With my current Lucid, I get the second one successful.The complete error message when installing:$ cmake .– Found Qt-Version 4.6.1 (using /usr/bin/qmake) – Found X11: /usr/lib/libX11.so CMake Error at /usr/share/kde4/apps/cmake/modules/FindPhonon.cmake:19 (file): file Internal CMake error when trying to open file: /usr/include/phonon/phononnamespace.h for reading. Call Stack (most recent call first): /usr/share/kde4/apps/cmake/modules/FindPhonon.cmake:45 (_phonon_find_version) /usr/share/kde4/apps/cmake/modules/FindKDE4Internal.cmake:613 (find_package) /usr/share/cmake-2.8/Modules/FindKDE4.cmake:95 (FIND_PACKAGE) CMakeLists.txt:15 (find_package) – Found KDE 4.4 include dir: /usr/include– Found KDE 4.4 library dir: /usr/lib – Found the KDE4 kconfig_compiler preprocessor: /usr/bin/kconfig_compiler– Found automoc4: /usr/bin/automoc4 – WARNING: *** Amarok Hack enabled, notice that this will potentially cause trouble on Amarok also this is legacy code and supposed to be redundant due to (future) changes to Amarok Hacks can be disbaled at runtime and should in case of issues with Amarok By activating this you confirm that you know what you’re doing *** – Found X11: /usr/lib/libX11.so – INFO: XRender was found - kwin deco & FX via GPU available! – Configuring incomplete, errors occurred!I was trying to build Bespin according tothis.Reference:[BUG] https://bugs.launchpad.net/ubuntu/+source/cmake/+bug/386742
Saya berharap tidak menjadi seorang pelukis tua yang hanya bisa mengritik dan menggerutu. Dari pada saya mencela-cela lemahnya pendidikan saat ini, saya coba menuliskan apa pemikiran saya tentang pendidikan yang benar. Tentu saya bukan seorang psikolog dan ahli pendidikan, tetapi siapa tahu ada orang-orang yang mau mendengarkan dan berbuat lebih baik dari saya. Semoga celoteh ini bisa menginspirasi Anda, atau setidaknya menghibur. Silahkan berkomentar, toh, ini artikel dari seorang pengamat amatir dan jangan takut salah, saya tidak akan menggigit. Sudah disuntik Rabies, kok.
Oh, iya, terbalik dengan kebiasaan menulis blog saya yang terdahulu, kali ini saya mencoba belajar Bahasa Indonesia. Mohon diperiksa apakah ejaan saya sudah benar.
Jawaban yang Benar
Kesalahan pendidikan kita adalah terlalu mengindoktrinasi kebenaran absolut kepada anak. Hal ini sebenarnya karena kita berkiblat semula kepada sistem pendidikan lama yang menempatkan guru sebagai sumber ilmu. Guru ditempatkan pada posisi yang di atas. Seperti sebuah peribahasa “nilai 10 milik Tuhan, nilai 9 milik guru” yang seakan mendefinisikan guru sebagai tempat segala-galanya. Walau pun dengan perubahan kiblat kepada pendidikan moderen,dogma ini tidak terhapus juga.
Apakah bahaya dari dogma ini?
Pertama, hal ini mengintimidasi baik guru mau pun siswa sehingga menghasilkan pendidikan yang tidak benar. Sering kali, sang siswa kehilangan kemauan belajar karena guru yang salah dalam menjawab. Jawaban guru itu berupa bentakan atau pun meredam pertanyaan tersebut. Bahkan, alih-alih malah diacuhkan dengan tidak dijawab sama sekali. Anak Indonesia dipaksa untuk tidak berpikir kritis yang positif dan out of the box.
Kedua, terciptanya keregangan antara murid dan guru menyebabkan transfer keilmuan berjalan negatif. Padahal, anak-anak memiliki waktu paling banyak di sekolah. Bahkan, sudah ada fenomena lebih banyak waktu bersama guru di kelas dibandingkan orang tua di rumah. Hilangnya rasa percaya kepada orang dewasa mengakibatkan dunia mereka lebih rentan kepada penyalahgunaan hidup kepada hal-hal yang menyimpang.
Ketiga, setiap siswa tidak memiliki kemampuan untuk menerima perbedaan pendapat. Setiap siswa tidak berani menyatakan pendapatnya karena takut berlawanan dengan arus utama (mainstream). Hal ini berakibat kepada siswa yang tidak berani berinovasi dan takut gagal.
Padahal,
Tidak ada satu pun kebenaran yang absolut, hanya ada kebenaran yang dapat diterima.
1 + 1 = 2 adalah sebuah kebenaran yang ditentukan dengan mendefinisikan secara universal operasi matematika “+” pada himpunan bilangan. Saya bisa saja membuat sebuah himpunan bilangan sendiri dengan mendefinisikan operator “+” pada angka 1 menghasilkan A. Bagaimana Anda menerimanya, tergantung seberapa populer saya mendefinisikannya. Seandainya saya adalah nabi dan Anda pengikut saya, tentunya Anda pasti menerimanya sebagai kebenaran.
Di dunia industri ini terjadi pula. Antara CD+ vs. CD-, antara HD DVD vs. Blueray, bahkan perang spesifikasi Bluetooth. Yang menang adalah yang populer. Walaupun Richard M. Stallman dan FSF sang pencipta fondasi dari sistem GNU/Linux menamai sistem operasi tersebut GNU/Linux dan diikuti bahkan oleh Ubuntu sekali pun, tetapi karena kepopuleran nama sistem operasi tersebut menjadi Linux.
Hal tersebut juga terjadi di dalam dunia akademis. Walau pun Mark Weiser menyebut sebuah lingkungan yang pintar sebagai Ubiquitous Computing, tetapi dalam perkembangannya istilah tersebut berubah menjadi Pervasive Computing dan beberapa entitas komersial merubah namanya menjadi Everywhere Computing.
Menurut saya,
Sudah saatnya guru menjadi teman/rekan bagi siswa. Guru sudah tidak perlu takut lagi apabila ia tidak mengetahui informasi yang diingini oleh siswa. Tentunya, mengatakan tidak tahu dengan elegan harus dipelajari. Dari pada berkata “[saya] tidak tahu”, lebih baik berkata “[saya] tidak tahu, tapi mari kita cari bersama” atau seandainya tahu sedikit. “[saya] kurang menguasai, tetapi silahkan cari dengan topik X, Y, dan Z”. Lalu tunjukkan bahwa guru juga mau belajar.
Berbeda pendapat itu perlu. Hanya, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana siswa dapat mengutarakannya secara logis dan sistematis sehingga mudah dipahami. Intinya, bagaimana seorang siswa dapat mempresentasikan idenya dengan baik dan bagaimana ia dapat menerima pendapat orang dengan baik walau pun tidak diterima dengan murni.
Fokus Anak Panah
Cuma satu istilah yang bisa menggambarkan bagaimana anak Indonesia dibentuk:
“Jack of all trades, master of none”
Saya menyadari di studi saya sekarang, bahwa untuk beberapa hal saya sudah terlambat untuk fokus. Seandainya dahulu saya diarahkan untuk melakukan sesuatu, atau diberi stimulus untuk tetap fokus, saya pasti bisa lebih baik. Mengapa kita hanya punya IPS dan IPA? Bahkan, dulu sempat muncul stigma bahwa IPA lebih superior dari IPS.
Padahal,
Saat ini ilmu terapan tidak seratus persen IPA atau IPS. Sebagai contoh, dalam dunia pervasif, HCI, dan sejenisnya, terdapat studi sosial yang dikaitkan dengan pengembangan teknologi. Sebuah lab riset yang terdiri dari berbagai cabang ilmu pengetahuan (sosial dan teknik) adalah hal yang umum di luar sana. Tetapi, saya belum menemukannya di Indonesia. Apakah saya katak dalam tempurung? Silahkan koreksi saya kalau saya salah.
Saya banyak melihat orang-orang yang berpotensi sering kali layu sebelum berkembang. Hanya karena talenta yang dia miliki tidak dipelajari di sekolah, ia menjadi golongan orang-orang “bodoh”. Karena kecenderungan sekarang yang mengejar nilai rapor semata dibandingkan ilmu, kebiasaan mencontek menjadi kebiasaan yang lazim.
Jangan salah! Saya tidak melarang mencontek, tetapi mencontek yang ada saat ini namanya plagiarisme. Lagi pula, tujuan dari ujian di sekolah hendak memacu pemikiran siswa bukan untuk mengkungkungnya. Dengan mencontek seorang siswa tidak lagi mengandalkan kemampuannya sendiri.
Menurut saya,
Sudah saatnya cabang-cabang ilmu mendapatkan penghargaan yang sama. Stigma yang terlanjur melekat di masyarakat sudah harus dikikis dengan membekali sekolah dengan penjelasan yang benar. Sudah saatnya nilai rapor dievaluasi dan kelas-kelas penjurusan diberlakukan. Pentingnya pengenalan siswa semenjak dini kepada berbagai pekerjaan (halal) yang ada di dunia ini. Selain itu, fungsi guru BP seharusnya sudah sejak kecil (SD) diadakan untuk mengarahkan siswa sejak dini.
