July 28, 2017

Narpati: Yang menolak Perpu Ormas No 2 tahun 2017

July 28, 2017 02:05 AM

Apakah yang menolak Perpu Ormas hanya Hizbut Tahrir Indonesia dan pengacara serta yang mereka yang simpati pada kelompok itu atas dasar agama ?
Tidak.

Berikut daftar mereka yang menolak Perpu Ormas di luar kelompok-kelompok Islam:
1. YLBHI dan 15 LBH se-Indonesia termasuk LBH Jakarta[1];
2. ELSAM[2];
3. KontraS[3];
4. PSHK[4];
5. Redaksi Hukum Online [5];
6. Pusat Studi Kebijakan Negara Universitas Padjajaran [6];
7. Pusat Studi Hukum Tata Negara Universitas Indonesia [6].

Cobalah baca Perpu Ormas no 2 tahun 2017 baik-baik dari kacamata seandainya engkau seorang diktator zhalim. Apakah Perpu tersebut bisa disalahgunakan?

Ya bisa!
Sangat bisa!
Itu sebabnya Perpu Ormas ini sangat berbahaya dan harus ditolak!


1. http://www.ylbhi.or.id/2017/07/pernyataan-sikap-bersama-penerbitan-perppu-no-22017-tentang-perubahan-atas-uu-no-172013-tentang-organisasi-kemasyarakatan/

2. http://elsam.or.id/2017/07/penerbitan-perppu-no-22017-potensial-mengancam-kebebasan-berserikat-dan-berorganisasi/

3. http://www.kontras.org/home/index.php?module=pers&id=2399

4. http://www.pshk.or.id/id/publikasi/siaran-pers/siaran-pers-koalisi-kebebasan-berserikat-kkb-pemerintah-masih-memiliki-langkah-yang-adil-dan-obyektif-bukan-menerbitkan-perppu-nomor-2-tahun-2017/

5. http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5971f3ede81c9/kegentingan-yang-dipaksakan

6. http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt59781e5239397/suara-keprihatinan-atas-perppu-ormas-datang-dari-kampus

July 27, 2017

Narpati: Simulasi Perpu Ormas : FPI dan Ormas Yang Sering Bentrok

July 27, 2017 03:03 PM

Perpu Ormas menambahkan sanksi pidana di luar sanksi administratif untuk pasal 52 dan pasal 53. Ada yang berpendapat bahwa unsur pidana ini kelak ada pengadilan sendiri untuk unsur pidana-nya. Jika diperhatikan, sanksi pidana itu untuk ormas dan ketentuannya diperjelas di pasal 82A, yakni ditujukan kepada anggota untuk ormas yang melanggar ketentuan pasal 59 ayat 3 dan 4. Cukup aneh bahwa tidak ada ketentuan pidana untuk yang melanggar pasal 52 tentang ketentuan larangan untuk ormas yang didirikan oleh warga negara asing.

Kembali ke ketentuan pidana di Perpu Ormas, bagaimanakah cara pembuktiannya? Apakah yang dibuktikan ormas-nya itu memang melanggar atau keanggotaannya saja? Jika keanggotaannya saja, jangan-jangan keputusan pembubaran ormas oleh pemerintah sudah cukup sebagai bukti ormas melanggar ketentuan dan pengadilan pidana hanya membuktikan keanggotaan terdakwa.

Ada pembagian pidana terhadap anggota ormas yakni:
1. untuk anggota ormas yang melanggar pasal 59 ayat 3c (kekerasan) dan 3d (main hakim sendiri), maka dipidana penjara antara 6 bulan hingga satu tahun.

2. untuk anggota ormas yang melanggar pasal 59 ayat 3a (tindakan permusuhan), 3b (penodaan agama), atau 4 (anti-Pancasila, anti-NKRI, mirip dengan ormas terlarang), maka dipidana penjara antara 5 tahun hingga 20 tahun.

Yang menarik, ada ayat 3 dari pasal 82A yang memperjelas bahwa selain pidana sebagaimana yang dimaksud di ayat (1) -- ini terkait Ormas yang melakukan kekerasan dan main hakim sendiri -- akan ada pidana tambahan sebagaimana diatur dalam perundang-undangan pidana.

Coba saya pakai simulasi seandainya saya anggota FPI yang kemudian dibubarkan dengan Perpu ini dan saya ditanggap sebagai anggota FPI.
Pertama, ada pasal 82A ayat 1 yang jelas membutuhkan bukti bahwa
1. saya anggota FPI
2. FPI adalah ormas yang melanggar ketentuan di Perpu Ormas.

Pertanyaannya, bagaimana definisi "ormas yang melanggar" itu dibuktikan? Jangan-jangan cukup hanya dengan pernyataan pemerintah saja? Jujur, saya tertarik bila kelak ada korban Perpu menggugat ke PTUN jika gugatan ke MK kandas karena saya ingin tahu dalam praktek alat bukti dan barang bukti apa saja yang dibutuhkan dalam proses pasal 82A ini.

Untuk melanjutkan simulasi, mari asumsikan bahwa ternyata untuk membuktikan kalimat "ormas yang melanggar" itu, pemerintah ternyata juga harus memberikan bukti-bukti aksi atas tindak kekerasan ormas tersebut, namun pemerintah tetap tidak harus membuktikan bahwa saya terlibat dalam setiap aksi kekerasan ormas tersebut.
Bagaimana jika ternyata dalam FPI, saya cuma sekedar numpang mengaji? Bagaimana kalau di FPI, saya cuma bagian dokumentasi ? Bagaimana jika di FPI saya sekedar latihan silat? Bagaimana jika di FPI saya sekedar berfungsi sebagai advokasi?
Jadi saya dihukum atas tindakan kekerasan padahal saya sendiri sebagai individu tidak melakukan. Jika pemerintah mampu membuktikan saya terlibat dalam aksi kekerasan atau main hakim sendiri, maka jatuhnya adalah pidana tambahan sesuai pasal 82A ayat 3 tadi.

Silakan ganti FPI ini dengan salah satu ormas yang beberapa kali terlibat kekerasan seperti serikat buruh, kelompok berbasis etnis kedaerahan, ormas pemuda pendukung partai. Saya gak perlu menyebutkan satu persatu ormas mana saja, kan?


catatan:
artikel ini pertama kali muncul di Hukumpedia tanggal 20 Juli 2017.


July 23, 2017

Narpati: Sekedar Membeo Pada Hak Asasi Manusia versi Barat ?

July 23, 2017 11:59 PM

Pasal 33 dari Konvensi Keempat Jenewa 1949 -- tentang Perlindungan Rakyat Sipil di Masa Perang, berbunyi (terjemahan bebas) "Orang yang dilindungi tidak boleh dihukum atas suatu pelanggaran yang tidak dilakukan sendiri olehnya. Hukuman kolektif dan semacamnya sebagai bentuk intimidasi atau teror tidak diperbolehkan".

Pasal 28D ayat 1 UUD 1945 amandemen kedua berbunyi, "Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum".

Surat An-Najm (surat ke-53) ayat 38 berbunyi 
أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ 
(terjemahan Depag: bahwasanya seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain).

Surat Al-Maidah (surat ke-5) ayat 8 berbunyi 
.... وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ....
(terjemahan Depag: ..... dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa... )

Mungkin ilmu saya masih dangkal, tidak dalam, belajar ngaji saya kurang jauh sehingga saya tak paham bagaimana sebuah ormas Islam yang katanya pembela Pancasila dan konstitusi, dengan mudah menyetujui sebuah peraturan yang dapat menghukum seseorang atas kesalahan yang bukan kesalahannya, sebuah hukuman yang jelas tidak hanya melanggar HAM "versi Barat" tetapi juga melanggar konstitusi dan prinsip agama Islam itu sendiri.

July 18, 2017

JePe: Victim

July 18, 2017 10:33 AM

This is an old unpublished article. Since the election already over, I'd like to publish this. Considering my friend is already cooled down and the issues was resolved with the capture of Ahok.
---


A friend of mine wrote this at his Facebook status:

Roughly he said:
"So, more non-Muslim friends feels like they understand more about Islam. We, the Muslims, have to ask our Imam, and [you] need to know that not every imam dare to interpret, [we] even need to ask to imam that have more understanding in religion.. How great you are could interpret it on your own. 
If someone get pissed, sorry that's my intention, it's better we deepen our own religion instead, and give what best accordingly."
This statement made my blood boiled, at first. There were many things I wanted to say about him. Still, I respected him. Instead of writing those complaints on his wall to potentially shaming him, I wrote those here.

First, he used Bible verse freely in the past and judged us Christians based on his interpretation. Now, he got exactly what he had done in the past. I wish to ask him, how is it like for him when his religion being commented by non-believers? Shouldn't he be a fair dude and let it go?

Second, yes, there are non-Muslim people that know more than him, especially the scholars who might be seeing his religion as an object of study like other religions too. They are well-versed in archaeology and so on.  I wish he would take the down to earth approach  instead of boasting.

I wish he could remember the few years before.

I wish he could remember that the past him was glorifying Ahmadinejad. At that time, I was the one that pointed out to him that Ahmadinejad is a Shia and he should've not embrace any Shia because he was a Sunni.

Guest what? He rebuked me by saying, "Islam is one religion, Pe! There is no such thing as Shia or Sunni." He further said that I didn't know anything.

Fast forward, he is now in the bandwagon of anti-Shia.

Debunking

Debunking him is easy. But, I don't seems to give in to the idea.

I have read a book debunking Ahmed Deedat since fifth grade. It was a thousand pages long forbidden book. My father would be mad at me for reading such kind of book (and sadly confiscated it). Fortunately, I read few hundreds of pages so that I knew arguments made by him.

My father warned me from making any dialog. He said there was a son of his friend who read the same book at my own age. He was confronted by other children about Jesus' divinity. Then, the child retorted back and was also questioning back about their Prophet.

Such incident made the school in shock. He was forced to transfer to another school because of his arguments. A child who could only fought back from the people who questioned his belief was sentenced when he answered.

There was never a debate in the beginning.

Those "scholars" only pretended to have discussions. And when they faced a person that knew more than they could handle, they used violence. That's why, until this day, I've never actively trying to debunk or attack their faith. Even in my ministries, I have never included any of these to my sermon in any occasion.

All that I could remember using my apologetic was when they crossed the line. It was on my university's days. At that time, they started a debate thread for us in a peaceful Christian forum (rtin, still remember?). In that one and only thread in Christian forum about religion comparison, I unleashed my knowledge and debunked them hard.

It was a hard thing to do. I need to make an argument without bashing back their religion. At that time, Ahmed Deedat was popular in their circular. Suddenly, some of them felt like they knew it all and started a flame war.

Lol, yeah, thinking back of how they were just started to learn about apologetic and I had years of experience in questioning my own religion -- so cute!

I don't care if they compare us in their own forum. In fact, that's good. They can enforce themselves with their own belief system. I respect their thirst for knowledge. But, when they start the thread in a Christian forum or general forum, it's like they put their religion also at the same trial as Christianity.

Fair is fair.

Let their wisdom be their wisdom. I don't think being in confrontation with other religion is what my God wants me to do. So, yeah, in the end, I would prefer not to do apologetic by bashing other religion.

Questioning My Own Religion

Why could I answered easily?

Beside that book, I also read about "101 difficult questions about Bible". A book written by a pastor about Catholic faith. I read history of many religions. I read some of the Western and East philosophies. In the past, I had access to a website that have picture of original manuscripts.

In those days, Ahmed Deedat was nothing. The most fearsome of all are liberal Christians who dissect Bible and made solid arguments about its flaws. IMHO, Ahmed Deedat and many of Christology Muslim were nothing compared to those liberals.

Dude, they asked about the existence of Jericho wall. They asked about Jesus' divinity. They asked Moses and the thing that was done in splitting the Red Sea.

They asked from solid sources like the original scripts. They asked from philosophical evidences between the Romans, the Judaism, Zoroaster and the Christianity. They asked from archaeological perspective. All of those that had facts and data not just some circular reasoning.

I remember there was even a conference here in Indonesia to talk about men and women before Adam.

There was a period of time when I think of religion only a myth. In the past, I think all religion is the same. They all are only tools used by any governing mob to qualm the masses.

I rediscovered my faith in high school through a miraculous event of the birth of my young cousin. Through that, I understand this:

I have never seen anyone converted to Christianity by losing a debate. All of them converted are usually having miracles happened in their/their loved ones. I can see me as one of them.

[PS: I think I now know why I was like a machine in the past. I have read the wrong books. Should've read Ko Ping Ho instead of those books and Robert Maslow's.]

That's why, I find it funny that people started rehashing Ahmed Deedat these days.

Thanks to his follower, Zakir Naik, that using the same premise. He talked the same thing amateurishly like he was enlightened. He only invited people that have no experiences in debating.

He used intimidating skills to make the opponent lose their coolness so that they couldn't talk their points across well. Every time a sound argument was being made, he cut it before finished and start talking while the crowd clapping in the background.

Yeah, his skill is ad hominem.

That's why, no one take Zakir Naik seriously. We already debunked his master's teaching since long. Since he always avoiding real debaters like David Wood, no one would take him seriously.

No Evaluation?

Btw, I think I wasn't among those people that my friend protested. I wrote this because I was agitated by the way he talked. He said words like he knows it all. Such arrogance!

There are things that I don't like about his statement and his condition.

First, although he was trained to question everything, he always share what he believe without checking the fact from alternative resources. Is he even a bachelor degree?

Second, his religion is a high intelligence religion. There was a time when all the philosophy of the modern world was preserved by Islam. The golden era of Islam is the age of think tank.

Third, the first command to their Prophet was to read. Isn't that means his religion embraced deeper thinking? Why he never questioned any of their religious leader? Won't he shamed his Islamic ancestors that made so much discoveries in thinking and made so many wisdom?

Is he too lazy to learn more about his religion and give all the responsibilities to know his own God to other people; and then he just chew instantly whatever they cooked?

Someone Is Using You and Your Religion

From Jakarta election, there is none of the candidates that have their commitment from stopping the Jakarta bay reclamation. NONE! And, there was none of the other's candidates feels like could ever attacked the incumbent without splashing their own face.

The only thing to do is to attack him from his religion.

Now, here's the point when you start using religion on politics:

You are like a greenhorn playing mouse and cat. Everybody would play with you. But, the cat would be reluctant to catch you and you would have certain immunity.

They would ignore you because of how insignificant you are. They would smile at some mischief that you have done here and then.

Until at a point where you start to be significant. What you do would turn the side you're in winning. At this point, the opposing team would protest and put you in the equal footing.

That's when the religion as your weapon being countered!

Still Grow Up

This is why I started to have sympathy to my friend. He got dragged because of the use of religion for collapsing a the political opponent. The Jakarta politics included religion as the tools for supremacy and many people with faith dragged with it.

I hate this.

I too hate if Christianity used as political tools. Like Bush Jr. was using state preachers to legitimate Iraqi invasion. Or, politician using biblical quote during elections out of context.

Oh, well, Islam is several hundred years younger than Christianity. We have the dark age and despotism. We survived through the embarrassing moment that led to Christianity reform. We survived through the age of philosophical reform in Renaissance, Industrial Age and Socialism.

I wish people of Islam learn mistakes made by Christianity and not rewind it for themselves.

Oh, well, c'est la vie.

JePe: Al Maidah 51

July 18, 2017 09:53 AM

This article written long time ago. Because the issue already resolved by imprisoning the late governor (Ahok), I think publishing this would still considered 
----

A viral went nuts here:



The title said:
Ahok: Anda Dibohongi Alqur'an Surat Al-Maidah 51
which translated as:
Ahok: You are being lied by Quran's Al Maidah 51.

Interestingly, the actual line actually said:

"... Bapak Ibu nggak bisa pilih saya; dibohongin pake Surat Al Maidah 51 macem-macem itu...."
which in English said:
"... you all can't choose me; being lied using Surah Al Maidah 51 and so on."
The full video:



And the context started at 24:14
"... Jadi jangan percaya sama orang, 'Kan bisa aja dari hati kecil Bapak Ibu nggak bisa pilih saya. Dibohongin pake Surat Al Maidah 51 macem-macem itu..."
 Which in English said:
"... So don't trust just anyone. It is possible from the bottom of your heart that you all can't elect me. Being lied using Surah Al Maidah 51 and so on."
Now, from the context here is that Ahok told the audiences that there would be people who uses Quran for their political interest to make others not to elect Ahok. They do it by quoting the Koran out of the context.

Unfortunately, nobody had time to watch the full quote and tried to understand the meaning. They were too busy hating.

People Reaction to Ahok

Ahok is an Khek decendant who rose into prominence and has the biggest chance for running as a Governor in 2017. Not just only a governor to a city, but a capital city governor. A Khek still have a close resemblance to today's Chinese.

Many people love him. Indonesian Christians idolize him as a role model of how a Christian could becomes a leader in this country when Christianity is not the majority. Indonesian Chineses love him because he represented the hope for equality.

But, there is also a voice by Indonesian Chinese like Jaya Suprana who wary to the way Ahok talks vulgar. His open letter also reminded Ahok about the fear of another racial riot that would turn Indonesian Chinese as the victims; like the history repeated being told again and again in Indonesia.

And yeah, some people would use this opportunity to cultivate hate speech. Especially those that these late years become prominent power with their fundamentalism. They gain so much these days.

Their ways to become the part of Indonesia is interesting. Right now, their ways are really effective to turn many Indonesian Islamic brethren to turn their face from us.

Fascinating but saddening.

Fundamentalism

It is interesting how they build their fundamentalism using information. They would use Internet as a source of preach. I remember back in the early 2000s that so many Khattib (Islamic Preacher) would be proud of using Internet as their source materials. They would say words like, "I read it in the Internet". At that time, Internet was not a common thing.

I also remember there is this evangelical site named Answering Islam, which was an evangelical site dedicated to oppose Ahmed Deedat's arguments against Christianity. Because of the name, people thought that this site was the first click-bait for the opponents. We know that answering means trying to answer that entity (Islam, Ahmed Deedat).

But, this site took their community by storm. They thought that this site was so blatant and deceiving. It made them also made their own Answering Christianity site to counter that. My note to this site, if they weren't debunking 911, it would be a perfect counter.

In those years, they built their own agenda and started to cultivate culture that made their people to self-censor sites. They skillfully built a dogma that made their people not to listen to other news site other than their own authoritative ones.

The reason was actually kind of valid: "many sites would contain eloquence that could hypnotize you out from Islam." For many people with lack the skill of comprehending things, some arguments would win them over. They could get fascinated and swayed from their faith.

The reason also kind of invalid because that would made the people take absolute trust to their leaders. As faulty human, their leaders could run into the wrong. Little would they realize when they are not God's messenger anymore, but a god.

In those years, they also built their fundamentalism by using hate to America and making Palestine as an underdog who got beaten repeatedly by the oppressing Israeli soldiers.

I remembered in late 90s/early 2000 found a junior was using our school computer downloading pictures of mutilated corpses with many tags depicting that this was the wrongdoings of the Israeli.

One picture that I remembered was a picture of a grandpa with hacked face and the tag said, "is he worth to have this?" Man, I'm not that religious, but seeing that picture I also would have gotten my blood boiled.

Fortunately, I'm with the cool kid with Internet experiences since 1995s. There were many of those pictures were taken from horror sites. Yeah, The Internet already effed up since the very beginning. We used to have porn without ads. Pictures of Lady Di's skirt blown by the wind peeked by a Paparazzi.

Anyway, that method really made their skull thinner so that they could be really easily controlled. They would fed with such lies so that they would hate American government (not the people) and Israel.

I mean, if they could racked their brain a bit, shouldn't they asked:
if the Israelis really that powerful, why didn't the Palestine got wiped instead? 
Well, because not all Israeli blood monger. There are people like PM Yitzhak Rabin (RIP) and Simon Peres who worked together with Yasser Arafat (RIP) to bring peace on both sides. Unfortunately, because their almost successful deal, both Rabin and Arafat got killed in the same year.

If you read the Jerusalem Post, you would see how leftists pushing around government for their plan of taking the Palestinian lands. Many Arabs work in the state of Israel. In fact, they are taking quite a lot of population percentages.

The world is not black and white.

Closing The Conversation

Fast forward today, they really succeeded to close the discussion. If there is a Christian open a conversation, their people would immediately close the conversation by saying, "you are not one of us".

If there is an Islam open a conversation, their people would immediately close conversation by saying, "are you an Imam?" "by whose authorization that you could interpret the Quran?" and so on. In the best argument they could make, they would be calling that person "heretic", not a true Islam, impostor.

To support their thirst of knowledge, they have their cyber/propaganda teams that is the most awesome of all. They made so many websites that often made circular reasoning among themselves. From amateurish approach of using verbatim copies of an article copied to many sites to articles professionally curated to bring the masses into a conclusion.

Well, it's their own religion and I won't comment on that. My only problem with this kind of approach would be that if their leaders lied won't they all go to hell? An authority made by man that have so many interests. If one man/source trying to be the absolute author, can that man/source stay objective? People often forget that their leaders are people, not Allah.

Even the most perfect king needs second opinion. George Lucas with a great ego almost destroyed the Star Wars franchise.

Politics

All those that I've wrote might made you think that it is legal to become an Islamophobic. This is not right also. Because the writing is not about all of the Islam. It is a faction within Islam which also got a lot of controversies from another faction of Islam.

Some people might label that faction Wahabi. But, I don't buy that much. Just like they would say that there is this pure Socialism and pure Liberalism. No country with a free market, not even US, would really let the market decide by themselves. Even the most communist like China and Russia not 100% communist.

All of them already becomes a modern kingdom. Either runs by a single party, single man, or houses like Game of Thrones. And these rulers tried to implement something to have control.

Religion, institutionalized religion, since the dawn of time also used as political tools. Depending on what the political market wants, religion could be swayed around. So, instead of calling it one part of religious cult, I'd say one political interest.

By the end of the day, we would see those who got the upper hand would grab the political throne. C'est la vie.

July 17, 2017

Narpati: Inkuisisi dan Imparsialitas

July 17, 2017 12:08 AM

Dahulu, negara-negara Eropa berlandaskan pada kekuasaan Feodal dan agama Kristen yang mengakui gereja Katolik sebagai otoritas kekristenan. Mereka takut bahwa Eropa akan hancur ketika dasar-dasar mereka dirusak, baik oleh pemeluk Islam (termasuk yang mungkin masih sembunyi pura-pura jadi Kristen), pemeluk Yahudi, maupun kepercayaan-kepercayaan pagan lama (yang juga sembunyi-sembunyi pura-pura jadi Kristen).

Yahudi, ditolerir karena kemampuan mereka mengelola keuangan namun ada politik isolasi 'ala ghetto, untuk mencegah percampuran antara kaum Yahudi dan rakyat mereka yang taat pada Kristen. Selain melalui politik, dalam khotbah gereja sehari-hari pun, kaum Yahudi juga digambarkan sebagai sosok yang berbahaya sehingga rakyat pun tak berani bersahabat dengan Yahudi.

Sementara itu, untuk mencegah pencemaran rakyat oleh oknum non-kristiani (Islam dan Pagan) yang sembunyi-sembunyi di balik topeng rakyat, mereka membentuk inkuisisi untuk mengadili hal-hal semacam ini. Awalnya, mereka masih menggunakan model penuntut dari rakyat (atau pihak non-gereja) dan pengadilan dan si penuntut masih bisa dilawan balik bila terbukti mengada-ada (lex talionis).

Seiring berjalannya waktu, ketakutan mereka terhadap kaum-kaum radikal ini membuat mereka merasa sistem pengadilan yang selama ini berjalan membuat penyelidikan dan penindakan berjalan terlalu lambat. Akhirnya mereka menggunakan konsep pengadilan semu, di mana mereka mengesankan ada jaksa dan hakim tetapi sebenarnya keduanya berasal dari lembaga yang sama.

Tentu saja, kita bisa membayangkan seandainya ada yang mengkritik pengadilan-semu macam itu, paling dijawab seperti ini:  "kalau merasa kristen sejati, bukan orang sesat seharusnya tidak perlu takut pada inkuisisi". Yah, kita sudah tahu bagaimana akhir cerita dari sistem 'keadilan' macam itu di mana si penuduh sekaligus menjadi hakim dan tertuduh tak punya kesempatan membela diri.


