan ke Bahasa Inggris dalam buku Hatta : Portrait of Patriot ):

"The fact that the foundation of the State is based on belief in one God will enable us to avoid the disputes which can lead to so many disasters, because in the hand of God, one can achieve the unity of human desires. Following this principle leads the aim of our State into the path of international peace and brotherhood of all nations. If every nation felt that it was the subject to the guidance of the one God in its way of life, the ideals of all nations would fit in with the main characters of God, which is love, mercy, and justice". 

Seperti yang kita lihat, penafsiran Bung Hatta menegaskan bahwa "Esa" dalam sila pertama Pancasila adalah monoteisme dan pemahaman monoteisme Bung Hatta mirip dengan tafsir sosiologis tauhid-nya Ali Shariati.

Walaupun sila pertama Pancasila adalah bentuk ungkapan monoteisme, tidaklah sila ini ditujukan untuk mengekang agama lain dan memaksakan keyakinan monoteisme mutlak 'ala agama tertentu. Bahkan dalam pidato 1 Juni 1945-nya, Bung Karno menegaskan 'Prinsip Ketuhanan' tidak berarti satu tafsir.

"Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW, orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya bertuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa"

Perhatikan bahwa Bung Karno tidak mengatakan "menyembah Tuhan" ketika menyebutkan agama Buddha tetapi "menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya". Jadi Bung Karno paham kebhinnekaan tafsir "Tuhan" yang ada dalam agama-agama di Indonesia.

Narpati: Merenungkan Pernyataan Eggy Sudjana di Mahkamah Konstitusi Yang "Menyinggung"

October 06, 2017 11:00 AM

Orang-orang mengritik pernyataan Eggy Sudjana, dianggap menghina agama lain terutama agama non-semitik. Saya justru melihat pernyataan Eggy Sudjana ini sebagai tafsir Pancasila, sembrono tetapi saya sering jumpai kawan-kawan yang punya tafsir demikian.

Seharusnya, orang-orang Hindu itu tidak melaporkan Eggy Sudjana tetapi berpikir, seandainya nih, pasca Joko Widodo, presiden selanjutnya punya tafsir sembrono seperti Pak Eggy dan kebetulan punya sifat diktator, tidakkah si pemimpin diktator baru ini tergoda menggunakan Perppu Ormas untuk menekan mereka?

Sekarang saja, salah satu pendukung Perpu Ormas dari sebelum diketuk palu, sudah beberapa kali teriak-teriak meminta pemerintah untuk membubarkan Saksi Jehovah menggunakan Perppu Ormas.

Jangan lupakan, dalam sejarah negeri ini, sebuah agama resmi yang diakui di awal tahun 1965 (tercantum dalam penjelasan Penpres no 1 tahun 1965), tiba-tiba tidak diakui di masa orde baru dan pengikutnya disuruh mengaku sebagai agama lain atau pernikahan mereka tidak diakui.

Perppu Ormas itu adalah peraturan diktator berisi pasal-pasal super lentur dan jenis hukuman yang jauh lebih berat.

September 28, 2017

Ramot: Mari Main Susun - Susun APBN

September 28, 2017 03:07 PM

Update kecil saja, Kementrian Keuangan membuat sebuah permainan yang menurut saya menarik. Kita bisa mencoba membuat sendiri pengaturan proporsi keuangan APBN. Tentunya ada syarat - syarat yang harus dipenuhi agar pengaturan yang kita lakukan dinyatakan sesuai.

Untuk main, silahkan masuk ke https://www.kemenkeu.go.id/simulasiapbn/

Hasil saya dapat dilihat di bawah ini. Sebenarnya analisanya ada yang hilang, yang saya prioritaskan adalah fasilitas umum, ekonomi (infrastruktur), kesehatan, pendidikan dan jaminan sosial. Sedangkan yang saya pangkas anggarannya adalah anggaran aparatur negara (lupa namanya haha), keamanan dan pertahanan. Saya juga memangkas anggaran ekonomi, tapi masih cukup besar proporsinya. Itu anggaran pariwisata sepertinya persentasenya naiknya besar sekali, padahal karena memang awalnya jumlahnya kecil sekali, naik sedikit saja persentasenya langsung naik segitu banyak. Tapi saya sendiri merasa memang harus dinaikkan, dengan tujuan dimanfaatkan untuk memicu tumbuhnya usaha - usaha kreatif baru.


Bagaimana dengan kamu? Yang mana yang akan kamu prioritaskan?

September 11, 2017

Narpati: Anti-Separatisme Sebagai Pembenar Kekerasan Negara

September 11, 2017 02:17 PM

Saya kemarin menolak menganggap konflik Rohingnya sebagai murni konflik agama. Walau begitu, menerima mentah-mentah penjelasan separatisme atau teori imigran dari pemerintah Myanmar juga tidak bijak.

Ini masalah dari bangsa kita, seakan-akan label 'separatis' sudah cukup alasan untuk membenarkan tindakan kesewenang-wenangan baik di negeri tetangga maupun di negeri ini.

Si Nganu menyuarakan pemberontakan? Dukung pemerintah untuk menculik dan membunuh Nganu di luar pengadilan dan beri kenaikan pangkat pada tentara yang inisiatif menghukum si Nganu, kalau perlu beri jabatan strategis!


Seandainya dahulu Belanda menerapkan apa yang bangsa kita terapkan sekarang pada kaum separatis,
niscaya, Belanda tak perlu repot-repot membawa empat orang pemuda Hindia yakni Hatta, Ali Sastroadmidjojo, Nazir Pamontjak, dan Abdul Madjid Djojohadiningrat, ke pengadilan. Cukuplah tembak mereka diam-diam saat mereka pulang dari kongres di Brussel.

Tak perlu repot-repot menyeret Soekarno ke pengadilan, mendengarkannya berceramah memprovokasi inlander-inlander Bandung. Cukup culik dan tembak.

Ada pemberontakan? Tinggal tutup akses agar koran-koran macam Medan Prijaji tak bisa mencari berita. Kalau perlu bahkan koran kuning inlander ini di-bredel saja agar tak menimbulkan kebencian pada para pejabat.

Lagipula,
toh Pemerintah kolonial sudah cukup perduli dengan rakyat inlander dengan membangun infrastruktur-infrastruktur rel-rel kereta api dan jalan raya.

Tampaknya, bagi bangsa ini, ucapan "Sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa" yang dahulu di masa sekolah dibacakan setiap Senin tidak pernah meresap dalam qalbu dan hanya di lidah saja.

September 04, 2017

Narpati: Bhinneka Tunggal Ika masa 1945-1949

September 04, 2017 11:21 AM

Seandainya saat perang 45-49 dahulu, tiap orang ditanya, "apakah dukung republik karena percaya humanisme Syahrir, 100% merdeka Tan Malaka, atau Fatwa Jihad NU?", niscaya bangsa ini tak akan merdeka.

Untungnya, walau dengan pandangan berbeda-beda, secara garis besar para pendiri negara ini relatif patuh pada garis komando dengan disiplin, walau ada insiden 'mbalelo' beberapa kali.

Untungnya juga, "penguasa" merasa tidak membutuhkan juru dengung saat itu. Bahkan mereka rela 'diturunkan' oleh mosi tidak percaya DPR selama ada yang melanjutkan garis perjuangan mereka. Gak pernah dengar ada cerita Sjahrir ngambek minta Soedirman diganti karena pro-Tan Malaka dan tidak ada pula cerita Soedirman minta Sjahrir diganti karena tahu bukan ia yang punya wewenang mengganti PM.

Hormat saya untuk Sjahrir yang rela diturunkan. Hormat saya untuk Panglima Soedirman yang patuh pada perintah, tidak melakukan kudeta walaupun garis politik berbeda. Hormat saya untuk NU, walau tujuh kata hilang dari pembukaan undang-undang dasar, mereka masih ikut membantu perjuangan republik.

August 27, 2017

Narpati: Mencoba Chrome Cast

August 27, 2017 06:42 PM

Dua minggu terakhir aku bereksperimen dengan Chromecast dongle, ditawari kawan dengan setengah harga.

Tadinya, kusangka, dengan alat ini, apapun yang tampil di ponselku, bakal tampil di layar TV. Saya salah.

Tapi pertama, prasyaratnya dahulu,
TV harus memiliki socket HDMI.
Kemudian, rumah harus memiliki jaringan nirkabel yang tersambung ke internet. Tanpa sambungan ke internet, Chromecast dongle bakal ngambek tidak mau beroperasi.

Pada saat instalasi, akan ada panduan bagaimana setel jaringan wireless dari dongle di layar TV.
Oh iya, tidak ada baterai internal dari dongle ini, jadi selama digunakan harus menggunakan listrik eksternal melalui kabel USB-mini USB panjang, disediakan satu paket saat membeli.

Oh iya, jika hanya muncul video tanpa suara, kemungkinan membutuhkan penyetelan TV untuk mencari sumber audio-nya. Silakan utak-atik sendiri.

Chromecast dongle, modus aslinya membutuhkan aplikasi-aplikasi yang mendukung chromecast, antara lain:
1. Youtube; 
2. Google Play; (belum kucoba)
3. Netflix; (belum kucoba)
4. iFlix; 
5. HOOQ;
6. dan beberapa apps lain (nanti dijelaskan lagi).

Selain itu, Browser Chrome di laptop juga bisa berfungsi sebagai aplikasi Chromecast asalkan untuk mengakses situs-situs yang memang mendukung Chromecast seperti Netflix.

Namun sebelum menggunakan aplikasi-aplikasi tersebut, aplikasi Google Home dibutuhkan dalam proses instalasi Google Chrome

Awalnya saat menggunakan di minggu pertama, saya kecewa karena film ternyata tidak berasal dari ponsel ke dongle melainkan streaming dari internet ke dongle. Aplikasi ponsel ternyata hanya mengirim sinyal agar dongle mengakses situs streaming di jaringan internet. Entah karena posisi dongle di belakang TV dan tembok yang kebetulan sudutnya agak sukar dapat sinyal nirkabel ataukah memang kemampuan dongle sendiri, gambar yang didapat berkualitas rendah dan terputus-putus. Hal ini membuat saya sempat patah arang.

Kemarin, saya baru menyadari ada setelan untuk Guest Mode. Setelan ini berfungsi agar gawai bisa menyiarkan langsung ke dongle.
Setelah saya coba modus Guest Mode ini, gambarnya menjadi bagus dan tidak terputus-putus.

Tentu saja, saya masih penasaran, apakah hanya aplikasi-aplikasi streaming dari internet yang bisa mengirimkan film dari gawai ke dongle Chromecast. Setelah saya cari, ternyata ada aplikasi untuk melakukan siaran lokal (localcast) dari gawai ke dongle Chromecast. Ada yang berupa plugin browser Chrome dan ada juga yang berupa aplikasi di ponsel antara lain BubbleUPnP dan LocalCast.

Hari ini, saya mengujinya dengan film Doraemon 1 jam 40 menit menggunakan aplikasi LocalCast gratisan (alias dengan iklan di layar ponsel) dan cukup berhasil. Namun seperti yang saya katakan, dongle Chromecast sendiri membutuhkan akses internet untuk aktif walaupun sumber filmnya tidak dari internet.

Nah,
untuk aplikasi iFlix dan HOOQ, ada beberapa kartun anak-anak dan ada koleksi film-film Cina yang lumayan banyak. :)

August 20, 2017

Tya: 2 tahun bersama SeLis (sepeda listik)

August 20, 2017 02:15 PM

Bismillahirrahmaanirrahiim...

Ini mau cerita dari awal beli, baru kesampean cerita sekarang, masa?

Sedikit flashback ya di tahun 2015.

Jadi, kalau masih ingat cerita saya jatuh saat belajar motor, ini adalah cerita setelah itu...
Trauma naik motor?
Duuh coba aja lagi, baru jatuh sekali..

iya iya... saya tahu
dan sebenarnya saya juga udah mau nekad kok naik motor saat itu...
karena udah semakin dekat dengan waktu saya akan kembali ngantor..
kantor-nya memang dekat rumah sih. cuma 2 kilo-an.. tapi ya kalau jalan capek juga lah hehe
Dan juga pertimbangan tahun depan, akan mulai jemput Sayyid masuk SD.

Yap, saya udah meng-azam-kan diri... Oke saya akan naik motor Beat yang udah dibeli..
tapiiii, saat itu motor suami yang Revo dipakai untuk transportasi usaha kecil yang sedang dirintis suami dan hmm rekan-nya.
Jadi, akhirnya kami putuskan yasudah biarin aja dipake dulu...

Lalu, aku naik apa?
Karena sebenarnya udah 'ngidam' banget punya sepeda listrik, akhirnya kami putuskan.. Oke beli sepeda listrik secara tunai.

Setelah coba cari ke sana kemari, berselancar di beberapa website, baca beberapa blog yang sudah punya selis juga, akhirnya sampailah kami di sini http://www.selis.co.id/
dan sampailah di agen penjualan selis di Metland Cileungsi (dibanding agen di bekasi timur, lebih dekat yang ini).
Karena sudah tahu mau beli yang mana, langsung deh tunjuk Selis tipe Butterfly (lupa tipe tepatnya apa, karena sekarang sudah tidak ada tipe ini).
Ini yang paling murah: 4.150.000 saat itu ..

Dan dasar saya memang "cemen" pas disuruh test drive itu deg2an banget dan hampir mau jatuh, karena berasa 'berat' emang, tapiiiiiiiiii udah gak bisa mundur lagi... karena udah makin dekat dengan saatnya saya harus kembali ke kantor. Jadi, OKE. langsung DP 500.000 sisanya bayar saat diantar ke rumah.

Setelah jeda beberapa hari, akhirnya si "ungu" sampai juga di rumah.
Lalu...... apa yang saya lakukan?
Sayaaaa takutt mau cobain-nya.. serius "cemen" banget deh saya mah

Akhirnya yang saya lakukan adalah, lepas dulu aki-nya, lalu belajar goes lagi.. di dalam rumah :))
 karena udah lama juga gak naik sepeda kan.. padahal dulu mah "nempel" banget sama sepeda....

H-1 masuk kantor, apa yang saya lakukan?
Saya pakai selis itu tanpa Aki, gowes dari rumah sampai lokasi kantor (2 km-an), dan apa yang terjadi??? saya capeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeekkkkk
gempor banget2 .. karena memang meskipun saya pilih tipe yang sangat mirip dengan sepeda, dengan harapan kalau suatu saat di perjalanan baterai habis, maka bisa saya gowes, tapi nyatanya memang ini selis berat banget kalau digowes...  ada 1 jam saya baru balik rumah dengan keringat bercucuran...

Belum lagi drama, tanjakan yang tidak sanggup saya naiki dan membuat saya tuntun sepedanya, sambil pura2 lihat pemandangan karena malu haha #halaaaaaaah.

Iya karena saat itu memang lagi waktu-nya pasar pagi dan ruameee bangett, belum lagi sepanjang jalan, terdengar bisik2 dari orang yang lewat mengenai selis ini... saking unik-nya kali yaa haha

kemudian hari H, pagi2 saya mulai berani coba selis pakai aki-nya, cuma mau beli nasi uduk..  wuihh deg2an banget.. tapi kalau dibanding motor ya jelas ini lebih ringan jadi lebih mudah atur keseimbangan
dan akhirnya ke kantor-nya diundur esok hari-nya, masih ngumpulin nyawa..

iya iya saya memang super lebay and cemen dehh...
ya emang beginilah saya apa adanya... :))

kemudian ya sudah esoknya mulai ke kantor, jarak 2 km dari rumah ke kantor yang harusnya hanya ditempuh kurang dari 10 menit, akhirnya saya menghabiskan waktu 20 menit, sampai suami bilang "parah beuuuttt"
karena nge-gas nya bener2 pelan2 asal jalan aja....