Untuk membuat kelas khusus mungkin amat sulit karena membutuhkan perubahan silabus secara nasional, termasuk menyediakan mata ajar yang sesuai serta menyediakan pelatihan kompentensi guru. Tetapi untuk pengenalan profesi yang ada, hanya diperlukan untuk mengundang profesional ke sekolah untuk bercerita mengenai pekerjaannya. Hal ini tentunya tidak sulit. Toh, dari antara orang tua siswa pasti ada pekerjaan-pekerjaan yang berbeda yang bisa diceritakan.
Pendidikan Milik Kita Bersama
Terus terang, hal yang mengangkat rasa ingin tahu saya adalah film MacGyver. Terbalik dengan itu, saat saya melihat acara-acara TVE, saya merinding. Pembahasannya kaku dan tidak ada rasa bersahabat. Selain itu, jam tayang saat sedang sekolah, membuat siswa tidak bisa menonton acara tersebut. Hanya pada saat liburan dan sesekali saat guru rapat di sekolah mungkin siswa bisa (kebetulan) ganti saluran dan menonton secara sekilas. (Biasanya liburan ada film kartun dan film keluarga yang lebih menarik)
[Terus terang, saya salut dengan TVE karena secara konsisten terus menerus membuat acara pendidikan. TPI juga terakhir kali saya lihat masih menayangkan acara tersebut.]
Selain itu, ketika saya pertama kali masuk kuliah, saya diperhadapkan pada kenyataan pahit: saya bukan orang yang paling tahu. Barisan anak bangsa yang duduk di depan dengan percaya diri mengangguk-angguk, sedangkan kami orang-orang terpencil di barisan tengah ke belakang hanya bisa geleng-geleng dalam hati dan tidak percaya diri untuk bertanya. Mereka memiliki pengetahuan yang lebih dibandingkan kami, tapi hal itu tidak pernah diajarkan di sekolah. Beberapa terminologi asing yang kami tidak pernah dengar, berbagai bahasa dewa, membuat kami hanya tersimpuh….
Menurut saya,
Saya sering melihat selintas di TV dan koran mengenai guru-guru yang berhasil membuat alat praktikum sederhana. Seandainya ada dari kalangan media yang menyediakan (mendonasikan) 30 menit dari waktu siarannya di TV Swasta untuk membagikan cara penggunaan praktikum tersebut. Tentunya acara tersebut akan merangsang pemerataan pendidikan ke daerah-daerah.
Lagipula, membayar guru-guru untuk menyumbangkan ilmunya tentunya tidak semahal membayar artis sekaliber Matias Muchus atau Sandy Nayoan. Seandainya ada orang-orang yang mau secara profesional mendonasikan waktunya untuk membuat acara pendidikan yang menarik dan memacu siswa untuk belajar. Adakah CSR dari perusahaan media yang mau melakukannya? Adakah korporasi yang mendanai siaran tersebut dengan CSR-nya?
Saya melihat TVOne yang menghadirkan siaran Animal Planet pada jam utama menunjukkan bahwa animo bangsa Indonesia pada acara-acara pendidikan yang menarik sungguh besar.
Hmm…
Masih banyak ide, tetapi sudah panjang begini. Saya akhiri saja, takut ada yang terintimidasi membacanya.
He Loves Me, He Loves Me Not(France) Well, I gotta admit I didn't expect too much from this movie. Ever since I watched Love Me If You Dare, I expected none less than ambiguous and hard-to-understand movie plot. Like any French movie. So when I saw the first 20 minutes of it, I hate to admit I thought it's a so-so one, UNTIL.. jreng jreng jreng, the plot suddenly took major table-turning. I honestly and literally had my eyes opened since I saw it in office late night waiting for my colleague to wrap up her job, thus it's a lil bit sleepy time. Eiyyy, I like it at instant! You need to saw it, Mademoiselle Audrey Tatou strikes once again. Hehehehe, it's about desperation of one young girl whose love been wasted by some jerk cardiologist doctor. Or so you thought.
The Tidal Wave (Haeundae)(Korea) I heard this one made it into box office in Korea, so I thought what harm could be possibly done by trying to take a peek on it? And regret I not, since it is one memorable movie. Personally I think Haeundae is more terrifying than any other disaster movie (Independence Day, etc) since my country had actually experienced it. So yeah, that's pretty horror to watch, especially when there's a big chance tsunami would occur again some time in the future. My favourite (and might be everyone else's) scene part was Lee Minki's. Boy oh boy, did he can pull some act. I love it, he looked so much different from the character in Dalja Spring (where he would be one cool spare tire) and turned into one dorky life guard who actually sported a good angle in the last minute of his life (err, did I just say a spoiler there?). It's a shame since the one who produced tsunami movie was Korea which in real life didn't get strike from it. Or maybe that's the exact reason why mine didn't make one? Traumatic experience? Meh.
City Of God(Brazil) An epic story around ultra violent city named City Of God. And it's based on true story. And the real actor played in that movie is only one person (Matheus Nachtergaele, played as Carrot) while the rest of them were handpicked by the director himself. Some others are actually the citizen of City of God, impressive! How on earth could you live in that place? Where shooting and killing and robberies are normal routines and children could easily get their hands on guns? Anyway, the best accomplished acting was gained by Leandro da Hora (played as Lil Ze, the maniac) since in reality he's one calm, quiet and uncomplicated person, but in the movie this person rises as a crazy violent gang shooter boss. Me, predictably, love the Benny character (played by Phellipe Haagensen) the coolest gangster in City of God. He's suave and pretty much resembled the original man in real life. And not mention that he's cute, hahahahahaha, and he's the brother of that Shaggy (the leader of Tender Trio gang) character. No wonder, good genes runs in the family.
One thing I liked from City of God is their quote: Hoods don't love, they lust Hoods don't talk, they seduce Hoods don't stop, they just take a break
Letters from Iwo Jima(Japan) I watched this quite some time ago but I couldn't find the time to wrote something about it. Vaguely, I recalled Ken Watanabe's splendid acting and 'fcourse that Ninomiya Kazunari fellow (Poor Prince, Arashi's member). I like the ending, but then again, when did I ever dislike one tragic and sad ending? ;P It took place in World War II, in the great war between US and Japan, from Japanese perspective. Noone had actually liked to be in war, but sometimes the situation forced them to survive. I cringed upon so many scenes (including dog killing, men killing, etc) because basically I hate war. I never get it, if you don't want to be in a war, then don't start one.
Penting untuk diingat semua orang yang memakai angkutan umum: - Jagalah barang anda baik-baik. Masukkan HP dan dompet anda ke dalam tas, dan pegang erat-erat tas anda tersebut. - Bagi yang naik ojek, jangan lupa pegang erat-erat tas anda. Jambret motor cuma memerlukan sepersekian detik untuk merampas tas anda. - Bagi yang naik bajaj, jangan duduk di bagian pintu. Duduk di bagian dalam dan pegang erat-erat tas anda. Kalau anda duduk di bagian pintu, serahkan tas pada yang duduk di bagian dalam atau letakkan tas anda di bawah dekat kaki. Lebih baik tas itu menjadi sedikit kotor daripada berpindah tangan dan tidak akan pernah kembali kepada anda lagi. Jambret motor juga punya perhatian khusus terhadap penumpang bajaj. - Jika anda masih dijambret jg, langsung blokir semua rekening ATM yang kartunya atau buku tabungannya ada di tas tersebut. Demikian juga dengan nomor HP anda.
Sekedar catatan, pacar saya kemaren dijambret di bajaj. Jambret motor, kejadiannya hanya sepersekian detik. Harta memang bisa diganti, tapi tentu saja hal ini menimbulkan stres dan trauma. Kalian tidak perlu merasakan hal itu untuk sadar bahwa kalian harus menjaga barang bawaan baik-baik.
This is exactly why I'm loving this latest drama material of mine...
Hahahahahaha, so cute.. One not-so-perfect Deputy Mayor, Jo Gook, (played by adorable Cha Seung Won) forced his will upon one poor (but not that foolish) girl, Shin Mi Rae (played by Kim Sam Soon's Kim Sun Ah).
Love it! This drama, well, I'd say is an age appropriate one for all of its witty dialogue and cliche humor senses. The guy is 30-sumtin and the lady is 36-going-on-34.
Refreshingly cute.
Anyway, I just surfed around to find more info about this good-looking actor, Cha Seung Won and apparently he appears more in wide screen than in small screen. Well well well.. ain't he a catcher? ;P
He played the North Korean officer in "Into The Gunfire", cast as the revolutionary in "Like the Moon Escaping from Clouds", posed as the desperate detective in thriller movie "Secret", and more in "Libera Me", "My Teacher Mr. Kim", "Blood Rain", "Eye for an Eye, Tooth for a Tooth" Glek! The list seemed endless.. and why haven't I heard of this guy before? Well, maybe because he is one generation above me =D
Divide et Impera, suatu jargon yang kerap kali diperdengarkan pada saat belajar sejarah di bangku sekolah. Inti dari prinsip ini adalah memecahkan masalah dengan membaginya menjadi beberapa masalah yang lebih kecil yang bisa dipecahkan secara bersama-sama. Prinsip pemrograman yang memakai pendekatan ini adalah Functional Programming dengan lambda calculus-nya. Tetapi, saya mau berbicara tentang teknologi yang memiliki paralelisme. Tulisan ini tidak untuk menjelaskan, tetapi bagi orang yang punya kemauan dapat dipakai untuk maju. (HINT: Google for it!)