PS:
baru nyadar, ternyata ada beberapa jenis inkuisisi dalam sejarah Eropa.

July 14, 2017

Narpati: Bahaya Perpu No 2 Tahun 2017 pengganti UU Ormas no 17 tahun 2013

July 14, 2017 09:49 PM

1. Adanya tambahan sanksi pidana untuk ormas (sila cek perubahan pasal 60). Bahayanya adalah, siapapun anggota ormas yang dituding melanggar, walau secara individu tidak melakukan kejahatan itu, bakal ikut terseret dengan ancaman pidana 1-20 tahun (pasal 82A)

2. Pencabutan status badan hukum cukup dilakukan oleh menteri yang berwenang dalam bidang Hukum dan HAM saja (perubahan pada pasal 62 ayat 3)

3. Ormas yang melanggar hanya sekali diberikan peringatan (perubahan pasal 62 dan penghapusan pasal 63 dan 64).

4. Mahkamah Agung tidak memiliki peran apa-apa (penghapusan pasal 65, 67)

5. Pengadilan sama sekali tidak berperan dalam pemutusan pembubaran Ormas (penghapusan pasal 70, 71, 72, 73, 74, 75, 76, 77, 78)

Contoh kasus:
Anda tertarik bergabung kepada FPI di kota anda karena anda percaya FPI membela Islam, membasmi kemaksiatan. Kebetulan pengurus FPI di kota anda mengambil strategi jalur hukum dan persuasif dalam membasmi kemaksiatan. Sayangnya, di kota-kota lain, FPI menggunakan jalur kekerasan dan akhirnya Menteri memutuskan FPI melanggar Pasal 59 ayat 3. Maka tanpa kesempatan melawan di pengadilan, anda dan teman-teman di kota anda yang tidak pernah pakai jalur kekerasan, juga ikut terkena getah dipidana.

Ganti FPI dengan kelompok apapun, misalnya Greenpeace, Serikat Buruh, dan sebangsanya... hanya karena ada kejadian salah satu cabang melakukan jalur kekerasan atau mengganggu ketertiban umum, semua anggota bisa terkena getahnya.

Oh iya, jangan lupa bahwa Pasal 59 ayat 4c tentang larangan ormas bertentangan dengan Pancasila adalah pasal karet. Organisasi seperti kelompok pendukung LGBT dan kelompok Ateis juga berpotensi mendapat kriminalisasi yang sama dengan tuduhan tidak sesuai Pancasila.

Dan oh iya, sekali lagi,
sekali dapat tudingan, ormas tak punya kesempatan membela diri di depan Pengadilan.

July 12, 2017

Tya: Suatu pagi bersama ikan teri (nasi goreng teri + buncis teri)

July 12, 2017 02:32 PM

Haha judulnya norak banget ya...
Karena saya pecinta ikan teri nasi... :P

Tapi karena saya (sok) sibuk dan skill masaknya cuma sekitaran duo bawang + garam + gula + merica
Jadi bikinny yang gampang2 aja... Kurang dari 30 menit.

Kalau yang susah2 kayak teri kacang balado, pepes teri dll tinggal minta mama bikinin aja atau beli di warteg haha..

Kelamaan intronya.. kapan resepnya???
Ya namanya juga blogger, suka cuap2 gak jelas (saya doang si yang gak jelas) :P

Oke masuk resep ya..
btw ini masak dalam 1 waktu resepnya nyambung yaa...
Karena ini masak untuk diri sendiri (bagian nasi gorengnya)
Sedangkan untuk buncis terinya selain untuk saya juga untuk bekal makan siang Salman (1y3m) selama saya ngantor.

Bahan:
- bawang merah dan putih (rasio 2:1) cincang kasar (malas ulek2)
- teri nasi (di tukang sayur sebungkus 6ribu)
- buncis beberapa batang iris serong
- garam
- gula
- merica bubuk
- nasi 1 porsi

Langkah2:
1. Rendam teri dengan air panas sekitar 5 menit
2. Tiriskan
3. Panaskan minyak sedikit saja
4. Goreng ikan teri sampai kecoklatan (jangan gosong yaaa)
5. Tiriskan teri

Nasi goreng:
6. Gunakan minyak bekas goreng teri
7. Masukan 2 bawang secukupnya sampai harum
8. Masukan nasi aduk2 sampai merata. Karena minyak bekas goreng teri, jadi warnanya kecoklatan
9. Masukan teri yg sudah digoreng seckupnya
10. Tambakan sedikit aja garam dan merica
11. Aduk sampai rata

Selesai deh untuk nasi goreng teri
Enaaaak.. dan kenyang alhamdulillah


Buncis teri
12. Tuang minyak secukupnya
13. Tumis duo bawang sampai harum
14. Masukan buncis
15. Siram air sedikit
16. Tambah sedikit gula garam merica
17. Oseng2 sampai air meresap
18. Tambahkan sisa teri
19. Oseng2 sebentar saja

Sudah siapp dehh


Nyam2
Apapun kalau teri nasi mah pasti enak haha
posted from Bloggeroid

June 24, 2017

Bimo: Pledoi si Tambun No 23

June 24, 2017 07:50 AM

Sebelas kali dentangan jam menyambut saya masuk ke dalam. Selebihnya senyap. Sesekali terdengar orang berbincang di warung kopi di depan rumah. Saya pun menghempaskan tubuh di atas sofa tak bersuara. Badan saya lelah bekerja seharian, mata pun sudah tak semangat untuk terbuka. Kombinasi antara capek dan kenyang setelah berbuka puasa membuat mata ini dan kelopaknya bagai kutub magnit yang saling

Bimo: Boss (bisa juga) Patah Hati

June 24, 2017 07:50 AM

Semoga orang kantor ga baca blog ini hehehe.. Saat tulisan ini dibuat, waktu menunjukkan pukul 00.22 WITA. Jam sepuluh malam tadi, saya baru mendaratkan pantat di sebuah guest house di Pulau Dewata. Usai ngobrol sama partner kerja malah ga bisa tidur. Tetiba reminder ponsel saya berbunyi, menginformasikan bahwa Wisnu, salah satu partner kerja di kantor, berulang tahun. Jadi yha sambil nungguin

Bimo: LG BT

June 24, 2017 07:50 AM

"Trrt... Trrt" "Halo??" "Assalamu 'alaikum," "Wa'alaikum salam," "Dimana kamu?" "Di kos," "Sama siapa?" "Sendiri," "....." "Kenapa sih mah?" "....." "Halo?? Mah??" "Teman kamu mana?" "Teman?" "Iya, teman kamu," "Yang mana? Teman Rio kan banyak, maah" "Siapa itu namanya?" "Yang mana, maah? Yang sering nginep di rumah?" "Sering nginep di rumah?? Duh Gustiiii... Iya itu," "Milo bilang sih mau

Bimo: 1 x 7 ( bagian 2)

June 24, 2017 07:29 AM

Kemarin, lima tahun yang lalu.. Pagi itu Mas Adhi, sepupu kami datang ke rumah. Mencoba memberikan dukungan moril untuk saya dan Woro. Kami berdua sempat berbincang sambil sarapan di meja makan. "Kamu ingat ga, ustadz yang pernah aku bawa ke sini?" tanyanya. Saya hanya mengangguk. Tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini. "Tadi mas cerita soal keadaan Bapak," sambungnya. "Ustadz bilang,

June 22, 2017

Bimo: 1 x 7 ( bagian 1 )

June 22, 2017 06:37 AM

Salam, pembaca! Sebelumnya saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa yang sangat telat ini, karena puasa tinggal beberapa hari ke depan. Tapi, seperti halnya blog yang baru diisi kembali setelah sekian lama ini, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Ya khan?! Tulisan kali ini terinspirasi oleh tulisannya Maknyak Putri yang mengharu biru, sehingga saya akhirnya tau jika

June 20, 2017

Narpati: Metamorfosis Kunderemp

June 20, 2017 11:17 PM

Dahulu, di situs lama, saya sempat menampilkan foto-foto perubahan dari tahun ke tahun.
Karena situs tersebut sudah menghilang,
sekarang saya menampilkan kembali perubahan wajahku dari tahun ke tahun.



Kelas 1 SD (1988)
Masih imut-imut, belum nakal.

Kelas 5 SD (1993)


Saya malah lupa, kenapa saya punya foto ini.

Kelas 6 SD (1994)
Badan saya menggemuk cukup drastis pasca sunat.

Kelas 2 SMU (1998)

 

Kelas 3 SMU (1999-2000)


 Foto yang kanan diambil awal tahun 2000.

Universitas Gadjah Mada (2000)



 Hanya dalam waktu 6 bulan, berat badan saya berkurang dari 60 kg menjadi 48 kg (turun 12 kg)

Universitas Indonesia (hmm.. 2003? 2004?)

Berat badan mulai normal lagi.

Setelah kembali dari Bali (hmm.. 2012? 2013?)


Foto Terakhir ( 2017 )



Narpati: Menanggapi Kicauan Felix Siauw Perkara Membaca Terjemahan

June 20, 2017 01:17 PM

Itikaf itu kesempatan memahami agama, saran saya coba ambil waktu pas itikaf, baca terjemahan Al-Quran sampai kelar, biar lebih paham :)
-- Felix Siauw, di Twitter 18 Juni 2017

Kicauan Felix Siauw itu menuai beberapa ejekan karena Felix Siauw menggunakan kata "terjemahan". Karena saya cenderung iba, saya terpancing untuk membelanya. Namun, baru saja mau bikin status Facebook membela kicauan Felix Siauw, lalu lihat kicauan 3 menit sebelumnya posting.
Langsung hapus status. Tak usah dibela ah.

Sebenarnya, kicauan Felix Siauw yang satu itu (tanggal 18 Juni) benar bila berdiri sendiri. Saya setuju ama saran beliau. Namun ternyata kicauan itu terkait kicauan 3 menit sebelumnya.

Tak ada yang salah dengan membaca AlQuran terjemahan dari awal sampai akhir. Setidaknya, bisa mendapatkan garis besar tentang agama Islam.

Yang salah adalah merasa sudah sangat memahami hanya dengan membaca terjemahannya belaka. Padahal, layaknya bahasa lain, Bahasa Arab pun memiliki pergeseran makna. Apalagi ketika sudah terserap ke dalam pergaulan di komunitas berbahasa non-Arab.

Kata "munafik" misalnya, dalam pergaulan sehari-hari di Indonesia, masyarakat biasanya membayangkan seseorang yang lain perkataan, lain di hati. Celakanya, orang yang menahan nafsu yang menggelora pun kadang dicela sebagai "munafik". Padahal sebenarnya tidak demikian arti kata munafik.

Nah, agak bahaya kalau hanya mengandalkan terjemahan sementara pengertian yang ada barulah pada tahap "pengertian awam".

Itulah gunanya tafsir, di mana ulama menjelaskan panjang kali lebar tiap kata, kadang diberikan contoh pemahaman Nabi dan para Sahabat.

June 19, 2017

Narpati: Kumpulan Kutipan Akhir Riwayat Raja Terakhir Majapahit

June 19, 2017 01:01 AM

Saya menolak mempercayai Majapahit menjadi Kerajaan Islam bahkan hingga di masa akhir di mana masyarakat Islam sudah cukup banyak di Kerajaan ini dan ada riwayat yang mengatakan Raja Majapahit terakhir beragama Islam.

Ada beberapa versi akhir riwayat Majapahit tetapi semuanya selalu sama:
1. Majapahit diserbu (entah penyerbunya Demak atau Kediri);
2. Raja Majapahit (Brawijaya V) belum beragama Islam saat penyerbuan.

Beberapa versi riwayatnya antara lain:
1. Raja Majapahit terakhir tewas dalam penyerbuan;
2. Raja Majapahit terakhir melarikan diri;
3. Raja Majapahit terakhir melarikan diri kemudian setelah dibujuk, pindah ke agama Islam;
4. Raja Majapahit terakhir memilih jalan moksha.

Tak ada satupun dari versi yang saya temukan menyebutkan semasa menjadi raja, Brawijaya V menjadi Islam walaupun ada anggota keluarganya yang sudah beragama Islam.

Berikut adalah kutipan-kutipan dari buku-buku dan artikel jurnal yang saya baca sepintas lalu, menghabiskan waktu saya selama 4 jam terakhir sia-sia. (oh iya, kutipan ini seenaknya saya potong karena terlalu panjang kalau saya kutip semuanya).


1. dalam membahas Sunan Tembayat, Arifuddin Ismail menyebutkan salah satu versi mengatakan Sunan Tembayat adalah Prabu Brawijaya V setelah runtuhnya Majapahit.

Mesti kedudukan Sunan Tembayat sebagai salah satu anggota Walisongo masih diperdebatkan tetapi statusnya sebagai seorang wali di tanah Jawa tidak diragukan lagi. Ia dikenal sebagai orang yang telah berjasa menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Tengah Bagian Selatan (Purwadi dan Maharsi, 2005: 63). Atas petunjuk Sunan Kalijaga, beliau meninggalkan Semarang menuju Jabalkat yang berada di Bayat demi memenuhi perintah sang guru.

Mengenai silsilah Sunan Tembayat ada banyak versi. Ada yang mengatakan beliau adalah Brawijaya V (penguasa terakhir Majapahit yang oleh banyak literature dikatakan moksa), ada yang mengatakan beliau adalah putera Brawijaya V. Selain terkait dengan Majapahit, adapula sumber yang mengatakan bahwa beliau adalah anak dari saudagar Timur Tengah yang bernama Abdullah (dan kemudian bergelar Sunan Pandan Arang I) yang meminta ijin kepada Sultan Demak untuk berdagang dan bertempat tinggal di Semarang (Harder dan de Jong 2001: 332). Nama Sunan Tembayat itu sendiri merupakan pemberian Sunan Kalijaga karena metode berdakwah yang digunakan oleh Sunan Tembayat adalah tembayatan (musyawarah).

Versi yang mengatakan bahwa Sunan Tembayat sebenarnya adalah Prabu Brawijaya V mengatakan bahwa setelah runtuhnya Majapahit Prabu Brawijaya V meninggalkan istana dan melakukan perjalanan ke Jawa hingga tibalah ia di Semarang. Di sana ia menikah dengan seorang puteri bangsawan yang kaya raya sehingga ia mewarisi harta yang melimpah ruah ketika mertuanya meninggal (Fox, 1991:29). Sedang berdasarkan Serat Sejarah Dalem karya Ki Padmasoesatro, Sunan Tembayat adalah putera Brawijaya V yang ke-94 yang bernama Raden Jaka Supana alias Raden Tembayat. 
.....

Sedang menurut serat Kandha Sunan Tembayat bukanlah putera Prabu Brawijaya V melainkan anak putera Brawijaya V, yakni Batara Katong, yang memiliki memiliki anak perempuan yang dinikahi oleh Sunan Tembayat

sumber: Ismail, Arifuddin. Ziarah ke Makam Wali: Fenomena Tradisional di Masa Modern.Jurnal Al-Qalam Vol 19, No 2. 2013. Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar,
http://www.jurnalalqalam.or.id/index.php/Alqalam/article/view/156/140


2. John Pemberton membahas Gunung Lawu sebagai salah satu tempat di mana konon Prabu Brawijaya V muksa dalam legenda.
There are two great geological foci of magical Power and Supernatural forces in south Central Java: Mt. Lawu, situated forty kilometres due east of Solo, and the south coast area of Parangtritis facing the Indian Ocean immediately south of Yogyakarta. The latter opens out into the oceanic realm of the Queen of the South (Ratu Kidul), the powerful spirit-queen who, as noted in earlier chapters, performed as spiritual consort and protectress of Central Javanese kings. The former is reckoned the site of the ascetic vanishing (muksa) of Majapahit's last king, Brawijaya V, and the realm  of the spirit-king Sunan Lawu. 
....
The entire area is crisscrossed with spiritual traces of political exiles, legendary ascetics, aspiring kings, and revolutionaries -- traces left, for example, by the late fifteenth-century Brawijaya V, Javano-Islamic ascetic heroes of the fifteenth and sixteenth centuries, Hamengkubuwana I and Mangkunagara I of the eighteenth century, and recent figures such as the Indonesian revolutionary General Sudirman.

sumber: Pemberton, John. On the Subject of Java. 1994. Cornell University Press


3. Dhurorudin Mashad menceritakan beberapa versi penyerbuan terhadap Majapahit. (Sayangnya banyak salah ketik di buku yang bersangkutan).

VERSI PERTAMA (I) menyebutkan Majapahit yang kala itu dipimpin oleh R. Kertabhui [sic] (Brawijaya V) diserang kerajaan Demak pimpinan Raden Patah, anak kandungnya sendiri dari seorang selir (putri) cina anak peranakan muslim yang bernama Kia[sic] Bantong atau Syekh Bantong). 
.... 
Kadipaten Demak pimpinan R. Patah membentuk Dewan Penasehat diberi nama Walisanga oleh Sunan Ampel(tahun 1474). Karena adipati Demak lama sekali tak menghadap ke Majapahit, adipati Terung (R. Kusen) ditugaskan raja untuk menjemput R. Patah menghadap Prabu Brawijaya  V/Raja Majapahit. Tapi Tapi Sultan Demak tidak mau karena ayahnya dianggap masih kafir. Bahkan sebagai antisipasi penghukuman dari Majapahit akibat pembangkangannya, R. Patah telah lebih dahulu mengumpulkan para bupati pesisir seperti Tuban, Madura, dan Surabaya serta para Sunan untuk bersama-sama menyerbu Majapahit. 
.... 
Dalam perang itu, tentara Majapahit berhasil dipukul mundur sampai ke ibukota, cuma rumah adipati Terung yang selamat karena ia memeluk Islam. Karena terdesak, Brawijaya V mengungsi ke (Tanjung) Sengguruh beserta keluarganya diiringi sang Patih. Akibat serangan dari puteranya sendiri di tahun 1399 Saka atau 1477 M ini Brawijaya V meloloskan diri bersama pengikut setia, sehingga ketika Raden Patah (termasuk para Sunan) tiba, istana sudah kosong.
....
Dengan dikawal Pasukan Bhayangkara dan beberapa kesatuan pasukan yang tersisa, Brawijaya V menyingkir ke arah timur, dan sementara tinggal di Blambangan. Adipati Blambangan, memperkuat barisan pasukan ini. Penduduk Blambangan juga sukarela ikut menggabungkan diri untuk melindungi Brawijaya V secara ekstra ketat. Selama di Blambangan, Prabhu Brawijaya terus terusik batinnya. Raden Patah, yang biasa beliau panggil dengan nama Patah ternyata tega melakukan pemberontakan. Sabdo Palon dan Naya Genggong menambahkan[sic] hati Sang Prabhu bahwa : Nasi sudah menjadi bubur, dan tidak patut disesali lagi.
Sementara itu, setelah dinobatkan menjadi Sultan Demak bergelar Panembahan Jinbun, adipati Bintara mengutus Lembu Peteng (saudara seayah R. Patah) dan Jaran Panoleh ke Sengguruh meminta sang Prabu agar masuk Islam. Menurut satu versi, beliau tetap menolak sehingga Sengguruh disebut dan Prabu Brawijaya V lari kepulau Bali. Namun versi lain yang lebih kuat menyebut R. Patah mengutus Sunan Kalijaga yang ternyata berhasil mengislamkan Brawijaya V. 
..... 
Adapun cerita VERSI KEDUA (II) menyebutkan fakta lain bahwa Majapahit runtuh diserang Girindrawardana (Kediri), bukan oleh Demak. Informasi bahwa Majapahit runtuh akibat serangan Demak, dapat ditelusur akibat kesalahpahaman semata. De Graf (juga Mohammad Yamin) mencatat bahwa nama Girindrawardhana yang menyerang Majapahit dan merebut kekuasaan Brawijaya V seringkali disalahpahami sebagai sosok yang sama dengan tokoh Sunan Giri, seorang ulama muslim anggota Walisanga. Pendapat serupa dikemukakan Muhammad Yamin, yang menyatakan bahwa nama "Giri" dalam beberapa babad yang menceritakan tentang keruntuhan Majapahit merupakan nama seorang penganut Hindu bernama: Girindrawardhana. Pengarang Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda (ditulis abad XVII) telah mencampuradukkan antara nama Girindrawardhana dan Sunan Giri. Padahal kedua tokoh itu sama sekali berbeda. Dari sinilah kesalahpahaman tersebut berlanjut, bahwa sampai pada pendapat bahwa Majapahit runtuh akibat serangan Demak.
Prof Dr. N.J. Krom dalam buku Javaansche Geschiedenis juga menolak anggapan bahwa penyerang Majapahit era Brawijaya V (Kertabhumi) adalah Demak. Menurut Krom serangan yang dianggap menewaskan Brawijaya V itu dilakukan oleh Girindrawardhana. Prof Moh. Yamin dalam buku Gajah Mada juga menjelaskan bahwa Kertabhumi/Brawijaya V tewas dalam keraton yang diserang Rama Wijaya (nama lain Girindrawadhana) dari Keling/Kediri. Sejak itu Majapahit telah berhenti sebagai ibukota kerajaan.

Sumber: Mashad, Dhurorudin. Muslim Bali: Mencari kembali Harmoni yang Hilang. 2014. Pustaka Al-Kautsar.

4. Nancy Florida, dalam meringkas Pustaka Raja Puwara menyebutkan Brawijaya V wafat.

Pustaka Raja Puwara: Sri Pamekas VI sumambet Babad Itih I, dumugi Sinuhun Ing Kalijaga
Author: Ronggawarsita, R Ng. (1802-1873)
Composed: Surakarta, mid 19th c. 
.... 
Having migrated to Java from Palembang, Raden Patah, the son of Brawijaya  and the Chinese princess is installed by his father as the adipati of Bintara (Demak). The wali grant him the title Senapati Jimbun, and with their support, he and his allies attack and defeat Majapahit (MS p. 180). Brawijaya escapes and flees to the west; he dies at Saparhuru to the south of Ardi Sewu. Senapati Jinbun finds his father's body and buries it in Demak. For forty days Sunan Giri Kadhaton (Sunan Giri II) reigns as (temporary) ruler of Demak. At the end of the forty-day period, the wali install Senapati Jimbun as the first Sultan of Demak with title Sultan Syah Alam Akbar.

Sumber: Florida, Nancy K. Javanese Literature in Surakarta Manuscripts vol 2: Manuscripts of The Mangkunagaran Palace. 2000. Cornell University.

5. Bagus Laksana, membahas tentang konsep Moksa dalam kisah akhir Brawijaya V dan dugaan bahwa kisah tersebut sengaja agar ada kesinambungan antara kekuasaan lama dan kekuasaan baru.

In other words, the last episode of Brawijaya's life is depicted both in term of Javano-Islamic mystical anthropology of sangkan paran as well as as in the Hindu understanding of moksa. It has to be recalled that the moksas of last Hindu-Buddhist kings of Java have been used by certain Javanese text as a way to assert the unbroken continuity between the dying dynasties and the upcoming ones. This is so because in this framework of moksa these kings did not die in the violent battle against the Muslim forces, but rather they disappeared and attained a spiritual height. Thus the idea of moksa evades the problem of radical and violent change, something that is culturally troubling for Javanese.
This principle of continuity, however, takes on another different form in Javanese account of Brawijaya, namely, through certain kind of conversion, understood not as a radical break with past, but rather as a deeper reconciliation and continuity. The accounts of Brawijaya V's conversion to Islam are known in Java, and, very interestingly and probably quite intentionally, are put next to the narratives of his moksa. As Rinkes has pointed out, the Javanese seem to see this conversion as continuity on account that "there is little difference between Hinduism in Java and the forms by which Islam found its acceptance, apart from terminology. In this framework, Brawijaya could have been a Muslim but still had an experience of moksa. Again, what is at stake in the various accounts of the last days of Brawijaya V is the idea of continuity with all its possible tensions and the ambiguities.

sumber: Laksana, Bagus. Muslim and Catholic Pilgrimage Practices: Explorations Through Java. 2014. Ashgate Publishing.