Tantangan-nya tetap di tanjakan, karena dari spesifikasi selis ini, maksimal tanjakan yang bisa ditempuh itu kemiringan 40derajat. Sedangkan pas pulang itu, saya harus naik tanjakan yang agak curam lebih dari 45derajat.. jadi meskipun full gas, jalannya bener2 pelan banget...

terus kemudian, sudah semakin lancarr... udah bisa ngebut... bisa dong maks 10 menit ke kantor... terus sempet coba bonceng Sayyid juga... Alhamdulillah gakda kendala....

Sampai kemudian hamil besar, mulai deh kembali pelan2 naik selisnya...

Kemudian tahun berikutnya 2016, saya mulai rutin jemput Sayyid dari sekolah. jemput dari sekolah kembali ke kantor, lalu pulang bareng, full naik selis...
tantangannya lagi2 tanjakan curam itu.. jadi dengan sangat terpaksa, sayyid harus turun dulu pas tanjakan, jalan sendiri sampai saya nyampe atas hehe

Dan sampailah tahun ke-2 ini.. Alhamdulillah belum ada masalah berarti... hujan2an oke, panas2an oke....

Sempat kecelakaan, tapi bukan karena selis yang jatuh..

Secara fisik, masih seperti awal beli...
hanya engsel keranjang dan standar yang copot lalu diganti pakai kawat sama suami.

Ban, baru sekali bocor yang di depan, dan bisa ditambal di bengkel terdekat saja.

Baterai alhamdulillah belum ada masalah.
Dengan jarak 2 km rumah ke kantor, jadi bolak balik 4 km, saya hanya charge baterai 1x seminggu saja...
Namun sejak jemput sayyid dari sekolah yang jaraknya 1km dari kantor jadi bolak balik 2 km. total perjalanan jadi sekitar 6 km, ditambah bobot sayyid yang rada berat,  maka setidaknya 3 hari sekali harus charge.

Karena memang kekuatan baterainya hanya sekitar +- 20km aja

Sekali charge malam biasanya aku tinggal aja sih.. sampai Lampu di charger berubah menjadi kuning di pagi harinya.
Sekitar 6 jam deh.

Yang seru dari mengendarai selis ini adalah...... seringkali ketika lewat anak2 kecil, mereka akan langsung teriak2.. "woiyyy ada sepeda 'motor'"
lalu kadang2 sambil dikejar2 hahaha

iyaa.. mereka nyebutnya sepeda motor.. mungkin mikirnya sepeda yang mirip motor hehe
padahal ini sepeda listrik! camkan itu! hahaha

Terus seru lagi kalau ketemu sesama selis yang masih jarang... sampe2 ada ibu2 yang heboh banget kalau pas papasan sama saya... hehe
 
Terus, gimana dengan motor nya? masih mau naik? masih nanti2 kali ..karena saya malas urus2 SIM.. malas nyebrang jalan cuma untuk isi bensin...
malas kalau tau2 ban bocor lalu harus dorong2... hehe banyak banget alasannya...

Tapi, apa selis bisa dipake jauh2? seperti saya bilang di atas, maksimal 20 km-an
dan memang belum pernah ajak selis jauh2 ..
ya kalau pergi jauh2 naik ojek online aja lah hehe

Dan kesimpulannya... I am a happy selis driver <3 <3

Ini wajah si ungu selis ;)

August 04, 2017

Cynthia: DIY - Schengen Visa for first timers

August 04, 2017 06:18 AM

The journey started with the incoming travel fair in last November 2016. JKT - CDG - JKT for only IDR 6,3M, included tax, baggage and meals. Don't really think about the consequences and the upcoming tight budget, I just knew I have to buy that no matter what.

And now, almost a month before the departure, I finally can be at ease since the visa has been issued today. This last two weeks of visa waiting approval are the very most annoying waiting period in my life. The confidence that I've built last month has been decreasing exponentially each passing day. The application said that the notification approval will be available in 5 to 15 working days and our notification came on day 10. That is like the longest 5 days I ever had, haha. Now you can laugh, Cyn, now you can laugh.

Applying Schengen Visa is quite easy without help from a third party. The fee is IDR 1.3M (Visa+Service Fee) if you apply it through France Embassy.

Here are some tips for applying Schengen Visa if you want to travel to more than one country in Schengen Area:

  • Make sure you have full itineraries (including hotel booking) for all countries that you want to visit. You might have read that you can choose the embassy based on your first flight destination only, NO, if your first flight destination has fewer days than other countries, they will refuse to process your application and you have to adjust your document again (whether adjusting your hotel booking or adjusting documents to other embassy)

In my case, I applied through France embassy since that is my first flight destination. But my itineraries showed that I will stay longer in Italy. I have to adjust my hotel booking so it looks like I stay longer in France. Fortunately, I can submit the additional documents later (but no later than 2 PM) today so I booked more days in France and have the document delivered before noon.

  • Submit your application online and book an early appointment.

I submitted them via TLS Contact Center (for France and Switzerland Embassy). I will explain the online submission at the end of this post.

  • Make sure you came early so you don't have to wait and get your line cuts by agents.

In my friend case, they already booked an appointment on 9 AM but many agents cuts them and they have to wait until after lunch break. For me, since I came too early, even the securities are still asleep, I got lucky and had my appointment finished before 9 AM.

If you applied through France Embassy, you have to come to Menara Anugrah in Mega Kuningan area. The place is on third floor and you can not wait in front of the door until around 7:45 AM. The door will be open at 8 AM, make sure you are standing straight in front of the door so no queue required after the door opened and you can go straight to the cubicle to submit the original documents.

After the door open, the security will only allow those who had appointment on that hour only. Go left, ask for a locker key to put your cellphone. You are not allowed to bring it inside the premises. After that, go inside the waiting room and wait for your name to be called.

Finished with the document, they will give you two sheets of paper. One you have to bring to the cashier and one for your pickup passport. The queue in the cashier can be long, so be patient, because the queue to have your photo and biometric taken is longer than cashier queuing.

It is that simple and easy. You don't even have to take a leave absence. Just make sure you booked the earliest appointment and came really early before those agents arrived.

ONLINE SUBMISSION VIA WEBSITE

Go to https://fr.tlscontact.com/id/JKT/page.php?pid=home

Create your profile. If you travel together (not more than 5 persons) you can have one profile for the five of you. If you want to visit a friend there, pick Tourism, it is the easiest way so you don't have to bother your friend.

Fill out the form, and download them. In the form application you have to fill in the place where you will stay there. Make sure you let them know in case the Embassy checked it.

After finishing the form, you can booked the appointment online.



Here are the document list that I bring on the appointment date:



Document Description
Visa application form, original

Download it after finished filling out the form. Signed the paper twice using black ink.
Two recent, identity photos (one for the form) Size 3.5 cm x 4.5 cm, color photo with white background, taken within 6 months.
Round-trip flight ticket booking from/to Indonesia, copy You are not allowed to apply visa using one way ticket.
Travel Insurance, original (to be shown only)
Travel Insurance, copy
Travel insurance with a minimum coverage of EUR 30,000 covering at least the whole period of stay in the Schengen area.
Print out of Hotel booking for the whole stay in Schengen area They really checked them day by day. If you have one day missing, they will ask you to complete it.
Bank statement of the applicant, original & copy Has to be in English and state the amount of your bank account.
Working certificate, original
Working certificate, translation
Mandatory if the certificate is not written in English or French
Containing:
- name and function
- hiring date
- monthly wages
- permission of absence
- who support the travel financially (by yourself/company)
- company name, address, phone, fax

printed on cover letter, signed by the authorized official complete with name and function
Last 3 months pay slips, copy
Last 3 months pay slips, translation
Mandatory if not written in English or French

Company bank statement covering the last 3 months, copy For entrepreneur, but for the sake of safety, just include this in the document.
Certificate of Registered Family and Permanent Residence (family card), copyCopies of "Kartu Keluarga"
Passport, original
Passport, copy

Must be valid for at least more than 3 months beyond the validity of the requested visa, with two blank visa pages with the mention “visa” to affix the visa sticker.

Two copies of the pages of the passport containing personal data.
Old passports, original
Old passports, copy

If you’re in possession of one or more previous passports, it is mandatory to bring it.
Copies of the pages of every old passport containing personal data.



If you have any question and want to call the contact center on 021-29852777 during weekdays (8:00 to 11:30 and 13:30 to 16:00), you can not talk to them straightly. Make sure you leave your phone number, they will contact you right after it.

It is easy peasy to do it yourself. Just spare some nerve if the document is late. It is better if you book the appointment around one month before the departure, in case sheet happened.


July 28, 2017

Narpati: Yang menolak Perpu Ormas No 2 tahun 2017

July 28, 2017 09:00 AM

Apakah yang menolak Perpu Ormas hanya Hizbut Tahrir Indonesia dan pengacara serta yang mereka yang simpati pada kelompok itu atas dasar agama ?
Tidak.

Berikut daftar mereka yang menolak Perpu Ormas di luar kelompok-kelompok Islam:
1. YLBHI dan 15 LBH se-Indonesia termasuk LBH Jakarta[1];
2. ELSAM[2];
3. KontraS[3];
4. PSHK[4];
5. Redaksi Hukum Online [5];
6. Pusat Studi Kebijakan Negara Universitas Padjajaran [6];
7. Pusat Studi Hukum Tata Negara Universitas Indonesia [6].

Cobalah baca Perpu Ormas no 2 tahun 2017 baik-baik dari kacamata seandainya engkau seorang diktator zhalim. Apakah Perpu tersebut bisa disalahgunakan?

Ya bisa!
Sangat bisa!
Itu sebabnya Perpu Ormas ini sangat berbahaya dan harus ditolak!


1. http://www.ylbhi.or.id/2017/07/pernyataan-sikap-bersama-penerbitan-perppu-no-22017-tentang-perubahan-atas-uu-no-172013-tentang-organisasi-kemasyarakatan/

2. http://elsam.or.id/2017/07/penerbitan-perppu-no-22017-potensial-mengancam-kebebasan-berserikat-dan-berorganisasi/

3. http://www.kontras.org/home/index.php?module=pers&id=2399

4. http://www.pshk.or.id/id/publikasi/siaran-pers/siaran-pers-koalisi-kebebasan-berserikat-kkb-pemerintah-masih-memiliki-langkah-yang-adil-dan-obyektif-bukan-menerbitkan-perppu-nomor-2-tahun-2017/

5. http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5971f3ede81c9/kegentingan-yang-dipaksakan

6. http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt59781e5239397/suara-keprihatinan-atas-perppu-ormas-datang-dari-kampus

July 27, 2017

Narpati: Simulasi Perpu Ormas : FPI dan Ormas Yang Sering Bentrok

July 27, 2017 03:03 PM

Perpu Ormas menambahkan sanksi pidana di luar sanksi administratif untuk pasal 52 dan pasal 53. Ada yang berpendapat bahwa unsur pidana ini kelak ada pengadilan sendiri untuk unsur pidana-nya. Jika diperhatikan, sanksi pidana itu untuk ormas dan ketentuannya diperjelas di pasal 82A, yakni ditujukan kepada anggota untuk ormas yang melanggar ketentuan pasal 59 ayat 3 dan 4. Cukup aneh bahwa tidak ada ketentuan pidana untuk yang melanggar pasal 52 tentang ketentuan larangan untuk ormas yang didirikan oleh warga negara asing.

Kembali ke ketentuan pidana di Perpu Ormas, bagaimanakah cara pembuktiannya? Apakah yang dibuktikan ormas-nya itu memang melanggar atau keanggotaannya saja? Jika keanggotaannya saja, jangan-jangan keputusan pembubaran ormas oleh pemerintah sudah cukup sebagai bukti ormas melanggar ketentuan dan pengadilan pidana hanya membuktikan keanggotaan terdakwa.

Ada pembagian pidana terhadap anggota ormas yakni:
1. untuk anggota ormas yang melanggar pasal 59 ayat 3c (kekerasan) dan 3d (main hakim sendiri), maka dipidana penjara antara 6 bulan hingga satu tahun.

2. untuk anggota ormas yang melanggar pasal 59 ayat 3a (tindakan permusuhan), 3b (penodaan agama), atau 4 (anti-Pancasila, anti-NKRI, mirip dengan ormas terlarang), maka dipidana penjara antara 5 tahun hingga 20 tahun.

Yang menarik, ada ayat 3 dari pasal 82A yang memperjelas bahwa selain pidana sebagaimana yang dimaksud di ayat (1) -- ini terkait Ormas yang melakukan kekerasan dan main hakim sendiri -- akan ada pidana tambahan sebagaimana diatur dalam perundang-undangan pidana.

Coba saya pakai simulasi seandainya saya anggota FPI yang kemudian dibubarkan dengan Perpu ini dan saya ditanggap sebagai anggota FPI.
Pertama, ada pasal 82A ayat 1 yang jelas membutuhkan bukti bahwa
1. saya anggota FPI
2. FPI adalah ormas yang melanggar ketentuan di Perpu Ormas.

Pertanyaannya, bagaimana definisi "ormas yang melanggar" itu dibuktikan? Jangan-jangan cukup hanya dengan pernyataan pemerintah saja? Jujur, saya tertarik bila kelak ada korban Perpu menggugat ke PTUN jika gugatan ke MK kandas karena saya ingin tahu dalam praktek alat bukti dan barang bukti apa saja yang dibutuhkan dalam proses pasal 82A ini.

Untuk melanjutkan simulasi, mari asumsikan bahwa ternyata untuk membuktikan kalimat "ormas yang melanggar" itu, pemerintah ternyata juga harus memberikan bukti-bukti aksi atas tindak kekerasan ormas tersebut, namun pemerintah tetap tidak harus membuktikan bahwa saya terlibat dalam setiap aksi kekerasan ormas tersebut.
Bagaimana jika ternyata dalam FPI, saya cuma sekedar numpang mengaji? Bagaimana kalau di FPI, saya cuma bagian dokumentasi ? Bagaimana jika di FPI saya sekedar latihan silat? Bagaimana jika di FPI saya sekedar berfungsi sebagai advokasi?
Jadi saya dihukum atas tindakan kekerasan padahal saya sendiri sebagai individu tidak melakukan. Jika pemerintah mampu membuktikan saya terlibat dalam aksi kekerasan atau main hakim sendiri, maka jatuhnya adalah pidana tambahan sesuai pasal 82A ayat 3 tadi.

Silakan ganti FPI ini dengan salah satu ormas yang beberapa kali terlibat kekerasan seperti serikat buruh, kelompok berbasis etnis kedaerahan, ormas pemuda pendukung partai. Saya gak perlu menyebutkan satu persatu ormas mana saja, kan?


catatan:
artikel ini pertama kali muncul di Hukumpedia tanggal 20 Juli 2017.


July 23, 2017

Narpati: Sekedar Membeo Pada Hak Asasi Manusia versi Barat ?

July 23, 2017 11:59 PM

Pasal 33 dari Konvensi Keempat Jenewa 1949 -- tentang Perlindungan Rakyat Sipil di Masa Perang, berbunyi (terjemahan bebas) "Orang yang dilindungi tidak boleh dihukum atas suatu pelanggaran yang tidak dilakukan sendiri olehnya. Hukuman kolektif dan semacamnya sebagai bentuk intimidasi atau teror tidak diperbolehkan".

Pasal 28D ayat 1 UUD 1945 amandemen kedua berbunyi, "Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum".

Surat An-Najm (surat ke-53) ayat 38 berbunyi 
أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ 
(terjemahan Depag: bahwasanya seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain).

Surat Al-Maidah (surat ke-5) ayat 8 berbunyi 
.... وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ....
(terjemahan Depag: ..... dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa... )

Mungkin ilmu saya masih dangkal, tidak dalam, belajar ngaji saya kurang jauh sehingga saya tak paham bagaimana sebuah ormas Islam yang katanya pembela Pancasila dan konstitusi, dengan mudah menyetujui sebuah peraturan yang dapat menghukum seseorang atas kesalahan yang bukan kesalahannya, sebuah hukuman yang jelas tidak hanya melanggar HAM "versi Barat" tetapi juga melanggar konstitusi dan prinsip agama Islam itu sendiri.