Paralelisme I/O
RAID dan sejenisnya berusaha membagi beban baca/tulis ke beberapa tugas. Di sistem GNU/Linux dapat menggunakan Software RAID seperti MDADM. RAID 1 untuk data yang sering ditulis, RAID 5 untuk data yang jarang tertatar tetapi punya konten berukuran besar. Itu sebabnya, RAID 5 lebih cocok untuk server Kambing.
Paralelisme Bandwith
Membagi tugas antar beberapa server untuk mengurangi beban jaringan.
DNS Round Robin (entri DNS untuk satu domain mengarah ke lebih dari satu IP).
Load-balancer ipvsadm.
Ethernet Bonding. Dua atau lebih perangkat Ethernet dijadikan satu.
Paralisme Komputasi
Membagi pekerjaan ke beberapa mesin komputasi agar lebih cepat.
Grid/Cloud Computing. MPICH, MPI, dkk.
Cluster. Beowulf dkk.
Cyber Foraging. Bagian dari Pervasive Computing.
Anti-Paralelisme
Virtualization (Sabame, satu barang rame-rame): Xen, VMWare, dkk.
Kemarin saat membuat daftar keinginan tahun 2010, gw menempatkan sepeda di keinginan teratas gw. Lhadalah, koq kebetulan bank tempat gw menggesekkan kartu sedang mengadakan program cicilan 0%, 6 bulan, untuk pembelian sepeda di sebuah toko sepeda yang cukup ternama. Kaget juga, segitu baiknya Allah mewujudkan keinginan gw. Tau gitu, kan gw tulis jodoh di nomor satu :PAkhirnya Sabtu kemaren, gw
Manusia sebagai makhluk yang tak sempurna mempunyai banyak kelemahan. Bagi diri saya sendiri, salah satu kelemahan saya adalah suka menunda pekerjaan. Kalau bisa besok, mengapa harus sekarang? Kalau bisa dikerjakan orang lain, kenapa harus saya?
Contoh kasusnya, beberapa teman saya hari ini menganjurkan saya untuk lebih fokus dan mulai menulis secara serius. But, well, saya terlalu malas untuk melakukan itu :P Sampai-sampai teman saya yang anti 'mencubit' merasa udah capek 'mendorong-dorong' saya supaya saya 'mengangkat pantat' dan mulai bekerja xD
Kapan ya saya bisa rajin seperti si A, B atau C (bukan nama sebenarnya-red)? Perilaku tidak menunda pekerjaan sebenarnya sangat diperlukan dan sangat efektif untuk menghindari deadline, kurang tidur dan kemudian sakit (karna ngerjain buru2 mendekati deadline). Selain itu juga banyak keuntungan lain, seperti punya lebih banyak waktu buat maen game tanpa harus merasa bersalah (kalau waktu buat maen game dengan merasa bersalah sih banyak, maen aja di kantor), waktu pulang yang lebih awal (tidak begitu berpengaruh sih bagi orang IT, abis kerja browsing dulu ampe malem), sampai makin disayang pacar (karna sabtu bisa ngajak kencan gak terjebak lembur, well tergantung kalau si pacar lembur ya gigit jari).
Eh, tapi ternyata ini aja udah nulis ya.. berarti saya tidak malas dong... hore! udah capek nulis, istirahat gak nulis sebulan aah hehehehe xD
What? Solusi? Ya mana gue tempeeeeeee jelas-jelas gue jg kena masalah yang sama :))
Saya tergelitik melihat komentar dari sebuah artikel di Kompas. Sebenarnya mau komentar di sana. Entah kenapa, saya memakai peramban Rekonq, gambar angka untuk kode keamanan captcha tidak terbentuk, sehingga saya tidak tahu mau tulis apa buat dan gagal untuk lanjut. [1]
Jadi, sekarang orang tua menyerahkan tanggung jawab pengasuhan anaknya kepada penjaga warnet? Jadi, sekarang tidak lagi perlu yang namanya pendampingan orang tua? Kalau anak rusak, cukup salahkan orang lain dan lepas tanggung jawab?
We did a pretty interesting game today in our leadership class. Our instructor separated us into 4 random teams, where each team consist of four people. The objective was simple, create a hang-free tower as tall as possible with a bunch of newspaper, tapes, and rubber band within less than 30 min. Here’s what our team [...]
Related posts:
when i was such a silly little girl.. a friend of mine said this..
"if i'm accepted in SMU XXX, i will buy you any toys that you want!"
at that time, i have a dream to buy this one particular toys that is very expensive. even my parents wont buy me even though my grades are up. i knew he had the capability to buy me that toys, because his parents are freakingly tajir. so i prayed for him a lot. i prayed and i really did anything to help him study so he can enroll there. so he can buy me that toys.
a week later, he did really pass the exam and got accepted in that school.
i always remember that time. that might be one of the happiest feeling that i ever experienced in my childhood. finally i can have the toys..!!
silly me, he never bought me that toys.
and now, am i still the same silly little girl that i used to be?
Dalam rangka aji mumpung, tujuan liburan kali ini adalah kota Sydney & Melbourne dengan menumpang kamar hotel suami yang mau ujian CCIE. Agak kuatir sebenernya kalo inget rekor cuaca Sydney di musim panas (50 derajat aja) plus sensitifnya saya sama matahari. Beberapa minggu sebelum berangkat sudah ada berita kebakaran liar di sekitar Perth. Untungnya, taun ini iklim berpihak pada saya dengan melampiaskan winter gila di Eropa dan mengirimkan hujan2 kecil ke belahan selatan. Yey!
Perjalanan ini hanya selang beberapa minggu dengan insiden teror di pesawat Amerika. Kabarnya banyak airport yang memperketat pengamanan. Penasaran juga bakal diperiksa seperti apa berhubung negara yg mau saya kunjungi ini suka norak ikut-ikutan Paman Sam. Ternyata prosedurnya cukup standar. Terbang dengan Qantas lumayan nyaman. Baru tahu kalau bahasa kedua yang dipakai saat pengumuman adalah bahasa lokal. Jadilah salah satu pramugaranya berceloteh dengan Bahasa Indonesia patah-patah dan logat bule kemelayu-melayuan ^^.
Sampai di Sydney, saya kedinginan. Walaupun matahari cukup cerah, anginnya lumayan dingin. Jadi maklumlah banyak orang yang jogging jam 2 siang, menanjak bukit pula. Ngomong-ngomong bukit, jalan-jalan di kota ini cukup menyiksa betis juga. Herannya, para wanitanya tetap setia dengan high heels. Kudos! Orang-orang di kota ini cukup helpful meski kelihatan agak jutek. Suka banget sama cara mereka menjawab terima kasih dengan "No worries" atau mengganti OK dengan "Cool!".
Sebagai pencinta laut & santai di pantai, lumayan semangat juga waktu mau melihat Samudra Pasifik, perairan bebas terbesar di bumi ini untuk pertama kalinya. Sayangnya, belum sempet nyebur di Great Barrier... next time.. Setelah sempat nyasar sedikit, akhirnya sampai di Bronte. Indahnya... pantai pasir putihnya tidak terlalu besar tapi dikelilingi tebing-tebing dengan rumah pantai berjejer. Airnya gradasi turquoise ke biru dan berkilatan di bawah cahaya matahari. Ombaknya juga seru, jadi banyak juga surfer bertebaran terombang-ambing tidak jauh dari pantai. Puasnya dapat pemandangan begini, hitung-hitung pelipur lara sebelum bisa ke Santorini :P
Di sepanjang sisi ini, ada coastal walk yang menghubungkan Bronte dengan beberapa pantai lain. Tadinya berambisi jalan dari Bondi ke Coogee. Berhubung nyasar dan mendarat di Bronte dan kaki yang masih pegal akibat jalan-jalan hari sebelumnya, akhirnya dari Bronte saya jalan ke utara ke arah Bondi saja. Pemandangan di sepanjang coastal walk ini keren banget. Di beberapa titik disediakan bangku taman yang menghadap laut untuk menikmati pemandangan dan angin semilir. Sampai di Bondi, saya turun untuk berjalan menyusuri pantainya. Pasirnya yang lembut cukup menguji ketabahan iman dan otot kaki. Pantas saja kebanyakan yang datang ke sana hanya bergelimpangan tanning di pantainya, dengan atau tanpa atasan :P
Tujuan di hari berikutnya: Royal Botanic Garden, taman besar yang menghadap Harbour Bridge & Opera House. Di Down Under sini banyak taman dan udaranya bersih, jadi iri dengan para pegawai di sana yang bisa istirahat makan siang sambil tidur-tiduran di taman dikelilingi burung-burung. Pangeran William kabarnya mau berkunjung ke taman ini, tapi sampai saya pergi suasananya masih belum ramai. Dari situ saya menuju ke pusat kota untuk melihat-lihat tempat belanja. Sayangnya, saya tidak dapat buruan karena barang yang terjangkau kebanyakan bukan buatan Australia (baca: Made in China). What's the point, right?