6. Terjemahan Babad Jaka Tingkir oleh Moelyono Sastronaryatmo

Selesai dan sempurnalah sudah segala puji-pujian kepada mereka, berikut diceritakan Babad Tanah Jawa. Dinamakan jaman Srikalaraja, cerita para ratu-ratu  diawali cerita sesudahnya. Ialah Prabu Dewaraja. Raja Majapahit yang terakhir, beliau bernama sang Prabu Brawijaya ke V, tatkala mudanya bernama Raden Alit. Konon Negara Majapahit berdiri sampai 100 tahun umurnya, beliau Prabu Brawijaya ke V yang bertakhta terakhir, merupakan turun ke tujuh dari Raja-Raja terdahulu yang menguasai negara Majapahit.
Prabu Suruh sebagai awal Raja di Negara Majapahit, setelah mangkat beliau diganti putranya bernama Sang Prabu Anom sebagai Raja Majapahit yang ke II, belum disebut Prabu Brawijaya. Setelah mangkat diganti putranya bergelar Sri Brawijaya ke I, kemudian putranya bergelar Brawijaya II sebagai penggantinya, setelah mangkat diganti lagi putranya.
Gelar Prabu Brawijaya III, diganti oleh putranya bergelar Brawijaya IV. Kemudian diganti oleh putranya bergelar pula Prabu Brawijaya V atau nama kecilnya Raden Alit. Beliau Prabu Brawijaya V adalah turun ke tujuh dari Raja-raja Majapahit terdahulu. Cerita yang berikut di bawah ini dimulai dari sesudah Negara Majapahit bedah, atau dimulai sesudah Prabu Brawijaya V (yang terakhir) meloloskan diri dari Kraton Majapahit (musna, muksa tak diketahui ke mana perginya, mati atau hidup).
Hilang dari manusapada (dunia) ini, beliau mempercepat dirinya kembali ke alam muksapada (muksapada lawan kata dari manusapada), tiada karena "mati", akan tetapi beliau musna beserta badannya. Beliau kembali ke jaman kesucian atau jaman kesempurnaan, sesungguhnya beliau Prabu Brawijaya V adalah manusia yang sempurna. Beliau adalah seorang yang sahid waskita tahu akan apa yang akan terjadi, tahu pula akan apa yang dinamakan mula dan akhir kehidupan di dunia ini. 
Beliau tiada was-was akan kehidupan di dunia ini, beliau hidup di dunia ini maupun beliau hidup pula di jaman kelanggengan (di alam baka maupun di alam fana). Sesungguhnya pula kehidupan di dunia kelanggengan itu, segala kemulyaan yang sesungguhnya ada di situ. Kalaupun dibandingkan dengan kehidupan kemulyaan yang ada di keraton di dunia ini bukan lagi menjadi bandingannya. Sang Prabu Brawijaya (V) muksa pada waktu itu diikuti oleh para punggawa negara yang sudah tahu pula akan kemuksaan. 
Mereka di antaranya Rakyan Mahapatih Gajahmada, para satriya, dan para bupati, para mantri dan para punggawa, para wadya bala Majapahit. Kesemuanya dapat turut bersama-sama muksa Sang Prabu Brawijaya kembali sempurna kejaman kelanggengan dikarenakan mereka pula telah putus akan "ilmu kelanggengan" (kemuksaan). Mereka tabu akan ilmu sejati, mereka tahu pula akan ilmu kasunyatan. Mereka pula turut serta mengiringkan Prabu Brawijaya (V) mencapai alam  muksa, namun bagi mereka yang 'bodoh' (belum menghayati arti kasunyatan hidup ini), tentu saja tak dapat mencapai alam muksa.

Tak ada bedanya dulu dan sekarang, manakala orang tak bertanya akan hakekat kehidupan kesunyatan ini, akhirnya pun akan sengsara menyesal di kelak kemudian harinya. Mereka adalah orang yang goblog pandir, bodoh tak tahu akan rahasia kehidupan manusia di dunia ini. Kenyataan akan ilmu kehidupan, merupakan ilmu yang utama yang membicarakan pengertian-pengertian bagaimana melepas diri ini, mencapai kebebasan dari panandang akhirnya ke alam kemuksaan atau kelepasan. Itulah akhir dari orang-orang yang goblog dan pandir celaka dirinya, lain pula dengan mereka orang-orang yang telah menghayati hakekat kehidupan nyata di dunia ini (ilmu kesempurnaan).
Mereka yang turut bersama-sama muksa dengan Prabu Brawijaya (V) sejumlah sepertiga punggawa Majapahit, namun mereka tergolong yang sudah lanjut usia saja. Adapun mereka yang tergolong masih muda-muda diperintahkan raja untuk tinggal di Negara Majapahit, maksud raja tak ada lain mereka diharapkan (ditugaskan) untuk meneruskan keturunan-keturunan. Mereka diperintahkan untuk tidak melawan kepada pendatang baru, mereka pula diperintahkan untuk masuk Agama Islam yang luhung itu. Namun kepada mereka kawula Majapahit yang telah menghayati akan keimanannya terhadap agama, tak ada bedanya mereka pun sebenarnya telah membawa pada dirinya iman Islam yang suci itu. "
Namun ada juga kebahagiaannya mereka yang diperintahkan oleh Prabu Brawijaya (V) untuk tinggal di Negara Majapahit itu, sebagai penganut Agama Buda mereka menerima menganut Agama Islam yang suci. Sesungguhnya Agama Islam yang luhung itu mulai masuk di Majapahit awal bedahnya kerajaan, dengan ditandai sengkalan 'Sirna Ilang Kertaning Bumi' atau Hilang musna ketentraman dunia" atau tahun 1400 A.J. (1478 A.D.), jaman berganti menginjak jaman Kalawijisaya.  
..... 
Amabakduana pon sawusing,
sampat paripurnaning pamudya,
kang winarneng panggalange,
lelagon kang ginelung,
pamugeling carita Jawi,
babading Tanah Jawa,
lelampahanipun,
para nata kang ginita,
wusing jaman Srikalaraja pepati,
Dewaraja semana.  
Jaman iku ingkang amekasi,
panjenenganira naranata,
Raden Alit duk timure,
jumeneng sang aprabu,
Erawjjaya ping gangsal nenggih,
ing nagri Majalengka,
jangkep satus tahun,
umuring ponang nagara,
turun sapta kang jumeneng narapati,
ing nagri Majalengka.

Wiwit prabu Suruh duk ing nguni,
sasedane ginantya ing putra,
Sang Prabu Anom namane,
pan kekalih puniku,
dereng nama Brawijaya Ji,
anulya putranira,
wiwit namanipun,
Sri Brawijaya kapisan,
putra nama Brawijaya kaping kalih,
nulya malih putranya.  
Nama Brawijaya kaping katri,
putranipun nama Brawijaya,
ingkang kaping sekawane,
Raden Alit puniku,
Brawijaya pingg limaneki,
jangkep ing tedhak sapta,
kuneng kang winuwus,
ing carita kang cinegat,
sabedhahe nagari ing Majapahit,
musnane Brawijaya.  
Lenyep saking manusapadeki,
apan sumengka mengawak braja,
minggah mring muksapadane,
datan kalawan lampus,
paripurna waluya jati,
ing jaman kasucian,
kasampurnanipun,
sang aprabu Brawijaya,
sampun putus patitising jatimurti,
waskitheng sangkan-paran.  
Datan samar kawuryaning urip,
urip trusing jaman kalanggengan,
pira-pira kamuktene,
ing karaton kang sestu,
sestu datan kena winilis,
pan tikel pira-pira,
lan duk meksihipun,
neng jaman nungsapada,
cinarita duk muksane Sribupati,
dinulur ing punggawa. 
Gajahmada Rakyan Mahapatih
lawan sagung bupati satriya,
punggawa para mantrine,
sawadya-kuswanipun,
ingkang sampun sami winasis,
putus ring kamuksan,
tan samar ing kawruh,
tinarimeng kasunyatan,
bisa milu ing muksane Sribupati,
kang bodho datan bisa.  
Nadya nguni sumilih ing mangkin,
yen wong tanpa ataki-takia,
kapataka ing temahe,
anelangsa ing pungkur,
kumprung pengung tan wrin ing wadi,
wadining widayaka,
nayakaning kawruh,
kawruh marng kalepasan,
praptaning don si bodho aneniwasi,
beda lan kang wus bisa.  
Watawise kang tumut sang aji,
sapratigan wadya Majalengka,
ingkang tuwa-tuwa bae,
kang anem kinen kantun,
amencarna wiji ing wuri,
kinen sami nungkula,
manjing Islam luhung,
kejawi kang sampun samya,
nungkul batin wus anggawa Islam suci,
samya anandhang iman.  
Nanging ana bekjane kang kari,
ingkang datan bisa milu muksa,
dene salin agamane,
kang tata Buda kupur,
sinalinan agama gusti,
sami anandhang iman,
Islam pan linuhung,
sirnaning kang tata Buda,
duk bedhahe nagari ing Majapahit,
semana sinengkalan.  
Sirna Ilang Pakartining Bumi,
duk semana sinalinan jaman,
Kalawijisaya alame

Sumber: Babad Jaka Tingkir, diterjemahkan tahun 1981 oleh Moelyono Sastronaryatmo.
http://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2014/04/Babad-Jaka-Tingkir-Moelyono-Sastronaryatmo.pdf

June 13, 2017

Cynthia: bahagia

June 13, 2017 12:02 PM

What do you have in mind when you heard that word?

Couple of nights ago, I have this conversation with my mom, since she seems to be upset all the time this past few days. She always get grumpy of all little matters that never be a problem before.

And I asked her this.

Mom, what happened?

She said, I want your dad to care about our family. I want your dad to be responsible, to have a job and an income!

Mom, why now? It never seem to be this big of problem. Heck, this is not a problem at all.

She said, I don't know. It's just that every time I saw his face, I get angrier all the time.

And I asked her this. Mom, what makes you happy?

She stared at me, and replied, I don't know.

Mom, you have to answer this.

I am happy if I have a responsible husband, she said.

No, mom. That is not a happiness. That is a wish. Happiness is inside you. What makes you happy, without any relation with any person other than yourself.

I said. Look at me mom. I'm happy now. I have a job that pissed me off everyday, but I am happy because I have a job. I have a nerve-wrecking family, but I am happy because I have one. I have bunch of loving friends whom I cared of. I don't have a husband, but I am happy because I've loved many of those candidates before. Tell me why I shouldn't be happy about it?

She stared at the ceiling as I continued mumbling words after words.

C'mon Mom. Let's define what makes you happy from inside, then we'll continue with that.

I am happy if I can pray without any disturbance.
I am happy if I can visit my friends and chat with them.

Long pause. Is that all Mom?

Actually I AM happy, she said. But his carelessness really makes me lose my temper, she said.

Mom, never put your happiness on someone else's shoulder.

She nodded silently.

Yeah, at least I know I made one less grumpy person yesterday as I saw her talking happily with my dad.

Mom, you are my world. I used to think that in order to make me happy, I have to make you happy. But I know better now, that in order to make you happy, I have to make me happy first. There are no unhappy person that can make other person happy.

June 11, 2017

Narpati: Correspondence between Don Rosa and I

June 11, 2017 08:31 PM



A decade ago, I bought Life and Time of Scrooge McDuck Companion by Don "Keno" Rosa, published by Gemstone Publishing. One of the story was The Cowboy Captain of Cutty Sark. While the story itself was very entertaining, I couldn't help but notice that Keno made a mistake in naming his character.

Inspired by Q&A in that book, I sent e-mail to advise him about the character name and ironically, it made me do a little research by myself.

My first email was sent on December 28, 2016:

Dear Keno,
I hope you still have this e-mail.

I'm your fans, even before knowing your name (Thanks to Surien, an employee of Gramedia Groups which published Donald Duck Comics in Indonesia.. She wrote an article about you in one of the magazines).

We, Indonesian Readers, have heard about "The Cowboy Captain of the Cutting Shark", the told of Scrooge McDuck's adventure in Java. Unfortunately the story have not been published yet in Indonesia.

Fortunately, I found illegal copies in internet a few months ago (but the sites had been taken down.. maybe Disney had suited the owner) and found "Life and Times of Scrooge McDuck Companion" in bookstores yesterday (and only one copy!).

Although you try to describe Java accurately, you still fail in some aspect.

Firstly, the most obvious mistake was the headband/headcover. We call it "blangkon" (you can find it in Google Images). If you want to repair it, you can do that by add some motives (we call it 'batik') in blangkon and ask the colorist to color 'blangkon' mostly in black or brown. It rarely colored in red.

Secondly, The name of Sultan Djokja was Hamengkubuwono. The current Sultan was Hamengkubuwono X and the Sultan in 1940s was Hamengkubuwono IX, then in the setting of your stories, it would be Hamengkubuwono VII or Hamengkubuwono VI (you should do more research). Mangkunegara was a duke in Solo and have nothing to do with Djokja.

But you were right describing rivalities between Djokja and Solo which still happened until now.. :lol:
My ex-girlfriend (now in Fairfield, Iowa.. sigh..) laugh when I showed her the story (the illegal copies found in Internet). She always proud of her trait from Solo. :p

Thirdly, Batavia is on the north, Krakatoa is on the the West of Java (not East of Java like a title of Hollywood movie) on Sunda trait, Madoera (Madura) is on the East of Java on Madura trait. Hence, if Sultan Solo went from Batavia to Madoera and Scrooge McDuck tried to after him, then they wouldn't pass Krakatoa. But most people won't realize the mistake.

Fourthly, you can write Madura instead of Madoera. It will be easily read by english reader (the "oe'" was old spelling, influenced by the Dutch, and pronounced as "u"). By the way, Karapan Sapi still exist today and of course, Sultan Djokja and Solo is not taking a part in the race. :p

Fifthly, Batavia was totally under Dutch Rule while both Sultan Djokja and Solo was limited to their town (Djokja and Solo was a city in Central Java -- nowadays Djokja was a province, separated from Central Java) while Batavia was a city on the north of West Java. I doubt one of them had a land or plain in Batavia in the past. Unfortunately, I cannot prove they didn't have.. :p

Six, although most of Javanese Muslim, the traditional rarely pronounced "Allah". They added "Gusti" (means Lord). Hence, instead of 
"Huh? What did you say? I can't hear anything since Allah yelled at me several minutes ago
you can add into:
"Huh? What did you say? I can't hear anything since Gusti Allah yelled at me several minutes ago "
It would be more sounding like Javanese. 


In the end,
regardless a few inaccuracies I found in the story, I enjoyed it! I really enjoy the fiction that 'car' was first build in Batavia (hey.. I live in Jakarta). Enjoy the fiction about traffic fine was first issued in Batavia.. woww.. :lol:

And you're right how Javanese (actually all people in Indonesia, Malaysia, Singapore) pronounced a two-adjective-noun word in reverse way.
longhorn = long (panjang) and horn (tanduk). But we will call them "tanduk panjang" which will be "hornlong" in english. :lol:


best regards,

Kunderemp Ratnawati Hardjito a.k.a
Narpati Wisjnu Ari Pradana
Jakarta, Indonesia.
And he responded quickly at the same day:


>>>> Firstly, the most obvious mistake was the headband/headcover. We call it "blangkon" (you can find it in Google Images). If you want to repair it, you can do that by add some motives (we call it 'batik') in blangkon and ask the colorist to color 'blangkon' mostly in black or brown. It rarely colored in red. 

I have virtually NO ability to tell the colorists even at the company I work for how to color my comics properly. And less ability than that to compel the colorists at all the other publishers around the world to color things as I wish.
I don't see anyone in the story with a headband, so you must mean the turban-type head covers? I can see they are drawn too tiny and wrinkled to show patterns, so I can see why I might have left such off even if I knew about it. But I can tell that I was looking carefully at some pictures to see how the turbans were wrapped properly -- I can see two distinctly different wrapping styles, and I recall copying all the costumes from photos of 1880's native costumes.


>>>> Secondly, The name of Sultan Djokja was Hamengkubuwono. The current Sultan was Hamengkubuwono X and the Sultan in 1940s was Hamengkubuwono IX, then in the setting of your stories, it would be Hamengkubuwono VII or Hamengkubuwono VI (you should do more research). Mangkunegara was a duke in Solo and have nothing to do with Djokja. 

Oh! I don't mind when people try to find errors in my work. In fact, I *like* it -- I certainly DO make errors and when I find out about them I can correct them in future editions. But PLEASE don't say I should do "more research"!!!!!!!! I already spend WEEKS of research on every story I do, all work that I do for only my own amusement and out of respect for the stories and the readers -- I get paid NO extra for all that additional work. And each story only shows you the very TIP of the "iceberg" of the research I've done since I end up using only about 2% of the reams of notes I make, most of which I never find a use for. In fact, that Java story may have involved more research than anything I've ever done short of my Templar treasure stories. It involved research into Java history and customs, volcano facts and Krakatoa history, and even contacting Dutch translators to help me write out newspaper headlines and background store names.
 I just went and found the notebook filled with hundreds of facts and notes that I wrote during my research for that story. I see that I got the names of the sultans, and their photos, from an 1890's traveler's memoir titled ON THE SUBJECT OF JAVA. I see that the book stated that during 1861-1892 the Sultan of Surakarta (Solo) was Pakubuwana IX. And during 1881-1896 the Sultan of Djokjakarta was Mangkunagara V. I see my notes say he was the "res. sultan in Batavia"... if that means "resident sultan" which is different than the main sultan, I don't know. I also am at the mercy of the correctness of the books I get my facts from. I personally don't know who was the Sultan of Djokja in 1882, but the book I got from the history library at the University of Louisville said it was Mangkunagara V. If that story is ever reprinted *again*, I will double-check that name. But it seems like you are not actually telling me that you know the name of the 1882 Sultan of Djokja. If you're IN Java, it's 10,000 times easier for YOU to find out that historical fact than it is for me. Can you please find a reference for me proving who was that 1882 sultan?
But PLEASE don't ever say I need to do "more research". 

>>>> Thirdly, Batavia is on the north, Krakatoa is on the the West of Java (not East of Java like a title of Hollywood movie) on Sunda trait, Madoera (Madura) is on the East of Java on Madura trait. Hence, if Sultan Solo went from Batavia to Madoera and Scrooge McDuck tried to after him, then they wouldn't pass Krakatoa.  
Of course, you are right. But my story obviously *needed* them to travel past Krakatoa. So that's the way they went. I can always think of several reasons why they did so that it wasn't worth mentioning in the story. Perhaps the sultan thought that prevailing winds would make it more difficult for a schooner to follow them in that direction. Perhaps they planned to make another stop on that side of Java that wasn't mentioned.


>>>> Fourthly, you can write Madura instead of Madoera. It will be easily read by english reader (the "oe'" was old spelling, influenced by the Dutch, and pronounced as "u").  

And I found that in 1882 it was commonly spelled as "Madoera" so that is what was important to me, not what spelling would be easier for a modern reader to pronounce.


>>>> Fifthly, Batavia was totally under Dutch Rule while both Sultan Djokja and Solo was limited to their town (Djokja and Solo was a city in Central Java -- nowadays Djokja was a province, separated from Central Java) while Batavia was a city on the north of West Java. I doubt one of them had a land or plain in Batavia in the past. 

What do you refer to here? "The King's Plain"? I don't know what translation of my story you are looking at, which is another *entirely different* problem! I have no control over how my stories are mis-translated around the world. "The King's Plain" was the large central city park in Batavia. My story did not say that it was land that belonged to one of the sultans. Apparently the translator of the version you read did not understand that "the King's Plain" was the name of a public park -- you mean he translated it as "the Sultan's land"? That was the mistake of the translator.
But wait -- you say you read this story in an American edition? So I don't know why you say that my story says that a sultan owned land in Batavia.


>>>> Six, although most of Javanese Muslim, the traditional rarely pronounced "Allah". They added "Gusti" (means Lord). 

Also in 1882? This would be rather difficult for me to have known. On the other hand, all of that dialogue would be "translated" for the reader from the original Javanese which was being spoken, so I'm not sure if an untranslated word like "Gusti" should be in that English version or not. But this is an interesting fact that I'll try to put into future reprints just to amaze another Java reader with my accuracy.
Thanks for writing! Virtually ALL readers assume that I'm simply making up all my history and authentic facts out of thin air like all the other writers & artists do. I am always pleased when someone notices the lengths I go to to TRY to get all my facts correct. I will check on the name of the 1882 Sultan of Djokja next time this story is reprinted by some publisher I have contact with.

After that, on the next day, I wrote

Dear Keno,

Yup.. You're right. It's easier for me to get the correct name.
My father have a list of Sultan Djokja.
(actually, even if my father didn't have it, I could asked my friend who lived in Djokja and got the name for you).

The Sultan of Djokja in 1883 was "Sultan Hamengkubuwono VII" and ruled between 1877 - 1921 and his real name (not important for comic, but for your curiousity) was Murtejo. 

(As I wrote before, the current Sultan of Djokja is Sultan Hamengkubuwono X and his real name was Herjuno Derpito)

Mangkunegara wasn't even lived in Djokja.  The traveler whose memoir you read probably had mistakenly thought Mangkunegara Palace was located in different city and concluded he was in Djokja.

I'm sorry for being rude.
I know it hard to had some history fact of my country, even in this internet-era.
(I used to edit some Javanese-history articles in wikipedia and I still feel the Javanese-related articles need to be edited).

Thanks for replying me..
Don't worry about the path of Sultan Solo's escaping, I didn't think about it in the first time I read. And you're right, you can explain it in many ways, so it is not important. (and I can't prove the Sultan of Solo [Pakubuwana IX] didn't experience Krakatoa... :smile: )

And relax,
by mentioning 'Batavia', 'Djokja', 'Solo', 'Pakubuwana', 'Mangkunegara', 'Karapan Sapi', and show  we know you had struggle to get facts for your story. (and one of my friends always humorously tell me) most of Indonesian doesn't know their own history.

And.. wow... you even drew a javanese rhinoceros with only-one-nose horn. If you were just ordinary comic-artist, you would probably drew the rhino with two-nose-horn.

Best regard,

Kunderemp Ratnawati Hardjito a.k.a
Narpati Wisjnu Ari Pradana
Jakarta, Indonesia.

However, Keno was not satisfied and asked again, on the same day.

>>>> The Sultan of Djokja in 1883 was "Sultan Hamengkubuwono VII" and ruled between 1877 - 1921  

I'm sure you are correct. But WHERE did this misinformation of the wrong name of "Mangkunagara V" AND wrong ruling date of "1881-1896" come from? Who is my "Mangkunagara V" and where and when did he rule, if he ruled anything?
(pause)
Okay.... I just plugged the name into Google and I found an entry that listed that name and ruling period under the heading of "Kerajaan Mangkunegara"... but I couldn't read any of the site's information (in Java-ese?). Can you tell me what "Kerajaan Mangkunegara" means? He was the Sultan of "Kerajaan"? Where is that?

And I answered in the same day

Dear Keno,

Kerajaan means "Kingdom". Raja means "King".
Kesultanan means "Sultanate". 
Keraton or Kraton means "Palace"
Pangeran means "Prince"

The structure of kingdom in Java after VOC came to Indonesia (added by some intrigue and strict protocol in Javanese history and culture) was a little bit confusing. 

Mangkunegara was an 'Adipati' and ruled 'Kadipaten Mangkunegaraan'. 
"Kadipaten" was (usually) an autonomous region inside a "Kerajaan" (Kingdom) but they had their own army.

I think we have to see the history of the first Sultan Solo, Sultan Djokja, and Mangkunegara to understand their relationship. 

Kesultanan SoloKesultanan Djokja, and Kadipaten Mangkunegaran was used to be a kingdom called Kesultanan Mataram. In 1755, after a war, it broke into two kingdom, Kesultanan Djokja (the first Sultan was Sri Sultan Hamengkubuwono I ) and Kasuhunan Solo (the first Sunan/Susuhunan/Sultan was Sri Susuhunan Pakubuwana III ).

Both Sultan and Sunan (Susuhunan) means the same thing and the same hierarchy. Kesultanan and Kasuhunan also means the same thing. 