July 18, 2017

JePe: Victim

July 18, 2017 10:33 AM

This is an old unpublished article. Since the election already over, I'd like to publish this. Considering my friend is already cooled down and the issues was resolved with the capture of Ahok.
---


A friend of mine wrote this at his Facebook status:

Roughly he said:
"So, more non-Muslim friends feels like they understand more about Islam. We, the Muslims, have to ask our Imam, and [you] need to know that not every imam dare to interpret, [we] even need to ask to imam that have more understanding in religion.. How great you are could interpret it on your own. 
If someone get pissed, sorry that's my intention, it's better we deepen our own religion instead, and give what best accordingly."
This statement made my blood boiled, at first. There were many things I wanted to say about him. Still, I respected him. Instead of writing those complaints on his wall to potentially shaming him, I wrote those here.

First, he used Bible verse freely in the past and judged us Christians based on his interpretation. Now, he got exactly what he had done in the past. I wish to ask him, how is it like for him when his religion being commented by non-believers? Shouldn't he be a fair dude and let it go?

Second, yes, there are non-Muslim people that know more than him, especially the scholars who might be seeing his religion as an object of study like other religions too. They are well-versed in archaeology and so on.  I wish he would take the down to earth approach  instead of boasting.

I wish he could remember the few years before.

I wish he could remember that the past him was glorifying Ahmadinejad. At that time, I was the one that pointed out to him that Ahmadinejad is a Shia and he should've not embrace any Shia because he was a Sunni.

Guest what? He rebuked me by saying, "Islam is one religion, Pe! There is no such thing as Shia or Sunni." He further said that I didn't know anything.

Fast forward, he is now in the bandwagon of anti-Shia.

Debunking

Debunking him is easy. But, I don't seems to give in to the idea.

I have read a book debunking Ahmed Deedat since fifth grade. It was a thousand pages long forbidden book. My father would be mad at me for reading such kind of book (and sadly confiscated it). Fortunately, I read few hundreds of pages so that I knew arguments made by him.

My father warned me from making any dialog. He said there was a son of his friend who read the same book at my own age. He was confronted by other children about Jesus' divinity. Then, the child retorted back and was also questioning back about their Prophet.

Such incident made the school in shock. He was forced to transfer to another school because of his arguments. A child who could only fought back from the people who questioned his belief was sentenced when he answered.

There was never a debate in the beginning.

Those "scholars" only pretended to have discussions. And when they faced a person that knew more than they could handle, they used violence. That's why, until this day, I've never actively trying to debunk or attack their faith. Even in my ministries, I have never included any of these to my sermon in any occasion.

All that I could remember using my apologetic was when they crossed the line. It was on my university's days. At that time, they started a debate thread for us in a peaceful Christian forum (rtin, still remember?). In that one and only thread in Christian forum about religion comparison, I unleashed my knowledge and debunked them hard.

It was a hard thing to do. I need to make an argument without bashing back their religion. At that time, Ahmed Deedat was popular in their circular. Suddenly, some of them felt like they knew it all and started a flame war.

Lol, yeah, thinking back of how they were just started to learn about apologetic and I had years of experience in questioning my own religion -- so cute!

I don't care if they compare us in their own forum. In fact, that's good. They can enforce themselves with their own belief system. I respect their thirst for knowledge. But, when they start the thread in a Christian forum or general forum, it's like they put their religion also at the same trial as Christianity.

Fair is fair.

Let their wisdom be their wisdom. I don't think being in confrontation with other religion is what my God wants me to do. So, yeah, in the end, I would prefer not to do apologetic by bashing other religion.

Questioning My Own Religion

Why could I answered easily?

Beside that book, I also read about "101 difficult questions about Bible". A book written by a pastor about Catholic faith. I read history of many religions. I read some of the Western and East philosophies. In the past, I had access to a website that have picture of original manuscripts.

In those days, Ahmed Deedat was nothing. The most fearsome of all are liberal Christians who dissect Bible and made solid arguments about its flaws. IMHO, Ahmed Deedat and many of Christology Muslim were nothing compared to those liberals.

Dude, they asked about the existence of Jericho wall. They asked about Jesus' divinity. They asked Moses and the thing that was done in splitting the Red Sea.

They asked from solid sources like the original scripts. They asked from philosophical evidences between the Romans, the Judaism, Zoroaster and the Christianity. They asked from archaeological perspective. All of those that had facts and data not just some circular reasoning.

I remember there was even a conference here in Indonesia to talk about men and women before Adam.

There was a period of time when I think of religion only a myth. In the past, I think all religion is the same. They all are only tools used by any governing mob to qualm the masses.

I rediscovered my faith in high school through a miraculous event of the birth of my young cousin. Through that, I understand this:

I have never seen anyone converted to Christianity by losing a debate. All of them converted are usually having miracles happened in their/their loved ones. I can see me as one of them.

[PS: I think I now know why I was like a machine in the past. I have read the wrong books. Should've read Ko Ping Ho instead of those books and Robert Maslow's.]

That's why, I find it funny that people started rehashing Ahmed Deedat these days.

Thanks to his follower, Zakir Naik, that using the same premise. He talked the same thing amateurishly like he was enlightened. He only invited people that have no experiences in debating.

He used intimidating skills to make the opponent lose their coolness so that they couldn't talk their points across well. Every time a sound argument was being made, he cut it before finished and start talking while the crowd clapping in the background.

Yeah, his skill is ad hominem.

That's why, no one take Zakir Naik seriously. We already debunked his master's teaching since long. Since he always avoiding real debaters like David Wood, no one would take him seriously.

No Evaluation?

Btw, I think I wasn't among those people that my friend protested. I wrote this because I was agitated by the way he talked. He said words like he knows it all. Such arrogance!

There are things that I don't like about his statement and his condition.

First, although he was trained to question everything, he always share what he believe without checking the fact from alternative resources. Is he even a bachelor degree?

Second, his religion is a high intelligence religion. There was a time when all the philosophy of the modern world was preserved by Islam. The golden era of Islam is the age of think tank.

Third, the first command to their Prophet was to read. Isn't that means his religion embraced deeper thinking? Why he never questioned any of their religious leader? Won't he shamed his Islamic ancestors that made so much discoveries in thinking and made so many wisdom?

Is he too lazy to learn more about his religion and give all the responsibilities to know his own God to other people; and then he just chew instantly whatever they cooked?

Someone Is Using You and Your Religion

From Jakarta election, there is none of the candidates that have their commitment from stopping the Jakarta bay reclamation. NONE! And, there was none of the other's candidates feels like could ever attacked the incumbent without splashing their own face.

The only thing to do is to attack him from his religion.

Now, here's the point when you start using religion on politics:

You are like a greenhorn playing mouse and cat. Everybody would play with you. But, the cat would be reluctant to catch you and you would have certain immunity.

They would ignore you because of how insignificant you are. They would smile at some mischief that you have done here and then.

Until at a point where you start to be significant. What you do would turn the side you're in winning. At this point, the opposing team would protest and put you in the equal footing.

That's when the religion as your weapon being countered!

Still Grow Up

This is why I started to have sympathy to my friend. He got dragged because of the use of religion for collapsing a the political opponent. The Jakarta politics included religion as the tools for supremacy and many people with faith dragged with it.

I hate this.

I too hate if Christianity used as political tools. Like Bush Jr. was using state preachers to legitimate Iraqi invasion. Or, politician using biblical quote during elections out of context.

Oh, well, Islam is several hundred years younger than Christianity. We have the dark age and despotism. We survived through the embarrassing moment that led to Christianity reform. We survived through the age of philosophical reform in Renaissance, Industrial Age and Socialism.

I wish people of Islam learn mistakes made by Christianity and not rewind it for themselves.

Oh, well, c'est la vie.

JePe: Al Maidah 51

July 18, 2017 09:53 AM

This article written long time ago. Because the issue already resolved by imprisoning the late governor (Ahok), I think publishing this would still considered 
----

A viral went nuts here:



The title said:
Ahok: Anda Dibohongi Alqur'an Surat Al-Maidah 51
which translated as:
Ahok: You are being lied by Quran's Al Maidah 51.

Interestingly, the actual line actually said:

"... Bapak Ibu nggak bisa pilih saya; dibohongin pake Surat Al Maidah 51 macem-macem itu...."
which in English said:
"... you all can't choose me; being lied using Surah Al Maidah 51 and so on."
The full video:



And the context started at 24:14
"... Jadi jangan percaya sama orang, 'Kan bisa aja dari hati kecil Bapak Ibu nggak bisa pilih saya. Dibohongin pake Surat Al Maidah 51 macem-macem itu..."
 Which in English said:
"... So don't trust just anyone. It is possible from the bottom of your heart that you all can't elect me. Being lied using Surah Al Maidah 51 and so on."
Now, from the context here is that Ahok told the audiences that there would be people who uses Quran for their political interest to make others not to elect Ahok. They do it by quoting the Koran out of the context.

Unfortunately, nobody had time to watch the full quote and tried to understand the meaning. They were too busy hating.

People Reaction to Ahok

Ahok is an Khek decendant who rose into prominence and has the biggest chance for running as a Governor in 2017. Not just only a governor to a city, but a capital city governor. A Khek still have a close resemblance to today's Chinese.

Many people love him. Indonesian Christians idolize him as a role model of how a Christian could becomes a leader in this country when Christianity is not the majority. Indonesian Chineses love him because he represented the hope for equality.

But, there is also a voice by Indonesian Chinese like Jaya Suprana who wary to the way Ahok talks vulgar. His open letter also reminded Ahok about the fear of another racial riot that would turn Indonesian Chinese as the victims; like the history repeated being told again and again in Indonesia.

And yeah, some people would use this opportunity to cultivate hate speech. Especially those that these late years become prominent power with their fundamentalism. They gain so much these days.

Their ways to become the part of Indonesia is interesting. Right now, their ways are really effective to turn many Indonesian Islamic brethren to turn their face from us.

Fascinating but saddening.

Fundamentalism

It is interesting how they build their fundamentalism using information. They would use Internet as a source of preach. I remember back in the early 2000s that so many Khattib (Islamic Preacher) would be proud of using Internet as their source materials. They would say words like, "I read it in the Internet". At that time, Internet was not a common thing.

I also remember there is this evangelical site named Answering Islam, which was an evangelical site dedicated to oppose Ahmed Deedat's arguments against Christianity. Because of the name, people thought that this site was the first click-bait for the opponents. We know that answering means trying to answer that entity (Islam, Ahmed Deedat).

But, this site took their community by storm. They thought that this site was so blatant and deceiving. It made them also made their own Answering Christianity site to counter that. My note to this site, if they weren't debunking 911, it would be a perfect counter.

In those years, they built their own agenda and started to cultivate culture that made their people to self-censor sites. They skillfully built a dogma that made their people not to listen to other news site other than their own authoritative ones.

The reason was actually kind of valid: "many sites would contain eloquence that could hypnotize you out from Islam." For many people with lack the skill of comprehending things, some arguments would win them over. They could get fascinated and swayed from their faith.

The reason also kind of invalid because that would made the people take absolute trust to their leaders. As faulty human, their leaders could run into the wrong. Little would they realize when they are not God's messenger anymore, but a god.

In those years, they also built their fundamentalism by using hate to America and making Palestine as an underdog who got beaten repeatedly by the oppressing Israeli soldiers.

I remembered in late 90s/early 2000 found a junior was using our school computer downloading pictures of mutilated corpses with many tags depicting that this was the wrongdoings of the Israeli.

One picture that I remembered was a picture of a grandpa with hacked face and the tag said, "is he worth to have this?" Man, I'm not that religious, but seeing that picture I also would have gotten my blood boiled.

Fortunately, I'm with the cool kid with Internet experiences since 1995s. There were many of those pictures were taken from horror sites. Yeah, The Internet already effed up since the very beginning. We used to have porn without ads. Pictures of Lady Di's skirt blown by the wind peeked by a Paparazzi.

Anyway, that method really made their skull thinner so that they could be really easily controlled. They would fed with such lies so that they would hate American government (not the people) and Israel.

I mean, if they could racked their brain a bit, shouldn't they asked:
if the Israelis really that powerful, why didn't the Palestine got wiped instead? 
Well, because not all Israeli blood monger. There are people like PM Yitzhak Rabin (RIP) and Simon Peres who worked together with Yasser Arafat (RIP) to bring peace on both sides. Unfortunately, because their almost successful deal, both Rabin and Arafat got killed in the same year.

If you read the Jerusalem Post, you would see how leftists pushing around government for their plan of taking the Palestinian lands. Many Arabs work in the state of Israel. In fact, they are taking quite a lot of population percentages.

The world is not black and white.

Closing The Conversation

Fast forward today, they really succeeded to close the discussion. If there is a Christian open a conversation, their people would immediately close the conversation by saying, "you are not one of us".

If there is an Islam open a conversation, their people would immediately close conversation by saying, "are you an Imam?" "by whose authorization that you could interpret the Quran?" and so on. In the best argument they could make, they would be calling that person "heretic", not a true Islam, impostor.

To support their thirst of knowledge, they have their cyber/propaganda teams that is the most awesome of all. They made so many websites that often made circular reasoning among themselves. From amateurish approach of using verbatim copies of an article copied to many sites to articles professionally curated to bring the masses into a conclusion.

Well, it's their own religion and I won't comment on that. My only problem with this kind of approach would be that if their leaders lied won't they all go to hell? An authority made by man that have so many interests. If one man/source trying to be the absolute author, can that man/source stay objective? People often forget that their leaders are people, not Allah.

Even the most perfect king needs second opinion. George Lucas with a great ego almost destroyed the Star Wars franchise.

Politics

All those that I've wrote might made you think that it is legal to become an Islamophobic. This is not right also. Because the writing is not about all of the Islam. It is a faction within Islam which also got a lot of controversies from another faction of Islam.

Some people might label that faction Wahabi. But, I don't buy that much. Just like they would say that there is this pure Socialism and pure Liberalism. No country with a free market, not even US, would really let the market decide by themselves. Even the most communist like China and Russia not 100% communist.

All of them already becomes a modern kingdom. Either runs by a single party, single man, or houses like Game of Thrones. And these rulers tried to implement something to have control.

Religion, institutionalized religion, since the dawn of time also used as political tools. Depending on what the political market wants, religion could be swayed around. So, instead of calling it one part of religious cult, I'd say one political interest.

By the end of the day, we would see those who got the upper hand would grab the political throne. C'est la vie.

July 17, 2017

Narpati: Inkuisisi dan Imparsialitas

July 17, 2017 12:08 AM

Dahulu, negara-negara Eropa berlandaskan pada kekuasaan Feodal dan agama Kristen yang mengakui gereja Katolik sebagai otoritas kekristenan. Mereka takut bahwa Eropa akan hancur ketika dasar-dasar mereka dirusak, baik oleh pemeluk Islam (termasuk yang mungkin masih sembunyi pura-pura jadi Kristen), pemeluk Yahudi, maupun kepercayaan-kepercayaan pagan lama (yang juga sembunyi-sembunyi pura-pura jadi Kristen).

Yahudi, ditolerir karena kemampuan mereka mengelola keuangan namun ada politik isolasi 'ala ghetto, untuk mencegah percampuran antara kaum Yahudi dan rakyat mereka yang taat pada Kristen. Selain melalui politik, dalam khotbah gereja sehari-hari pun, kaum Yahudi juga digambarkan sebagai sosok yang berbahaya sehingga rakyat pun tak berani bersahabat dengan Yahudi.

Sementara itu, untuk mencegah pencemaran rakyat oleh oknum non-kristiani (Islam dan Pagan) yang sembunyi-sembunyi di balik topeng rakyat, mereka membentuk inkuisisi untuk mengadili hal-hal semacam ini. Awalnya, mereka masih menggunakan model penuntut dari rakyat (atau pihak non-gereja) dan pengadilan dan si penuntut masih bisa dilawan balik bila terbukti mengada-ada (lex talionis).

Seiring berjalannya waktu, ketakutan mereka terhadap kaum-kaum radikal ini membuat mereka merasa sistem pengadilan yang selama ini berjalan membuat penyelidikan dan penindakan berjalan terlalu lambat. Akhirnya mereka menggunakan konsep pengadilan semu, di mana mereka mengesankan ada jaksa dan hakim tetapi sebenarnya keduanya berasal dari lembaga yang sama.