Besoknya saya mampir The Rocks untuk melihat jejeran gedung-gedung bata bergaya lama sebelum naik feri ke Taronga Zoo. Sebenernya agak malas datang ke atraksi yang harus bayar tiket masuk. Toh, di tempat lain juga ada atraksi sejenis. Tapi kebun binatang ini dibangun di bukit yang menghadap harbour, jadi asik juga bisa melihat skyline Sydney dari sana. Sekalian juga nengok para penduduk asli benua kecil ini, koala & kangguru yang ternyata sangat-sangat pemalas. Seru juga melihat singa laut NZ yang ukurannya lumayan besar.
Esok harinya kami berangkat pagi-pagi ke tempat jemputan bus ke drop zone di daerah Wollongong, sekitar sejam dari Sydney. Yang stres habis ujian mau terjun tandem dari pesawat. Pingin juga, sih nyoba kapan-kapan kalau lagi mood. Sorenya ke IMAX Theatre di Darling Harbour buat nonton Avatar 3D. Cerita soal nontonnya di-post kepisah, ya. Selain ada teater, Darling Harbour ini lumayan enak buat nongkrong. Ada tempat makan, mal, fountain yang sekaligus tempat bermain dan mendinginkan kaki plus beberapa museum.
Pagi berikutnya kami mengejar kereta pagi ke bandara untuk naik pesawat jam 7 ke Melbourne. Mendarat di bandara Avalon yang agak jauh di luar kota, middle of nowhere, di tengah padang rumput dan peternakan biri-biri. Untuk ke kota harus naik shuttle bus yang jadwalnya mengikuti jadwal penerbangan, saking sedikitnya yang mendarat di situ. Kabarnya bandara ini sedang di-upgrade untuk jadi bandara internasional, mungkin untuk yang low-budget seperti Tiger Airways. Sejam setelah mendarat sampai di stasiun Southern Cross untuk ketemu teman yang bakal jadi guide hari itu. Wiken pagi di sana sepi, orang-orang baru keluar setelah lewat makan siang.
Sepanjang hari kami jalan kaki keliling pusat kota, menyusuri sungai Yarra (yang agak bikin ilfil karena airnya butek ^^) dan beli oleh-oleh suvenir Australian Open buat bokap. Sore terbang lagi ke Sydney buat pulang besok sorenya.
Menyebut dirinya layar terbesar di dunia, LG Imax Theatre di Sydney kebetulan menayangkan film fenomenal Avatar dalam format 3D saat saya berkunjung ke kota itu. Tentu harus dicoba, nih. Sebelum berangkat, sempat cari info untuk pemesanan online. Namun berhubung harus ada nomor kontak lokal, plus ada biaya tambahan dan jadwal saya di sana yang belum pasti, akhirnya baru beli waktu hari pertama sampai di sana. Untung juga, karena ternyata ada potongan 20% di guide book gratisan yang bisa diambil di bandara, hotel & tempat informasi turis.
Memang dasar film laris, seminggu ke depan kursi yang tersedia tinggal sedikit dan pastinya di posisi yang kurang strategis. Akhirnya saya dapat di baris tengah paling kanan. Tidak terlalu buruk, leher tidak sampai pegal. Waktu pertama masuk dan melihat layarnya, sepertinya ukurannya tidak beda jauh dengan Keong Emas. Bedanya format film di TMII sama seperti bioskop biasa (widescreen) jadi gambar terpotong banyak di bagian atas dan bawah. Di Sydney walaupun formatnya mengikuti bentuk layar yang agak kotak, tetap saja layar hanya terisi sekitar 3/4nya. Tidak yakin juga apakah itu format widescreen yang ditambah bagian atas dan bawahnya atau justru dipotong kiri kanannya.
Sayangnya, teknologi 3D di sini bukan realD. Kalau di Jakarta, mungkin mirip dengan 3D di 21 atau XXI, rada gelap dan kurang berasa perspektif 3Dnya. Padahal sudah berharap adegan terbangnya bakal seru.
Jujur, ketika membuka peramban, ada 4 situs yang saya wajib kunjungi:
Planet Debian (http://planet.debian.net/)
Planet Ubuntu (http://planet.ubuntu.com/)
Planet KDE (http://planetkde.org)
Blog Staff UI (http://staff.blog.ui.ac.id/admin/)
Ada juga 2 situs yang saya sering kunjungi:
Planet CSUI02 (http://planet.csui02.net/)
Planet Ubuntu ID (http://planet.ubuntu-id.org/)
Saya suka sekali dengan Blog Staff UI. Mereka memang benar-benar staf UI! Isinya beragam dan kaya, berbeda dengan Blog Mahasiswa yang masih…. Yah, namanya mahasiswa. Tapi, ada juga, sih, satu atau dua blog mahasiswa yang bagus. Memang, secara keseluruhan konten-konten Blog Staff UI jauh lebih unggul dari mahasiswa kita. Ayo, mahasiswa, jangan mau kalah! :smile:
Blog-blog yang saya sukai:
RANI-GRACIAS (Gerakan Cinta Almamater Semesta). Isinya sangat menantang, sayang tidak bisa dikomentari. Tapi, saya sangat menantikan tulisan-tulisan Beliau. Tulisan Beliau yang menarik adalah tentang perjuangan mahasiswa UI di masa lalu yang terus terang saya juga baru tahu dari tulisan Beliau. Beberapa artikel seperti Malari dan sejarah alternatif tentang komunisme juga membuka pikiran saya. Salut buat Beliau!
The Microbiology Teacher (All about Microbiology teaching at the Department of Biology FMIPA UI). Ibu kita ini suka menyertakan video-video YouTube tentang Microbiologi. Saya yang bukan orang MIPA pun senang melihatnya. Coba waktu saya masih SMU dulu juga diajar seperti demikian, mungkin jalan saya beda. Tapi, semua ada takdirnya, hahaha….
ParkirKata. Informasi mengenai SIMAK UI sangat membantu. Saya baru tahu kalau mendaftar di penerimaan UI (SIMAK) sudah dapat mengunduh berkas-berkas soal tahun lalu. Kebetulan adik saya ada yang sudah kelas 3. Saya suruh daftar saja.
Dan lain-lain. :grin:
Nah, segitu dulu saja. Silahkan eksplorasi lebih lanjut. Oh, iya, sedikit catatan, mungkin Anda menemui Recent Post jauh lebih banyak dibandingkan tulisan yang ada. Hal ini karena kami menerapkan kebijakan privasi untuk publikasi blog di Blog Staff UI. Untuk setiap staf UI yang hendak memunculkan tulisan blog-nya harus melakukan berikut ini:
Klik Options, maka akan muncul submenu di bawahnya.
Pilih submenu Privacy.
Lalu nanti akan ada dua pilihan:
I would like my blog to be visible to anyone who visits, including search engines, archivers and in public listings around this site.
I would like to block search engines, but allow normal visitors
Secara default yang terpilih adalah pilihan yang kedua. Nah, agar terlihat di halaman depan, pilihlah pilihan yang pertama.
Tidak secara otomatis ditaruh di halaman depan adalah sebuah pilihan demi penghargaan terhadap privasi. Tapi, apakah itu perlu, tergantung permintaan. Kami, sih, menghargai sekali privasi.
It's happened on Last Saturday... Ceritanya abis pulang dari client di Cirendeu, sendirian pula... Start dari cirendeu abis Maghrib... Niatnya naik angkot and bus aja... karena berangkat ke sana udah pake taxi dan ongkos taxi yang dikasih client cuman cukup untuk sekali naik aja... mahal bro... diatas 70ribu sekali berangkat...
Pulang tanpa firasat apa2... pulang dengan hati tenang dan senang, karena setidaknya kerjaanku udah lumayan beres. tinggal ada 1 hal yg belum sempet aku test... Hujan deras memang, tapi kan aku bawa payyunng... Mulanya lancarrrr, eh pas di tengah2 perjalanan menuju terminal Lebak Bulus, mulai padet merayap menjurus gak bisa jalan sama sekali.. ternyata eh ternyata ada gerombolan The Jack Mania... aku pikir yaah macet biasa lhaa... kayaknya aku dah biasa liat gerombolan the jack di jakarta.