In Solo or Surakarta case, both of them are interchangebly. Some people call the kingdom "Kesultanan Solo" or "Kesultanan Surakarta" while others call "Kasuhunan Surakarta" or "Kasunanan". Some people call the King of Solo as "Sultan Solo" while some others call "Susuhunan Solo" or "Sunan Solo". Note that "Kasuhunan" or "Kasunanan" only belong to Surakarta/Solo. Don't ask me why.. 

Back to the history,
Raden Mas Said or Pangeran Sambernyawa (the latter literally means "Prince of Soul Reaper"), a former ally of Hamengkubuwono I was unsatisfied with the division of Mataram. He attacked both Solo and Yogya. However, in 1757, he surrendered to Pakubuwono III, Sultan Solo. Then, witnessed by envoys from Hamengkubuwono I and VOC, his sovereignity was acknowledged by Pakubuwono III. 

However, Sultan Solo (and emissaries of Sultan Djokja and VOC) only acknowledge Pangeran Sambernyawa as Adipati which known as Mangkunegara I ( the complete title was Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I  or abbreviated as KGPAA Mangkunegara I ) and his territory was called Kadipaten Mangkunegaran. 

Theoretically, Mangkunegara sovereignity compared to Sultan Solo should be just like a governor to president. However, probably due to political reason and the weakening of Kesultanan Solo, sometimes the Dutch treat Adipati Mangkunegara as the third king of Java (the other two was Sultan Solo and Sultan Djokja). 

You can read the complete history in Wikipedia Articles, Mataram Sultanate under the section "Division of Mataram".

The Kadipaten Mangkunegaran on the east of Solo. ( Djokja was on the south of Solo). 

I attached a map of Mataram (Kesultanan Solo, Kesultanan Djokja, Kadipaten Mangkunegaran, Kadipaten Pakualaman [it was a different story]) in 1830 from Wikipedian in Indonesian Language's Article: Kadipaten Mangkunegaran. 

Note the 1830 was the year after Java-War and the territory of Dutch ( Indonesian: Belanda) was expanded while the territory of both sultanate (Solo and Djokja) was reduced. Please, remember what I wrote before, that Kraton Mangkunegara (Mangkunegara Palace) was located in Surakarta (Solo). 

In conclusion,
answering your questions:
Yup.. Mangkunegara V had territory called as Kadipaten Mangkunegaran. And he was a ruler with a title KGPAA (Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya).

Could his territory be called as Kerajaan (Kingdom)? 
Theoretically, it couldn't. 

Let me translate a paragraph from Wikipedian in Indonesian Language: Kadipaten Mangkunegaran:

Penguasa Mangkunegaran, berdasarkan perjanjian pembentukannya, berhak menyandang gelar Pangeran (secara formal disebutKangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya, mirip dengan Fürst di Eropa) tetapi tidak berhak menyandang gelar Sunan atau pun Sultan. Karena itu, penyebutannya sebagai kerajaan secara hukum tidak tepat.

The ruler of Mangkunegaran, according to the treaty which founded the region, had a right to assumed the title Pangeran/Prince ( formally called as Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya, similar with Fürst in Europe ) but should not assumed the title Sunan and/or Sultan. Hence, calling the region as kerajaan (kingdom) was inaccurate. 


But practically, since Mangkunegara (from Mangkunegara I) had his own army, had power to rule autonomous region almost as wide as Kesultanan Solo, and the Dutch itself sometimes treat Mangkunegara as the third king of Java, it can be understand why some people called it Kerajaan Mangkunegara (Kingdom of Mangkunegara). 

(I've just edited an article in Indonesian Language Wikipedia which contained list of King of Jawa [Daftar Raja-Raja Jawa] -- replacing Kerajaan Mangkunegara with Kadipaten Mangkunegaran )

Dear Keno,
I hope I didn't bore you with long history. I hope it can clear who Mangkunegara V was.



regards,
Kunderemp Ratnawati Hardjito a.k.a
Narpati Wisjnu Ari Pradana
PS: Do you know any mailing list about Duckburg fans which you can recommend to me?

And I also attached a map of Central Javanese at that time



And he answered

>>>> I hope I didn't bore you with long history. I hope it can clear who Mangkunegara V was. Yes, NOW I know who Mangkunegara V was! He was the guy who IMPERSONATED the Sultan of Djokja and got the two bulls that $crooge had promised to the real Sultan whom he had never met in person! The Sultan of Solo's people never said anything -- they had heard that $crooge had brought the bulls for the S of D, as you see the "emitter" saying, but when they saw Mangkunegara V trying to buy them, the S of S decided to also try to get them. Note that the S of S never refers to the other as the S of D -- he knew that's not who it was and he assumed $crooge also knew it.
YES! (Whew... that was tough!)

And I laughed when I read the reply. I know I would get this kind of reply because I read similar reply about the same topic on the book I bought.

So I finally ended our discussion.

I couldn't answer anything but.. :laugh on loud:
No wonder I always laugh when I read your comic.

Nice..
You found another way to answer my critics.. :lol:

Thx for replying..

Narpati W.A. Pradana

And
Yes, thank you, Don Rosa for replying my e-mail.

By the way, The Cowboy Captain of Cutty Sark was finally published in Indonesia years after the correspondence ( I believe somewhere about 2009-2011) and the name of both sultan was censored and replaced by "Sultan Wetan" (Sultan of the East) and "Sultan Kulon" (Sultan of the West).

June 10, 2017

Ramot: Makan Siang dengan Kucing

June 10, 2017 09:31 AM

Sebenarnya makan siang dengan kucing adalah hal yang biasa saya jalani. Toh di tempat saya bekerja, kami memelihara 3 kucing yang selalu santai di taman waktu jam makan siang. Namun siapa yang tidak tertarik mencoba pengalaman makan siang dengan kucing kesayangan di tempat nyaman. Jadi meluncurlah tim Rumah Steril bersama kucing masing-masing untuk ikutan fancy dining dari Fancy Feast.
wew ada tim Rumah Steril


Waktu acara ini saya jadi paham tentang Fancy Feast. Selama ini saya melihat Fancy Feast sebagai makanan basah biasa yang muncul dengan kemasan mungil. Ternyata bukan cuma sebatas itu saja. Fancy Feast memperhatikan tekstur makanan dan menyediakan beragam pilihan daging olahan sehingga kucing tidak bosan. Fancy Feast hadir bukan untuk menggantikan makanan sehari-hari kucing kesayangan, tapi sebagai alternatif selingan agar kucing tidak bosan.
Di acara ini juga ditunjukkan penyajian makanan basah yang menarik dan seringkali tidak disadari pemilik. Kucing sebenarnya bisa makan sayur asal dengan asupan terbatas. Selama protein lebih tinggi daripada sayuran, kucing tetap sehat karena apapun terjadi sayur mengandung serat yang baik juga untuk pencernaan kucing. Kuncinya ya tidak terlalu banyak

Sayangnya kucing kami terlalu malu untuk makan makanan yang disajikan, mau minta bungkus, sadar diri ini bukan pesta orang Batak. Baru setelah tiba di rumah, kucing-kucing tersebut makan Fancy Feast dengan lahap. Tadinya kami pikir cuma rasa tertentu yang disuka, ternyata setelah seminggu semua stok kaleng habis dan benar-benar dilahap tuntas sampai habis!
merayu untuk makan..
Nah foto-foto di atas adalah foto resmi dari Fancy Feast, kami sendiri merekam momen menarik tersebut dalam sebuah video singkat! Enjoy!


June 06, 2017

Narpati: Kenapa Ketuhanan di Urutan Terakhir Dalam Pidato Soekarno

June 06, 2017 06:12 AM

Kenapa Soekarno menaruh "Ketuhanan" di bagian terakhir dalam pidatonya? Kalau kalian membaca pidatonya secara utuh pasti mengerti bahwa penempatan ini bukan karena beliau meremehkan faktor "Tuhan" tetapi sebagai strategi karena topik ini paling kontroversial.

Salah satu strategi diskusi adalah menempatkan di awal topik yang lebih besar peluangnya untuk disepakati dan menempatkan di bagian akhir, topik yang paling memicu konflik. Karena itu, Bung Karno menempatkan "Kebangsaan" karena ia percaya semua yang hadir ingin menjadi bangsa baru, yakni Bangsa Indonesia (dan kelak menjelma menjadi "Persatuan Indonesia" setelah dikaji lebih lanjut). Setelah semua sila-sila itu dia bahas, barulah di bagian akhir ia tetap mengajukan "Ketuhanan" sebagai bagian dari dasar negara karena Bung Karno menyadari sifat religius bangsa ini.

Setelah BPUPKI menerima usul Bung Karno, barulah diwakili oleh tim kecil, mereka mengutak-atik urutannya, mengubah istilahnya agar lebih mudah diterima (misalnya "Internasionalisme" menjadi "Kemanusiaan") dan akhirnya tanggal 18 Agustus, jadilah Pancasila yang kita kenal sekarang. 

Jadi kalau ada seorang tokoh agama mengatakan dengan kata-kata kasar "Pancasila-nya Soekarno, ketuhanan ada di (maaf) pantat", saya rasa itu karena kurang pahamnya beliau tentang sejarah perdebatan Pancasila saat itu. Sejujurnya, menurut saya bukan sepenuhnya salah beliau, karena banyak generasi hasil cuci otak orde baru yang masih berpikiran sama walaupun tak menggunakan kata-kata sekasar itu.

Untuk kisah lahirnya Pancasila dari awal sidang (29 Mei 1945 -- bukan pidato Muhammad Yamin! )  hingga menjadi Pancasila yang kita kenal sekarang (18 Agustus 1945), silakan lihat yang dikisahkan Bung Hatta dalam memoarnya. Kutipannya bisa dibaca di http://tulisanhatta.blogspot.co.id/2017/06/lahirnya-pancasila-dikutip-dari-memoar.html?view=flipcard 

May 28, 2017

Narpati: Macam-Macam Cara Muslim Mengejawantahkan Islam dalam Politik

May 28, 2017 12:21 AM

Sesungguhnya, Islam tidak bisa dilepaskan dari politik. Setiap Muslim pasti menginginkan Islam ada dalam kehidupan politik. Yang berbeda adalah bagaimana tiap grup mengejawantahkan Islam dalam kehidupan politik.

Berdasarkan pengamatan seadanya yang sangat amatir,
saya membagi Muslim menjadi empat grup berdasarkan pandangan mereka terhadap hubungan antara Islam dan politik. Mari kita namakan mereka:
1. Etis
2. Adaptasi Sekuler
3. NKRI Bersyariah
4. Pandangan Satu Bumi

KELOMPOK ETIS
Kelompok ini mungkin paling banyak ditemui. Mereka berpendapat bahwa Rasulullah diturunkan tidak untuk menciptakan negara Islam melainkan sekedar pemberi peringatan. Mereka berpendapat, Islam tidak mendukung bentuk pemerintahan tertentu. Mereka percaya, sebaik apapun sistem pemerintahan, selama yang menjalankannya syetan maka sistem tersebut adalah sistem setan.

Jangan salah, walaupun sekilas mereka apolitis, sebenarnya mereka punya bayangan seperti apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah. Dalam pengajian-pengajian mereka pun, kadang ada pembahasan hukum-hukum agama. Hanya saja, fokus mereka bukanlah membentuk pemerintah seperti apa yang mereka inginkan melainkan mendidik masyarakat. Mereka percaya, dengan masyarakat yang islami, niscaya pemerintahan pun akan islami.

Contoh kelompok ini adalah para generasi muda NU yang moderat. Ada juga sesepuh NU yang juga dikenal moderat. Ada juga sesepuh Muhammadiyah yang tampaknya termasuk golongan ini. Biasanya, jangankan kaum Muslim, non-Muslim pun terkadang membagikan pendapat mereka.

Di sisi lain, contoh kelompok lain yang tergolong kelompok etis adalah kelompok Salafi yang terkenal keras. Walau demikian, mereka berpendapat negara Islam bukanlah tujuan dakwah. Jangankan menggulingkan pemerintahan yang sah, menyuarakan protes melalui demonstrasi saja tak disukai mereka. Walau begitu, ternyata tak semua kelompok Salafi masuk kelompok etis melainkan tergabung dalam kelompok lain.


ADAPTASI SEKULER
Sama seperti kelompok etis, kelompok ini percaya bahwa Islam tidak mendukung bentuk pemerintahan tertentu. Walau begitu, kelompok ini percaya bahwa ada petunjuk-petunjuk dalam Islam, bagaimana sifat-sifat pemerintahan yang Islami. Ada juga yang berpendapat bahwa negara Islam yang murni tidak praktis dibentuk di negara yang penduduknya bervariasi sehingga haruslah dilakukan kompromi dengan kelompok non-muslim, memasukkan nilai-nilai Islam yang bersifat universal tanpa harus membawa label Islam.

Kelompok ini biasanya memiliki profesi-profesi sekuler dan memanfaatkan pengetahuan-pengetahuan sekuler yang mereka percayai dekat dengan Islam.

Umumnya, kelompok ini berpandangan sosialis karena ada petunjuk-petunjuk Rasulullah melakukan inspeksi pasar dan mendidik masyarakat Madinah dan kebijakan ini dilanjutkan oleh Khalifah selanjutnya seperti Umar ibn Khattab. Selain itu juga ada petunjuk bagaimana Rasulullah dan penguasa penggantinya mengusahakan sumber daya untuk kepentingan bersama.

Dalam sejarah Indonesia, contoh kelompok ini antara lain Haji Misbach yang berhaluan komunis dan Haji Mohammad Hatta yang berhaluan Sosial Demokrat.


NKRI BERSYARIAH
Kelompok ini mungkin adalah kelompok paling menonjol. Dalam sejarah, kelompok ini merupakan salah satu pembentuk Republik Indonesia. Bahkan pertentangan antara kelompok ini dengan kelompok nasionalis-sekuler adalah penyebab Bung Karno berpidato di tanggal 1 Juni untuk menyatukannya. Sejak di Bandung, sebenarnya Bung Karno sudah mengenal kelompok ini, antara lain Natsir dan gurunya, A. Hassan. Ketika beliau dibuang di Ende, Bung Karno sempat berbalas surat, berdiskusi tentang islam dengan A. Hassan.

Di masa orde lama, kelompok ini berada dalam satu partai politik, Masyumi sebelum akhirnya pecah menjadi Nahdlatul Ulama. Selain itu, di luar partai, juga ada ormas seperti Persis yang juga berpandangan sama. Walau begitu, ada juga pengaruh-pengaruh kelompok ini seperti pembentukan Pengadilan Agama dan Kompilasi Hukum Islam.

Di masa orde baru, bisa dibilang kelompok ini tak terlalu aktif di bidang politik walaupun ada Partai Persatuan Pembangunan. Walau begitu, kelompok ini aktif dalam dakwah, di antaranya melalui DDII.

Di masa reformasi, tidak ada satu partai tunggal yang benar-benar menegaskan posisinya sebagai kelompok ini walau ada dua partai Islam, Partai Bulan Bintang dan Partai Keadilan Sosial, yang kader-kadernya dikenal sebagai kelompok ini. Selain itu, ternyata kader-kader dari partai sekuler seperti Golkar, ada juga yang termasuk bagian dari kelompok ini.

Penerapan syariah Islam di Aceh dan otonomi daerah, membuat kelompok ini kini bisa memperjuangan syariat Islam di tingkat daerah tanpa harus memaksakan diri bertarung di tingkat nasional. Walau demikian, ada beberapa penerapan hukum Islam yang cukup kontroversial seperti penerapan hukuman syariah terhadap non-muslim atau penerapan syarat khas muslim terhadap jabatan tertentu.

Yang perlu dicatat adalah, kelompok ini tidak akan bisa menggolkan peraturan syariat mereka tanpa adanya dukungan masyarakat yang memilih mereka.


PANDANGAN SATU BUMI
Kelompok ini merasa nasionalisme adalah berhala di abad modern. Mereka letih melihat kaum muslim terpecah belah, berperang hanya karena menjadi warga dari negara yang berbeda padahal ironisnya, tak jarang warga dari dua negara yang berbeda itu adalah sesama muslim. Karena itu, mereka menganggap nasonalisme dan demokrasi adalah taghut yang harus diperangi, dan mencita-citakan satu negara Islam di muka bumi di mana semua muslim adalah warga dari negara baru itu.

Ada dua macam kelompok ini,
Yang satu menghalalkan kekerasan pada para pendukung negara-negara berbasis nasionalisme. Biasanya kelompok ini sudah melakukan takfir terlebih dahulu sehingga menurut mereka tak ada dosa membunuh sesama muslim yang menghambakan diri pada berhala nasionalisme.

Kelompok satu lebih suka memfokuskan diri pada kajian-kajian walau di masa lalu konon mereka terlibat pada upaya percobaan kudeta namun saya pribadi masih harus lebih lanjut meneliti klaim ini.

May 14, 2017

Narpati: [Bukan Review] Genius episode 4

May 14, 2017 10:33 PM

Mileva Maric adalah masa produktif Einstein. Pertama kali dahulu melihat foto Mileva Maric, saya sempat "naksir" dan melihat bahwa dia adalah murid terpintar saat ujian masuk di kelasnya Einstein, makin naksir pula. Tetapi entah kenapa jarang sekali dibahas padahal Einstein sangat produktif ketika ia menikah dengan Mileva Maric.

Nah,
Genius episode 2 hingga 4 ini menampilkan banyak sisi Mileva. Mau tak mau penonton diajak bersimpati dengannya. Bukan sekedar cantik dan cerdas, Mileva juga melalui perjuangan berat untuk masuk ke kelas di Zurich Polytechnic. Bahkan ternyata di antara orang Eropa pun, kebangsaan Mileva (Serbia.. yang juga bagian dari bangsa Slavic) dianggap sebagai bangsa paling rendah. Bahkan keluarga Einstein pun tidak suka pada Mileva.

Sementara melihat masa-masa produktif Einstein berada di saat pernikahan dengan Mileva, tak pelak ada rasa curiga bahwa Mileva ini punya peran dalam tulisan Einstein. Sayangnya, Einstein tidak pernah menyebutkan satupun peran Mileva bahkan dalam surat-surat diskusinya dengan teman-temannya.

Daaaan....
Di episode 4 ini, masa ketika Einstein sangat produktif, di saat sama ia digambarkan sebagai sosok bajingan yang memanfaatkan istrinya tanpa pernah membelanya di depan keluarganya, atau memujinya di depan teman-temannya.

Bisa dibilang, episode 4 ini adalah episode Genius paling emosional.

Untunglah istri saya sudah tidur sehingga saya menonton episode ini sendirian. Bisa habis badan saya dicubiti seandainya saya menonton bersamanya.

Sayangnya, episode ini bukan episode tanpa cela.
Episode ini sama sekali mengabaikan eksperimen Michelson-Morley padahal percobaan tersebut gagal membuktikan keberadaan ether (yang sering disebut Einstein dalam Genius episode 1,2, dan 3) dan kegagalan itu punya pengaruh cukup besar untuk mempengaruhi Einstein berani merombak posisi bahwa waktu mungkin tidak semutlak yang diperkirakan.

Demi dramatisasi, alih-alih menampilkan kegagalan eksperimen Michelson-Morley, episode 4 ini lebih menyorot sisi keluarga Winterler di mana sang kepala keluarga, Jost Winteler, yang sedang berduka menjadi inspirasi Einstein untuk teori relativitasnya.

Nah,
demi dramatisasi pula, tapi yang ini saya suka,
episode 4 menampilkan Marie Sklodowska dan suaminya, Pierre. Untuk menunjukkan kejamnya Einstein kepada sang istri, episode ini menampilkan bagaimana si Pierre menolak penghargaan nobel kecuali istrinya, Marie, juga disebutkan. Yup, Pasangan Pierre - Marie Curie.

Episode ini ditutup dengan kertas dengan formula yang terkenal: E = mc kuadrat.

May 02, 2017

Narpati: May Day Hanya di Negara Dunia ke-3 ?

May 02, 2017 06:22 AM

"May day hanya terjadi di negara dunia ke 3 yang diusung oleh konsep komunis-sosialis." -- seorang kawan sambil berbagi video pembuatan kondom menggunakan mesin.

Pertama,
May Day tidak hanya terjadi di negara dunia ke-3. Di negara maju seperti Amerika Serikat pun ada walaupun sebenarnya untuk negara Amrik karena sejarahnya agak beda, dirayakan bukan tanggal 1 Mei tetapi hari Senin pertama di Bulan September.

Kedua, salah satu hasil kerjaan serikat buruh adalah pembatasan waktu 8 jam bekerja. Sebelumnya, jam kerja itu bisa sampai 15 jam. Mungkin sebaiknya engkau belajar-belajar lagi deh contoh keberhasilan tuntutan buruh dari abad 19 hingga sekarang.

Ketiga,
kalau kamu doyan nonton film Hollywood atau nonton TV serial produksi Hollywood dan kamu mengikuti berita-berita tentang mereka, kau pasti tahu seberapa kuat serikat pekerja hollywood (macam SAG atau Screen Writer Guild) hingga mereka beberapa kali melakukan mogok kerja.

Apakah tuntutan para serikat pekerja Hollywood membuat kualitas film dan serial TV Hollywood menjadi sangat buruk dibandingkan kualitas film dan serial TV negara lain? Tidak!

Beda dengan di Indonesia, di mana para buruh-buruh sinetron (termasuk aktor-aktris) ditekan oleh para pemilik modal tanpa ada posisi tawar yang kuat. Apakah ketiadaan serikat pekerja yang kuat di dunia sinetron Indonesia menjadikan sinetron Indonesia lebih baik? Tidak!

Eh,
tapi kan dengan mahalnya buruh di negara maju, perusahaan-perusahaan melempar pekerjaan ke negara-negara ketiga macam India, RRT, dan tentu saja Indonesia. Bukannya berarti serikat buruh di sana memperparah keadaan di negara sana?

Sebenarnya, tindakan outsourcing untuk menekan produksi itu merugikan negara asal dan negara tenaga kerja. Dari sisi negara asal, jelas lahan pekerjaan menjadi berkurang. Dari sisi negara tenaga kerja, mereka bersaing dengan negara lain tanpa jaminan kecuali kontrak.

Bila sumber tenaga kerja kurang cerdas dalam membuat kontrak, bisa terjadi kasus seperti di balik layar Life of Pi di mana filmnya sangat laris, produser film sangat untung, tetapi perusahan kecil yang mengerjakannya bangkrut.

Balik ke topik,
kalau kamu sinis ama serikat-serikat buruh tetapi kamu masih doyan nonton film Hollywood, doyan nonton serial-serial TV Hollywood, sebaiknya mulai hapus file-file film-mu, bakar koleksi-koleksi Blu-Ray, DVD, dan VCD-mu, dan blokir situs-situs nonton streaming.

~RacauanGakJelasPagiPagi

May 01, 2017

Narpati: Perubahan Suara Warga Jakarta Dari Pemilihan Presiden 2014 ke Pilkada DKI Jakarta 2017 (berbasis web bukan yang sudah diresmikan lewat rapat KPU)

May 01, 2017 02:24 PM



Pada tahun 2014, PDIP mengajukan Joko Widodo menjadi Calon Presiden. Warga DKI Jakarta termasuk kelompok garis keras menyadari bahwa jika Joko Widodo menjadi Presiden maka DKI-1 adalah seorang Tionghoa non-Muslim. Jadi tak heran di tahun itu juga ada kampanye-kampanye rasis dan agama.

Walau dengan kepungan kampanye-kampanye berbau SARA, di Pilpres 2014, lebih banyak warga Jakarta merelakan Joko Widodo menjadi presiden yang juga berarti rela membiarkan Basuki menjadi Gubernur Jakarta.

Bagaimana perubahan suara antara Pilpres 2014 dengan Pilkada DKI Jakarta 2017?

Ternyata, partisipasi orang yang datang ke TPS cukup meningkat kecuali Kepulauan Seribu yang jumlah pemilihnya berkurang sekitar 795 orang.

Jumlah golput aktif (datang ke TPS untuk sengaja membuat tidak sah) juga meningkat kecuali Jakarta Pusat yang menurun (dan itu hanya 37 suara).

Di semua kotamadya (plus kabupaten Kepulauan Seribu), terjadi penurunan jumlah orang yang rela Basuki memimpin Jakarta. Dan sebaliknya, terjadi kenaikan pemilih lawan Basuki (menunjukkan secara aktif tidak rela Basuki memimpin Jakarta).