Tentu saja, kita bisa membayangkan seandainya ada yang mengkritik pengadilan-semu macam itu, paling dijawab seperti ini:  "kalau merasa kristen sejati, bukan orang sesat seharusnya tidak perlu takut pada inkuisisi". Yah, kita sudah tahu bagaimana akhir cerita dari sistem 'keadilan' macam itu di mana si penuduh sekaligus menjadi hakim dan tertuduh tak punya kesempatan membela diri.


PS:
baru nyadar, ternyata ada beberapa jenis inkuisisi dalam sejarah Eropa.

July 14, 2017

Narpati: Bahaya Perpu No 2 Tahun 2017 pengganti UU Ormas no 17 tahun 2013

July 14, 2017 09:49 PM

1. Adanya tambahan sanksi pidana untuk ormas (sila cek perubahan pasal 60). Bahayanya adalah, siapapun anggota ormas yang dituding melanggar, walau secara individu tidak melakukan kejahatan itu, bakal ikut terseret dengan ancaman pidana 1-20 tahun (pasal 82A)

2. Pencabutan status badan hukum cukup dilakukan oleh menteri yang berwenang dalam bidang Hukum dan HAM saja (perubahan pada pasal 62 ayat 3)

3. Ormas yang melanggar hanya sekali diberikan peringatan (perubahan pasal 62 dan penghapusan pasal 63 dan 64).

4. Mahkamah Agung tidak memiliki peran apa-apa (penghapusan pasal 65, 67)

5. Pengadilan sama sekali tidak berperan dalam pemutusan pembubaran Ormas (penghapusan pasal 70, 71, 72, 73, 74, 75, 76, 77, 78)

Contoh kasus:
Anda tertarik bergabung kepada FPI di kota anda karena anda percaya FPI membela Islam, membasmi kemaksiatan. Kebetulan pengurus FPI di kota anda mengambil strategi jalur hukum dan persuasif dalam membasmi kemaksiatan. Sayangnya, di kota-kota lain, FPI menggunakan jalur kekerasan dan akhirnya Menteri memutuskan FPI melanggar Pasal 59 ayat 3. Maka tanpa kesempatan melawan di pengadilan, anda dan teman-teman di kota anda yang tidak pernah pakai jalur kekerasan, juga ikut terkena getah dipidana.

Ganti FPI dengan kelompok apapun, misalnya Greenpeace, Serikat Buruh, dan sebangsanya... hanya karena ada kejadian salah satu cabang melakukan jalur kekerasan atau mengganggu ketertiban umum, semua anggota bisa terkena getahnya.

Oh iya, jangan lupa bahwa Pasal 59 ayat 4c tentang larangan ormas bertentangan dengan Pancasila adalah pasal karet. Organisasi seperti kelompok pendukung LGBT dan kelompok Ateis juga berpotensi mendapat kriminalisasi yang sama dengan tuduhan tidak sesuai Pancasila.

Dan oh iya, sekali lagi,
sekali dapat tudingan, ormas tak punya kesempatan membela diri di depan Pengadilan.

July 12, 2017

Tya: Suatu pagi bersama ikan teri (nasi goreng teri + buncis teri)

July 12, 2017 02:32 PM

Haha judulnya norak banget ya...
Karena saya pecinta ikan teri nasi... :P

Tapi karena saya (sok) sibuk dan skill masaknya cuma sekitaran duo bawang + garam + gula + merica
Jadi bikinny yang gampang2 aja... Kurang dari 30 menit.

Kalau yang susah2 kayak teri kacang balado, pepes teri dll tinggal minta mama bikinin aja atau beli di warteg haha..

Kelamaan intronya.. kapan resepnya???
Ya namanya juga blogger, suka cuap2 gak jelas (saya doang si yang gak jelas) :P

Oke masuk resep ya..
btw ini masak dalam 1 waktu resepnya nyambung yaa...
Karena ini masak untuk diri sendiri (bagian nasi gorengnya)
Sedangkan untuk buncis terinya selain untuk saya juga untuk bekal makan siang Salman (1y3m) selama saya ngantor.

Bahan:
- bawang merah dan putih (rasio 2:1) cincang kasar (malas ulek2)
- teri nasi (di tukang sayur sebungkus 6ribu)
- buncis beberapa batang iris serong
- garam
- gula
- merica bubuk
- nasi 1 porsi

Langkah2:
1. Rendam teri dengan air panas sekitar 5 menit
2. Tiriskan
3. Panaskan minyak sedikit saja
4. Goreng ikan teri sampai kecoklatan (jangan gosong yaaa)
5. Tiriskan teri

Nasi goreng:
6. Gunakan minyak bekas goreng teri
7. Masukan 2 bawang secukupnya sampai harum
8. Masukan nasi aduk2 sampai merata. Karena minyak bekas goreng teri, jadi warnanya kecoklatan
9. Masukan teri yg sudah digoreng seckupnya
10. Tambakan sedikit aja garam dan merica
11. Aduk sampai rata

Selesai deh untuk nasi goreng teri
Enaaaak.. dan kenyang alhamdulillah


Buncis teri
12. Tuang minyak secukupnya
13. Tumis duo bawang sampai harum
14. Masukan buncis
15. Siram air sedikit
16. Tambah sedikit gula garam merica
17. Oseng2 sampai air meresap
18. Tambahkan sisa teri
19. Oseng2 sebentar saja

Sudah siapp dehh


Nyam2
Apapun kalau teri nasi mah pasti enak haha
posted from Bloggeroid

June 24, 2017

Bimo: Pledoi si Tambun No 23

June 24, 2017 07:50 AM

Sebelas kali dentangan jam menyambut saya masuk ke dalam. Selebihnya senyap. Sesekali terdengar orang berbincang di warung kopi di depan rumah. Saya pun menghempaskan tubuh di atas sofa tak bersuara. Badan saya lelah bekerja seharian, mata pun sudah tak semangat untuk terbuka. Kombinasi antara capek dan kenyang setelah berbuka puasa membuat mata ini dan kelopaknya bagai kutub magnit yang saling

Bimo: Boss (bisa juga) Patah Hati

June 24, 2017 07:50 AM

Semoga orang kantor ga baca blog ini hehehe.. Saat tulisan ini dibuat, waktu menunjukkan pukul 00.22 WITA. Jam sepuluh malam tadi, saya baru mendaratkan pantat di sebuah guest house di Pulau Dewata. Usai ngobrol sama partner kerja malah ga bisa tidur. Tetiba reminder ponsel saya berbunyi, menginformasikan bahwa Wisnu, salah satu partner kerja di kantor, berulang tahun. Jadi yha sambil nungguin

Bimo: LG BT

June 24, 2017 07:50 AM

"Trrt... Trrt" "Halo??" "Assalamu 'alaikum," "Wa'alaikum salam," "Dimana kamu?" "Di kos," "Sama siapa?" "Sendiri," "....." "Kenapa sih mah?" "....." "Halo?? Mah??" "Teman kamu mana?" "Teman?" "Iya, teman kamu," "Yang mana? Teman Rio kan banyak, maah" "Siapa itu namanya?" "Yang mana, maah? Yang sering nginep di rumah?" "Sering nginep di rumah?? Duh Gustiiii... Iya itu," "Milo bilang sih mau

Bimo: 1 x 7 ( bagian 2)

June 24, 2017 07:29 AM

Kemarin, lima tahun yang lalu.. Pagi itu Mas Adhi, sepupu kami datang ke rumah. Mencoba memberikan dukungan moril untuk saya dan Woro. Kami berdua sempat berbincang sambil sarapan di meja makan. "Kamu ingat ga, ustadz yang pernah aku bawa ke sini?" tanyanya. Saya hanya mengangguk. Tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini. "Tadi mas cerita soal keadaan Bapak," sambungnya. "Ustadz bilang,

June 22, 2017

Bimo: 1 x 7 ( bagian 1 )

June 22, 2017 06:37 AM

Salam, pembaca! Sebelumnya saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa yang sangat telat ini, karena puasa tinggal beberapa hari ke depan. Tapi, seperti halnya blog yang baru diisi kembali setelah sekian lama ini, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Ya khan?! Tulisan kali ini terinspirasi oleh tulisannya Maknyak Putri yang mengharu biru, sehingga saya akhirnya tau jika

June 20, 2017

Narpati: Metamorfosis Kunderemp

June 20, 2017 11:17 PM

Dahulu, di situs lama, saya sempat menampilkan foto-foto perubahan dari tahun ke tahun.
Karena situs tersebut sudah menghilang,
sekarang saya menampilkan kembali perubahan wajahku dari tahun ke tahun.



Kelas 1 SD (1988)
Masih imut-imut, belum nakal.

Kelas 5 SD (1993)


Saya malah lupa, kenapa saya punya foto ini.

Kelas 6 SD (1994)
Badan saya menggemuk cukup drastis pasca sunat.

Kelas 2 SMU (1998)

 

Kelas 3 SMU (1999-2000)


 Foto yang kanan diambil awal tahun 2000.

Universitas Gadjah Mada (2000)



 Hanya dalam waktu 6 bulan, berat badan saya berkurang dari 60 kg menjadi 48 kg (turun 12 kg)

Universitas Indonesia (hmm.. 2003? 2004?)

Berat badan mulai normal lagi.

Setelah kembali dari Bali (hmm.. 2012? 2013?)


Foto Terakhir ( 2017 )



Narpati: Menanggapi Kicauan Felix Siauw Perkara Membaca Terjemahan

June 20, 2017 01:17 PM

Itikaf itu kesempatan memahami agama, saran saya coba ambil waktu pas itikaf, baca terjemahan Al-Quran sampai kelar, biar lebih paham :)
-- Felix Siauw, di Twitter 18 Juni 2017

Kicauan Felix Siauw itu menuai beberapa ejekan karena Felix Siauw menggunakan kata "terjemahan". Karena saya cenderung iba, saya terpancing untuk membelanya. Namun, baru saja mau bikin status Facebook membela kicauan Felix Siauw, lalu lihat kicauan 3 menit sebelumnya posting.
Langsung hapus status. Tak usah dibela ah.

Sebenarnya, kicauan Felix Siauw yang satu itu (tanggal 18 Juni) benar bila berdiri sendiri. Saya setuju ama saran beliau. Namun ternyata kicauan itu terkait kicauan 3 menit sebelumnya.

Tak ada yang salah dengan membaca AlQuran terjemahan dari awal sampai akhir. Setidaknya, bisa mendapatkan garis besar tentang agama Islam.

Yang salah adalah merasa sudah sangat memahami hanya dengan membaca terjemahannya belaka. Padahal, layaknya bahasa lain, Bahasa Arab pun memiliki pergeseran makna. Apalagi ketika sudah terserap ke dalam pergaulan di komunitas berbahasa non-Arab.

Kata "munafik" misalnya, dalam pergaulan sehari-hari di Indonesia, masyarakat biasanya membayangkan seseorang yang lain perkataan, lain di hati. Celakanya, orang yang menahan nafsu yang menggelora pun kadang dicela sebagai "munafik". Padahal sebenarnya tidak demikian arti kata munafik.

Nah, agak bahaya kalau hanya mengandalkan terjemahan sementara pengertian yang ada barulah pada tahap "pengertian awam".

Itulah gunanya tafsir, di mana ulama menjelaskan panjang kali lebar tiap kata, kadang diberikan contoh pemahaman Nabi dan para Sahabat.

June 19, 2017

Narpati: Kumpulan Kutipan Akhir Riwayat Raja Terakhir Majapahit

June 19, 2017 01:01 AM

Saya menolak mempercayai Majapahit menjadi Kerajaan Islam bahkan hingga di masa akhir di mana masyarakat Islam sudah cukup banyak di Kerajaan ini dan ada riwayat yang mengatakan Raja Majapahit terakhir beragama Islam.

Ada beberapa versi akhir riwayat Majapahit tetapi semuanya selalu sama:
1. Majapahit diserbu (entah penyerbunya Demak atau Kediri);
2. Raja Majapahit (Brawijaya V) belum beragama Islam saat penyerbuan.

Beberapa versi riwayatnya antara lain:
1. Raja Majapahit terakhir tewas dalam penyerbuan;
2. Raja Majapahit terakhir melarikan diri;
3. Raja Majapahit terakhir melarikan diri kemudian setelah dibujuk, pindah ke agama Islam;
4. Raja Majapahit terakhir memilih jalan moksha.

Tak ada satupun dari versi yang saya temukan menyebutkan semasa menjadi raja, Brawijaya V menjadi Islam walaupun ada anggota keluarganya yang sudah beragama Islam.

Berikut adalah kutipan-kutipan dari buku-buku dan artikel jurnal yang saya baca sepintas lalu, menghabiskan waktu saya selama 4 jam terakhir sia-sia. (oh iya, kutipan ini seenaknya saya potong karena terlalu panjang kalau saya kutip semuanya).


1. dalam membahas Sunan Tembayat, Arifuddin Ismail menyebutkan salah satu versi mengatakan Sunan Tembayat adalah Prabu Brawijaya V setelah runtuhnya Majapahit.

Mesti kedudukan Sunan Tembayat sebagai salah satu anggota Walisongo masih diperdebatkan tetapi statusnya sebagai seorang wali di tanah Jawa tidak diragukan lagi. Ia dikenal sebagai orang yang telah berjasa menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Tengah Bagian Selatan (Purwadi dan Maharsi, 2005: 63). Atas petunjuk Sunan Kalijaga, beliau meninggalkan Semarang menuju Jabalkat yang berada di Bayat demi memenuhi perintah sang guru.

Mengenai silsilah Sunan Tembayat ada banyak versi. Ada yang mengatakan beliau adalah Brawijaya V (penguasa terakhir Majapahit yang oleh banyak literature dikatakan moksa), ada yang mengatakan beliau adalah putera Brawijaya V. Selain terkait dengan Majapahit, adapula sumber yang mengatakan bahwa beliau adalah anak dari saudagar Timur Tengah yang bernama Abdullah (dan kemudian bergelar Sunan Pandan Arang I) yang meminta ijin kepada Sultan Demak untuk berdagang dan bertempat tinggal di Semarang (Harder dan de Jong 2001: 332). Nama Sunan Tembayat itu sendiri merupakan pemberian Sunan Kalijaga karena metode berdakwah yang digunakan oleh Sunan Tembayat adalah tembayatan (musyawarah).

Versi yang mengatakan bahwa Sunan Tembayat sebenarnya adalah Prabu Brawijaya V mengatakan bahwa setelah runtuhnya Majapahit Prabu Brawijaya V meninggalkan istana dan melakukan perjalanan ke Jawa hingga tibalah ia di Semarang. Di sana ia menikah dengan seorang puteri bangsawan yang kaya raya sehingga ia mewarisi harta yang melimpah ruah ketika mertuanya meninggal (Fox, 1991:29). Sedang berdasarkan Serat Sejarah Dalem karya Ki Padmasoesatro, Sunan Tembayat adalah putera Brawijaya V yang ke-94 yang bernama Raden Jaka Supana alias Raden Tembayat. 
.....