Ternyata menurut firasat supir angkot, macetnya bisa berjam2 kalo dah kayak gini. So, sang sopir yang bijaksana berinisiatif untuk muter balik untuk mencari jalan lain yang gak macet...
the thought of being engaged to someone is never crossing my mind. not a bit. yeah at least until now. he offers me to be engaged because he wants to study abroad for 2 years.
i'm planning a marriage in 2010. really, i thought if i didn't get married this year, i'd rather searching for a new one. i mean we're in this relationship for more than 3 years and he can't even decide whether we're going to married or not? hell, i'll chose it for him and the answer will be no.
kalo kata temen gue.. "ngapain sih elu nunggu lama2? kalo udeh selama itu kagak kawin juga, cuma ada 2 kemungkinan.. lu-nya yang gak yakin atau dia-nya yang gak yakin.. apapun itu kemungkinannya, endingnya gak bakalan baik.. why are you wasting your time on such condition?"
for me, an engagement is such a waste of time, money and energy. why wait if you think that she's the one? are you looking for a spare-tire? someone you can count on if there's no one better than her that available? that's my opinion, if an engagement is a tradition in your family, go ahead. i think an engagement is a thing that you do if you already have a plan ahead. a marriage plan. not a "leaving on a jet plane" plan.
so what should i do now? i didn't think i'm able to risk my future on a promise that can be broken easily. considering 8 out of 10 he would easily break his promise? faithful is not one of his great expertise and i've already learnt it in a hard way.
should i take this engagement while i'm also searching actively for a new candidate in case he would do the same way out there? if so, what is the meaning of that engagement??
i really want to make this work. i do. i do love him. but engagement? 2 years? huffh..
bedanya tunangan ama pacaran itu cuma satu. CINCIN DI JARI KIRI. lah gue udeh punya cincin di jari kiri, trus untungnya apa lagi dong buat gue?
Barusan saya nyoba download atom feed yang disediakan oleh facebook dengan wget. Kok saya dialihkan ke we-are-not-cool-enough page?
$ wget "http://www.facebook.com/feeds/page.php?format=atom10&id=327778460225"
--2010-01-31 19:31:57-- http://www.facebook.com/feeds/page.php?format=atom10&id=327778460225
Resolving www.facebook.com... 69.63.181.15
Connecting to www.facebook.com|69.63.181.15|:80... connected.
HTTP request sent, awaiting response... 302 Found
Location: http://www.facebook.com/common/browser.php [following]
--2010-01-31 19:32:01-- http://www.facebook.com/common/browser.php
Reusing existing connection to www.facebook.com:80.
HTTP request sent, awaiting response... 200 OK
Length: 11186 (11K) [text/html]
Saving to: `browser.php'
Kalau saya set user agent menjadi mozilla baru deh si facebook ngasih atom feed tanpa banyak omong.
$ wget -U mozilla "http://www.facebook.com/feeds/page.php?format=atom10&id=327778460225"
--2010-01-31 19:50:38-- http://www.facebook.com/feeds/page.php?format=atom10&id=327778460225
Resolving www.facebook.com... 69.63.181.15
Connecting to www.facebook.com|69.63.181.15|:80... connected.
HTTP request sent, awaiting response... 200 OK
Length: 13944 (14K) [application/atom+xml]
Saving to: `page.php?format=atom10&id=327778460225'
Bukannya atom feed itu tidak ditujukan untuk dirender oleh web browser? isinya juga bukan dokumen html, jadi buat apa pake acara ngecek browser segala?
Udah saya tanyain juga di sono. Mudah2an aja dapet jawaban yg memuaskan. Tanya di reddit jg sekalian kali ya?
eh ternyata bukan saya aja yg terbingung-bingung. coba cek
satu,
dua, dan
tiga.
Several JDoramas I've watched this holiday, and I loved each and every one of them.
Proposal Daisakusen Well, since I am not a big fan of the main couple (Yamashita Tomohisa - Nagasawa Masami), I think this movie is one of those 'okay' JDoramas. I despise Yamapi's hair in this one (well, how could I not after seeing Code Blue where he wore his hair perfectly?). The plot line is entertaining, even though I got a bit tired after seeing Yamapi said "Hallelujah, chance!" thousand times and more. I still could not get over the fact that the ending was so excruciating I could've kill someone should there be no SP episode for that one. Geez!
And oddly, I think Yamapi's look enhanced dramatically in that SP episode, suddenly he looked nice. Weird, since I don't think he's that gorgeus in the previous 11 episodes. Little that I know that the SP episode took a year after the original episodes.
Love Shuffle The Ojiro-sama character was perfect! I can not get over the dramatical change Matsuda Shota got after Hanayori Dango and several other movies. I like him here better! And I adore the photo he made, black and white photo series is always nice to have, don't you think? His partner, Yoshitaka Yuriko, has this unique tone of voice, and I instantly recognized her from that Taiyou movie. Yay for me! I just adore this couple. Tamaki Hiroshi senpai is also there, by the way, getting thinner and thinner. The jaw is still manly but I do honestly think he needs to eat more.
Orange Days Hmmmmmmm.... Eita's younger days! This movie reminds me of that 'Pelangi di Matamu' movie once played in my country. I actually attracted to the main character (which is rare occassion) whose name is Tsumabuki Satoshi. Ah, too bad I didn't see him often in any other doramas. Anyway, Orange Days is one of the first sign-language-streak-movies that I've seen. After that, came House (episode 23 season 5), and uhm, yeah many others. I cannot recall. Hehehehehehehe. Orange Days is also my main inspiration to go see sunrise on a beach (well, actually it was Love Shuffle but overall it's the same scene).
First Kiss What a cute couple! After seeing Proposal Daisakusen, I totally forgot who played the Yuki Akio sensei character. Fufufufu, silly me, it's 'fcourse the adorable Hiraoka Yuta who played Mikio in Proposal Daisakusen. Not only that, I didn't even recognize the heroine in that dorama. Jreng jreng! It's Inoue Mao from Hanayori Dango, ne! How on earth could I possibly not remember her? Duh! Anyway, I love this couple, better than the . I adore her hairstyle and nail art. Hahahahahaha.
Taiyo to Umi no Kyoshitsu A homeroom on the beachside, per se. I like the overall plot of this Yuji Oda's movie, eventhough it reminded me a bit more of Conan Meitantei's character (you know, that classic gesture). I recalled so many Hanakimi's actors in this doramas (well, maybe not that many, only two actually) but same-same for me lah. The story, in my humble opinion, got dragged a bit, and too easy in guessing the plot. I mean, if "I lost one of my best friend in that summer" line didn't give you a hunch of what the scene will turn out to be, then you gotta be a complete moron. 'Fcourse someone would die, duh! Thus, I kind of lost my interest of watching after that blasted line. But it turned out to be sad episode anyway, so I liked it again. Hahahahahaha.
Next on my list is Ryusei no Kizuna, Buzzer Beat and GTO (I know, it's ages for GTO, but what can I say? I'm aged!). Let's cross the fingers and hope that they're good.
Wow…how time has quickly passed since my winter break couple weeks ago. I’m now in full swing of Spring 2010, the last semester in my college life (hopefully sigh…..) I thought it will be an easy semester for me since I only have to take 2 graduate classes, but the reality is different.
Starting this past [...]
Related posts:
Apa iya? Hihihihihi..Minggu kemarin, sepulang dari kantor gw terdampar di Gramedia. Ih, rasanya udah cukup lama gw gak mampir ke toko buku. Itu juga kemaren, niat aslinya sih buat cari uang receh untuk naik angkot hihihi. Jadi kalo dipikir-pikir, sekali menggoes dua tiga tukang martabak terlewati lah. Dapet kembali iya, buku baru juga dapet. Sampai di Gramedia, gw liat buanyak buanget novel atau
Go to sun.com and redirected to oracle.com. Does that mean Sun is over?
Sun known for their delicate documentations. Does that mean we just lost yet another quality company?
—
Yes I know that Sun bought by Oracle, but by disabling its website means that Oracle is totally putting Sun under her wing. By disabling Sun’s website, this has a deeper meaning that Oracle also change the policy around Sun. My guess, so does the documentation style. Hey, I’m not Sun employee, it’s just that….
Kemarin sewaktu saya dan teman saya hendak mengambil uang dari ATM, saya melihat teman saya celingak-celinguk lalu meraba-raba permukaan ATM. Terus, dia lalu memeriksa mulut tempat masukan ATM. Saya heran orang ini sedang apa. Lalu seorang bapak di belakang yang mengantri lalu berbicara dengan temannya mengantri, “Wah, benar dia, kita harus hati-hati, takut kena scam.” (Kira-kira dialognya seperti itu)
Kebetulan saya manusia Internet dan jarang nonton TV. Tapi, saya tidak tahu kalau masyarakat sudah sedemikian paranoia. Sudah sejak lama kita punya teknologi kuno dan terbelakang dan saya pun tahu bahwa sudah sejak lama teknologi ini sebenarnya harus diganti. Bank Indonesia dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No 51. Tahun 2005 tentang Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK), mewajibkan setiap Bank/Institusi penerbit kartu kredit/debit untuk mengaplikasikan teknologi smart card/chip card untuk setiap penerbitan/penggantian kartu per tanggal 1 September 2006. [KMP]
Waktu itu, saya bertanya sama teman saya yang lain, hendak seperti apakah teknologi yang hendak dikembangkan? Lalu dia bilang hendak mencontoh teknologi Octopus, seperti yang dipakai di Hongkong. Teknologi ini berbeda dengan teknologi yang dikembangkan oleh Universitas Indonesia dan BCA Flazz. Wow, kami menyamakan dengan teknologi BCA Flazz?