Yang menarik, di Jakarta Pusat, Jakarta Utara dan Jakarta Barat yang tadinya didominasi oleh orang-orang yang rela dipimpin Basuki berubah menjadi didominasi orang-orang yang tidak rela dipimpin Basuki dan ketiga kotamadya tadi menyumbang sekitar 49% suara.

Tampaknya yang menjadi kunci adalah Jakarta Barat, yang persentase kenaikan orang yang tidak rela dipimpin Basuki paling banyak dan di saat yang sama menyumbang suara yang cukup banyak.

Sementara, jumlah kenaikan golput aktif paling banyak terjadi di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

Sekedar catatan,
tidak memperhitungkan jumlah pemilih baru (yang baru mencapai usia 17 tahun di saat pilkada) atau jumlah penduduk yang baru pindah ke Jakarta atau juga jumlah warga yang meninggal atau pindah ke luar Jakarta.

Saya mungkin juga salah cara menghitung persentasenya.

Ngomong2, ini juga data ada yang tidak akurat karena setelah data di web, data yang lebih akurat adalah yang sudah melalui rembug di berbagai tahap rapat-rapat KPU. 

April 22, 2017

Tya: Life is full of surprises

April 22, 2017 09:07 PM

Life is full of surprises...
Ketika suatu malam aku kesel nangis karena ngerasa gagal kerjain ulangan MTK pas SMP kelas 3 (iyaa saya emang gila belajar duluuuu), tau2 aku ternyata dapat nilai tertinggi dan cuma salah 1 aja. Haha padahal semalam nangis sampe robek2 kertas gitu 😁

Life is full of surprises...
Ketika tiba2 suatu ketika di dalam kelas, seorang guru marah kepadaku dengan kata2 yang sangat menyakitkan.
Surprise banget.
Karena beberapa menit sebelumnya beliau masih senyum menyapa aku yang lagi meringkuk di kursi meja karena lagi kram haid.
Surprise banget.
Karena beliau menuduhku melakukan suatu hal yang sama sekali gak aku lakukan. Hanya karena beliau sering terbolak balik antara aku dan seorang teman.
Kejadian itu membuat aku tahu aku punya sahabat2 yang peduli yang siap membela aku.
Kejadian itu juga membuat beberapa guru datang ke aku dan bilang bahwa percaya bukan aku yang melakukan.
Kejadian itu juga membuat aku pertama kali dengan tegap berani menghadap beliau untuk menjelaskan bahwa bukan aku pelakunya.
Dan kejadian itu membuat aku untuk pertama kalinya nangis sesenggukan di depan bapak saat pulang ke rumah.
Dan mendapatkan nasihat pertama kali dari bapak untuk mendoakan orang yang berbuat zalim kepadaku.
Yes karena aku jarang banget bicara dari hati ke hati dengan bapak.
Aku hampir gak pernah curhat.
Tapi saat itu karena aku bener2 down sampai menangis semalaman.

Life is full of surprises
Ketika teman2 menerima undangan pernikahanku dengan seseorang yang tidak mereka kenal sama sekali.
Sedangkan mereka berfikir aku akan menikah dengan X atau Y atau Z
Surprise juga bagi keluarga besarku, karna untuk pertama kalinya ada anak yang menikah dengan seseorang yang baru ketemu 2x.
Dan surprise juga dengan diriku sendiri ketika aku mempersilahkan 'si dia' untuk datang aja ke rumah kalau memang serius.
Sedangkan sebelumnya aku menolak seseorang dengan alasan 'apaan siii... belum terlalu lama kenal jugaa'.
Dan akhirnya setelah proses lamaran penuh drama karena keluarga suami telat datang dari Bandung, Alhamdulillah kami menikah dan tahun ini tahun ke 8 bagi kami.

Life is fully of surprises,
Ketika belum sampai sebulan aku kerja di suatu PT dekat rumah, aku diminta mengundurkan diri karena skill ku gak akan dipake lagi. Padahal sesaat sebelum aku masuk kerja, suamiku juga resign krn mau mulai bisnis.
Akhirnya kami berdua jobless...

Then life is fully of many surprises...
Di tengah keterpurukan tersebut,
Aku hamil anak ke-2
Amazing ya cara Allah mengatur hidup hamba2Nya...
Benar2 di luar rencana kami.
Tapi nyatanya Allah memampukan kami melewati semuanya sampai kami meyakini betul firman Allah bahwa
'bersama kesulitan ada kemudahan'
'Allah tidak akan memberi beban diluar kemampuan hambaNya'

Dan kemudian tentu hadir kembali banyak kejutan2.
Baik menyenangkan menurut kami, atau menyedihkan.
Berupa kesulitan berupa kemudahan dll...
Berupa pertemuan maupun perpisahan..
Berupa kehidupan maupun kematian...

Termasuk kejutan ketika aku hamil anak ke3 tepat setelah aku memutuskan untuk kembali ngantor.

Termasuk kejutan ketika seorang Pinky tiba2 menulis pesan perpisahan di group WA kantor kami.
Padahal 1 jam sebelumnya aku masih nanya2 ttg suatu hal yg berhubungan dengan HR.
Dan kabar itu bener2 buat saya shock, sampai saya jadi melakukan apa yg disebut TimeLost.

But it's life..
Ada yang datang ada yang pergi.
Persis ketika Upin Ipin sedih ketika ditinggalkan cikgu Jasmin.

Dan sebegitu takutnya dengan kehadiran cikgu baru. Namun ternyata UI dapat cikgu yang sama baiknya yaitu cikgu Melati. Hahahaha referensinya UI terus yaaaa...tontonan tiap hari soale 😂

Dan kemudian bumi akan terus berputar terhadap porosnya (rotasi)
Dan berputar mengelilingi matahari (revolusi)
#pelajaranIPA 😗

Dan kita pun terus harus berjalan terus ke depan mengemban amanah kita sebagai khalifah di muka bumi.
Sampai pada titik Tuhan mengizinkan untuk berhenti dan melaporkan kembali kepada Sang Pencipta akan apa yang kita lakukan di muka bumi.

Tentu selayaknya kita ingin mendapatkan penilaian baik dari bos, customer, orangtua, mertua dll,
Kita juga ingin mendapatkan penilaian baik dari Sang Pencipta.

Jadi, mari nikmati semua kejutan2 kehidupan ini.
Sambil kita terus mengumpulkan laporan2 kebaikan kita untuk Sang Pencipta.

Demikian.
Semoga bermangpaat 😊😊

posted from Bloggeroid

April 20, 2017

Narpati: Mengapa Basuki Kalah

April 20, 2017 04:19 AM

"Penderitaan keagamaan, pada saat yang sama merupakan ungkapan penderitaan nyata dan sekaligus juga protes melawan penderitaan nyata tersebut. Agama adalah keluh kesahnya makhluk yang tertindas,sanubarinya dunia yang tidak punya sanubari, karena itu agama merupakan roh dari suatu keadaan yang tak memiliki roh sama sekali. Agama adalah opioid (pereda rasa sakit semu) rakyat." -- Karl Marx tahun 1843, 20 tahun lebih sebelum nulis Das Kapital.

[catatan, opium di masa Karl Marx digunakan sebagai obat pereda rasa sakit]

Kalimat terakhirnya memang cukup kontroversial tetapi tak bisa disangkal, banyak kasus protes pemakaian simbol agama sebenarnya memiliki dasar nyata. Dalam satu semester terakhir kita melihat ungkapan-ungkapan terminologi agama bertebaran untuk me-liyan-kan orang seperti 'kafir' dan 'munafik'. Tak heran, yang diserang pun mencap para penyerangnya sebagai anti-keragaman tanpa melihat lebih lanjut apa yang ada di balik simbol-simbol itu.

Basuki Tjahaja Purnama adalah seorang politikus.
Sehebat-hebatnya para nabi palsu buzzer membungkus karakternya bagaikan kaum Saduki membungkus para raja-raja Yahudi dengan citra-citra agamis dan suci, tak bisa dielakkan adalah Basuki adalah seorang politikus.

Untuk para pecinta Basuki, ia adalah seorang "lesser evil" (penjahat yang mudaratnya lebih kecil) tetapi untuk penentang Basuki, ia adalah seorang "greater evil" (penjahat yang mudaratnya lebih besar daripada lawannya).

Basuki bukan sekedar politikus plin-plan [1] dan ingkar janji[2], tetapi dia tidak hormat pada kehakiman[3], pro-pengembang kaya alias tidak menghukum orang-orang kaya yang melanggar hukum [4], tidak transparan dalam pengelolaan keuangan [5].

Jadi ketika ditemukan Basuki mengomentari tafsir surat al-Maidah ayat 51, menuding yang menggunakannya sebagai pembohong padahal guru-guru agama banyak yang mempercayai demikian, maka lengkaplah sudah alasan menarik kegelisahan mereka ke arah topik keagamaan.

Mereka, kaum-kaum tertindas ini, bukanlah kaum ekonomi menengah ke atas yang pandai berdebat, memilih kata-kata, menulis status panjang-panjang menganalisis kebijakan, atau membuat kuliah twitter berseri. Karena itu, jargon-jargon agama lebih mudah digunakan. Basuki adalah kafir, Basuki menista agama, yang intinya satu: Basuki adalah sosok yang tidak peduli pada mereka bahkan mengancam mereka.

Kaum menengah ke atas mungkin menganggap pilkada adalah pesta demokrasi tetapi kaum menengah ke bawah menganggap pilkada adalah kesempatan menggoyang kesombongan Basuki setelah sebelumnya ia berulang kali mengabaikan putusan pengadilan. Ya, buat mereka, Pilkada Jakarta adalah perang.

Itu sebabnya, orang-orang yang dekat dengan mereka tetapi ngotot kampanye Basuki, mereka labeli sebagai sosok "munafik", sosok musuh dalam selimut yang merusak perjuangan mereka menjatuhkan Basuki, sosok yang tidak punya rasa solidaritas.

Namun, simbol-simbol agama, jargon-jargon agama adalah sesuatu yang berbahaya. Terjebak bermain simbol agama, mereka dapat lupa untuk apa pertama kali mereka pertama tak suka pada sang Gubernur Jenderal.

Sejarah membuktikan, ketika sebuah kaum berhasil lepas dari sebuah penindasan, mereka acap kali bingung, apa langkah selanjutnya dan kemudian terjebak pada nabi-nabi palsu. Kaum Musa, setelah lepas dari penjajahan Mesir, terjebak pada rayuan Samiri. Orang-orang Arab, pasca wafatnya Nabi Muhammad, sebagian tergoda pada nabi-nabi palsu macam Musailamah. Orang-orang Prancis, lepas dari feodalisme Louis XVI malah terjebak dalam teror Robespierre dan kelak jatuh kembali pada kediktatoran Napoleon.

Maka,
para pemilih Anies sekarang harus mulai introspeksi, merenung, apakah mereka baru saja menggantikan seorang diktator dengan diktator lainnya.
Mereka harus melepaskan segala atribut pengidolaan, penghambaan, pemberhalaan terhadap Anies. Mereka harus bergabung pada saudara-saudara mereka yang tidak memilih Anies, mengakui mereka sebagai sesama warga Jakarta.

Anies dan Sandi adalah politikus yang juga rentan untuk berbuat zalim.
Ini bukan sekedar Anies dan Sandi mungkin tidak menepati janji tentang program-program macam kemudahan kredit rumah atau program-program muluk lainnya tetapi mereka juga mungkin ingkar janji tentang penggusuran dan segala hal yang dibenci dari masa Basuki.

Jangan sampai, ketika kelak mereka melanggar janji,
tiba-tiba nabi-nabi palsu baru mencap pengkritik sesembahan mereka sebagai anti-agama, ateis, kafir, komunis, dan semacamnya.

PS: Status ini ditulis dengan asumsi hasil pilkada nanti sama seperti hasil QuickCount.
[1] Basuki berubah posisi dari pro-Prona di masa wagub menjadi anti-Prona di masa gubernur

[2] Basuki berjanji tidak menggusur Pasar Ikan dan Bukit Duri. Basuki berjanji menghentikan 6 ruas jalan tol.

[3] Basuki melakukan penggusuran saat pengadilan masih berlangsung. Basuki juga tidak menghormati putusan-putusan pengadilan yang menempatkannya pada posisi kalah.

[4] Basuki walau tahu beberapa pengembang Kelapa Gading merancang drainase-nya dengan kacau dan menyebabkan banjir, bukannya menindak, malah membantu mereka dengan membuatkan pompa. Basuki juga tidak merobohkan bangunan-bangunan tanpa IMB di Pulau D padahal sudah melewati proses peneguran berkali-kali.

[5] diskresi-diskresi penggunaan CSR tanpa audit tetapi hanya appraisal setelah proyek selesai, ini dikritik oleh ketua KPK saat ini dan mantan wakil ketua KPK

April 18, 2017

Tya: Cuti ==== hibernasi

April 18, 2017 02:01 PM

Yes hari ini saya ambil cuti lho...
Bukaan bukan karena jalan jalan long weekend ..
Tapii saya cuma mau tiddurrr yang buaaanyaaaaaaaak
Parah ya banyaknya hahaha

Karena kalau weekend kan ibu yg ngasuh anak2 libur juga...
Jadi gak mungkin saya bisa tidur berkuantitas pas weekend.
Malah rasanya jauh lebih capek.
Bedanya gak dikejar waktu aja...
Sedangkan kalau malam, krn Salman juga masih suka bangun2, jadi gak puas juga tidurnya...

Duuh duuh ngomongin tidur mulu..
Sebegitu capeknya apa emang hidup hehe

Kalau saya bilang iya saya capek banget.. dianggap keluhan gak ya?
Faktanya 2-3 bulan ini emang ngedrop banget.
Bulan feb lalu saya kembali kena infeksi parah di kaki karena eczema.
Habis itu sembuh, batuk2 yg tadinya saya biarin malah jadi parah+flu+sinusitis dll sampe sebulan..
Dan setelah itu urtikaria yg udah lama gak nongol tau2 nongol aja lagi dan itu bener2 ganggu kehidupan normal saya.
Sampe2 saya harus minum anti histamin yang seriously bikin nguantuuuk berattt

Iya iya saya harus ke dokter utk ini.
Tapi saya harus puasa minum obat selama seminggu kalau mau skin test...
Dan itu berat banget...

Ya daripada terus2an minum obat... Apalagi masih menyusui.
Yes i know.. ini udah coba perlahan2 ditahan2 gk minum obat..yang tadinya 2 hari sekali. Ini bisa 4 hari baru minum lagi... Karena kalau lagi parah2 nya ya gak bisa tidur.. krn guatalll
Dan memang jauh lebih parah pas malam kaan...
Ya daripada gak tidur samsek ya minum aja obatnya..

Nah jadiinya saya mutusin cuti hari ini.. cuma mau perpanjang istirahat saya.

Karena rasanya selama ini saya sudah terlalu lama jadi MOMBIE

Kalau lihat foto ini, jadi paham kan kenapa saya suka banget kopiii haha



Jadi saya pikir saya butuh setidaknya satuu hari aja dimana saya bisa tidur siang tanpa ada yang ganggu...

Karena salman ada yg jaga, jadi saya bisa tidur dg tenang.

Meskipun notifikasi WA gk berenti2 dari pagi... Hwaaaaaa...

Ah sudahlah....
Setelah pagi penuh 'drama' dengan Sayyid..
Akhirnya jam 9 pagi tadi tidur bangun stg 11.
Keluar sebentar sampai jam jemput sayyid.
Terus setelah pumping ASI, tidur lagi jam 3 sampai stg 5.

Dan skrg saya sedang siap2 mau tidur ya...

So...
Selamat tidurrr..
posted from Bloggeroid

April 16, 2017

Tya: Hari tuaku akan seperti apa ya?

April 16, 2017 10:21 PM

Bismillahirrahmaanirrahiim

Menjelang usia 32 tahun lusa besok...
Banyak sekali renungan2 yang saya lakukan...
gak bener2 merenung sii... karena biasanya saya mikirnya selama perjalanan dari rumah ke kantor
atau menjelang tidur
atau lagi ngambek sama suami
atau lagi 'bengong' di kamar mandi haha
setelah sholat mungkin? hampir gak pernah :(
bisa sholat tepat waktu aja udah prestasi banget rasanya...
karena 'hampir' gak pernah bisa saholat dengan tenang ...

tuh kan jadi ngalor ngidul dulu pembukaannya :D
Berikut sejumlah renungan yang saya renungi *apalah ini bahasanya*
- Apa arti bahagia?
- Apa arti dari ibadah.
- Tentang kematian.
- Tentang perceraian
- Tentang hari tua

Dan hari ini setelah membaca status-nya Ust. Adriano Rusfi
Saya tergelitik untuk bahas tentang hari tua...

Beliau bilang begini kira2...
Saat usia sudah di atas 50 tahun, sudah banyak warning tentang makanan, kesehatan, diet ini itu dll
Bagaimana dengan orang2 seperti beliau yang memilih untuk menjadikan usia tuanya sebagai masa puncak paling produktif.
Sebegitu rentanyakah masa tua itu?

Nah dulu itu saya sering mendengar kalimat2 semacam...
Kalau sudah tua nanti, tinggal ongkang2 kaki aja...
banyakin ibadah .. mupuk pahala untuk bekal di akhirat...
Dan ibadah yang dimaksud di sini adalah ibadah vertikal saja...

Sedangkan, setelah saya lihat dosen2 saya dulu di kampus...
di usia yang tidak muda lagi... mengabdi pada universitas...
bukan dosen matakuliah yang mudah2.. tapi semacam Matematika Diskrit, programing dll
Dan I see they all are very happy persons...
Mereka benar2 memanfaatkan usia mereka untuk menebar manfaat...

Atau lihat client freelance saya pribadi...
beliau anggap aku dan suami udah kayak anak sendiri...
Usianya udah gak muda lagi... di atas 60 mungkin...
tapi... bawa mobil kemana2 sendiri..
kalau janjian meeting beliau yaang palign semangat dan sangat berusaha on time...
Dan beliau happy.. happy banget jalanin usia pensiun nya...
Beliau benar2 mau menebar manfaat di usianya...

Dan sering juga lihat blogger2 usia tua yang masih aktif menulis
Menebar manfaat melalui tulisan...

Atau pernah lihat serial Upin Ipin saat episode Upin Ipin diminta anterin makanan ke tempat kerjanya Opa di penadahan getah karet? Saat itu cerita utamanya UI itu minta dibeliin mobil remot... (skip detailnya ya)
Tapi saat itu Opa bilang ke UI bahwa Opa kerja itu bukan karena UI terlalu banyak minta
tapi Opa kerja karena Opa senang kerja...
karena dengan kerja Opa bisa bertemu teman2, bersenda gurau, diskusi, dan yang paling penting Opa jadi merasa sehat :)


http://upindanipin.com.my/v7/images/char/sg/img_9_opah.png
Subhanallah

Dan bukankah Rasulullah bersabda
"Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni). "

yakan yakaaan?

Jadi ibadah vertikal tentu harus diperbaiki kualitas dan kuantitasnya
tapi menurut saya apa yang kita lakukan untuk menebar manfaat, itupun bernilai Ibadah.

Terus jadi apa rencana saya di hari tua nanti??
Saya berharap masih bisa bekerja...
Jadi programmer sampe nenek2 kali ya hahahaha

Wallahu'alam si masa tua saya seperti apa
Yang jelas saya masih bisa menebar manfaat dengan ilmu yang saya miliki saat ini dan masa depan nanti...
Saya mau jadi manusia yang bersemangat sampai hari tua nanti

Yang jelas ada satu komen mantap dari Ust Aad di status yang sama di atas
"Yang penting, semakin banyak yang dinikmati, harus semakin banyak kontribusi.

Sakit adalah ketika kita banyak menikmati tapi sedikit menghasilkan manfaat"

Jadi seimbangkan apa yang masuk (melalui makanan) dan yang keluar (aktifitas menebar manfaat)
Demikian tulisan serius malam ini

Selamat menebar manfaat :)



Narpati: [Bukan Review] - Kartini

April 16, 2017 11:36 AM




Pemeran: Dian Sastro, Deddy Sutomo, Djenar Maesa Ayu
Sutradara: Hanung Bramantyo
Produser: Robert Ronny

Kartini: Kyai, adakah ayat AlQuran tentang ilmu ?
Kyai Sholeh: Iqra bismirabbika -lladzi khalaq ...

Itu adalah cuplikan dialog dari film Kartini versi terbaru buatan Hanung.
Di akhir abad 19, hiruk pikuk teriakan pembaharuan Islam yang dimulai di Timur Tengah sana belum masuk besar-besaran ke Pulau Jawa. Muhammad Darwis belum mendirikan Muhammadiyah apalagi Aisyiyah. Agus Salim, belum nekad membuka tabir laki-laki dan perempuan. Semua keberanian itu baru terjadi di awal abad 20. Kartini sendiri, melalui Kyai Sholeh Darat, mengerti bahwa Islam tidak memasung perempuan seperti yang dipercaya orang-orang Jawa di masanya, tetapi ia hanya mampu meminta sang kyai untuk menyelesaikan terjemahan AlQuran. Namun, ketika masa hidupnya, Kartini belum bisa mengandalkan Islam sebagai zeitgeist dalam menentang feodalisme patriarkal.


Tak heran Kartini akhirnya lebih dekat dengan orang-orang Belanda di masanya. Sejumlah penulis Belanda mempertanyakan struktur masyarakat yang dipegang di masa itu. Eduard Douwes Dekker misalnya, menulis fiksi Pelelangan Kopi Perusahaan Dagang Belanda (atau dikenal sebagai Max Havelaar) tahun 1860 yang menggugat abainya Pemerintah Kolonial Belanda pada kezaliman yang terjadi di Banten. Cecile de Jong, menulis novel Hilda van Suylenburg di tahun 1897, yang menjadikan tokohnya, seorang wanita menjadi pengacara. Mina Kruseman, mengritik tulisan Alexandre Dumas di tahun 1872 tentang hubungan pria-wanita.

Di awal 1890, dengan perubahan iklim politik di Belanda, politik etis mulai dijalankan di Hindia Belanda. Tentu saja tak semua Belanda punya niat tulus membantu rakyat jajahannya. Ada yang sekedar membutuhkannya untuk meraih kedudukan politik. Apapun motivasinya, Kartini memanfaatkan iklim tersebut untuk melakukan perubahan.

Kartini versi Hanung, bukanlah Kartini yang hanya perduli pada nasibnya, yang hanya menjerit nasibnya melalui surat-surat pribadi. Tidak. Hanung menampilkan Kartini sebagai sosok yang terinspirasi sosok Hilda, pembela kebenaran walau berjenis kelamin, dari novel yang ditinggalkan sang kakak, Sosrokartono. Menit demi menit, penonton disajikan usaha Kartini mengubah sistem feodal patriarkal, dari mempengaruhi kedua adiknya, menulis untuk dimuat dalam sebuah jurnal ilmu sosial tentang Asia Tenggara, hingga meningkatkan taraf kehidupan rakyat kabupatennya. Dahsyatnya, semua itu dilakukannya dalam tekanan kakak-kakak laki-lakinya serta ibu tirinya.

Musuh Kartini bukan hanya kakak-kakak dan ibu tirinya tetapi sistem feodal patriarkal. Sang ayah yang mendukung kegiatan Kartini dan adik-adiknya harus bertahan menghadapi serangan dari bupati-bupati lainnya. Beliau pun tak bisa mencegah ketika bangsawan lain menagih janji pernikahan adik Kartini dengan putranya.

Di tengah-tengah kemelut inilah, Kartini mencari jaringan pertemanan yang lebih luas seperti korespondensi surat dengan Stella. Ia pun juga mencari jalan melarikan diri dari kepungan tradisi melalui permohonan beasiswa sekolah ke Belanda, berharap menyusul sang kakak Sosrokartono.

Hanung Bramantyo, sudah tidak asing dengan genre sejarah biopik. Ini adalah film biografi ketiga yang ia buat setelah Ahmad Dahlan dan Soekarno. Kepiawaiannya memilih kru yang cermat menyiapkan properti untuk menciptakan ulang situasi zaman dahulu sudah tidak perlu diragukan lagi. Sepanjang film, kita melihat bagaimana ia mencoba menghindari penampakan jalan aspal dan sebaliknya, jalan berlandaskan pasir. Tentu saja, ada bagian yang tampak seperti anakronis tetapi jumlahnya cukup kecil.