Sedang menurut serat Kandha Sunan Tembayat bukanlah putera Prabu Brawijaya V melainkan anak putera Brawijaya V, yakni Batara Katong, yang memiliki memiliki anak perempuan yang dinikahi oleh Sunan Tembayat

sumber: Ismail, Arifuddin. Ziarah ke Makam Wali: Fenomena Tradisional di Masa Modern.Jurnal Al-Qalam Vol 19, No 2. 2013. Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar,
http://www.jurnalalqalam.or.id/index.php/Alqalam/article/view/156/140


2. John Pemberton membahas Gunung Lawu sebagai salah satu tempat di mana konon Prabu Brawijaya V muksa dalam legenda.
There are two great geological foci of magical Power and Supernatural forces in south Central Java: Mt. Lawu, situated forty kilometres due east of Solo, and the south coast area of Parangtritis facing the Indian Ocean immediately south of Yogyakarta. The latter opens out into the oceanic realm of the Queen of the South (Ratu Kidul), the powerful spirit-queen who, as noted in earlier chapters, performed as spiritual consort and protectress of Central Javanese kings. The former is reckoned the site of the ascetic vanishing (muksa) of Majapahit's last king, Brawijaya V, and the realm  of the spirit-king Sunan Lawu. 
....
The entire area is crisscrossed with spiritual traces of political exiles, legendary ascetics, aspiring kings, and revolutionaries -- traces left, for example, by the late fifteenth-century Brawijaya V, Javano-Islamic ascetic heroes of the fifteenth and sixteenth centuries, Hamengkubuwana I and Mangkunagara I of the eighteenth century, and recent figures such as the Indonesian revolutionary General Sudirman.

sumber: Pemberton, John. On the Subject of Java. 1994. Cornell University Press


3. Dhurorudin Mashad menceritakan beberapa versi penyerbuan terhadap Majapahit. (Sayangnya banyak salah ketik di buku yang bersangkutan).

VERSI PERTAMA (I) menyebutkan Majapahit yang kala itu dipimpin oleh R. Kertabhui [sic] (Brawijaya V) diserang kerajaan Demak pimpinan Raden Patah, anak kandungnya sendiri dari seorang selir (putri) cina anak peranakan muslim yang bernama Kia[sic] Bantong atau Syekh Bantong). 
.... 
Kadipaten Demak pimpinan R. Patah membentuk Dewan Penasehat diberi nama Walisanga oleh Sunan Ampel(tahun 1474). Karena adipati Demak lama sekali tak menghadap ke Majapahit, adipati Terung (R. Kusen) ditugaskan raja untuk menjemput R. Patah menghadap Prabu Brawijaya  V/Raja Majapahit. Tapi Tapi Sultan Demak tidak mau karena ayahnya dianggap masih kafir. Bahkan sebagai antisipasi penghukuman dari Majapahit akibat pembangkangannya, R. Patah telah lebih dahulu mengumpulkan para bupati pesisir seperti Tuban, Madura, dan Surabaya serta para Sunan untuk bersama-sama menyerbu Majapahit. 
.... 
Dalam perang itu, tentara Majapahit berhasil dipukul mundur sampai ke ibukota, cuma rumah adipati Terung yang selamat karena ia memeluk Islam. Karena terdesak, Brawijaya V mengungsi ke (Tanjung) Sengguruh beserta keluarganya diiringi sang Patih. Akibat serangan dari puteranya sendiri di tahun 1399 Saka atau 1477 M ini Brawijaya V meloloskan diri bersama pengikut setia, sehingga ketika Raden Patah (termasuk para Sunan) tiba, istana sudah kosong.
....
Dengan dikawal Pasukan Bhayangkara dan beberapa kesatuan pasukan yang tersisa, Brawijaya V menyingkir ke arah timur, dan sementara tinggal di Blambangan. Adipati Blambangan, memperkuat barisan pasukan ini. Penduduk Blambangan juga sukarela ikut menggabungkan diri untuk melindungi Brawijaya V secara ekstra ketat. Selama di Blambangan, Prabhu Brawijaya terus terusik batinnya. Raden Patah, yang biasa beliau panggil dengan nama Patah ternyata tega melakukan pemberontakan. Sabdo Palon dan Naya Genggong menambahkan[sic] hati Sang Prabhu bahwa : Nasi sudah menjadi bubur, dan tidak patut disesali lagi.
Sementara itu, setelah dinobatkan menjadi Sultan Demak bergelar Panembahan Jinbun, adipati Bintara mengutus Lembu Peteng (saudara seayah R. Patah) dan Jaran Panoleh ke Sengguruh meminta sang Prabu agar masuk Islam. Menurut satu versi, beliau tetap menolak sehingga Sengguruh disebut dan Prabu Brawijaya V lari kepulau Bali. Namun versi lain yang lebih kuat menyebut R. Patah mengutus Sunan Kalijaga yang ternyata berhasil mengislamkan Brawijaya V. 
..... 
Adapun cerita VERSI KEDUA (II) menyebutkan fakta lain bahwa Majapahit runtuh diserang Girindrawardana (Kediri), bukan oleh Demak. Informasi bahwa Majapahit runtuh akibat serangan Demak, dapat ditelusur akibat kesalahpahaman semata. De Graf (juga Mohammad Yamin) mencatat bahwa nama Girindrawardhana yang menyerang Majapahit dan merebut kekuasaan Brawijaya V seringkali disalahpahami sebagai sosok yang sama dengan tokoh Sunan Giri, seorang ulama muslim anggota Walisanga. Pendapat serupa dikemukakan Muhammad Yamin, yang menyatakan bahwa nama "Giri" dalam beberapa babad yang menceritakan tentang keruntuhan Majapahit merupakan nama seorang penganut Hindu bernama: Girindrawardhana. Pengarang Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda (ditulis abad XVII) telah mencampuradukkan antara nama Girindrawardhana dan Sunan Giri. Padahal kedua tokoh itu sama sekali berbeda. Dari sinilah kesalahpahaman tersebut berlanjut, bahwa sampai pada pendapat bahwa Majapahit runtuh akibat serangan Demak.
Prof Dr. N.J. Krom dalam buku Javaansche Geschiedenis juga menolak anggapan bahwa penyerang Majapahit era Brawijaya V (Kertabhumi) adalah Demak. Menurut Krom serangan yang dianggap menewaskan Brawijaya V itu dilakukan oleh Girindrawardhana. Prof Moh. Yamin dalam buku Gajah Mada juga menjelaskan bahwa Kertabhumi/Brawijaya V tewas dalam keraton yang diserang Rama Wijaya (nama lain Girindrawadhana) dari Keling/Kediri. Sejak itu Majapahit telah berhenti sebagai ibukota kerajaan.

Sumber: Mashad, Dhurorudin. Muslim Bali: Mencari kembali Harmoni yang Hilang. 2014. Pustaka Al-Kautsar.

4. Nancy Florida, dalam meringkas Pustaka Raja Puwara menyebutkan Brawijaya V wafat.

Pustaka Raja Puwara: Sri Pamekas VI sumambet Babad Itih I, dumugi Sinuhun Ing Kalijaga
Author: Ronggawarsita, R Ng. (1802-1873)
Composed: Surakarta, mid 19th c. 
.... 
Having migrated to Java from Palembang, Raden Patah, the son of Brawijaya  and the Chinese princess is installed by his father as the adipati of Bintara (Demak). The wali grant him the title Senapati Jimbun, and with their support, he and his allies attack and defeat Majapahit (MS p. 180). Brawijaya escapes and flees to the west; he dies at Saparhuru to the south of Ardi Sewu. Senapati Jinbun finds his father's body and buries it in Demak. For forty days Sunan Giri Kadhaton (Sunan Giri II) reigns as (temporary) ruler of Demak. At the end of the forty-day period, the wali install Senapati Jimbun as the first Sultan of Demak with title Sultan Syah Alam Akbar.

Sumber: Florida, Nancy K. Javanese Literature in Surakarta Manuscripts vol 2: Manuscripts of The Mangkunagaran Palace. 2000. Cornell University.

5. Bagus Laksana, membahas tentang konsep Moksa dalam kisah akhir Brawijaya V dan dugaan bahwa kisah tersebut sengaja agar ada kesinambungan antara kekuasaan lama dan kekuasaan baru.

In other words, the last episode of Brawijaya's life is depicted both in term of Javano-Islamic mystical anthropology of sangkan paran as well as as in the Hindu understanding of moksa. It has to be recalled that the moksas of last Hindu-Buddhist kings of Java have been used by certain Javanese text as a way to assert the unbroken continuity between the dying dynasties and the upcoming ones. This is so because in this framework of moksa these kings did not die in the violent battle against the Muslim forces, but rather they disappeared and attained a spiritual height. Thus the idea of moksa evades the problem of radical and violent change, something that is culturally troubling for Javanese.
This principle of continuity, however, takes on another different form in Javanese account of Brawijaya, namely, through certain kind of conversion, understood not as a radical break with past, but rather as a deeper reconciliation and continuity. The accounts of Brawijaya V's conversion to Islam are known in Java, and, very interestingly and probably quite intentionally, are put next to the narratives of his moksa. As Rinkes has pointed out, the Javanese seem to see this conversion as continuity on account that "there is little difference between Hinduism in Java and the forms by which Islam found its acceptance, apart from terminology. In this framework, Brawijaya could have been a Muslim but still had an experience of moksa. Again, what is at stake in the various accounts of the last days of Brawijaya V is the idea of continuity with all its possible tensions and the ambiguities.

sumber: Laksana, Bagus. Muslim and Catholic Pilgrimage Practices: Explorations Through Java. 2014. Ashgate Publishing.

6. Terjemahan Babad Jaka Tingkir oleh Moelyono Sastronaryatmo

Selesai dan sempurnalah sudah segala puji-pujian kepada mereka, berikut diceritakan Babad Tanah Jawa. Dinamakan jaman Srikalaraja, cerita para ratu-ratu  diawali cerita sesudahnya. Ialah Prabu Dewaraja. Raja Majapahit yang terakhir, beliau bernama sang Prabu Brawijaya ke V, tatkala mudanya bernama Raden Alit. Konon Negara Majapahit berdiri sampai 100 tahun umurnya, beliau Prabu Brawijaya ke V yang bertakhta terakhir, merupakan turun ke tujuh dari Raja-Raja terdahulu yang menguasai negara Majapahit.
Prabu Suruh sebagai awal Raja di Negara Majapahit, setelah mangkat beliau diganti putranya bernama Sang Prabu Anom sebagai Raja Majapahit yang ke II, belum disebut Prabu Brawijaya. Setelah mangkat diganti putranya bergelar Sri Brawijaya ke I, kemudian putranya bergelar Brawijaya II sebagai penggantinya, setelah mangkat diganti lagi putranya.
Gelar Prabu Brawijaya III, diganti oleh putranya bergelar Brawijaya IV. Kemudian diganti oleh putranya bergelar pula Prabu Brawijaya V atau nama kecilnya Raden Alit. Beliau Prabu Brawijaya V adalah turun ke tujuh dari Raja-raja Majapahit terdahulu. Cerita yang berikut di bawah ini dimulai dari sesudah Negara Majapahit bedah, atau dimulai sesudah Prabu Brawijaya V (yang terakhir) meloloskan diri dari Kraton Majapahit (musna, muksa tak diketahui ke mana perginya, mati atau hidup).
Hilang dari manusapada (dunia) ini, beliau mempercepat dirinya kembali ke alam muksapada (muksapada lawan kata dari manusapada), tiada karena "mati", akan tetapi beliau musna beserta badannya. Beliau kembali ke jaman kesucian atau jaman kesempurnaan, sesungguhnya beliau Prabu Brawijaya V adalah manusia yang sempurna. Beliau adalah seorang yang sahid waskita tahu akan apa yang akan terjadi, tahu pula akan apa yang dinamakan mula dan akhir kehidupan di dunia ini. 
Beliau tiada was-was akan kehidupan di dunia ini, beliau hidup di dunia ini maupun beliau hidup pula di jaman kelanggengan (di alam baka maupun di alam fana). Sesungguhnya pula kehidupan di dunia kelanggengan itu, segala kemulyaan yang sesungguhnya ada di situ. Kalaupun dibandingkan dengan kehidupan kemulyaan yang ada di keraton di dunia ini bukan lagi menjadi bandingannya. Sang Prabu Brawijaya (V) muksa pada waktu itu diikuti oleh para punggawa negara yang sudah tahu pula akan kemuksaan. 
Mereka di antaranya Rakyan Mahapatih Gajahmada, para satriya, dan para bupati, para mantri dan para punggawa, para wadya bala Majapahit. Kesemuanya dapat turut bersama-sama muksa Sang Prabu Brawijaya kembali sempurna kejaman kelanggengan dikarenakan mereka pula telah putus akan "ilmu kelanggengan" (kemuksaan). Mereka tabu akan ilmu sejati, mereka tahu pula akan ilmu kasunyatan. Mereka pula turut serta mengiringkan Prabu Brawijaya (V) mencapai alam  muksa, namun bagi mereka yang 'bodoh' (belum menghayati arti kasunyatan hidup ini), tentu saja tak dapat mencapai alam muksa.

Tak ada bedanya dulu dan sekarang, manakala orang tak bertanya akan hakekat kehidupan kesunyatan ini, akhirnya pun akan sengsara menyesal di kelak kemudian harinya. Mereka adalah orang yang goblog pandir, bodoh tak tahu akan rahasia kehidupan manusia di dunia ini. Kenyataan akan ilmu kehidupan, merupakan ilmu yang utama yang membicarakan pengertian-pengertian bagaimana melepas diri ini, mencapai kebebasan dari panandang akhirnya ke alam kemuksaan atau kelepasan. Itulah akhir dari orang-orang yang goblog dan pandir celaka dirinya, lain pula dengan mereka orang-orang yang telah menghayati hakekat kehidupan nyata di dunia ini (ilmu kesempurnaan).
Mereka yang turut bersama-sama muksa dengan Prabu Brawijaya (V) sejumlah sepertiga punggawa Majapahit, namun mereka tergolong yang sudah lanjut usia saja. Adapun mereka yang tergolong masih muda-muda diperintahkan raja untuk tinggal di Negara Majapahit, maksud raja tak ada lain mereka diharapkan (ditugaskan) untuk meneruskan keturunan-keturunan. Mereka diperintahkan untuk tidak melawan kepada pendatang baru, mereka pula diperintahkan untuk masuk Agama Islam yang luhung itu. Namun kepada mereka kawula Majapahit yang telah menghayati akan keimanannya terhadap agama, tak ada bedanya mereka pun sebenarnya telah membawa pada dirinya iman Islam yang suci itu. "
Namun ada juga kebahagiaannya mereka yang diperintahkan oleh Prabu Brawijaya (V) untuk tinggal di Negara Majapahit itu, sebagai penganut Agama Buda mereka menerima menganut Agama Islam yang suci. Sesungguhnya Agama Islam yang luhung itu mulai masuk di Majapahit awal bedahnya kerajaan, dengan ditandai sengkalan 'Sirna Ilang Kertaning Bumi' atau Hilang musna ketentraman dunia" atau tahun 1400 A.J. (1478 A.D.), jaman berganti menginjak jaman Kalawijisaya.  
..... 
Amabakduana pon sawusing,
sampat paripurnaning pamudya,
kang winarneng panggalange,
lelagon kang ginelung,
pamugeling carita Jawi,
babading Tanah Jawa,
lelampahanipun,
para nata kang ginita,
wusing jaman Srikalaraja pepati,
Dewaraja semana.  
Jaman iku ingkang amekasi,
panjenenganira naranata,
Raden Alit duk timure,
jumeneng sang aprabu,
Erawjjaya ping gangsal nenggih,
ing nagri Majalengka,
jangkep satus tahun,
umuring ponang nagara,
turun sapta kang jumeneng narapati,
ing nagri Majalengka.