Yup, kartu pintar UI dah BCA Flazz sama-sama menggunakan teknologi Javacard 2 dengan teknologi GlobalPlatform. Hanya saja, kartu UI spesifikasinya jauh di atas BCA Flazz. Kartu UI dilengkapi teknologi MiFare Basic dan ISO 14443…
Ah, bukan itu yang saya mau bahas. Maksud saya, sudah sejak lama para ahli tahu bahwa kartu ATM itu tidak aman. Tapi, dengan berbagai alasan, kita memilih bungkam sampai terjadi kasus ini. Hal ini sama seperti para psikolog hanya diam melihat praktek yang tidak benar, yakni ketika TK mengajar anak-anak balita membaca (padahal usia tersebut tidak seharusnya diajarkan membaca). Yang dilakukan mereka adalah menyekolahkan sendiri anak-anaknya (home schooling).
Jadi, kalau sebenarnya terjadi sesuatu di negeri ini. Beberapa golongan telah dapat mengantisipasinya. Pertanyaan saya, mengapa golongan-golongan tersebut tidak mau berbagi? Kalau dulu kita takut terkena subversif, tapi sekarang, apakah yang menyebabkan ogah untuk berbicara?
Beberapa oknum Yahudi disiksa oleh Nazi. Saat oknum Yahudi ini mendapatkan kebebasannya, mereka balik menyiksa Palestina.
Beberapa oknum siswa 'disiksa' oleh seniornya. Saat siswa ini menjadi senior, mereka balik 'menyiksa' juniornya.
Beberapa oknum pegawai kantor 'disiksa' oleh bosnya. Saat oknum pegawai kantor ini menjadi manager, mereka balik 'menyiksa' bawahannya.
Dan ketika ditanya, jawaban yang keluar kira-kira adalah begini:
'Dari dulu memang sudah begini kok, udah tradisi.'
Saya yakin anda semua bisa menangkap kemiripan di tiga kisah tersebut. Mungkinkah memang sudah menjadi sifat manusia untuk membalas dendam terhadap makhluk yang lebih 'lemah' atas perlakuan yang diterimanya dari makhluk yang lebih 'kuat'?
Satu hal, sebelum anda melempar batu pada para Zionis, periksalah dahulu apakah anda sendiri adalah seorang 'zionis' kecil via ospek, kantor dan acara2 lain yang memberikan kesempatan 'junior - senior'. Hal ini berkaitan dengan salah satu teori psikologi, yaitu teori jendela pecah. Teori jendela pecah menyatakan, ketika kejahatan-kejahatan kecil dibiarkan tumbuh subur di suatu tempat, kejahatan-kejahatan besar akan muncul di tempat itu beberapa lama kemudian. Diumpamakan dengan sebuah rumah yang punya banyak jendela, jika salah satu jendela pecah dan tidak diperbaiki, maka beberapa lama kemudian kaca jendela yang lain juga akan dipecahkan oleh orang2, atau bahkan mungkin dijarah karena mereka menganggap rumah itu 'sudah ditinggalkan' dan 'tak terawat'. Jika anda menganggap bullying senior - junior adalah hal yang wajar, hal inilah yang mendasari 'bullying' lain dalam lingkup yang lebih besar.
Today’s update on Lucid, Firefox is on the 3.6 version and still using firefox-3.5-branding. However, Ars reported that Canonical made a deal with Yahoo! to include their search engine as the default, not Google. So, I will expect the next update would change the default search engine into Yahoo! search engine (Bing).
The neat feature of KDE 4.4 that it is integrated with OpenDesktop.org. OpenDesktop is an emerging open standard that promote social site compability degree. The simple explanation is a Facebook-like open API that can be implemented by many websites so that they compatible each other.
Anyway,
With the desktop tight up with OpenDesktop, I can download any KDE content and vote for it. What a neat feature! I’m using pwgen to generate password so it’s kinda hard to remember all of my passwords (one password per site!). That’s why I don’t log that much into many sites, including KDE-Look. Thanks to the implementation, Kubuntu Lucid (KDE) now become more and more integrated with web.
I’m using Netbook-plasma from KDE 4.4. It has a neat feature, making the maximized applications without border. But, sometimes I wish that the dialog box not into windows mode and not maximized also. I wish it could be docked into the plasma’s dock. Hmm… just like Mac? Dunno.
I’m sorry with no screenshot, I have a great deal of work right now. If you want, I can provide one, though. Just feel free to comment.
'Sebanyak 62 % guru-guru agama Islam sekolah umum di Jawa menolak orang non muslim menjadi pemimpin publik. Selain itu sebagian guru agama Islam di Jawa juga tidak toleran dan anti pluralitas.'
'Para guru masih belum bisa mengajarkan pluralitas dan sikap toleran. Padahal, sikap dan pandangan Islam, guru agama harus mendukung dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam.'
Yang perlu dicatat, hal ini bukan hanya terjadi di Jawa, intoleransi dan pengajaran intoleransi oleh guru-guru terjadi di banyak tempat di seluruh Indonesia.
Pelarangan beribadah yang terjadi di Bekasi itu sudah lama terjadi di tempat-tempat lain. Teman saya yang adalah jemaat di salah satu gereja yang bermasalah itu curhat 'udah bertahun-tahun kami urus izinnya, udah dapet surat dari lurah, pertama kali beli tanah juga sudah dengan catatan akan dijadikan tempat ibadah, sudah sampai berganti walikota dan dijanjikan kemudahan. Tapi kok sampai sekarang tetap kami gak diizinkan ya? Camat tak sedikitpun mau bekerja sama dengan kami, padahal surat lurah sudah kami bawa.'
Pertama kali teman saya datang sebagai sukarelawan pasca Tsunami di Aceh, sambutan beberapa anggota masyarakat adalah 'ngapain kalian datang kesini? Mau Kristenisasi ya?' Ya ampun, dalam kesusahan masih aja inget buat mendiskriminasikan orang ya :)
Saya sendiri sudah mengalami sendiri beberapa kasus intoleransi. Sewaktu bermain-main di depan rumah, saya pernah diteriakin 'Pergi kau, dasar Kristen!' oleh anak-anak di sekitar rumah. Saat SMU, ketua kelas saya diganti atas permintaan murid kelas yang meminta ketua kelas hendaknya adalah muslim dengan alasan 'gak ada yang bilang ucapkan salam saat pelajaran agama'.
Lalu, bagaimana selanjutnya? Saya setuju dengan kata Direktur Wahid Institute:
'Kalau pemerintah serius ingin menghilangkan intoleransi beragama, pemerintah harus mengakui bahwa hal itu terjadi di Indonesia. Selama ini, menurut Yenny, pemerintah cenderung menghindar karena aparatur negara belum memiliki visi misi yang jelas untuk menyelesaikan masalah ini.'
Dan setelah mengakui, berusaha menyelesaikan. Sampai ke akar-akarnya.
I'm dreaming of a peaceful united Indonesia. Semoga bukan hanya mimpi di suatu saat nanti :)
about this particular senior, my very first "crush at first sight" that I always dreamed of since i entered my puberty stage.. about how i learn to restrain my youthful feeling towards this one person.. bah. finally i experienced my very first conversation with him. thanks to facebook. i realized it's just a so-so feeling. excited it is, but yeah, nothing more. i thought if the time really comes, my heart will beat faster. but no, not at all. huh.
it's the same feeling when my other crush send me message through facebook. he asked how i'm doing with my life, bla bla bla. i'm shocked, yeah and flattered a bit. hahaha. he gave me his phone number and that's it. that's the end of the conversation. i didn't have the courage (and maybe the will, i don't know) to text or to call him, even though i said i'll do. he didn't do it either, so i think we're even.
so, what do we called it? a brain freeze? usually i never get tired of "gosipin mantan2 gebetan". but i guess my youth time is over. it's no fun anymore like it used to. so i guess i'm just in a next stage of my life. the boring one. the hard one. the no fun one. boo!
duh, knapa hidup gue gak semenarik dulu lagi ya? aku bosan.. dan aku lapar..
If you like formal methods and software engineering (notice the conjunction), you’ll probably want to apply for a place at Marktoberdorf Summer School this year. I’d like to come again given the wonderful experience I had last year, but I already have other plans. So yeah.
Bangun ga begitu pagi hari ini dengan kabar-kabari dari ibu gw... "tadi malem katanya ada tuyul lagi maen air di depan rumah" wooooaaaaa.... dan dimulailah kabar pagi hari itu...