Tentu saja, sebagai film, selalu ada kreativitas seorang sutradara. Kartini, misalnya, digambarkan biasa bermain panjat-panjatan dengan adiknya. Hanung juga tidak mau terkungkung dalam penggambaran "Kartini menulis surat", sehingga alih-alih menampilkan pena menari di atas kertas, ia memilih menggunakan imajinasi Kartini bertemu dan berdialog langsung penerima suratnya.



Ada hal menarik di akhir cerita ketika Kartini memberi syarat-syarat sebelum ia bersedia dinikahi. "Saya mengharuskan calon suami saya untuk membantu saya mendirikan sekolah buat perempuan dan orang miskin".

Untuk Hanung,
Kartini bukan sekedar pahlawan emansipasi wanita tetapi juga pahlawan pendidikan yang perduli pada orang-orang miskin.

April 07, 2017

JePe: That's Actually Not Mediocre

April 07, 2017 01:38 PM


What if All I Want is a Mediocre Life?

What if I all I want is a small, slow, simple life? What if I am most happy in the space of in between? Where calm lives. What if I am mediocre and choose to be at peace with that? Photo courtesy of Erin Loechner The world is such a noisy place.


A friend of mine shared this on her Facebook post. It was a nice post written using controversial text as a title. Well, at least we were interested to read it. I especially wanted to know on why the author made such claim.

First of all, as a Christian, there is no reason for mediocrity and it is not acceptable. You are enforced by Jesus to be an example. What kind of mediocrity that acceptable?

Second, the author still talks her faith. She still wanting to help others around her. But, she wanted to do that in a quiet life without exaggeration.

This article actually not talking of being mediocre. Its content actually talks about doing things wonderfully with moderate expectation. The author actually not a mediocre, she just strategically manage her expectation. In doing so, she hopes to find the new optimize from her local set.

Just like genetic algorithm on endless data, you may not be able to look for the most top solution. You could find the most maximum at the local subset (local optima).

As MTV used to campaign, "think globally, act locally." She still want to make her life meaningful for others. It's just that she manage her expectation by not doing things aggressively campaigning for the grand scale. She knows her boundary and chooses to make an optimal life based on that.

She just want to tell people that it is alright with the way you are. Don't be someone else. But, no, there is no mediocrity on it. In fact, that's what the Bible tell people to do.

He who is faithful in what is least is faithful also in much; and he who is unjust in what is least is unjust also in much.

Luke 6:10, NKJV

Yes, every one of us is trying to be a better human. We are trying to improve. To be a mediocre is to give up on that. But, ambitious attempt in searching global optimum might delude one's life into misery. One must try to find the extraordinary from the ordinary.


March 20, 2017

Tya: A childhood stories: Me vs Sayyid

March 20, 2017 10:27 AM

Sebelumnya pagi ini,
Sayyid pulang main langsung ke kamar.
Saya tahu Sayyid lagi ngambek...

Gak perlu tanya kenapa, karena saya sudah tahu penyebabnya,
Dan benar gak lama teman2nya sekitar 6 apa 7 (lupa) datang ke rumah manggil Sayyid.

Akhirnya sayyid cerita sambil sesenggukan, kalau sayyid ikutin temen2nya naik sepeda dengan jalan kaki. Karena sepeda sayyid rusak padahal baru juga dibenerin gak sampe sebulan udah rusak lagi. Bannya nempel gitu.

Ini foto pas sepedanya baru dibenerin hehe



Nah lanjut ke cerita sayyid, kenapa nangis? Karena Sayyid ditinggal sama temen2nya duluan. Yaiyalaah temen2nya naik sepeda, dia lari juga gak bakal kekejar.

Terus temen2nya datang mau ngapain?
Minta maaf.. so sweet banget siiih...

Terus aku tawarin solusi dibonceng, tapi gak ada yang bisa. Akhirnya temennya bilang, minjem sepeda X aja yuk.
Yaudah aku bilang, minta izin dulu gih sama Ibunya. Terus temen2nya ngajak keluar utk minjemin sepeda.
Sampai sekarang belum pulang, mudah2an happy ending :)

Seneng lihat sayyid banyak temen main di rumah. Meskipun dengan lika liku yang kadang menguras hati, tapi ini yang sejujurnya buat saya masih maju mundur mau jual rumah dan pindah.

Karena memang dulu harapan saya punya rumah yang akan membuat sayyid banyak temen.

Ini seperti balas dendam pribadi, karena saya waktu kecil gak ada teman main di rumah, selain teman sekolah yang itupun jaraknya gak deket juga.

Terlebih lagi karena beda wilayah.
Rumahku bisa dibilang di kampung, meskipun pas di samping komplek, sedangkan teman terdekat ya di komplek.
Perbedaan wilayah ini bisa dibilang beda status sosial juga.
Ini yang bikin aku juga suka minder.

Bisa dibilang aku gak punya apa yang mereka punya.
Saat teman2 sudah punya sepeda, aku gak punya. Dan cukup senang ketika teman nyamperin ke rumah dan ajak aku boncengan, meskipun ujung2nya mereka berantem krn gak mau gantian bonceng aku. Dan aku? Si pendiam ini? Ya diam saja sampai dianterin balik ke rumah.

Saat teman2 asyik2 main sepatu roda, aku cukup lihat dari balik jendela, karena sampai aku lihat harga sepatu roda sudah turun, orangtuaku tetep gak sanggup beliin.

Entah sejak kapan ya aku paham aja, kalau sulit untuk minta beliin apa2 yang lagi trend saat itu.

Jadi gak pernah maksa2 juga, sampe dewasa pun bisa dibilang aku jarang banget minta beliin yang gak penting2 amat.

Bahkan untuk yang penting pun kayak buku, kalau aku masih bisa minjem temen atau perpustakaan ya gak minta beli juga.

Kami memang saat itu ya hidup berkecukupan aja. Prinsip mama bapak yang penting bisa makan bisa sekolah.
Dan Alhamdulillah, saya gak tahu gimana cara mama bapak mendidik kami, ya kami 5 bersaudara gak terlalu banyak menuntut ini itu juga.

Dan alhamdulillah dari keterbatasan tersebut, kami ber-5 bisa mengenyam pendidikan sampai universitas.

Cuma mungkin ada 1 moment yang melekat banget di ingatan saya, ketika kecil menjelang lebaran, bapak pernah tulis surat terbuka ke anak2nya di balik kalendar. Yang intinya minta maaf karena tahun tersebut bapak gak bisa beliin baju lebaran.

Padahal buat aku, baju lebaran itu penting banget karena aku bisa punya baju sendiri, bukan lungsuran dari kakakku. Hehe. Karena aku punya 2 kakak perempuan, jadi biasanya ya baju yang aku pake ya bekas kakak aja :D

Nah karena kondisi macam tersebut plus yang emang dasarnya saya pendiam dan introvert, jadi gak punya banyak temen dan gak pandai bergaul juga.

Tapi efek baiknya, saya saat itu ya mandiri aja, terbiasa main sendiri, jadi gak terlalu bergantung sama teman juga.

Sedangkan Sayyid, udah stress banget kalau lagi gakda teman,
Kalau ada kesempatan yang pas, ya saya ajak main. Sekedar cerita ini itu, main domikado, dll yant bisa menyalurkan ke-"cerewet"-an Sayyid.

Atau kalau mood nya lagi bagus ya main mainan sendiri, tapi kalau lagi ada adiknya yang susah, ujung2nya berantem rebutan mainan.

Dan efek lainnya, sayyid suka ikut arus.
Kalau yang baik ya gapapa, tapi kalau sudah ada yang gak sesuai dengan prinsip kami, ya tentu saya beritahu bahwa tidak semua yang dilakukan teman, harus diikutin. Sayyid harus jadi diri sendiri, jadi contoh yang baik, blablabla

Wallahu'alam deh...
Dengan segala keterbatasan saya sebagai seorang Ibu, saya hanya berharap Allah memampukan saya dan suami untuk mendidik anak2 kami menjadi anak sholeh.

Demikian cerita hari ini, kapan2 dilanjut.

Ohya, sepeda sayyid akhirnya dibenerin tetangga depan. Alhamdulillah :)

posted from Bloggeroid

March 17, 2017

Tya: That insecure feeling

March 17, 2017 08:36 PM

Apaan sik? Udah emak2 bacanya webtoon gyahahaha
Karena gak kesampean baca novel, terus baca status temen ttg webtoon langsung deh nyamperin, eh ternyata lumayan ada hiburan gratis. Eh gak gratis juga sii.. nyedot kuota banget pastinya hahaha

Tapi ini ada suatu komik judulnya Pasutri Gaje.
Lihat dari skrinsyut di bawah ini, ngerti kan maksudnya. Buat emak2 pasti paham.



Yappp.. that insecure feeling.
Could be happen to every wife.
Mau baru nikah kek atau udah punya anak 3 kayak saya,
Perasaan itu suka hadir...

Perasaan kayak... "Istri macam apa saya ini... Blablabla..."
"Aku dah gak cantik lagi ya?"
"Aku istri yang nyebelin ya?"
Apalagi kalau dulu sang suami punya masa lalu, mulai deh dibanding2in dengan masa lalu tersebut.

Intinya mulai nangis bawang merah sampe nangis darah #halaah

Apalagi di tengah berita perceraian yang acapkali muncul, berita perselingkuhan, sampai berita poligami... Whoaaaa pusing gak siii..

Seorang kawan pernah bilang salah satu alasan beliau bekerja adalah, "duuh mbak... XYZ aja yang udah nikah lama, punya banyak anak terus akhirnya poligami"

Intinya saat itu beliau merasa insecure, dan akhirnya jaga2 kalau pada akhirnya pernikahannya harus berakhir krn suami akhirnya selingkuh atau apa.

Terus saya sendiri pernahkah merasa insecure seperti itu? Merasa kehilangan kepercayaan diri sebagai istri dll?
Pernahlah..
Karena saya pun wanita, apalagi kalau lg PMS beeuuuh nano2 rasanya.

Terus penyebabnya apa selain pms? Adalah... Sepanjang hampir 8 tahun nikah tentu mengalami banyak sekali kerikil2 mulai kecil sampai besar. Eh yang besar mah batu yaa #halaah

Apalagi kami menikah tanpa melalui proses pacaran. Baru sekali ketemu, sang yayang udah berani ngajuin diri, mungkin karena saya dulu cakep banget #bwakakakak

Terus gimana?
Awalnya saya pendem aja...
Tapi saya pikir, "he should be know. I am his wife!"
Yaaa saya ceritain ke suami blak2an apa yang saya rasain,
Bukan cuma untuk mengeluh, tapi memang untuk cari solusi.
Bagaimanapun pernikahan itu kan bukan cuma kehidupan bersama sebentar, tapiii insyaAllah seumur hidup.
Kalau salah satu merasa gak nyaman, pasti gak enak banget tho...

Jadi saya sampaikan apa adanya ke suami, kemudian mengalirlah segalanya, yang intinya buat saya lega sudah cerita, dan suamipun jadi lebih paham dengan saya. Yang pada akhirnya perasaan insecure tersebut berangsur2 lenyap...

Jadi, the point is KOMUNIKASI.

Menurut saya komunikasi adalah hal yang paling penting dari sebuah pernikahan selain komitmen, dan ilmu.

Sebegitu banyaknya pernikahan yang hancur, karena sulitnya komunikasi antara suami istri
Ujung2nya bercerai karena alasan "sudah tidak ada kecocokan lagi"

Memang komunikasi bukan hal yang mudah, makanya ada jurusannya sendiri tuh di Universitas "Ilmu Komunikasi"
Betul kaan?

Udah segini dulu bahasan sok seriusnya,
Cuman supaya gak terlalu merasa bersalah kebanyakan baca webtoon wkwkwk

Semoga yang sudah menikah dan mau menikah ditambahkan ilmunya untuk mencapai keluarga sakinah mawaddah warahmah. Aamiin :)
posted from Bloggeroid

March 16, 2017

JePe: Unpublished Posts

March 16, 2017 08:40 AM

I'm not abandoning this site. There are many articles I've written since the last article that still unpublished. The nature of those articles were about rants. The problem is that all of my articles containing comments about religion.

Should I release them all?

I don't want to anger anyone. This site was only here to release my stress. So, I wrote anything in my mind at the moment.

Oh, well, there are 120 articles left unpublished. Still undecided.

March 07, 2017

Narpati: Kajian Fiqih Kelompok Gerilya

March 07, 2017 06:08 PM

Si fulan di media massa selalu bilang, "saya bukan teroris".
Begitu juga ketika fulan diwawancarai di acara talkshow di media mainstream selalu bilang, "saya bukan teroris". Fulan juga akan fasih mengutip kode-kode etika perang untuk menunjukkan bahwa ia tidak terkait dengan kelompok teror yang baru melakukan aksinya.

Namun ternyata di media-media internal teroris jaringan baru, di blog-blog internalnya, diam-diam ada tulisan perdebatan di mana ada bunyi si fulan meyakinkan kawan-kawan lamanya untuk bergabung dengan kelompok baru walaupun mereka masih ragu untuk bergabung dengan jaringan baru.

Sebelum saya membaca media-media internal tadi, awalnya saya berprasangka baik dengan si Fulan. Saya cuma menganggap si fulan sekedar garis keras lalu ada orang yang mendengar ceramahnya, terinspirasi dan memutuskan melakukan tindakan kekerasan walaupun tidak disetujui si fulan. Membaca surat-surat si Fulan di media internal ini, saya berubah posisi.

Oh iya,
pernah membaca kajian fiqih para kelompok terselubung ini?
Mereka berargumen dengan halus, mengutip sana-sini untuk menunjukkan "kedalaman" ilmunya, dan lalu akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa tindakan mereka bisa dibenarkan.

Saya beri contoh konkrit cara penggiringan untuk menyetujui pendapat mereka, yakni tentang perbudakan wanita-wanita Yazidi.

Kalau mereka ditanya, apakah memperbudak wanita non-muslim itu boleh? Mereka akan fasih menunjukkan dalil-dalil bahwa ahli dzimmi harus dilindungi. Untuk berbicara di depan umum, kepada orang-orang awam, mereka akan menggunakan wajah seperti itu. Maka orang awam pun akan merasa tenang, ah... mereka bukan dari golongan nganu.

Namun ketika dalam kajian internal mereka,
mereka akan mulai membahas tentang keyakinan suku Yazidi.
Mereka akan mengutip sumber-sumber lain yang senada dengan tuduhan mereka tentang kesesatan suku Yazidi.
Mereka akan mengeluarkan dalil mengapa keyakinan Yazidi tidak bisa disamakan dengan ahli-kitab.

Dan akhirnya, mereka akan menunjukkan argumen kebaikan dari perbudakan sebagai alternatif dari jizyah atau eksekusi. Akhirnya, seseorang yang sudah melewati tahap-tahap pendidikan mereka akan sampai pada kesimpulan bahwa perbudakan wanita di masa modern bisa dibenarkan.

Nah,
saya terdengar seperti Bigot bin Muslimfobia sekarang. :D

Intinya, jangan langsung berprasangka baik pada "ulama" kontroversial hanya berlandaskan ucapannya yang bahkan baru diucapkan setelah ia dituding sebagai pro-kelompok kekerasan. Perhatikan juga rekam jejaknya.

Pernyataan membela diri seperti ini, "Apakah pernah Negara Islam membunuh orang tak bersalah? Tidak! Yang ada adalah Negara anti-Islam yang membunuh orang yang tak bersalah karena dalam Quran  membunuh orang tak bersalah muslim atau non-muslim maka ia membunuh umat manusia", adalah pernyataan yang sebenarnya bersayap. Bisa jadi, karena dalam kajian internalnya, ia dengan mudah membelokkan kembali pada kawan-kawannya mengatakan, "tetapi yang dibunuh adalah orang-orang yang melakukan kesalahan, kekejaman pada saudara-saudara kita".

Sebelum menerima pernyataan ini,
lihat lagi rekam jejak pernyataan-pernyataan mereka sebelumnya. Seberapa konsistenkah tokoh tersebut dengan pernyataan barunya. Ketika kalian dapati rekam jejaknya cukup konsisten, maka bolehlah kalian percayai dia.

February 21, 2017

Tya: Banjir hari ini... Masih manusia kah kita!?

February 21, 2017 09:15 PM

Lagi rame bahaa banjir Jakarta..
Eh padahal terjadi juga di daerah lain, termasuk kotaku tercintah Bekasi..
Tapi Alhamdulillah rumahku dan segala akses menuju kantor, sekolah Sayyid (Sekolah Model Insan Madani) gak kena banjir.

Jadi yang lagi cari rumah, bolehlah mampir ke rumahkuu.. insyaAllah mau dijual wkwkwkw malah promosi...

Terus keributan lebih kepada... Ada sebagian orang yang seolah2 bilang "rasain loo Jakarta.. pada sombong sii bilang karena Ahok jadi gak banjir lagi"
Atau statement lainnya..

Serius... Saya sedih baca status2 macam itu..
Biarlah ada sebagian orang yang jumawa merasa Pilihannya itu the best ever forever dan er er lainnya..
Tapi ya sudahlaah...
Biarin itu dosa kejumawaan (kalau memang dinilai sbg dosa) biar mereka sendiri yang mendapatkan nilai minus di sisi Tuhan.

Percayalah masih buaaanyaaak pendukung Ahok yang masih lurus pemikirannya...

Cukuplah pasang2 status yang nyinyirin perilaku para pendukung2 Beliau yang kadaang memang berlebihan...
Sama aja si dengan pendukung paslon lainnya banyak juga yang berlebihan.

Karena yang berlebihan itu tidak pernah baik.

Selanjutnya???!
Kedepankan empati, simpati kawan.
Kalau gak bisa bantu materi, cukup diam sambil berdoa.
Dan teruslah bersyukur kalau lokasi kita aman dari bencana banjir...
Karena dengan syukur Allah akan menambah nikmat kita...

Rumah saya pribadi memang gak kena banjir, tapi kami mendapat musibah kecil.. bocor dimana2, kemudian pompa air kerendem dan listrik konslet.
Suasana seperti itu aja cukuup banget bikin perasaan galau tak terkira...
Apalagi udah akhir bulan wkwkwkwk

Dan aku bayangiin... Gimana itu para korban banjir... Yang rumahnya 2 lantai aja pasti tetep panik luar biasa, dan rugi materil yang tidak sedikit...


Kalau ada yang bilang ini azab krn memilih pemimpin Beliau...
Terus Bekasi banjir karena apa??

Ya Allah...ampuni kami..

So, please kawan stop pasang status, komen yang menghilangkan esensi empati dan simpati pada para korban banjir.
Karena mereka manusia .. sama seperti kita.
Masih manusia kan kita!?

Dan semoga banjir di manapun cepat surut.
Termasuk di Bekasi.
Aamiin yaa robbal 'alamiin



Di atas foto banjir di kali malang.

Src: http://m.rmoljakarta.com/news.php?id=2003

posted from Bloggeroid

February 20, 2017

Narpati: Haruskah Islam Dilepas dari Politik ?

February 20, 2017 10:15 AM

Islam itu bukan sekedar agama untuk pribadi tetapi juga panduan dalam berpolitik, sebuah ideologi. Jadi Islam sejak awal dalam sejarahnya tak terpisahkan dari politik.

Ketika Islam lepas dari politik, maka hasilnya adalah koruptor yang merasa dirinya sudah cukup dengan ibadah-badah ritual tetapi saat menjalankan kekuasaan ia seakan lupa bahwa ada Allah yang mengawasinya. Padahal Islam, sesuai namanya, mengisyaratkan ketertundukan manusia pada Allah semata, tidak pada setan, tidak pada hawa nafsunya sendiri.

Ketika Islam tak lepas dari politik, maka hasilnya adalah orang-orang macam Umar bin Khattab, Umar ibn Abdul Aziz, Faisal ibn Abdulaziz al-Saud. Atau jika di Indonesia, ketika Islam tak lepas dari politik maka hasilnya adalah orang-orang macam Mohammad Hatta, Natsir, Agus Salim, bahkan Hakim Bismar Siregar atau Jaksa Agung Baharuddin Lopa.

Nah, yang membedakan adalah, bagaimana masing-masing tokoh itu menafsirkan ideologi tersebut dan menerapkannya dalam masyarakat. Itu sebabnya "ijtihad", "tafsir", dengan demikian Islam menjadi luwes. Begitu juga dalam sejarah politik Islam, musyawarah dan perjanjian damai juga merupakan bagian dari ajaran Islam.

Apa kalian kira, ketika Mohammad Hatta membujuk kelompok Islam untuk menanggalkan 6-7 kata dari Piagam Jakarta itu karena beliau memisahkan politik dari Islam ? Tidak, dia menggunakan teladan Rasulullah ketika membuat perjanjian Hudaibiyah dan mencari 'kalimatun sawa'. Dan ulama-ulama seperti Daud Bereuh (Aceh) dan Hasyim Asyari (Jawa Timur) pun menyadari pola pikir ini ketika mereka memutuskan untuk bergabung, berjuang bersama Pemerintah Republik Indonesia di masa perang.

Bung Karno, ketika pidato 1 Juni 1945 pun juga menyadari bahwa Islam tidak lepas dari politik. Dalam pidato tersebut ia mengatakan, "Jikalau memang kita rakyat Islam, marilah kita bekerja sehebat-hebatnya, agar supaya sebagian yang terbesar daripada kursi-kursi badan perwakilan rakyat yang kita adakan, diduduki oleh utusan-utusan Islam. Jikalau memang rakyat Indonesia rakyat yang bagian besarnya rakyat Islam, dan jikalau memang Islam di sini agama yang hidup berkobar-kobar di dalam kalangan rakyat, marilah kita pemimpin-pemimpin menggerakkan segenap rakyat ini agar supaya mengerahkan sebanyak mungkin utusan-utusan Islam kdalam badan perwakilan ini.".

Jadi himbauan melepaskan agama dari politik, dalam masyarakat Islam adalah himbauan ahistoris, himbauan yang tidak memahami ajaran Islam.

Nah, terkait pemilihan pemimpin,
tak perlu dikhawatirkan. Umat Islam sudah menyepakati dalam bentuk undang-undang bahwa tidak ada persyaratan agama sebagai calon pemimpin dan pemimpin dipilih rakyat. Perkara apakah rakyat memutuskan apakah awliya itu berlaku dalam konteks pemimpinan modern, serahkan pada rakyat. Nahdlatul Ulama, salah satu ormas Islam yang memiliki massa besar, membuka kemungkinan non-muslim menjadi pemimpin walau dengan syarat kekhususan yang ketat. Partai Keadilan Sejahtera, salah satu partai Islam, sudah pernah mencalonkan kandidat non-muslim.

Narpati: Terus kamu rela Jakarta dipimpin Anies?

February 20, 2017 10:13 AM

"Setidaknya, yang memilih Anies tidak fanatik, tidak 'pejah gesang nderek Anies', tahu rekam jejak inkonsistensi-nya Anies. Jika kelak ia dikritik, tidak akan ada pasukan buzzer atau relawan yang melakukan propaganda membohongi publik dengan cantik. Akan lebih mudah mengritik Anies daripada mengritik Basuki, sang manusia setengah dewa yang 'tak-pernah-salah'. Indonesia sudah pernah dua kali mengalami masa diktator penuh propaganda dengan para pecintanya yang setengah mati membela sang junjungan. Jakarta gak butuh pemimpin kharismatik. Jakarta gak butuh pemimpin yang penuh pesona menyihir para pecintanya. Jakarta gak butuh pemimpin yang berhasil menumpulkan hati para warganya karena keahliannya menampilkan data-data dan foto-foto kota yang cantik dan menawan"



PS: putaran kedua kemungkinan besar saya tak memilih karena satu dan lain hal.

February 12, 2017

Tya: Jika aku jadi orang jakarta part 2

February 12, 2017 10:46 PM

Seriusan tangan saya gatel banget pingin ngeluarin uneg2 ini...