Wiwit prabu Suruh duk ing nguni,
sasedane ginantya ing putra,
Sang Prabu Anom namane,
pan kekalih puniku,
dereng nama Brawijaya Ji,
anulya putranira,
wiwit namanipun,
Sri Brawijaya kapisan,
putra nama Brawijaya kaping kalih,
nulya malih putranya.  
Nama Brawijaya kaping katri,
putranipun nama Brawijaya,
ingkang kaping sekawane,
Raden Alit puniku,
Brawijaya pingg limaneki,
jangkep ing tedhak sapta,
kuneng kang winuwus,
ing carita kang cinegat,
sabedhahe nagari ing Majapahit,
musnane Brawijaya.  
Lenyep saking manusapadeki,
apan sumengka mengawak braja,
minggah mring muksapadane,
datan kalawan lampus,
paripurna waluya jati,
ing jaman kasucian,
kasampurnanipun,
sang aprabu Brawijaya,
sampun putus patitising jatimurti,
waskitheng sangkan-paran.  
Datan samar kawuryaning urip,
urip trusing jaman kalanggengan,
pira-pira kamuktene,
ing karaton kang sestu,
sestu datan kena winilis,
pan tikel pira-pira,
lan duk meksihipun,
neng jaman nungsapada,
cinarita duk muksane Sribupati,
dinulur ing punggawa. 
Gajahmada Rakyan Mahapatih
lawan sagung bupati satriya,
punggawa para mantrine,
sawadya-kuswanipun,
ingkang sampun sami winasis,
putus ring kamuksan,
tan samar ing kawruh,
tinarimeng kasunyatan,
bisa milu ing muksane Sribupati,
kang bodho datan bisa.  
Nadya nguni sumilih ing mangkin,
yen wong tanpa ataki-takia,
kapataka ing temahe,
anelangsa ing pungkur,
kumprung pengung tan wrin ing wadi,
wadining widayaka,
nayakaning kawruh,
kawruh marng kalepasan,
praptaning don si bodho aneniwasi,
beda lan kang wus bisa.  
Watawise kang tumut sang aji,
sapratigan wadya Majalengka,
ingkang tuwa-tuwa bae,
kang anem kinen kantun,
amencarna wiji ing wuri,
kinen sami nungkula,
manjing Islam luhung,
kejawi kang sampun samya,
nungkul batin wus anggawa Islam suci,
samya anandhang iman.  
Nanging ana bekjane kang kari,
ingkang datan bisa milu muksa,
dene salin agamane,
kang tata Buda kupur,
sinalinan agama gusti,
sami anandhang iman,
Islam pan linuhung,
sirnaning kang tata Buda,
duk bedhahe nagari ing Majapahit,
semana sinengkalan.  
Sirna Ilang Pakartining Bumi,
duk semana sinalinan jaman,
Kalawijisaya alame

Sumber: Babad Jaka Tingkir, diterjemahkan tahun 1981 oleh Moelyono Sastronaryatmo.
http://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2014/04/Babad-Jaka-Tingkir-Moelyono-Sastronaryatmo.pdf

June 13, 2017

Cynthia: bahagia

June 13, 2017 12:02 PM

What do you have in mind when you heard that word?

Couple of nights ago, I have this conversation with my mom, since she seems to be upset all the time this past few days. She always get grumpy of all little matters that never be a problem before.

And I asked her this.

Mom, what happened?

She said, I want your dad to care about our family. I want your dad to be responsible, to have a job and an income!

Mom, why now? It never seem to be this big of problem. Heck, this is not a problem at all.

She said, I don't know. It's just that every time I saw his face, I get angrier all the time.

And I asked her this. Mom, what makes you happy?

She stared at me, and replied, I don't know.

Mom, you have to answer this.

I am happy if I have a responsible husband, she said.

No, mom. That is not a happiness. That is a wish. Happiness is inside you. What makes you happy, without any relation with any person other than yourself.

I said. Look at me mom. I'm happy now. I have a job that pissed me off everyday, but I am happy because I have a job. I have a nerve-wrecking family, but I am happy because I have one. I have bunch of loving friends whom I cared of. I don't have a husband, but I am happy because I've loved many of those candidates before. Tell me why I shouldn't be happy about it?

She stared at the ceiling as I continued mumbling words after words.

C'mon Mom. Let's define what makes you happy from inside, then we'll continue with that.

I am happy if I can pray without any disturbance.
I am happy if I can visit my friends and chat with them.

Long pause. Is that all Mom?

Actually I AM happy, she said. But his carelessness really makes me lose my temper, she said.

Mom, never put your happiness on someone else's shoulder.

She nodded silently.

Yeah, at least I know I made one less grumpy person yesterday as I saw her talking happily with my dad.

Mom, you are my world. I used to think that in order to make me happy, I have to make you happy. But I know better now, that in order to make you happy, I have to make me happy first. There are no unhappy person that can make other person happy.

June 11, 2017

Narpati: Correspondence between Don Rosa and I

June 11, 2017 08:31 PM



A decade ago, I bought Life and Time of Scrooge McDuck Companion by Don "Keno" Rosa, published by Gemstone Publishing. One of the story was The Cowboy Captain of Cutty Sark. While the story itself was very entertaining, I couldn't help but notice that Keno made a mistake in naming his character.

Inspired by Q&A in that book, I sent e-mail to advise him about the character name and ironically, it made me do a little research by myself.

My first email was sent on December 28, 2016:

Dear Keno,
I hope you still have this e-mail.

I'm your fans, even before knowing your name (Thanks to Surien, an employee of Gramedia Groups which published Donald Duck Comics in Indonesia.. She wrote an article about you in one of the magazines).

We, Indonesian Readers, have heard about "The Cowboy Captain of the Cutting Shark", the told of Scrooge McDuck's adventure in Java. Unfortunately the story have not been published yet in Indonesia.

Fortunately, I found illegal copies in internet a few months ago (but the sites had been taken down.. maybe Disney had suited the owner) and found "Life and Times of Scrooge McDuck Companion" in bookstores yesterday (and only one copy!).

Although you try to describe Java accurately, you still fail in some aspect.

Firstly, the most obvious mistake was the headband/headcover. We call it "blangkon" (you can find it in Google Images). If you want to repair it, you can do that by add some motives (we call it 'batik') in blangkon and ask the colorist to color 'blangkon' mostly in black or brown. It rarely colored in red.

Secondly, The name of Sultan Djokja was Hamengkubuwono. The current Sultan was Hamengkubuwono X and the Sultan in 1940s was Hamengkubuwono IX, then in the setting of your stories, it would be Hamengkubuwono VII or Hamengkubuwono VI (you should do more research). Mangkunegara was a duke in Solo and have nothing to do with Djokja.

But you were right describing rivalities between Djokja and Solo which still happened until now.. :lol:
My ex-girlfriend (now in Fairfield, Iowa.. sigh..) laugh when I showed her the story (the illegal copies found in Internet). She always proud of her trait from Solo. :p

Thirdly, Batavia is on the north, Krakatoa is on the the West of Java (not East of Java like a title of Hollywood movie) on Sunda trait, Madoera (Madura) is on the East of Java on Madura trait. Hence, if Sultan Solo went from Batavia to Madoera and Scrooge McDuck tried to after him, then they wouldn't pass Krakatoa. But most people won't realize the mistake.

Fourthly, you can write Madura instead of Madoera. It will be easily read by english reader (the "oe'" was old spelling, influenced by the Dutch, and pronounced as "u"). By the way, Karapan Sapi still exist today and of course, Sultan Djokja and Solo is not taking a part in the race. :p

Fifthly, Batavia was totally under Dutch Rule while both Sultan Djokja and Solo was limited to their town (Djokja and Solo was a city in Central Java -- nowadays Djokja was a province, separated from Central Java) while Batavia was a city on the north of West Java. I doubt one of them had a land or plain in Batavia in the past. Unfortunately, I cannot prove they didn't have.. :p

Six, although most of Javanese Muslim, the traditional rarely pronounced "Allah". They added "Gusti" (means Lord). Hence, instead of 
"Huh? What did you say? I can't hear anything since Allah yelled at me several minutes ago
you can add into:
"Huh? What did you say? I can't hear anything since Gusti Allah yelled at me several minutes ago "
It would be more sounding like Javanese. 


In the end,
regardless a few inaccuracies I found in the story, I enjoyed it! I really enjoy the fiction that 'car' was first build in Batavia (hey.. I live in Jakarta). Enjoy the fiction about traffic fine was first issued in Batavia.. woww.. :lol:

And you're right how Javanese (actually all people in Indonesia, Malaysia, Singapore) pronounced a two-adjective-noun word in reverse way.
longhorn = long (panjang) and horn (tanduk). But we will call them "tanduk panjang" which will be "hornlong" in english. :lol:


best regards,

Kunderemp Ratnawati Hardjito a.k.a
Narpati Wisjnu Ari Pradana
Jakarta, Indonesia.
And he responded quickly at the same day:


>>>> Firstly, the most obvious mistake was the headband/headcover. We call it "blangkon" (you can find it in Google Images). If you want to repair it, you can do that by add some motives (we call it 'batik') in blangkon and ask the colorist to color 'blangkon' mostly in black or brown. It rarely colored in red. 

I have virtually NO ability to tell the colorists even at the company I work for how to color my comics properly. And less ability than that to compel the colorists at all the other publishers around the world to color things as I wish.
I don't see anyone in the story with a headband, so you must mean the turban-type head covers? I can see they are drawn too tiny and wrinkled to show patterns, so I can see why I might have left such off even if I knew about it. But I can tell that I was looking carefully at some pictures to see how the turbans were wrapped properly -- I can see two distinctly different wrapping styles, and I recall copying all the costumes from photos of 1880's native costumes.


>>>> Secondly, The name of Sultan Djokja was Hamengkubuwono. The current Sultan was Hamengkubuwono X and the Sultan in 1940s was Hamengkubuwono IX, then in the setting of your stories, it would be Hamengkubuwono VII or Hamengkubuwono VI (you should do more research). Mangkunegara was a duke in Solo and have nothing to do with Djokja. 

Oh! I don't mind when people try to find errors in my work. In fact, I *like* it -- I certainly DO make errors and when I find out about them I can correct them in future editions. But PLEASE don't say I should do "more research"!!!!!!!! I already spend WEEKS of research on every story I do, all work that I do for only my own amusement and out of respect for the stories and the readers -- I get paid NO extra for all that additional work. And each story only shows you the very TIP of the "iceberg" of the research I've done since I end up using only about 2% of the reams of notes I make, most of which I never find a use for. In fact, that Java story may have involved more research than anything I've ever done short of my Templar treasure stories. It involved research into Java history and customs, volcano facts and Krakatoa history, and even contacting Dutch translators to help me write out newspaper headlines and background store names.
 I just went and found the notebook filled with hundreds of facts and notes that I wrote during my research for that story. I see that I got the names of the sultans, and their photos, from an 1890's traveler's memoir titled ON THE SUBJECT OF JAVA. I see that the book stated that during 1861-1892 the Sultan of Surakarta (Solo) was Pakubuwana IX. And during 1881-1896 the Sultan of Djokjakarta was Mangkunagara V. I see my notes say he was the "res. sultan in Batavia"... if that means "resident sultan" which is different than the main sultan, I don't know. I also am at the mercy of the correctness of the books I get my facts from. I personally don't know who was the Sultan of Djokja in 1882, but the book I got from the history library at the University of Louisville said it was Mangkunagara V. If that story is ever reprinted *again*, I will double-check that name. But it seems like you are not actually telling me that you know the name of the 1882 Sultan of Djokja. If you're IN Java, it's 10,000 times easier for YOU to find out that historical fact than it is for me. Can you please find a reference for me proving who was that 1882 sultan?
But PLEASE don't ever say I need to do "more research". 

>>>> Thirdly, Batavia is on the north, Krakatoa is on the the West of Java (not East of Java like a title of Hollywood movie) on Sunda trait, Madoera (Madura) is on the East of Java on Madura trait. Hence, if Sultan Solo went from Batavia to Madoera and Scrooge McDuck tried to after him, then they wouldn't pass Krakatoa.  
Of course, you are right. But my story obviously *needed* them to travel past Krakatoa. So that's the way they went. I can always think of several reasons why they did so that it wasn't worth mentioning in the story. Perhaps the sultan thought that prevailing winds would make it more difficult for a schooner to follow them in that direction. Perhaps they planned to make another stop on that side of Java that wasn't mentioned.


>>>> Fourthly, you can write Madura instead of Madoera. It will be easily read by english reader (the "oe'" was old spelling, influenced by the Dutch, and pronounced as "u").  

And I found that in 1882 it was commonly spelled as "Madoera" so that is what was important to me, not what spelling would be easier for a modern reader to pronounce.


>>>> Fifthly, Batavia was totally under Dutch Rule while both Sultan Djokja and Solo was limited to their town (Djokja and Solo was a city in Central Java -- nowadays Djokja was a province, separated from Central Java) while Batavia was a city on the north of West Java. I doubt one of them had a land or plain in Batavia in the past. 

What do you refer to here? "The King's Plain"? I don't know what translation of my story you are looking at, which is another *entirely different* problem! I have no control over how my stories are mis-translated around the world. "The King's Plain" was the large central city park in Batavia. My story did not say that it was land that belonged to one of the sultans. Apparently the translator of the version you read did not understand that "the King's Plain" was the name of a public park -- you mean he translated it as "the Sultan's land"? That was the mistake of the translator.
But wait -- you say you read this story in an American edition? So I don't know why you say that my story says that a sultan owned land in Batavia.


>>>> Six, although most of Javanese Muslim, the traditional rarely pronounced "Allah". They added "Gusti" (means Lord). 

Also in 1882? This would be rather difficult for me to have known. On the other hand, all of that dialogue would be "translated" for the reader from the original Javanese which was being spoken, so I'm not sure if an untranslated word like "Gusti" should be in that English version or not. But this is an interesting fact that I'll try to put into future reprints just to amaze another Java reader with my accuracy.
Thanks for writing! Virtually ALL readers assume that I'm simply making up all my history and authentic facts out of thin air like all the other writers & artists do. I am always pleased when someone notices the lengths I go to to TRY to get all my facts correct. I will check on the name of the 1882 Sultan of Djokja next time this story is reprinted by some publisher I have contact with.

After that, on the next day, I wrote

Dear Keno,

Yup.. You're right. It's easier for me to get the correct name.
My father have a list of Sultan Djokja.
(actually, even if my father didn't have it, I could asked my friend who lived in Djokja and got the name for you).

The Sultan of Djokja in 1883 was "Sultan Hamengkubuwono VII" and ruled between 1877 - 1921 and his real name (not important for comic, but for your curiousity) was Murtejo. 

(As I wrote before, the current Sultan of Djokja is Sultan Hamengkubuwono X and his real name was Herjuno Derpito)

Mangkunegara wasn't even lived in Djokja.  The traveler whose memoir you read probably had mistakenly thought Mangkunegara Palace was located in different city and concluded he was in Djokja.

I'm sorry for being rude.
I know it hard to had some history fact of my country, even in this internet-era.
(I used to edit some Javanese-history articles in wikipedia and I still feel the Javanese-related articles need to be edited).

Thanks for replying me..
Don't worry about the path of Sultan Solo's escaping, I didn't think about it in the first time I read. And you're right, you can explain it in many ways, so it is not important. (and I can't prove the Sultan of Solo [Pakubuwana IX] didn't experience Krakatoa... :smile: )

And relax,
by mentioning 'Batavia', 'Djokja', 'Solo', 'Pakubuwana', 'Mangkunegara', 'Karapan Sapi', and show  we know you had struggle to get facts for your story. (and one of my friends always humorously tell me) most of Indonesian doesn't know their own history.

And.. wow... you even drew a javanese rhinoceros with only-one-nose horn. If you were just ordinary comic-artist, you would probably drew the rhino with two-nose-horn.

Best regard,

Kunderemp Ratnawati Hardjito a.k.a
Narpati Wisjnu Ari Pradana
Jakarta, Indonesia.

However, Keno was not satisfied and asked again, on the same day.

>>>> The Sultan of Djokja in 1883 was "Sultan Hamengkubuwono VII" and ruled between 1877 - 1921  

I'm sure you are correct. But WHERE did this misinformation of the wrong name of "Mangkunagara V" AND wrong ruling date of "1881-1896" come from? Who is my "Mangkunagara V" and where and when did he rule, if he ruled anything?
(pause)
Okay.... I just plugged the name into Google and I found an entry that listed that name and ruling period under the heading of "Kerajaan Mangkunegara"... but I couldn't read any of the site's information (in Java-ese?). Can you tell me what "Kerajaan Mangkunegara" means? He was the Sultan of "Kerajaan"? Where is that?

And I answered in the same day

Dear Keno,

Kerajaan means "Kingdom". Raja means "King".
Kesultanan means "Sultanate". 
Keraton or Kraton means "Palace"
Pangeran means "Prince"

The structure of kingdom in Java after VOC came to Indonesia (added by some intrigue and strict protocol in Javanese history and culture) was a little bit confusing. 