Spt pagi biasanya, ibu gw pergi ke warung deket rumah. Di warung tsb tengah berkumpul ibu2 yang berbisik2. Mereka bilang sekumpulan anak muda yang tadi malem nongkrong2 di warung itu melihat sesosok tuyul yg lagi maen air di depan rumah gw. Sepersekian detik setelah cerita tsb gw tangkep di otak, gw tersenyum2 dan bilang "bu, mbok dicek uang ibu di bawah bantal itu.. jangan2 berkurang banyak..." hahahhahaha.... ibu gw ketawa dan bilang "harusnya nambah dong" Ada raut tak enak hati di nada bicaranya krn tampaknya ibu2 tsb memperlihatkan nada bertanya tak langsung sambil bercerita "keluarga ibu punya tuyul ya???" *wwwwuuuuu, memunculkan ide baru mencari tambahan penghasilan di kepalaku :P*
Ternyata udah banyak yg ngeliat di depan rumah gw itu ada makhluk2 tak kasat mata yg memunculkan diri mereka selama beberapa w...
Saya baru saja mengingatkan adik saya tentang bahaya daring. Banyak sekali orang yang tak sadar akan apa yang dia mau lakukan terhadap teman-temannya di media daring semacam Facebook dan Twitter. Hal yang paling membingungkan, terkadang orang membiarkan saja akunnya dibajak. Ah, tugas kami para penjaga semakin sulit.
It’s a common thing nowadays to have a good street musicians on the train.. (hmm.. for me it’s a new thing, since I’m a new rider of Jakarta’s “splendid” electrical train..) Some of them are actually bring a big contra bass or electrical guitars/bass or even keyboard plugged to a car’s accumulator. For the drum set, they create a simple version with roller below and consist only 2 drumskins (bass and snare) without their cylinders and one crash cymbal. The pop band I can enjoy.. but the Dangdut one from Bojong Gede station.. -__-; can’t.. really can’t!
Today was the 1st time I heard this band. It was a pro! damn pro! They actually played groovy jazz with Oboe, percussions, nice contra bass, and 2 acoustic guitars.. wuiiii.. nice! It was more like a jam session in a cafe.. That’s what I call “music”, my friend..
I’ve seen street bands with violins.. pretty common nowadays.. but an oboe?? That was the 1st time.. People can’t learn to play an oboe in just a couple of months, can they? I mean to play it good.. not just do re mi..
My mom said that they usually play in Depok Baru station (my stop).. and the band leader is actually a real musician.. well no wonder they can play so perfectly well..
The strange thing is.. I was immediately got the idea of make them my wedding band.. I almost approach them to ask if they do such thing.. but then I hesitated.. hmm… it’s still a long way anyway.. so why bother.. Huhuhuhu.. let’s hope that someday, if I’m getting married, they’ll still be around..
I do have a vision of my wedding.. you know.. women and their imaginations… It would be all white… and with Jazz music.. no “organ tunggal” please… definitely no Dangdut! -___-; I’ve got enough of a non-stop Dangdut every weekend echoing from across the river (my house is by the river)
In this article, I focus on how IOI team selections are done in participating countries (so candidates who don’t like how the selection is run in their country can look for a country where they’d fit well ). I’ve been reading all papers from Olympiads in Informatics journal and there have been in total of 16 countries whose information of their selection process is available. Here I try to provide a summary of all that information and add some more info based on what is found on the net. As always, feel free to update me on the evolution of the selection process of any countries by posting a comment. Don’t hesitate as well if you have suggestion to refine this post.
First: definitions. In this article what I consider a round of selection is an official documented selection stage, through which the number of participants is reduced.
To characterise the selection process of a country, I tag the country with the following aspects.
The number of rounds.
In the list below, I indicated this by the actual number of rounds based on the reference I’ve found until the IOI team is selected. I wonder if I should make it a bit more abstract by saying, multiple rounds or just a single round, especially since the selection process is not something that’s static.
The numbers will be shown in bold red, like 3.
The number of divisions.
This categorisation has two dimensions: school years and knowledge. In some countries, the divisions are made based on in which school year the participants are in. Usually it follows the division of school system in that country.
The division based on the second dimension is less often seen. In essence the selection process is divided for new comers and non-new comers.
A pair of numbers will be shown in bold blue, like (1,3) denoting the number of divisions according to the school years and knowledge, respectively.
The number of administrative country divisions being involved.
In some countries, some rounds of the selection process are organized with some cooperation with local administrative entities, such as state/province or municipals. This category’s purpose is to highlight this cooperation. A possible further research on this category may highlight how important is locality to the selection process in a certain country.
When such a cooperation is present, then I label it with Y. In case that the only cooperation happens at school, the label is S, otherwise N.
The tag will be in bold green.
The content of the selection.
This is actually more of an ad hoc aspect, since this can contain pretty much anything. I basically just put two possible labels here: A for analytic/logic type questions present at least in one of the selection exams and P for programming type exams. The labels will be in bold orange.
Allowed programming languages.
For compactness, I use the following abbreviation.
C: C/C++
P: Pascal/Delphi
Py: Python
J: Java
B: Basic
L: Logo
Ca: Caml
The tag will simply the concatenation of all allowed programming languages. If any language is allowed, it’ll be indicated using Any. The labels will be in bold purple.
After a rather long prelim, here is the list of 23 countries (a quarter of participating countries at IOI) whose information I manage to gather.
,(1,1),N,AP,CPJBaas')">aas')">3,(1,1),N,AP,CPJBaas')" id="Australia:3,(1,1),N,AP,CPJBaas_button" value="+" />
Australia: 3, (1,1), N, AP, CPJB
Additional info: In 2007, around 8000 students partook the selection process. The divisions make it easier when organizing a training camp, especially in terms of providing targetted material to the right students.
Additional info: Around 80000 students participate in CNOI. In addition to the usual individual contest, it also includes team competition in the program.
Additional info: A total around 1000 students participate each year. Extracurricular activities related to programming contest are flourishing in Croatia. Apart from the IOI team selection, in Croatia there are also a number of workshops, summer camps, and winter schools, where interested students have abundant access to the exchange of information with former competitors. In addition, they organize international open online contests since 2006.
Additional info: Informatics is an elective subject taught in the final years of grammar school. There are around 700 students take part in the selection each year.
Additional info: Approximately 3000 students take part in Lithuanian Olympiads in Informatics. Many other informatics contests present in Lithuania, and some also expand the topics being assessed.
Additional info: Informatics is part of formal education curriculum in Mongolia. Interestingly, the national selection also includes a programming contest for the teachers.
Additional info: >1000 students participate in Polish Olympiads in Informatics. It has a very refined method of producing high quality tasks. I don’t know how the team is selected. I suspect that there are more "rounds" after the third round.
Additional info: The first round is actually a 6 round contest (open to international contestants too!) held throughout the year. It is the only country that uses only the knowledge dimension as a division (mainly due to the multiple-competition-based structure).
-Marcellius Siahaan-aku..hanya sinar yang melintassekedipbagai kunang kunang kecildan engkau sayap sayap yang meranggasseusaisekepak kau mengudaramembawa hatiku semua…uuuuuuu uuuuu uuuu….kita…ialah katayang terlambatterciptayang semestinya tak terjadidan cintaialah rasa yang pertama dan terakhirtuk merangkum kerinduankepasrahan dan maafku…reff #tuk semua…yang terlambat kulakukantuk semuayang tak
Sebenarnya, saya kurang menikmati trend satu film banyak cerita seperti Paris Je T'aime, He's Just Not That Into You, Love Actually, dsb. Terlalu membingungkan dan ceritanya jadi tidak dibahas lebih dalam...
Film ini sedikit membosankan dan beberapa cerita bertema sama: sex. Not love, not emotion, just sex. Ada penulis (Ethan Hawke) yang terobsesi dengan cara-cara 'melakukannya' dengan benar dan merayu seorang perempuan (Maggie Q) yang ternyata pelacur kelas atas. Si penulis pun jadi turn off sendiri pas tahu status asli perempuan itu. Ada juga pasangan one nigh stand (Bradley Cooper, Drea de Matteo) yang ternyata 'kangen' dan mau melakukannya lagi. Lalu ada juga anak SMA (Anton Yelchin) yang diputuskan pacarnya (Blake Lively, yes THE Serena van der Woodsen of Gossip Girl) tepat sebelum pesta Prom dan akhirnya datang dengan anak perempuan cacat (Olivia Thirlby) dari seorang pemilik toko obat. Walau kecewa diputusin dan terpaksa datang ke prom dengan anak di kursi roda, ujung-ujungny...
Tokoh utama dari The Mentalist adalah Patrick Jane (quote dari salah satu episode:"Jane, like the girl"), seorang konsultan dari CBI atau California Beaurau of Investigation. Jane adalah seorang dengan bakat unik yang mampu membaca pikiran orang lain serta jeli dalam melihat keadaan dan merupakan ahli hipnotis yang handal. Dalam arti kata lain dia adalah seorang mentalis. Tampilan Jane bukan seperti mentalis Indonesia yang sangat ternama, Deddy Corbuzier, yang tampil serba gelap, gothic, lengkap dengan dandanan aneh/menyeramkan dan tentunya, that famous hairline, obviously. Jane tampil rapi ala gentleman yang memakai baju 3 lapis: kemeja, rompi, dan blazer. Rambutnya yang pirang keriting dan tidak dirapikan, membuatnya tampil beda diantara anggota timnya yang lain. Namun daya tarik utama dari Jane adalah gayanya yang cuek, seenaknya, kekanakkan, dan bahkan terlihat tanpa emosi sama sekali, tetapi dia juga punya sifat riang gembira. Wajah gembiranya mirip anak kecil, sering terlihat...