Seiusan ini medsos isinya udah kayak perang dunia maya haha...

Oke, kalau saya lihat ada 2 kubu utama di Pilkada DKI ini
1. Pro Ahok
2. Asal bukan Ahok

Perangnya terutama antara paslon 2 dengan 1 dan 3

Sebagian besar Pro-Ahok karena memang merasa Ahok itu the best governor sepanjang masa (katanya selain Bapak Ali Sadikin).
Katanya sejak Ahok memimpin buaaanyak banget perubahan di kota jakarta ini...
Okeh catet.

Sedangkan kubu ke-2, sebagian besar terbagi lagi menjadi 2 tipe:
1. Muslim Yang mendasari karena keimanan kepada Perintah Allah yang dipercayai memang melarang memilih pemimpin non-Muslim (salah satunya QS. Al-Maidah ayat 51)
2. Non-muslim atau sebagian muslim yang karena emang 'sebel' banget sama 'attitude' nya Ahok terutama lisannya + masalah reklamasi + penggusuran + kasus sumber waras + dan beberapa kasus lainnya

Kemudian terjadi perdebatan terutama karena Perbedaan Penafsiran QS Al-Maidah 51.
Kubu Pro-Ahok memiliki penafsirannya sendiri dengan berpegangan rujukan dari sejumlah ulama,
Begitupun Kubu Asal Bukan Ahok dengan berpegangan pada fatwa ulama yang jumlahnya (saya amati) lebih banyak daripada kubu Pro Ahok

Kemudian ada sejumlah statement dari salah satu kubu...
ahh itu mah kubu si B cari2 aja referensi dari ulama yang sepemahaman....
Laah padahal mah kubu si A juga...
Kata kubu si B jangan saklek2 banget napah...
kata kubu su A masuklah Islam secara kaffah..
terus kubu si B bilang... terus ngapain masih main2 di FB yang jelas2 punya orang kafir
terus kata si A blablablabla
terus kata si B blublublublu

terus ada lagi yang bilang.. halaah itu mah ayat cuma dipolitisasi aja...
jadi jangan salahkan Ahok saja kalau beliau bilang "Jangan mau dibohongi pakai Al-Maidah 51"
karena saya rasa sebagian Muslim pun berpendapat demikian
Sebagian Muslim merasa Ayat suci tersebut cuma dijadikan alat politik aja. yang penting bukan Ahok.

Terus ada lagi yang bilang "haalaah partai X itu aja pernah kok dukung non muslim"
jadi beneran emang cuma politik aja
udah gituuu masing2 punya alasan
masing2 bisa ngeles
intinya masing2 mempertahankan pendapatnya

terus kalau saya sendiri gimana?
Saya sendiri salah satu Muslim yang diberikan pengetahuan tentang Larangan Memimpin Non Muslim itu sejak?? Yap sejak SMA, seingat saya si pas Rohis dan itu terpatri banget di otak saya sampai saat ini.
Dan saya tidak merasa perlu mencari sanggahan atas ayat ini...
Karena apalah saya ini... cuma salah satu hamba Allah yang sangat fakir ilmu gak berani teramat sangat menentang para ulama...

Eh tapi kan partai X itu pernah kok dukung non muslim.. Lah terus napah?
Emang partai X itu pedoman hidup kita?
Sabodo amat dengan kebijakan partai X tersebut...
partai X itu pun juga kumpulan manusia koks...

Lagian lihat isi partai pendukung si 1 dan 3
Banyak yang korupsi?
Laluuuuuuuu? apa iya partai pendukung 2 bersih dari korupsi? hayo hayo hayo coba hitung2 lagi..
banyak beuttt

Jadii kawan, jangan mengira kawan2 kita yang tidak memilih Ahok karena alasan menjalankan keyakinan kami terhadap Perintah Allah di QS Al Maidah 51 itu karena hanya diperalat oleh para partai politik, dibohongi...
Kamiiii cuma merasa berkewajiban untuk memilih sesuai dengan petunjuk yang kami yakini..
Bukan bukan.. itu bukan sekedar perbedaan pendapat seperti Qunut, tahlil dan sebagainya...
tapi lebih dari itu...
Kami merasa cinta kami kepada Tuhan kami HARUS JAUH LEBIH diutamakan dibandingkan Keinginan kami untuk melihat Jakarta lebih maju atau apalah sebutannya.

Karena pada akhirnya bukan Ahok atau siapapun yang membuat kami Bahagia, yang membuat kami sejahtera... Semua itu adalah karunia dari Tuhan kita.. Allah S.W.T

Dan kok pada akhirnya kita suudzon banget siik sama calon nomor 1 dan 3.
Seolah2 kalau calon nomor dan 3 itu yang memimpin, jakarta akan hancur lebur.. akan kembali banjir.. akan kembali kacau...

Terus jadii kalau aku jadi orang jakarta, akan milih siapa?
Aku akan milihhh balik lagi jadi orang Bekasi wkwkwkwkw

Udah aaahhh
Once again
Selamat memilih Hai Jakarta

Please respect each other
jauhi prasangka
jauhi kampanye hitam
jauhi bermusuhan karena beda pendapat

Semoga 15 Februari nanti aman tentram ya
Siapapun yang terpilih nanti.. ikhlas saja...
Seperti yang saya bilang di atas
"Karena pada akhirnya bukan Ahok atau Anies atau Agus yang membuat kami Bahagia, yang membuat kami sejahtera... Semua itu adalah karunia dari Tuhan kita.. Allah S.W.T"

Dan selamat libur buat saya dan semua yang tidak ikut pemilu nanti....Yeiyyyyyyyyyyyyy





January 28, 2017

Tya: Jika aku jadi orang jakarte

January 28, 2017 09:53 PM

Flashback dulu ahh...
SMP di jakarta timur, lubang buaya. Pulang pergi naik angkot 2x atau naik metromini 45.

Pertama kalinya saya pulang naik metromini sendirian itu bingung (biasanya sama temen).. bingung cara turunnya. Karena badan saya pendek, terus kan penuh yaaaa. Posisi di tengah2. Jadi saya sedia apa? Penggaris buat diketrok2 ke atap metro mini.. itu pun akhirnya dibantuin penumpang lain, krn ketrokan saya nyaris tak terdengar. Saking malu dan takutnya haha

Dari pondok gede ke lubang buaya, macetlah namanya juga lubang buaya banyak banget sekolah negeri. Turun di lubang buaya, jalan kaki lumayan lah lebih dr 1km. Kecuali kesiangan naik ojekk.
Ehya ongkos saya saat itu cuma 5rebu. 2ribu PP metromini.sisanya jajan esteh di kantin.

Terus SMA jakarta lagi. Sama2 jaktim tapi sebelah kanan kalau dr pondok gede. Naik angkot cuma sekali. Tapii ya karena kalimalang itu jalur utama menuju jakarta sono (red:pusat dan sekitarnya) jadi jalurnya ruarrr biasaa macetnya. Apalagi dg saya yang suka kesiangan karena begadang belajar malamnya #ciyeeeeh

Terus selesai kuliah langsung kerja. Di mana? Jakarta lagi, tapi BARAT. Di Roxy! Lokasi yang bikin hampir semua otang berfikir kerjaan saya itu jaga counter handphone haha. Halo dee, wilmar dan bos hendi :)
Dan ini supperrr sekaliii.. yap perjalanan mulai dari kalimalang (timur), lewatin dulu jakarta pusat, terus baru dah sampe jakarta barat. Berapa jam kawan2? Berangkat jam 6 sampe jam 9. Wkwkwk
Udah gitu mostly saya berdiri di dalam bis yg terkenal banyak copetnya..

Ini nih bis 212 :


Di sana hanya 2 bulan... Krn gak kuat perjalannya, meskipun ke kantor cuma seminggu 3x.

Terus dari barat pindah lagi ke??
SELATAN. Daerah fatmawati. Kali ini perjalanan melewati sisi kiri pondok gede seperti saat SMP. Naik angkot 2x lanjut kopaja yang subhanallah udah kayak pepesss. Itu naiknya harus berjuang, lari2an. Turunnya juga berjuang, krn padatnya bis.
Gak lama kantornya pindah ke daerah buncit. Sama2 jaksel. Kali ini ada 2opsi. Naik angkot lewat jalur kiri 3x plus kopaja 1x atau lewat jalur kanan naik angkot 1x plus busway transit 1x. Hemat sih jalur kanan. Tapiii harus siap dengan antrian busway yang suka bikin emosi jiwa raga.

Terus lepas 2,5 tahun sempet rehat dulu karena menikah. Lelah ceritanya..
Jadi freelance, sempet bulak balik ke ciputat jaksel menjurus tangerang. Sampai akhirnya direkrut lagi dan balik kerja kembali di SELATAN jakarta yaitu pasar minggu. Kali ini karena sudah menikah, jadi seringnya diantar jemput suami di sebagian rute perjalanan. Pake? Motor donks.

Teruss 1,5 tahun kemudian pindah ke? PUSAT dooonk haha udah 4 bagian jakarta nih.
Sudirman. Kalau denger kata jalan sudirman tau dong kayak gimana?
Begitulahh.
Terus ternyata bisa lewat kuningan.
Tapi ya tetep lah... Tau sendiri kan kuningan kayak gimana apalagi dulu itu jalan layang belum jadi pan.
Sekarang sih katanya udah lancaran yak haha.

Terus gak lama kemudian kantornya pindah ke??? UTARA!!! Yeiyyyy lengkap udah 5 bagian jakarta.
Karena perusahaan perkapalan dimana operasionalnya ada di priok sana. Yaa wajar dong pindah.
Sampai akhirnya aku pindah rumah ke bekasi sini. Bekasi timur mendekati cileungsi yang kata sebagian tamu yang pernah cari jalan ke rumah, "ini beneran masih Indonesia?" Ettt dahh.. bukan! Ini di planet galaksi lain haha

Jadi awal2 pindah, qadarullah suami juga pindah ke priuk, jadi bareng naik motor. Dan kerjaan kita setiap perjalanan ya kayak Dora the explorer. Baca peta (google maps). Cari jalur terdekat yang ujung2nya tetep 2,5 jam perjalanan naik motor!
Gak lama suami balik lagi ke jaktim, lalu saya bisa tidur di bis telolet om :D

Gak lama saya resign, krn kondisi kantor yang lagi down pula.
Terus saya lelah.
Jadi freelancer duluu..
Sampai akhirnya sempet 1 bulan kerja di deket rumah, lalu balik lagi freelance sempet bolak balik lagi jakarta utara ketemu client. terus hamil anak ke2, terus menolak sejumlah tawaran kerja di jakarta karena saya sudah ill-feel berat sama perjalanan ke jakarta.

Dan Alhamdulillah sudah 1 tahun ini Allah menakdirkan saya kembali kerja di lokasi yang hanya berjarak 2km dari rumah (10 menit dari rumah). Www.portcities.net (note: banyak lowongan lhoo ;) )

Terus jadi relasi judul dengan isi ceritanya apa nih?
Yang jelas saya lagi pusing baca linimasa media sosial ttg pilkada DKI ini. Semoga cepet selesai deh ..
Saya bingung dengan semua konten media. Baca media A dukung 1, yang lain dukung 2 dan 3.
Belum lagi perdebatan antara fans, hatters, buzzers dan penonton lain yang bukan warga jakarta sebenere.
Panas beutttt

Sedangkan saya pribadi udah jarang lewat jakarta. Terakhir ke selatan. Itupun skrg udah gak naik angkot2an lagi. Tapiii thanks to all transportasi online.
Denga Grabbike, saya bisa 1,5 jam dari rumah ke fatmawati. Yang gak mungkin tercapai kalau naik angkutan umum.
Kalau lagi gak terburu2 bisa naik grabcar terus tidur tenang tanpa dibayangi argo haha.
Jadi kalau tanya pendapat saya tentang jakarta apakah ada perubahan semenjak era ahok? Gak tau juga ... Maafken.

Udah lama gak naik busway. Terakhir naik busway sebelum era emoney. Dan belum rasain nungguin busway lebih cepet. Terakhir ke terminal pulo gadung tetep semrawut dan bau pessiiing hweek...

Kalau kereta? Lha itumah semenjak era bapak jonan udah oke.

Taman2? Gak tau juga.
Contoj BKT? Sejak era sutiyoso udah kami lewatin di perjalanan menuju jakarta utara...

Apalagi yaa...
Ya karena selama perjalanan seringnya tidur jadi gak tau juga deh haahahah
Kalau birokrasi?
Ya gak tau juga gak pernah ngurus adm di jakarta kan?

Sungai?? Hmm sebagian yang saya lewati memang sudah bersih, meskipun ttep bau..

Mungkin kapan2 kalau lewat sungai di pinggiran manggarai saya mau update lagi. Dulu si parah beutt... Mudah2an udah bagusan ya sekarang?

Yang jelas yang saya tahu penduduk jakarta ini sedang panas bangettt.
Perasaan dulu pas pemilihan walkot bekasi gak segitunya. Adem ayem aja... Tau2 udah kepilih aja...

Jadi jika aku jadi orang jakarte? Alhamdulillah bukan..
Saya mau jadi orang bekasi aja...
Kalau disuruh pindah mending ke? Bandung ketemu kang emil.
Atau ke jambi ketemu bang Zumi. Wkwkwk
Atau ke???? Entahlah saya mah kuper taunya itu2 ajaa haha

Jadi selamat memilih Hai Jakarta, semoga yang terpilih nanti bisa amanah dan membawa kebaikan bagi warga Jakarta dsk. Aamiin

Dan Salam damai ;)

posted from Bloggeroid

January 27, 2017

Narpati: Paradigma Pelebaran Sempadan Kali Dalam Kota

January 27, 2017 09:09 AM



Bolehkah saya iseng ngobrolin kali walaupun saya sebenarnya gak punya ilmunya?

Dahulu, saya sering tidak mengerti dengan Komunitas Ciliwung (ini beda dengan Ciliwung Merdeka-nya Romo Sandyawan yah) yang terus-terusan mengritik tentang pembangunan turap (beton) di sekitar kali.

Nah, ternyata, katanya di beberapa negara maju memang sudah mulai berubah paradigma-nya. Kalau kalian ingat debat (non-resmi) cagub yang pertama, si Nirwono Joga si panelis mengritik Basuki di situ. Dia bilang, sekarang itu, trend-nya bukan mengalirkan air secepatnya ke laut melainkan bagaimana kota menampung air sebesar-besarnya ke dalam tanah.

Benar, salah satu penanggulangan sungai adalah penataan sungai dan baik model turap + jalan inspeksi maupun model alternatif yakni pelebaran sempadan, ada kemungkinan melibatkan pemindahan penduduk dari pinggir kali (ntar dijelaskan nanti).  Namun sekarang kita bicara tentang pelebaran sempadan.

Nah, salah satu yang mulai  menerapkan paradigma itu adalah Singapura, dengan Taman Bishan Ang Mo Kio di sekitar Sungai Kallang. Berikut adalah sketsa menunjukkan pelebaran sempadan alih-alih menggunakan turap.





Dan berikut adalah tampilan Sungai Kallang sebelum dilakukan perubahan paradigma tadi:


Dan berikutnya adalah tampilan Sungai Kallang setelah diterapkan perubahan paradigma. Bisa dilihat, sungai jauh lebih 'normal' dan lebih alami.




Pertanyaannya, kalau ada luapan air sehingga banjir bagaimana bentuknya?


Saya yakin, yang terpikir pasti adalah "yah.. kok tetap banjir? Kenapa tidak buat tanggul yang tinggi?"

Sebenarnya, banjirnya sudah diantisipasi... ada penanda merah untuk batas.



Jadi apakah keunggulannya memperlebar sempadan alih-alih menggunakan tanggul?
Walau sebenarnya sama-sama untuk menanggulangi air sungai yang meluap, model memperlebar sempadan ini :

1. ramah terhadap ekosistem. Di Taman  Bishan Ang Mo Kio , biodiversity (keanekaragaman flora dan fauna) meningkat 30%. Telah muncul beberapa hewan di sekitar sungai.

2. Tak ada ancaman tanggul jebol seperti yang beberapa kali terjadi di Jakarta tahun lalu. (daripada capek-capek teriak "sabotase! sabotase!")

Sekarang lihat lagi foto banjir terbaru di taman.



Itu tampilan "banjir" di Taman Bishan Ang Mo Kio beberapa hari lalu. Perhatikan, jembatan masih berfungsi karena memang sudah diperkirakan luapan airnya.

Semua foto-foto di atas berasal dari http://mothership.sg/2017/01/heres-why-you-shouldnt-be-alarmed-by-pictures-of-flooding-in-bishan-ang-mo-kio-park/


Nah, kalau Ciliwung Merdeka (sekarang kayaknya jadi Forum Kampung Kota), idenya nyeleneh, nimbrung dari paradigma tadi. Seperti yang kubilang, untuk ide tadi, mau gak mau rumah di pinggir kali pun harus digusur. Namun kawan-kawan Ciliwung Merdeka yang anti penggusuran mencoba berkompromi dengan paradigma baru ini.

Model mereka agak mirip rumah panggung. Ketika banjir, ya biarkan kebanjiran.


Sebenarnya, ini yang dimaksud dengan "kota apung" versi Agus Harimurthi Yudhoyono walaupun istilah "apung" itu menyesatkan.

Setahu saya, konsep ini belum diterapkan di kota manapun, setidaknya, belum diterapkan pada air yang mengalir.

Tentu saja masih bisa diperdebatkan seperti... adakah landasan hukum yang membolehkan bangunan permanen di atas sungai.


Untuk lebih tahu tentang versi Ciliwung Merdeka (tampaknya sekarang sudah menjadi Forum Kampung Kota ya?), bisa lihat
https://medium.com/forumkampungkota/kampung-susun-manusiawi-kampung-pulo-4eb363c74b31#.sxf2kfvy7


Saya baru mengetahui, ternyata Ridwan Kamil diam-diam juga sedang tertarik dengan konsep itu. Ada kawan yang menyuruh saya mengintip Instagram beliau.



Penjelasan Kang Emil:
"Bulan ini sudah dimulai lelang beberapa proyek danau retensi utk menangani banjir Pagarsih dll. Ini adalah danau retensi di area Sirnaraga. Jika kemarau jadi lap olahraga warga, jika musim penghujan menjadi parkir air sungai Citepus. Doakan lancar agar tengah tahun sdh selesai. Nuhun. *jika kolamnya penuh dgn lumpur, cocok buat membuang mantan."

Bisa dibaca di https://www.instagram.com/p/BPbcx04AJQ2/


Konsep Kang Emil, sedikit mengingatkanku pada rencana di Kopenhagen.


bisa dilihat di: http://citiscope.org/story/2016/why-copenhagen-building-parks-can-turn-ponds

Saya agak penasaran, terbuat dari apa ya  alasnya? Kalau di Kopenhagen, nantinya ada alat pompa yang penggeraknya adalah energi anak-anak (yup... Perbudakan Anak-Anak versi modern ! ☺☺☺☺☺)

Hmmm... mungkinkah untuk konsepnya Ridwan Kamil alas-nya pakai material semacam ThruCrete, beton yang bisa menyerap air? Bahan ini digunakan untuk pembuatan trotoar di Melawai.


Cukup sekian saja ngobrolin kalinya.


January 26, 2017

Tya: MPASI nasi tim bumbu dapur

January 26, 2017 11:32 PM

Siapa siik yang gak sedih kalau anak tiba2 ogah makan...
Makan baru berapa suap udah ngamuk...

Ya ini Si Salman, sejak sakit demam nyaris seminggu karena batuk pilek, nafsu makannya jadi menurun.

Jadi saya berusaha ubah ubah menu.
Segala rupa, diblender emoh, dibuat tim aja juga gak banyak, dipisah juga gak banyak, dikasih kuah juga cuma dikit terus aku puuuusyyyiiiiiiing

Udah gitu kakaknya Sahal juga suka mood2an makannya. Kalau gak mau ya gak bisa dipaksa, tapi giliran nafsu makan meningkat langsung deh sehari bisa lebih dari 3x.

Tapi Salman lagi suka banget sama nasi putih doang. Gak ditim, apalagi dblender.
Jadi kalau aku dan kakaknya makan, dia minta nasi... Dan itu banyak.
Udah aku coba cocol pake lauk/sayurnya tapi baru dikit udah ogah.

Jadi muter2 otak, terus ya bikin salah satunya resep ini nasi tim beraroma. Halah apalah namanya
Intinya
- nasi + air + batang sereh digeprak + daun salam + parutan wortel + potongan tahu sutra

Niatnya tambahin ikan kembung, tapi belum matang pas jadwal sarapannya

Suer baunya kayak nasi uduk gitooh haha tapi tanpa garam ya..

Alhamdulillah pagi makannya lahap, sisa 1 sendok aja.
Bekal siang juga habis.
Malam karena udah sempet makan nasi duluan, jadi gak habis tapi lumayan lah lebih dari setengahnya

Dan rasanya ituuu super happy banget kalau anak lahap makan

Iya kan emak2???

Udah ah sekian
Ini penampakan nasi timnya


Note: makan pakr piring biasa?
Yoa! Terakhir makan pake mangkok dan sendok bayi langsung ditolak. Giliran ditunjukin piring beling, langsung semangat. Haha anak kecill


Tuh bocahnya... Ngeblur fotonya sik

posted from Bloggeroid

January 23, 2017

Narpati: Meragukan Tulisan Selamat Genting Republika Tentang Tentara India Non-Muslim

January 23, 2017 06:46 PM

Agak terkejut membaca tulisan di Republika yang di-forward teman karena bertentangan dengan beberapa cerita sikap pasukan India yang saya dengar di berbagai cerita. Tulisannya cukup panjang tetapi saya ambil satu bagian saja untuk membuktikan bagaimana tulisan di Republika menampilkan versi yang berbeda sendiri yakni versi Republika terang-terangan mengatakan "India non-Muslim" sementara versi-versi lain tak pernah menyatakan demikian.
Kesimpulan sementara, saya sangat meragukan versi jurnalis senior Republika ini bukan sekedar saya tak menemukan versi bagian cerita yang sesuai dengan tulisannya, namun keseluruhan temanya pun bertentangan dengan semua cerita tentang tentara India yang pernah saya dengar. Tema tulisannya bahkan bertentangan dengan akhir tulisan si Jurnalis sendiri yang mengakui bahwa India pernah mengusir kapal-kapal Belanda dari pelabuhannya untuk sebagai bentuk solidaritas terhadap Indonesia.

1. Versi Selamat Ginting, Jurnalis Senior Republika 23 Januari 2017:
Pada saat itu di rumah Tabib Sher sedang berkumpul beberapa orang serdadu Pakistan. Seketika pasukan Pakistan segera meluncur dan memerintahkan tentara NICA agar menyingkir. Kedua serdadu sudah dalam posisi ‘steeling’ dan mengokang senjata. Posisi tentara India Muslim itu lebih menguntungkan, karena mengepung pasukan NICA dari India non-Muslim. Pasukan India non-Muslim itu pun akhirnya keluar dari rumah dokter Soeharto. Nyawa Sukarno yang sudah di ujung tanduk itu, terselamatkan.

2. Versi Roso Daras (seorang fans Soekarno) di blog pribadi 1 Juni 2009:
Peristiwa itu, sontak menggegerkan masyarakat yang melihatnya. Kabar tersebar begitu cepat, laksana tertiup angin. Salah satu menerima kabar adalah Tabib Sher, seorang tabib asal India yang membuka praktek di Jl. Senen Raya, tak jauh dari Jl. Kramat Raya. Kebetulan, saat kabar diterima, di situ tengah berkumpul para serdadu Sekutu yang beretnis India muslim.
Tabib Sher yang memang pro kemerdekaan Indonesia, dan juga pendukung Sukarno, kontan mengajak para serdadu Sekutu India muslim dan sejumlah pejuang, menuju TKP (tempat kejadian perkara). Terjadilah pemandangan sengit, ketika tentara Sekutu India Muslim menodongkan senapannya ke arah rekan tentara Sekutu gabungan Inggris dan Belanda. Tentara Nica Sekutu diperintahkan meletakkan senapan dan mengangkat tangan. Perang mulut tak terhindarkan. Nica semula bersikukuh hendak menghabisi, setidaknya merangsek Bung Karno sebagai “musuh nomor satu” Nica.