Mangkunegara was an 'Adipati' and ruled 'Kadipaten Mangkunegaraan'. 
"Kadipaten" was (usually) an autonomous region inside a "Kerajaan" (Kingdom) but they had their own army.

I think we have to see the history of the first Sultan Solo, Sultan Djokja, and Mangkunegara to understand their relationship. 

Kesultanan SoloKesultanan Djokja, and Kadipaten Mangkunegaran was used to be a kingdom called Kesultanan Mataram. In 1755, after a war, it broke into two kingdom, Kesultanan Djokja (the first Sultan was Sri Sultan Hamengkubuwono I ) and Kasuhunan Solo (the first Sunan/Susuhunan/Sultan was Sri Susuhunan Pakubuwana III ).

Both Sultan and Sunan (Susuhunan) means the same thing and the same hierarchy. Kesultanan and Kasuhunan also means the same thing. 

In Solo or Surakarta case, both of them are interchangebly. Some people call the kingdom "Kesultanan Solo" or "Kesultanan Surakarta" while others call "Kasuhunan Surakarta" or "Kasunanan". Some people call the King of Solo as "Sultan Solo" while some others call "Susuhunan Solo" or "Sunan Solo". Note that "Kasuhunan" or "Kasunanan" only belong to Surakarta/Solo. Don't ask me why.. 

Back to the history,
Raden Mas Said or Pangeran Sambernyawa (the latter literally means "Prince of Soul Reaper"), a former ally of Hamengkubuwono I was unsatisfied with the division of Mataram. He attacked both Solo and Yogya. However, in 1757, he surrendered to Pakubuwono III, Sultan Solo. Then, witnessed by envoys from Hamengkubuwono I and VOC, his sovereignity was acknowledged by Pakubuwono III. 

However, Sultan Solo (and emissaries of Sultan Djokja and VOC) only acknowledge Pangeran Sambernyawa as Adipati which known as Mangkunegara I ( the complete title was Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I  or abbreviated as KGPAA Mangkunegara I ) and his territory was called Kadipaten Mangkunegaran. 

Theoretically, Mangkunegara sovereignity compared to Sultan Solo should be just like a governor to president. However, probably due to political reason and the weakening of Kesultanan Solo, sometimes the Dutch treat Adipati Mangkunegara as the third king of Java (the other two was Sultan Solo and Sultan Djokja). 

You can read the complete history in Wikipedia Articles, Mataram Sultanate under the section "Division of Mataram".

The Kadipaten Mangkunegaran on the east of Solo. ( Djokja was on the south of Solo). 

I attached a map of Mataram (Kesultanan Solo, Kesultanan Djokja, Kadipaten Mangkunegaran, Kadipaten Pakualaman [it was a different story]) in 1830 from Wikipedian in Indonesian Language's Article: Kadipaten Mangkunegaran. 

Note the 1830 was the year after Java-War and the territory of Dutch ( Indonesian: Belanda) was expanded while the territory of both sultanate (Solo and Djokja) was reduced. Please, remember what I wrote before, that Kraton Mangkunegara (Mangkunegara Palace) was located in Surakarta (Solo). 

In conclusion,
answering your questions:
Yup.. Mangkunegara V had territory called as Kadipaten Mangkunegaran. And he was a ruler with a title KGPAA (Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya).

Could his territory be called as Kerajaan (Kingdom)? 
Theoretically, it couldn't. 

Let me translate a paragraph from Wikipedian in Indonesian Language: Kadipaten Mangkunegaran:

Penguasa Mangkunegaran, berdasarkan perjanjian pembentukannya, berhak menyandang gelar Pangeran (secara formal disebutKangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya, mirip dengan Fürst di Eropa) tetapi tidak berhak menyandang gelar Sunan atau pun Sultan. Karena itu, penyebutannya sebagai kerajaan secara hukum tidak tepat.

The ruler of Mangkunegaran, according to the treaty which founded the region, had a right to assumed the title Pangeran/Prince ( formally called as Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya, similar with Fürst in Europe ) but should not assumed the title Sunan and/or Sultan. Hence, calling the region as kerajaan (kingdom) was inaccurate. 


But practically, since Mangkunegara (from Mangkunegara I) had his own army, had power to rule autonomous region almost as wide as Kesultanan Solo, and the Dutch itself sometimes treat Mangkunegara as the third king of Java, it can be understand why some people called it Kerajaan Mangkunegara (Kingdom of Mangkunegara). 

(I've just edited an article in Indonesian Language Wikipedia which contained list of King of Jawa [Daftar Raja-Raja Jawa] -- replacing Kerajaan Mangkunegara with Kadipaten Mangkunegaran )

Dear Keno,
I hope I didn't bore you with long history. I hope it can clear who Mangkunegara V was.



regards,
Kunderemp Ratnawati Hardjito a.k.a
Narpati Wisjnu Ari Pradana
PS: Do you know any mailing list about Duckburg fans which you can recommend to me?

And I also attached a map of Central Javanese at that time



And he answered

>>>> I hope I didn't bore you with long history. I hope it can clear who Mangkunegara V was. Yes, NOW I know who Mangkunegara V was! He was the guy who IMPERSONATED the Sultan of Djokja and got the two bulls that $crooge had promised to the real Sultan whom he had never met in person! The Sultan of Solo's people never said anything -- they had heard that $crooge had brought the bulls for the S of D, as you see the "emitter" saying, but when they saw Mangkunegara V trying to buy them, the S of S decided to also try to get them. Note that the S of S never refers to the other as the S of D -- he knew that's not who it was and he assumed $crooge also knew it.
YES! (Whew... that was tough!)

And I laughed when I read the reply. I know I would get this kind of reply because I read similar reply about the same topic on the book I bought.

So I finally ended our discussion.

I couldn't answer anything but.. :laugh on loud:
No wonder I always laugh when I read your comic.

Nice..
You found another way to answer my critics.. :lol:

Thx for replying..

Narpati W.A. Pradana

And
Yes, thank you, Don Rosa for replying my e-mail.

By the way, The Cowboy Captain of Cutty Sark was finally published in Indonesia years after the correspondence ( I believe somewhere about 2009-2011) and the name of both sultan was censored and replaced by "Sultan Wetan" (Sultan of the East) and "Sultan Kulon" (Sultan of the West).

June 10, 2017

Ramot: Makan Siang dengan Kucing

June 10, 2017 09:31 AM

Sebenarnya makan siang dengan kucing adalah hal yang biasa saya jalani. Toh di tempat saya bekerja, kami memelihara 3 kucing yang selalu santai di taman waktu jam makan siang. Namun siapa yang tidak tertarik mencoba pengalaman makan siang dengan kucing kesayangan di tempat nyaman. Jadi meluncurlah tim Rumah Steril bersama kucing masing-masing untuk ikutan fancy dining dari Fancy Feast.
wew ada tim Rumah Steril


Waktu acara ini saya jadi paham tentang Fancy Feast. Selama ini saya melihat Fancy Feast sebagai makanan basah biasa yang muncul dengan kemasan mungil. Ternyata bukan cuma sebatas itu saja. Fancy Feast memperhatikan tekstur makanan dan menyediakan beragam pilihan daging olahan sehingga kucing tidak bosan. Fancy Feast hadir bukan untuk menggantikan makanan sehari-hari kucing kesayangan, tapi sebagai alternatif selingan agar kucing tidak bosan.
Di acara ini juga ditunjukkan penyajian makanan basah yang menarik dan seringkali tidak disadari pemilik. Kucing sebenarnya bisa makan sayur asal dengan asupan terbatas. Selama protein lebih tinggi daripada sayuran, kucing tetap sehat karena apapun terjadi sayur mengandung serat yang baik juga untuk pencernaan kucing. Kuncinya ya tidak terlalu banyak

Sayangnya kucing kami terlalu malu untuk makan makanan yang disajikan, mau minta bungkus, sadar diri ini bukan pesta orang Batak. Baru setelah tiba di rumah, kucing-kucing tersebut makan Fancy Feast dengan lahap. Tadinya kami pikir cuma rasa tertentu yang disuka, ternyata setelah seminggu semua stok kaleng habis dan benar-benar dilahap tuntas sampai habis!
merayu untuk makan..
Nah foto-foto di atas adalah foto resmi dari Fancy Feast, kami sendiri merekam momen menarik tersebut dalam sebuah video singkat! Enjoy!


June 06, 2017

Narpati: Kenapa Ketuhanan di Urutan Terakhir Dalam Pidato Soekarno

June 06, 2017 06:12 AM

Kenapa Soekarno menaruh "Ketuhanan" di bagian terakhir dalam pidatonya? Kalau kalian membaca pidatonya secara utuh pasti mengerti bahwa penempatan ini bukan karena beliau meremehkan faktor "Tuhan" tetapi sebagai strategi karena topik ini paling kontroversial.

Salah satu strategi diskusi adalah menempatkan di awal topik yang lebih besar peluangnya untuk disepakati dan menempatkan di bagian akhir, topik yang paling memicu konflik. Karena itu, Bung Karno menempatkan "Kebangsaan" karena ia percaya semua yang hadir ingin menjadi bangsa baru, yakni Bangsa Indonesia (dan kelak menjelma menjadi "Persatuan Indonesia" setelah dikaji lebih lanjut). Setelah semua sila-sila itu dia bahas, barulah di bagian akhir ia tetap mengajukan "Ketuhanan" sebagai bagian dari dasar negara karena Bung Karno menyadari sifat religius bangsa ini.

Setelah BPUPKI menerima usul Bung Karno, barulah diwakili oleh tim kecil, mereka mengutak-atik urutannya, mengubah istilahnya agar lebih mudah diterima (misalnya "Internasionalisme" menjadi "Kemanusiaan") dan akhirnya tanggal 18 Agustus, jadilah Pancasila yang kita kenal sekarang. 

Jadi kalau ada seorang tokoh agama mengatakan dengan kata-kata kasar "Pancasila-nya Soekarno, ketuhanan ada di (maaf) pantat", saya rasa itu karena kurang pahamnya beliau tentang sejarah perdebatan Pancasila saat itu. Sejujurnya, menurut saya bukan sepenuhnya salah beliau, karena banyak generasi hasil cuci otak orde baru yang masih berpikiran sama walaupun tak menggunakan kata-kata sekasar itu.

Untuk kisah lahirnya Pancasila dari awal sidang (29 Mei 1945 -- bukan pidato Muhammad Yamin! )  hingga menjadi Pancasila yang kita kenal sekarang (18 Agustus 1945), silakan lihat yang dikisahkan Bung Hatta dalam memoarnya. Kutipannya bisa dibaca di http://tulisanhatta.blogspot.co.id/2017/06/lahirnya-pancasila-dikutip-dari-memoar.html?view=flipcard 

May 28, 2017

Narpati: Macam-Macam Cara Muslim Mengejawantahkan Islam dalam Politik

May 28, 2017 12:21 AM

Sesungguhnya, Islam tidak bisa dilepaskan dari politik. Setiap Muslim pasti menginginkan Islam ada dalam kehidupan politik. Yang berbeda adalah bagaimana tiap grup mengejawantahkan Islam dalam kehidupan politik.

Berdasarkan pengamatan seadanya yang sangat amatir,
saya membagi Muslim menjadi empat grup berdasarkan pandangan mereka terhadap hubungan antara Islam dan politik. Mari kita namakan mereka:
1. Etis
2. Adaptasi Sekuler
3. NKRI Bersyariah
4. Pandangan Satu Bumi

KELOMPOK ETIS
Kelompok ini mungkin paling banyak ditemui. Mereka berpendapat bahwa Rasulullah diturunkan tidak untuk menciptakan negara Islam melainkan sekedar pemberi peringatan. Mereka berpendapat, Islam tidak mendukung bentuk pemerintahan tertentu. Mereka percaya, sebaik apapun sistem pemerintahan, selama yang menjalankannya syetan maka sistem tersebut adalah sistem setan.

Jangan salah, walaupun sekilas mereka apolitis, sebenarnya mereka punya bayangan seperti apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah. Dalam pengajian-pengajian mereka pun, kadang ada pembahasan hukum-hukum agama. Hanya saja, fokus mereka bukanlah membentuk pemerintah seperti apa yang mereka inginkan melainkan mendidik masyarakat. Mereka percaya, dengan masyarakat yang islami, niscaya pemerintahan pun akan islami.

Contoh kelompok ini adalah para generasi muda NU yang moderat. Ada juga sesepuh NU yang juga dikenal moderat. Ada juga sesepuh Muhammadiyah yang tampaknya termasuk golongan ini. Biasanya, jangankan kaum Muslim, non-Muslim pun terkadang membagikan pendapat mereka.

Di sisi lain, contoh kelompok lain yang tergolong kelompok etis adalah kelompok Salafi yang terkenal keras. Walau demikian, mereka berpendapat negara Islam bukanlah tujuan dakwah. Jangankan menggulingkan pemerintahan yang sah, menyuarakan protes melalui demonstrasi saja tak disukai mereka. Walau begitu, ternyata tak semua kelompok Salafi masuk kelompok etis melainkan tergabung dalam kelompok lain.


ADAPTASI SEKULER
Sama seperti kelompok etis, kelompok ini percaya bahwa Islam tidak mendukung bentuk pemerintahan tertentu. Walau begitu, kelompok ini percaya bahwa ada petunjuk-petunjuk dalam Islam, bagaimana sifat-sifat pemerintahan yang Islami. Ada juga yang berpendapat bahwa negara Islam yang murni tidak praktis dibentuk di negara yang penduduknya bervariasi sehingga haruslah dilakukan kompromi dengan kelompok non-muslim, memasukkan nilai-nilai Islam yang bersifat universal tanpa harus membawa label Islam.

Kelompok ini biasanya memiliki profesi-profesi sekuler dan memanfaatkan pengetahuan-pengetahuan sekuler yang mereka percayai dekat dengan Islam.

Umumnya, kelompok ini berpandangan sosialis karena ada petunjuk-petunjuk Rasulullah melakukan inspeksi pasar dan mendidik masyarakat Madinah dan kebijakan ini dilanjutkan oleh Khalifah selanjutnya seperti Umar ibn Khattab. Selain itu juga ada petunjuk bagaimana Rasulullah dan penguasa penggantinya mengusahakan sumber daya untuk kepentingan bersama.

Dalam sejarah Indonesia, contoh kelompok ini antara lain Haji Misbach yang berhaluan komunis dan Haji Mohammad Hatta yang berhaluan Sosial Demokrat.


NKRI BERSYARIAH
Kelompok ini mungkin adalah kelompok paling menonjol. Dalam sejarah, kelompok ini merupakan salah satu pembentuk Republik Indonesia. Bahkan pertentangan antara kelompok ini dengan kelompok nasionalis-sekuler adalah penyebab Bung Karno berpidato di tanggal 1 Juni untuk menyatukannya. Sejak di Bandung, sebenarnya Bung Karno sudah mengenal kelompok ini, antara lain Natsir dan gurunya, A. Hassan. Ketika beliau dibuang di Ende, Bung Karno sempat berbalas surat, berdiskusi tentang islam dengan A. Hassan.

Di masa orde lama, kelompok ini berada dalam satu partai politik, Masyumi sebelum akhirnya pecah menjadi Nahdlatul Ulama. Selain itu, di luar partai, juga ada ormas seperti Persis yang juga berpandangan sama. Walau begitu, ada juga pengaruh-pengaruh kelompok ini seperti pembentukan Pengadilan Agama dan Kompilasi Hukum Islam.

Di masa orde baru, bisa dibilang kelompok ini tak terlalu aktif di bidang politik walaupun ada Partai Persatuan Pembangunan. Walau begitu, kelompok ini aktif dalam dakwah, di antaranya melalui DDII.

Di masa reformasi, tidak ada satu partai tunggal yang benar-benar menegaskan posisinya sebagai kelompok ini walau ada dua partai Islam, Partai Bulan Bintang dan Partai Keadilan Sosial, yang kader-kadernya dikenal sebagai kelompok ini. Selain itu, ternyata kader-kader dari partai sekuler seperti Golkar, ada juga yang termasuk bagian dari kelompok ini.