Kebiasaan utk mengakhiri kalimat dgn “oder” adalah kebiasan org2 Jerman.. Seperti contohnya.. “Das ist meins, oder?” yg artinya “Itu punya gw, kan?” dgn menambahkan kata2 “atau” di blakangnya…
Ketika mreka2 berganti ke bhs Inggris, maka penyusunan kalimat mreka juga akan seperti itu.. mreka akan blg “That’s mine, or?” bkan “That’s mine, right?”..
Ketika mahasiswa2 Indonesia di Jerman berbicara bhs inggris, maka mreka jg akan berkata yg sama… bahkan lbh parah lagi bhs Indo jg kbawa:”Tu punya gw, atau?”
Yah termasuk gw dan rekan2 lainnya.. jg gw denger dari rekan di kntor yg lulusan Jerman jg.. Trus bos Austria dan Jerman jg pake “or” kalo ngomong Inggris….
Huhuhu yah.. lucu ajah…atau?
(Tp ttp dilakukan jg sampe skrg.. susah ngilanginnya.. sama aja ky “ach so”)
WARNING: Lucid is still on alpha version, don’t whine on me if it burns your house and destroy your future.
I’m installing from debootstrap, if you want to tell me that it’s already installed on Lucid installer. Furthermore, this may be a helpful hint for you on other version or other distro that may want to enable plymouth, may be. This tutorial has been excercised on my laptop (Lenovo Y41, Intel GM965) and my workstation (ATi x550). I don’t own any nVidia card, so I don’t know if it works on that too.
#1 Install plymouth
$ sudo apt-get install plymouth
#2 Insert kernel modules on your initramfs-tools
$ sudo $EDITOR /etc/initramfs-tools/modules
Change the $EDITOR to your favourite editor (vi, emacs, pico, gedit, kwrite, etc.). Put the following three lines to your modules file:
intel_agp
drm
i915 modeset=1
If you use Radeon card, change the intel part into radeon (intel_agp –> ati_agp, i915 –> radeon). To be sure about the agp line, just grep and see what the active module is:
$ lsmod | grep agp
Until this line, you could regenerate your initrd image. But, we can do that later.
#3 Setup Your Theme
Default Ubuntu Lucid’s plymouth is “ubuntu-logo”. I urge you to reselect the theme for the first time or you could select other theme. To view other theme:
$ /usr/sbin/plymouth-set-default-theme --list
The theme are details, fade-in, glow, script, solar, spinfinity, text, and ubuntu-logo. Let’s try glow:
around three weeks ago, i received a bunch of photos from my grandpa's funeral. i can't open them, i don't have any nerve to do so. until two days ago. when i was alone in my room, i feel 'hey why don't i give it a try to take a peek on those'. so i took a glance from the very first photo but since then, i don't even have enough guts to press the next button.
that photo, is the worst picture that i ever saw. it's the least photo that i want to keep in memories about my grandpa. but since i'm good in forgetting something, i think the picture is kinda blurry now. thank god. i just don't need to see the truth about his last moment above the ground.
so.. seeing again one of his photo when i was a child is kinda relieving, yet also sad. i remember him when he teach me to ride a bike or swing together. or when he came home from his journey around the world, he'll carry me on his back. yes, that moment is still clear in my head. every night when he's home, he'll accompany me till i lost in my dream. i do have great memories about him.
blogging about this thing make me cry once again for him. i only wipe tears for him twice since his death. i guess i just can't accept it yet even though i said i already giving him up. so instead of really letting him go, i just simply forget that he wouldn't be able to come home anymore.
so grandpa, this is it. this is the picture of you that i want to keep. not that crappy photos that i mistakenly saw last week.
ps: i'll always love you down here. sleep tight grandpa, and enjoy the ride. don't forget to take care of grandma there. love you.
Untuk dapat menyalurkan aspirasi kepada Dewan Perwakilan Rakyat, silahkan kunjungi formulir aspirasi DPR (http://www.dpr.go.id/id/bantuan/aspirasi) untuk mengisi aspirasi Anda.
Denger-denger INHERENT bakal diputus gara-gara DPR belum menyetujui anggarannya.
Implikasinya?
[sarkastik]
Yah, palingan beberapa situs besar pencerminan universitas di Indonesia tidak lagi bisa mengunduh dari Kambing. Yah, cuman FOSS doang yang balik ke titik pergulatan. Tapi, apa, sih, yang bisa kita lakukan?
My Ubuntu Lucid now running well. I use KDE plasma-netbook and looking great and stable. KRunner occasionally crashed, but it’s acceptable because of Alpha version. But, all-in-all, my computer is rocking solid:
FYI, last quarter of 2009 is a bad year for ATi cards because of the migration from DRM to DRM2 (MESA) which introduce the new architecture: Gallium3D. My poor Debian is not in the right state right now because of the legal issue that made Debian stripped away all the (working) firmware. Fortunately, kernel 2.6.33 would be the comeback of ATi cards and hopefully will be able to get my Debian workstation well. In the meantime, hello Ubuntu!
An interesting note about Debian is that GRUB 2 had given some love and now using graphical menu selector. It was something from GSOC 2008, but it wasn’t implemented because of the font legal issue. Now it’s on Debian Experimental, given that Lucid still synchronizing from Debian, it is a matter of time before Ubuntu got that one too. If you want more, you could give BURG, a GRUB pretified version, a try.
== Next is a human side of me, just stop here if you don’t like it ==
So… regardless the obvious idea of building a mall as a symbol of consumerism, central park offers a different ambient at its center. It has an outdoor park with fish pond, nice lamps, and dancing water spring.
Since it’s still new, and not all the shops are open (still free parking, btw), so we can actually enjoy the groovy music sitting outdoor at the park, watching the dancing water spring every hour. It’s so good for.. ehm ehm..
Ah.. sudahlah… saya sdh tewas sekali setelah marathon jalan2 tak henti2 wiken ini.. back to Indonesian..
Jadi enak kalo msh sepi ke central park bwt nongkrong2 di park luarnya.. kalo g ujan.. hehehe.. suasananya enak ky gak di Indonesia.. dan krn kmrn abis ujan kali yah, jdnya ky ga di tomang yg panas pisan.. Trus.. yah.. kalo mo nongkrong2 tapi g di cafe.. bayar minum dll kan bosen+boros.. lucu jg nongkrong situ poto2, bw bekel.. (kekeuh dgn jln2 versi murah) dan bawa PELET ikan.. :p ngasih mkn ikan (ky anak kecil ajah.. tapi kalo dah rame, g jamin tetap bs senyaman gw kmrn ya.. hehhehe..
In a country as advanced as Germany, it is somewhat unbelievable that there are people at the university who are foreign to the technology called toilet flushing. How is it like at your place?
Well, after the mess I made, screwed my workstation with Lucid upgrade. I finally decided to reinstall my Ubuntu. Mind you that Lucid is still on Alpha phase, so if you think that is not cool, wait until its prime time. Oh, btw, Lucid is a LTS and Ubuntu known to release unstable version if it was LTS. But, let’s just wait to prove that Ubuntu have break that habit, shall we?
I’m installing the Lucid via debootstrap, just like the way in Karmic with special adjustment. I was planning on putting the Plymouth into action. So, when in the chrooted stage, I was installing Plymouth. But, it seems we need to tweak the Plymouth. Oh, btw, my Grub is using Debian Experimental’s, may be I need to adjust the boot parameters. Well, that’s the different story.
Here’s what I discover when installing preliminary Lucid:
SSH is not installed by default, neither the client nor the server.
Yakuake is in universe! That awesome must have Kubuntu application is in Universe?
PGAdmin3 is in the universe! Wow, this is a must have if you are an administrator.
KDE 4.4 Rocks! Integration is awesome
Everything seems natural for me
Talking about integration, when I was running Konqueror for the first time, I was asked to install additional packages that were needed to enable multimedia capability (which was stripped because of some countries copyright law). The great thing about KDE4.4 is the neat animation and placeholder. Many things now attached to its main component. For instance, the add widget is no longer a dialog, but a neat bar below.
Oh, the notification now have a history. You could see history per application so that you would never miss one. This is better than that Ayatana, creating more applet just to click.
FYI, I have now removed all of the Application Menu, including Lancelot. I just need to press META+R (or ALT+F2) and type what I want to do. Btw, when I was setting up the Run application, I just see QuickSand logo! QuickSand is a technology just like Finder in Mac, enabled by configuring Run to use Task oriented. That’s it, no more useless click. This is good for me, I have this tendency to forget what to do. With this, for instance, I want to do something with my study, I just type “kuliah”, then it would point me “KULIAH” directory. Well, at least now I am no longer lost.
Well, there are a lot things I would like to discover, but I will share that later. Time to work and discovering wonderful things!
Some screenshots:
Apaan si? Apaan si? ™
Planet CSUI02 adalah tempat berkumpulnya blog-blog milik anak-anak Fasilkom2002.