Penerapan syariah Islam di Aceh dan otonomi daerah, membuat kelompok ini kini bisa memperjuangan syariat Islam di tingkat daerah tanpa harus memaksakan diri bertarung di tingkat nasional. Walau demikian, ada beberapa penerapan hukum Islam yang cukup kontroversial seperti penerapan hukuman syariah terhadap non-muslim atau penerapan syarat khas muslim terhadap jabatan tertentu.

Yang perlu dicatat adalah, kelompok ini tidak akan bisa menggolkan peraturan syariat mereka tanpa adanya dukungan masyarakat yang memilih mereka.


PANDANGAN SATU BUMI
Kelompok ini merasa nasionalisme adalah berhala di abad modern. Mereka letih melihat kaum muslim terpecah belah, berperang hanya karena menjadi warga dari negara yang berbeda padahal ironisnya, tak jarang warga dari dua negara yang berbeda itu adalah sesama muslim. Karena itu, mereka menganggap nasonalisme dan demokrasi adalah taghut yang harus diperangi, dan mencita-citakan satu negara Islam di muka bumi di mana semua muslim adalah warga dari negara baru itu.

Ada dua macam kelompok ini,
Yang satu menghalalkan kekerasan pada para pendukung negara-negara berbasis nasionalisme. Biasanya kelompok ini sudah melakukan takfir terlebih dahulu sehingga menurut mereka tak ada dosa membunuh sesama muslim yang menghambakan diri pada berhala nasionalisme.

Kelompok satu lebih suka memfokuskan diri pada kajian-kajian walau di masa lalu konon mereka terlibat pada upaya percobaan kudeta namun saya pribadi masih harus lebih lanjut meneliti klaim ini.

May 14, 2017

Narpati: [Bukan Review] Genius episode 4

May 14, 2017 10:33 PM

Mileva Maric adalah masa produktif Einstein. Pertama kali dahulu melihat foto Mileva Maric, saya sempat "naksir" dan melihat bahwa dia adalah murid terpintar saat ujian masuk di kelasnya Einstein, makin naksir pula. Tetapi entah kenapa jarang sekali dibahas padahal Einstein sangat produktif ketika ia menikah dengan Mileva Maric.

Nah,
Genius episode 2 hingga 4 ini menampilkan banyak sisi Mileva. Mau tak mau penonton diajak bersimpati dengannya. Bukan sekedar cantik dan cerdas, Mileva juga melalui perjuangan berat untuk masuk ke kelas di Zurich Polytechnic. Bahkan ternyata di antara orang Eropa pun, kebangsaan Mileva (Serbia.. yang juga bagian dari bangsa Slavic) dianggap sebagai bangsa paling rendah. Bahkan keluarga Einstein pun tidak suka pada Mileva.

Sementara melihat masa-masa produktif Einstein berada di saat pernikahan dengan Mileva, tak pelak ada rasa curiga bahwa Mileva ini punya peran dalam tulisan Einstein. Sayangnya, Einstein tidak pernah menyebutkan satupun peran Mileva bahkan dalam surat-surat diskusinya dengan teman-temannya.

Daaaan....
Di episode 4 ini, masa ketika Einstein sangat produktif, di saat sama ia digambarkan sebagai sosok bajingan yang memanfaatkan istrinya tanpa pernah membelanya di depan keluarganya, atau memujinya di depan teman-temannya.

Bisa dibilang, episode 4 ini adalah episode Genius paling emosional.

Untunglah istri saya sudah tidur sehingga saya menonton episode ini sendirian. Bisa habis badan saya dicubiti seandainya saya menonton bersamanya.

Sayangnya, episode ini bukan episode tanpa cela.
Episode ini sama sekali mengabaikan eksperimen Michelson-Morley padahal percobaan tersebut gagal membuktikan keberadaan ether (yang sering disebut Einstein dalam Genius episode 1,2, dan 3) dan kegagalan itu punya pengaruh cukup besar untuk mempengaruhi Einstein berani merombak posisi bahwa waktu mungkin tidak semutlak yang diperkirakan.

Demi dramatisasi, alih-alih menampilkan kegagalan eksperimen Michelson-Morley, episode 4 ini lebih menyorot sisi keluarga Winterler di mana sang kepala keluarga, Jost Winteler, yang sedang berduka menjadi inspirasi Einstein untuk teori relativitasnya.

Nah,
demi dramatisasi pula, tapi yang ini saya suka,
episode 4 menampilkan Marie Sklodowska dan suaminya, Pierre. Untuk menunjukkan kejamnya Einstein kepada sang istri, episode ini menampilkan bagaimana si Pierre menolak penghargaan nobel kecuali istrinya, Marie, juga disebutkan. Yup, Pasangan Pierre - Marie Curie.

Episode ini ditutup dengan kertas dengan formula yang terkenal: E = mc kuadrat.

May 02, 2017

Narpati: May Day Hanya di Negara Dunia ke-3 ?

May 02, 2017 06:22 AM

"May day hanya terjadi di negara dunia ke 3 yang diusung oleh konsep komunis-sosialis." -- seorang kawan sambil berbagi video pembuatan kondom menggunakan mesin.

Pertama,
May Day tidak hanya terjadi di negara dunia ke-3. Di negara maju seperti Amerika Serikat pun ada walaupun sebenarnya untuk negara Amrik karena sejarahnya agak beda, dirayakan bukan tanggal 1 Mei tetapi hari Senin pertama di Bulan September.

Kedua, salah satu hasil kerjaan serikat buruh adalah pembatasan waktu 8 jam bekerja. Sebelumnya, jam kerja itu bisa sampai 15 jam. Mungkin sebaiknya engkau belajar-belajar lagi deh contoh keberhasilan tuntutan buruh dari abad 19 hingga sekarang.

Ketiga,
kalau kamu doyan nonton film Hollywood atau nonton TV serial produksi Hollywood dan kamu mengikuti berita-berita tentang mereka, kau pasti tahu seberapa kuat serikat pekerja hollywood (macam SAG atau Screen Writer Guild) hingga mereka beberapa kali melakukan mogok kerja.

Apakah tuntutan para serikat pekerja Hollywood membuat kualitas film dan serial TV Hollywood menjadi sangat buruk dibandingkan kualitas film dan serial TV negara lain? Tidak!

Beda dengan di Indonesia, di mana para buruh-buruh sinetron (termasuk aktor-aktris) ditekan oleh para pemilik modal tanpa ada posisi tawar yang kuat. Apakah ketiadaan serikat pekerja yang kuat di dunia sinetron Indonesia menjadikan sinetron Indonesia lebih baik? Tidak!

Eh,
tapi kan dengan mahalnya buruh di negara maju, perusahaan-perusahaan melempar pekerjaan ke negara-negara ketiga macam India, RRT, dan tentu saja Indonesia. Bukannya berarti serikat buruh di sana memperparah keadaan di negara sana?

Sebenarnya, tindakan outsourcing untuk menekan produksi itu merugikan negara asal dan negara tenaga kerja. Dari sisi negara asal, jelas lahan pekerjaan menjadi berkurang. Dari sisi negara tenaga kerja, mereka bersaing dengan negara lain tanpa jaminan kecuali kontrak.

Bila sumber tenaga kerja kurang cerdas dalam membuat kontrak, bisa terjadi kasus seperti di balik layar Life of Pi di mana filmnya sangat laris, produser film sangat untung, tetapi perusahan kecil yang mengerjakannya bangkrut.

Balik ke topik,
kalau kamu sinis ama serikat-serikat buruh tetapi kamu masih doyan nonton film Hollywood, doyan nonton serial-serial TV Hollywood, sebaiknya mulai hapus file-file film-mu, bakar koleksi-koleksi Blu-Ray, DVD, dan VCD-mu, dan blokir situs-situs nonton streaming.

~RacauanGakJelasPagiPagi

May 01, 2017

Narpati: Perubahan Suara Warga Jakarta Dari Pemilihan Presiden 2014 ke Pilkada DKI Jakarta 2017 (berbasis web bukan yang sudah diresmikan lewat rapat KPU)

May 01, 2017 02:24 PM



Pada tahun 2014, PDIP mengajukan Joko Widodo menjadi Calon Presiden. Warga DKI Jakarta termasuk kelompok garis keras menyadari bahwa jika Joko Widodo menjadi Presiden maka DKI-1 adalah seorang Tionghoa non-Muslim. Jadi tak heran di tahun itu juga ada kampanye-kampanye rasis dan agama.

Walau dengan kepungan kampanye-kampanye berbau SARA, di Pilpres 2014, lebih banyak warga Jakarta merelakan Joko Widodo menjadi presiden yang juga berarti rela membiarkan Basuki menjadi Gubernur Jakarta.

Bagaimana perubahan suara antara Pilpres 2014 dengan Pilkada DKI Jakarta 2017?

Ternyata, partisipasi orang yang datang ke TPS cukup meningkat kecuali Kepulauan Seribu yang jumlah pemilihnya berkurang sekitar 795 orang.

Jumlah golput aktif (datang ke TPS untuk sengaja membuat tidak sah) juga meningkat kecuali Jakarta Pusat yang menurun (dan itu hanya 37 suara).

Di semua kotamadya (plus kabupaten Kepulauan Seribu), terjadi penurunan jumlah orang yang rela Basuki memimpin Jakarta. Dan sebaliknya, terjadi kenaikan pemilih lawan Basuki (menunjukkan secara aktif tidak rela Basuki memimpin Jakarta).

Yang menarik, di Jakarta Pusat, Jakarta Utara dan Jakarta Barat yang tadinya didominasi oleh orang-orang yang rela dipimpin Basuki berubah menjadi didominasi orang-orang yang tidak rela dipimpin Basuki dan ketiga kotamadya tadi menyumbang sekitar 49% suara.

Tampaknya yang menjadi kunci adalah Jakarta Barat, yang persentase kenaikan orang yang tidak rela dipimpin Basuki paling banyak dan di saat yang sama menyumbang suara yang cukup banyak.

Sementara, jumlah kenaikan golput aktif paling banyak terjadi di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

Sekedar catatan,
tidak memperhitungkan jumlah pemilih baru (yang baru mencapai usia 17 tahun di saat pilkada) atau jumlah penduduk yang baru pindah ke Jakarta atau juga jumlah warga yang meninggal atau pindah ke luar Jakarta.

Saya mungkin juga salah cara menghitung persentasenya.

Ngomong2, ini juga data ada yang tidak akurat karena setelah data di web, data yang lebih akurat adalah yang sudah melalui rembug di berbagai tahap rapat-rapat KPU. 

April 22, 2017

Tya: Life is full of surprises

April 22, 2017 09:07 PM

Life is full of surprises...
Ketika suatu malam aku kesel nangis karena ngerasa gagal kerjain ulangan MTK pas SMP kelas 3 (iyaa saya emang gila belajar duluuuu), tau2 aku ternyata dapat nilai tertinggi dan cuma salah 1 aja. Haha padahal semalam nangis sampe robek2 kertas gitu 😁

Life is full of surprises...
Ketika tiba2 suatu ketika di dalam kelas, seorang guru marah kepadaku dengan kata2 yang sangat menyakitkan.
Surprise banget.
Karena beberapa menit sebelumnya beliau masih senyum menyapa aku yang lagi meringkuk di kursi meja karena lagi kram haid.
Surprise banget.
Karena beliau menuduhku melakukan suatu hal yang sama sekali gak aku lakukan. Hanya karena beliau sering terbolak balik antara aku dan seorang teman.
Kejadian itu membuat aku tahu aku punya sahabat2 yang peduli yang siap membela aku.
Kejadian itu juga membuat beberapa guru datang ke aku dan bilang bahwa percaya bukan aku yang melakukan.
Kejadian itu juga membuat aku pertama kali dengan tegap berani menghadap beliau untuk menjelaskan bahwa bukan aku pelakunya.
Dan kejadian itu membuat aku untuk pertama kalinya nangis sesenggukan di depan bapak saat pulang ke rumah.
Dan mendapatkan nasihat pertama kali dari bapak untuk mendoakan orang yang berbuat zalim kepadaku.
Yes karena aku jarang banget bicara dari hati ke hati dengan bapak.
Aku hampir gak pernah curhat.
Tapi saat itu karena aku bener2 down sampai menangis semalaman.

Life is full of surprises
Ketika teman2 menerima undangan pernikahanku dengan seseorang yang tidak mereka kenal sama sekali.
Sedangkan mereka berfikir aku akan menikah dengan X atau Y atau Z
Surprise juga bagi keluarga besarku, karna untuk pertama kalinya ada anak yang menikah dengan seseorang yang baru ketemu 2x.
Dan surprise juga dengan diriku sendiri ketika aku mempersilahkan 'si dia' untuk datang aja ke rumah kalau memang serius.
Sedangkan sebelumnya aku menolak seseorang dengan alasan 'apaan siii... belum terlalu lama kenal jugaa'.
Dan akhirnya setelah proses lamaran penuh drama karena keluarga suami telat datang dari Bandung, Alhamdulillah kami menikah dan tahun ini tahun ke 8 bagi kami.

Life is fully of surprises,
Ketika belum sampai sebulan aku kerja di suatu PT dekat rumah, aku diminta mengundurkan diri karena skill ku gak akan dipake lagi. Padahal sesaat sebelum aku masuk kerja, suamiku juga resign krn mau mulai bisnis.
Akhirnya kami berdua jobless...

Then life is fully of many surprises...
Di tengah keterpurukan tersebut,
Aku hamil anak ke-2
Amazing ya cara Allah mengatur hidup hamba2Nya...
Benar2 di luar rencana kami.
Tapi nyatanya Allah memampukan kami melewati semuanya sampai kami meyakini betul firman Allah bahwa
'bersama kesulitan ada kemudahan'
'Allah tidak akan memberi beban diluar kemampuan hambaNya'

Dan kemudian tentu hadir kembali banyak kejutan2.
Baik menyenangkan menurut kami, atau menyedihkan.
Berupa kesulitan berupa kemudahan dll...
Berupa pertemuan maupun perpisahan..
Berupa kehidupan maupun kematian...

Termasuk kejutan ketika aku hamil anak ke3 tepat setelah aku memutuskan untuk kembali ngantor.

Termasuk kejutan ketika seorang Pinky tiba2 menulis pesan perpisahan di group WA kantor kami.
Padahal 1 jam sebelumnya aku masih nanya2 ttg suatu hal yg berhubungan dengan HR.
Dan kabar itu bener2 buat saya shock, sampai saya jadi melakukan apa yg disebut TimeLost.

But it's life..
Ada yang datang ada yang pergi.
Persis ketika Upin Ipin sedih ketika ditinggalkan cikgu Jasmin.

Dan sebegitu takutnya dengan kehadiran cikgu baru. Namun ternyata UI dapat cikgu yang sama baiknya yaitu cikgu Melati. Hahahaha referensinya UI terus yaaaa...tontonan tiap hari soale 😂

Dan kemudian bumi akan terus berputar terhadap porosnya (rotasi)
Dan berputar mengelilingi matahari (revolusi)
#pelajaranIPA 😗

Dan kita pun terus harus berjalan terus ke depan mengemban amanah kita sebagai khalifah di muka bumi.
Sampai pada titik Tuhan mengizinkan untuk berhenti dan melaporkan kembali kepada Sang Pencipta akan apa yang kita lakukan di muka bumi.

Tentu selayaknya kita ingin mendapatkan penilaian baik dari bos, customer, orangtua, mertua dll,
Kita juga ingin mendapatkan penilaian baik dari Sang Pencipta.

Jadi, mari nikmati semua kejutan2 kehidupan ini.
Sambil kita terus mengumpulkan laporan2 kebaikan kita untuk Sang Pencipta.

Demikian.
Semoga bermangpaat 😊😊

posted from Bloggeroid

Apaan si? Apaan si? ™

Planet CSUI02 adalah tempat berkumpulnya blog-blog milik anak-anak Fasilkom 2002.

Potret

www.flickr.com
items in CSUI02 More in CSUI02 pool

Terakhir Mendarat

May 24, 2018 07:05 AM

Sindikasi