3. Versi Zahir Khan saat diwawancara Inti Jaya News (terverifikasi secara administrasi di Dewan Pers) 7 Juni 2015:
Begitu tahu tentara muslim asal Pakistan yang sedang kumpul di rumah Tabib Sher di Senen langsung mengajak teman-temanya yang lain untuk menolong Bung Karno maka terjadilah perdebatan seru antara serdadu Nica yang menodongkan senjata kepada Bung Karno dengan pasukan muslim dari Pakistan yang jumlahnya jauh lebih banyak sambil mengarahkan laras panjang ke tentara Belanda. Meskipun tentara Nica mengatakan Bung Karno adalah musuh,tentara muslim tetap memerintahkan agar tentara Nica meletakan senjata dan mengangkat tangan kalau tidak menurut akan ditembak habis akhirnya serdadu Nica mundur ambil memaki-maki. 

4. versi Zahir Khan yang dikutip situs Majalah Fakta (terdaftar di Dewan Pers tetapi belum terverifikasi faktual dan administrasi) 8 Maret 2014:
Pada saat itu di rumah Tabib Sher sedang berkumpul beberapa orang serdadu Pakistan dan kemudian langsung diajak menuju rumah Dr Soeharto. Sementara itu di tempat kejadian, serdadu NICA telah pasang steeling dengan senjata ke arah mobil Bung Karno. Maka terjadilah perdebatan seru antara pasukan Pakistan melawan pasukan NICA. Pasukan Pakistan memerintahkan tentara NICA agar menyingkir, akan tetapi serdadu kolonial itu menjawab bahwa Soekarno itu musuhnya. Maka serdadu Pakistan juga pasang steeling dan mengokang senjata. Akhirnya serdadu NICA mundur sambil memaki-maki serdadu Pakistan. Pada kesempatan itu Dr Soeharto keluar rumah menuju Bung Karno, lalu membimbing sang proklamator masuk ke dalam rumahnya.


Sekedar catatan,
saya tidak meragukan dukungan Pakistan, tetapi saya meragukan bagian dari tulisannya yang membahas sikap India kecuali di bagian akhir.

Rujukan: 


3. http://ijn.co.id?p=1011 (dicek 23 Januari 2017)


January 18, 2017

Narpati: Anomaly in "Repackaging" Jar from SpringBoot Maven Plugin

January 18, 2017 03:08 PM

Springboot Maven Plugin by default, should automatically rewrite Manifest in packaged jar as stated in http://docs.spring.io/spring-boot/docs/current/maven-plugin/usage.html

The original (i.e. non executable) artifact is renamed to .original by default but it is also possible to keep the original artifact using a custom classifier.
The plugin rewrites your manifest, and in particular it manages the Main-Class and Start-Class entries, so if the defaults don't work you have to configure those there (not in the jar plugin).

However, I found case where when I called maven "clean install", it didn't repackage the jar and did not rewrite the Manifest either. Thus, the jar being built was not executable."

The solution is by manually called "spring-boot:repackage" right after "clean install". So instead of maven "clean install", I call maven "clean install spring-boot:repackage".

You can read more about spring-boot:repackage in http://docs.spring.io/spring-boot/docs/current/maven-plugin/repackage-mojo.html.

I haven't found the exact reason why a simple maven "clean install" didn't work but at least now I got the work around.

Narpati: Program Kampanye Pasangan Calon No 3 Anies - Sandiaga

January 18, 2017 02:53 PM


UPDATED:
saya ternyata terlalu malas menyalin-rekat.
Tetapi untuk program Anies, silakan ke situs kampanye resmi mereka  di:



Daftar isi:
1. Kontrak politik dengan Forum Komunikasi Tanah Merah Bersatu
2. KJP Plus
3. Wira Usaha
4. Kepulauan Seribu
5. Perempuan
6. Perumahan

Kontrak

KONTRAK POLITIK CALON GUBERNUR DKI JAKARTA PERIODE 2017-2022
ANIES BASWEDAN DAN SANDIAGA UNO

Pro Rakyat Miskin, Berbasis Pelayanan, dan Partisipasi Warga untuk Jakarta Beradab
1. Pemenuhan dan Perlindungan hak-hak Warga Kota meliputi:
a. Melegalisasi kampung-kampung yang dianggap ilegal
Kampung-kampung yang sudah ditempati warga selama 20 tahun dan tanahnya tidak bermasalah akan diakui haknya dalam bentuk sertifikasi hak milik;

b. Pemukiman yang kumuh tidak digusur tapi ditata seperti (Kampung Tematik, Kampung Deret, dll)
Pemukiman kumuh yang berada di atas tanah negara (BUMN) akan dilakukan negosiasi yang melibatkan masyarakat. Gubernur akan menjadi mediator supaya warga tidak kehilangan hak atas Tanah sesuai UUD 1945 & UUPA 1960.

c. Perlindungan dan Penataan ekonomi informal: PKL, Becak, Nelayan Tradisional, Pekerja Rumah Tangga, Asongan, Pedagang Kecil, dan Pasar Tradisional

d. Tetap mempertahankan kebudayaan dan kearifan lokal yang sudah ada dan tumbuh di kampung-kampung Jakarta

2. Mengkaji ulang dan merevisi Perda RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) Provinsi DKI Jakarta dalam hal zonasi peruntukan yang sudah menjadi perkampungan tidak berubah fungsi menjadi pusat perniagaan, apartemen, taman terbuka hijau, dll. Lebih mengutamakan kepentingan warga masyarakat yang menghuni lebih dari 20 tahun.

3. Keterbukaan dan penyebarluasan informasi kepada warga kota.



KJP Plus
ANIES [7 November Twitter]:
Selamat siang, Teman2. Mulai hari ini sampai 23 hari ke depan, saya akan twit Janji Kerja Anies-Sandi untuk kt kaji, diskusi & perdebatkan.

Janji Kerja ini bukan dalam arti konvensional di mana kandidat ucapkan saat kampanye lalu semua menanti realisasinya sesudah menang.

Tapi Janji Kerja ini kami tawarkan utk jadi ikrar bersama antara kandidat & warga, jadi agenda kerja bagi kita smua sebagai pelaku proaktif.

Janji Kerja tidak tempatkan warga sebagai objek tapi sebagai subjek #MajuBersama. Karena Pilkada bukan kisah tentang Anies-Sandi tapi tentang hikayat semua warga.

Untuk hari pertama ini, kami tawarkan janji kerja Kartu Jakarta Pintar Plus utk Semua. Silahkan disimak.

[23 Janji Kerja Anies - Sandi
Kartu Jakarta Pintar Plus untuk Semua!]


[ Merevisi dan memperluas manfaat Kartu Jakarta Pintar dalam bentuk Kartu Jakarta Pintar Plus untuk semua anak usia sekolah (6-21 tahun), yang juga dapat digunakan untuk Kelompok Belajar Paket A, B, dan C, pendidikan madrasah, pondok pesantren, dan kursus keterampilan serta dilengkapi dengan bantuan tunai untuk keluarga tidak mampu ]

Analisis kami thdp kondisi KJP saat ini dan terobosan yg kami tawarkan utk #KJPPlusAniesSandi bisa dilihat sbg berikut:

[KEADAAN SAAT INI
* Saat ini KJP hanya menyasar anak-anak yang sudah ada di sekolah. Sedangkan untuk anak yang tidak sekolah belum menerima manfaat KJP,

* Angka Partisipasi Murni tingkat SMA sederajat di DKI Jakarta adalah 65% (Neraca Pendidikan Daerah). Ini artinya ada sekitar 35% anak-anak usia SMA di DKI Jakarta ( yang seharusnya berada di bangku sekolah ) yang tidak bersekolah,

* Dengan bentuk kartu elektronik, KJP masih belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai alat transaksi non-Tunai. Fitur yang saat ini tersedia hanya gratis naik Trans-Jakarta di jam-jam tertentu,

* Tidak semua belanja pendidikan menggunakan transaksi non tunai,

* Pemprov menolak penggunaan KIP di DKI Jakarta. Artinya anak-anak yang tidak sekolah (putus sekolah atau tidak pernah sekolah) terlewat dari skema bantuan pembiayaan pendidikan.

TEROBOSAN YANG AKAN DILAKUKAN
1. Mengintegrasikan KJP dengan KIP terkait pendataan dan distribusi manfaat (tunai dan non tunai),

2. Meningkatkan besaran manfaat penerima KJP bagi anak yang berasal dari keluarga tidak mampu,

3. Memberikan KJP untuk semua anak usia sekolah, baik yang sudah bersekolah ataupun yang berada di luar sekolah, dan baik satuan pendidikan formal dan non-formal, termasuk paket A, B, dan C, serta pendidikan keterampilan/kursus,

4. KJP sebagai kartu elektronik diberikan kepada semua anak usia sekolah 6-21 tahun, baik mampu dan tidak mampu,

5. Bagi peserta didik difabel dan yatim, mendapatkan manfaat yang disesuaikan dengan kebutuhan anak,

6. memperluas fitur-fitur KJP  agar bisa digunakan oleh semua anak untuk mendapatkan akses diskon belanja pendidikan, gratis museum, dan wahana pendidikan,

7. pelaporan keuangan otomatis yang dapat dipantau oleh pemerintah, orang tua, dan anak. Hal ini untuk menyederhanakan proses pelaporan yang selama ini membebankan anak, sekolah, dan pemerintah.]

Yuk semarakkan kembali Pilkada DKI Jakarta sbg festival gagasan dan pesta demokrasi.

Wirausaha
ANIES [ 8 November Twitter ]
Siang, Teman2. Hari ini waktunya twit Janji Kerja kami berikutnya. Kali ini tentang #WirausahaAniesSandi. Untuk ini, Bang @sandiuno ahlinya.

SANDIAGA UNO [ 8 November Twitter ]

Terima kasih Mas @aniesbaswedan yang telah memberikan saya kesempatan untuk memaparkan terlebih dulu Janji Kerja Anies-Sandi yang kedua.

Pembangunan besar2an di DKI saat ini gagal menciptakan lapangan pekerjaan. Peningkatan jumlah penduduk tak diimbangi dengan aktivitas perekonomian.

Lapangan pekerjaan pun semakin semakin sempit & tak sebanding dgn pembangunan. Akibatnya, masyarakat miskin tambah miskin, yang kaya tambah kaya.

Kami melakukan sebuah terobosan utk mengatasi kurangnya lapangan pekerjaan di Jakarta. Kami menggagas program Gerakan 200.000 pengusaha baru

[23 Janji Kerja Anies-Sandi

Membuka Akses Lapangan Kerja & Membangun Kewirausahaan (Enterpreneurship)

Membuka 200.000 lapangan kerja baru,
membangun dan mengaktifkan 44 pos pengembangan
kewirausahaan warga untuk menghasilkan
200.000 pewirausaha baru, selama lima tahun.]

Bagaimana kami merealisasikannya?

[KEADAAN SAAT INI
* Rata-rata pertumbuhan PDRB per kapita DKI Jakarta selama 2011-2015 sebesar 5.08% dengan tren melambat. Ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan PDRB DKI Jakarta ADH Konstan selama 2011-2015 yang mencapai 6,22%. Hal ini menunjukkan bahwa nilai tambah ekonomi yang diterima oleh setiap penduduk semakin berkurang karena (i) peningkatan jumlah penduduk  yang tinggi, dan  (ii) pelemahan aktivitas perekonomian

* Dalam 5 tahun terakhir, kontribusi tiga sektor ekonomi utama: Industri Pengolahan relatif tidak berubah, sedangkan Perdagangan dan Konstruksi menurun.

* Penurunan ini merupakan konsekuensi dari penurunan pertumbuhan sektor ekonomi utama tersebut dan peningkatan kontribusi sektor-sektor Jasa (terutama Jasa Keuangan).

* Sektor tersier (perdagangan dan jasa-jasa) menguat, sementara sektor primer (pertanian dan pertambangan) serta sekunder (industri pengolahan, konstruksi, listrik, gas, dan air) menurun.

* Akibatnya pertumbuhan ekonomi marak di sektor informal.

* Penurunan pekerja di sektor non-tersier yang relatif lebih cepat, tidak diikuti dengan kecepatan kenaikan  yang setara pada kontribusi sektor ekonomi tersier.

* Kondisi ini menyebabkan tingkat partisipasi angkatan kerja cenderung menurun, yang berarti adanya peningkatan tingkat kesulitan angkatan kerja untuk mendapatkan pekerjaan.


TEROBOSAN YANG AKAN DILAKUKAN
Bersama-sama, kita bisa mengatasi masalah penting Jakarta ini.
Anies-Sandi menggagas beberapa program:
Gerakan 200,000 pengusaha baru, dengan cara:

1. 44 Enterpreneurship Center (di setiap kecamatan)
* Dilakukan dengan membuka enterpreneurship center di setiap kecamatan dengan spesialisasi tertentu.

* Peran pemerintah:
- mendukung modal awal
- mendukung distribusi: hasil produksi UMKM yang lahir dari enterpreneurship tersebut dibantu untuk menemukan pasar di dalam dan di luar Jakarta
- meningkatkan kapasitas pengusaha baru

2. Garasi Inovasi
* Pemprov akan melibatkan perusahaan-perusahaan dan perguruan tinggi di Jakarta untuk membuka "garasi inovasi" di setiap kelurahan;

* Di Garasi Inovasi, anak-anak muda di berbagai pelosok Jakarta dapat bereksperimen dengan berbagai alat dan benda yang dapat dikembangkan menjadi produk yang bernilai ekonomi. Inovasi-inovasi dikembangkan untuk memberikan solusi bagi persoalan ibukota.

3. Pendampingan Perencanaan Keuangan untuk UMKN dan Pengusaha Baru
* Bantuan pro-bono bagi para pengusaha baru untuk mengelola dan merencanakan keuangan mereka, termasuk keuangan perusahaan dan keuangan pribadi.

4. Enterpreneur Mentorship
* Yaitu pelibatan para pemimpin bisnis di Jakarta untuk meluangkan waktu mereka menjad mentor bagi para pengusaha bisnis di Jakarta dengan difasilitasi oleh Pemerintah Provinsi

* Membantu memberikan pengetahuan, pengalaman, dan akses bagi para pengusaha muda

* Sekaligus memberi kesempatan pada para pemimpin bisnis untuk melihat mitra potensial atau calon talent untuk posisi manajerial yang mereka butuhkan
]

Kami berharap kedepan, Jakarta mempunyai pemimpin yg mampu memberikan kesempatan kerja lebih banyak sehingga pengangguran dapat berkurang.

Kepulauan Seribu
Anies Baswedan [ 9 November Twitter ]
Pada ultah Kepulauan Seribu ini juga, kami lanjutkan Janji Kerja hari ini, kali ini terkait pembangunan Kepulauan Seribu.

[Kepulauan Seribu sebagai Kepulauan Pembangunan Mandiri]

Bgmn kondisi Kepulauan Seribu sekarang? Bagaimana rencana kami menjadikan Kep. Seribu sebagai Kepulauan Pembangunan Mandiri? Ini rinciannya.

[Mengatasi kesenjangan Ibukota dengan menjadikan Kepulauan Seribu sebagai Kepulauan Pembangunan Mandiri dengan menyediakan infrastruktur, lapangan kerja, fasilitas pendidikan, dan kesehatan bagi segenap warganya dan menjadikannya sebagai pusat inovasi konservasi ekologi.

KONDISI SAAT INI
Belum ada strategi khusus dan arah perubahan signifikan terutama kesehatan, pariwisata, transportasi, dan pembangunan manusia untuk membangkitkan potensi kepulauan.

KESEHATAN
* Hanya ada 1 apoteker dan 2 dokter gigi
* Jumlah bidan berkurang lebih dari 50% (tahun 2014: 71 orang, tahun 2015: 30 orang)
* Hanya ada 1 rumah sakit dengan kapasitas 17 tempat tidur
Sumber: (BPS: Kep. Seribu dalam angka 2016)

PARIWISATA
* Kontribusi sektor Pariwisata masih rendah.
(kontribusi Pajak Hotel dan Restoran sekitar 3,29%)
* Sepanjang 2011 hingga 2015, tidak ada penambahan rumah makan dan resort (masing-masing 56 dan 8).
* Total kunjungan kawasan balai nasional kepulauan seribu adalah 17.473 orang
Sumber ( BPS: Kepulauan Seribu dalam angka 2016 dan Bank Indonesia, Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi DKI Jakarta Triwulan III-2015; diolah)

TRANSPORTASI
* Hanya memiliki 40 kapal kayu
(hanya bertambah 2 unit sejak 2011)
* Hanya memiliki 21 kapal milik pemerintah
(tidak berubah sejak 2011)
* Hanya ada 9 kapal penumpang reguler
(tidak berubah sejak 2011)
* Januari 2016 Kemenhub meresmikan kapal perintis dengan kapasitas 225 penumpang. Namun kapal ini hanya berangkat satu kali dalam satu hari.
Sumber (BPS: Kepulauan Seribu dalam Angka 2016)

PEMBANGUNAN MANUSIA
* Sepanjang 2011-2015, laju pertumbuhan ekonomi di Kepulauan Seribu mengalami penurunan dari 4,28 % pada tahun 2011 menjadi 0,23% di tahun 2015.
* Indeks pembangunan manusia di Kepulauan Seribu adalah 68,84 atau berada di bawah Kabupaten Mimika (70,89), Kabupaten Jayapura (70,04)
* Presentasi penduduk miskin 11,56% (pada tahun 2014)
* Tingkat pengangguran 2015 adalah sebesar 5,51 % atau naik dari tahun 2014 sebesar 5,43 %.
* APM SMA sederajat di kepulauan seribu hanya 34,99%
* Nilai Uji Kompetensi Guru (UKG) Kepulauan Seribu adalah 55,76 atau berada di bawah rata-rata nasional (56,69)
* Hanya ada 1 SMK (SMK 61 Jakarta dengan empat jurusan; akuntansi, administrasi perkantoran, Budidaya Perikanan, dan Nautika Kapal Penangkap Ikan)
Sumber: (BPS: Kepulauan Seribu dalam Angka 2016, Statistik Daerah Kepulauan Seribu 2016, Data Pokok Pendidikan 2014/2015, dan Neraca Pendidikan Daerah, Kemdikbud 2015)]



[TEROBOSAN YANG AKAN DILAKUKAN
Membentuk Desk Kepulauan Seribu yang bertujuan untuk
1. Memperkecil gap pembangunan (pendidikan, kesehatan, dan ekonomi) Kepulauan Seribu dengan kota lainnya di DKI Jakarta

2. Menjadikan Kepulauan Seribu sebagai pusat pendidikan SDM unggulan bidang pariwisata dan kelautan ; menjadikannya pusat inovasi konservasi ekologi, resort apung, yang ramah lingkungan, dan optimal dalam hasil tangkap dan budidaya perikanan

PENDIDIKAN
* memastikan semua anak sekolah berusia 6-21 tahun mendapatkan Kartu KJP Plus untuk meningkatan partisipasi sekolah.
* Mendirikan pusat-pusat belajar masyarakat melalui program Kejar Paket C dan program kursus keterampilan
* Mendirikan SMK Pariwisata dan SMK Kelautan unggulan untuk menyiapkan tenaga kerja pendukung peningkatan ekonomi Kepulauan Seribu
* Memberikan pendampingan peningkatan kualitas guru melalui program guru mentor serta peningkatan frekuensi pelatihan guru.

KESEHATAN
* meningkatkan kapasitas Rumah Sakit dengan memperbanyak jumlah tempat tidur dari 17 menjadi 150  dalam waktu 1 tahun
* Meningkatkan jumlah dokter gigi dan apoteker
* menyediakan 10 unit ambulan apung

TRANSPORTASI
* Menambah kapal reguler penumpang (Bus Laut) dari 9 buah menjadi 30 buah dengan rute terjadwal dan sering.
* Mengintegrasikan sistem pembayaran transportasi laut dengan transJakarta

EKONOMI
* Menjadikan Kepulauan Seribu sebagai pusat inovasi konservasi ekologi
* Mengembangkan resort apung yang ramah lingkungan untuk mengantisipasi terbatasnya lahan
* Mendorong peningkatan hasil tangkapan dan budidaya perikanan melalui pendampingan industri perikanan yang dikelola masyarakat lokal.]


Kami yakin Kepulauan. Seribu berpotensi jadi mandiri, tak tertinggal & brgantung pd wil Jkt lainnya. Selamat 15 tahun Kepulauan Seribu.

Perempuan
ANIES BASWEDAN [ 10 November Twitter ]
Sejarah bertutur, para Ibu buktikan bahwa mereka adalah pahlawan. Mereka tak hanya genapi takdir penciptanya, tapi jadi perempuan berdaya & memberdayakan.

Ibu adalah pejuang dan pahlawan. Maka di Hari Pahlawan ini kami umumkan pula Janji Kerja berikutnya, ttg #BERSAMAmuliakanPerempuan.

[ 23 JANJI KERJA ANIES-SANDI
MEMULIAKAN PEREMPUAN JAKARTA]


[Memuliakan perempuan Jakarta dengan mendukung Inisiasi Menyusu Dini dan ASI Eksklusif, memberikan cuti khusus bagi suami selama proses kelahiran anak, serta menyediakan fasilitas-fasilitas publik khusus seperti Ruang Menyusui dan Tempat Penitipan Anak yang dikelola secara sehat, profesional, dan bisa diakses seluruh warga ]

Mulai dr tempat penitipan anak yg terjangkau bg semua, smp cuti melahirkan bg ayah, sila simak Janji Kerja #BERSAMAmuliakanPerempuan ini:


[KEADAAN SAAT INI
TEMPAT PENITIPAN ANAK
Belum ada kebijakan Pemerintah Provinsi yang menyediakan tempat penitipan anak terjangkau bagi warga menengah ke bawah, terutama di wilayah pusat kegiatan ekonomi warga, seperti pasar tradisional dan kantor instansi pemerintah provinsi

CUTI AYAH
Wewenang pemberian cuti PNS bagi pegawai pemprov merupakan kewenangan gubernur (Pergub No. 186 tahun 1986). Namun saat ini belum ada kebijakan Pemprov DKI Jakarta terkait cuti untuk laki-laki yang istrinya melahirkan (paternity leave)

RUANG LAKTASI
Gubernur DKI Jakarta mengakui ruang laktasi di perkantoran masih minim. Pihaknya sekarang ini belum memberikan peraturan daerah sebagai payung hukum. Basuki baru mengeluarkan payung hukum penyediaan ruang laktasi di kantor-kantor Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui instruksi Gubernur Nomor 112 tahun 2012 tentang Penyediaan Ruang Laktasi di Balai Kota dan Walikota

ASI EKSKLUSIF
Belum ada kebijakan khusus yang memberikan perhatian dan upaya khusus agar fasilitas kesehatan, seperti puskesmas, dan rumah sakit dengan pelayanan persalinan mampu dan mengimplementasikan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM).]



[TEROBOSAN YANG AKAN DILAKUKAN
PROGRAM TEMPAT PENITIPAN ANAK
* Melengkapi pasar-pasar tradisional dan kantor instansi Pemerintah Provinsi, seperti kantor kelurahan, kecamatan, dan kantor BUMD dengan fasilitas Tempat Penitipan Anak (TPA)/daycare bersubsidi dengan harga terjangkau dan sesuai standar pelayanan minimal.

* Memberikan insentif kepada seluruh gedung-gedung kantor komersial yang memiliki fasilitas Tempat Penitipan Anak

PROGRAM CUTI ANAK
* Memberlakukan hak cuti bagi ayah pegawai pemprov (paternity leave), satu minggu sebelum melahirkan dan tiga minggu setelah melahirkan. Cuti berlaku untuk kelahiran anak pertama, kedua, dan ketiga.

PROGRAM RUANG LAKTASI
* Mewajibkan keberadaan ruang laktasi di mal dan perkantoran
* Memnberikan penghargaan bagi tempat kerja atau sarana umum yang menyediakan ruang laktasi nyaman agar mendorong jumlah karyawati yang memberikan ASI eksklusif

PROGRAM ASI EKSKLUSIF
Target: Mencapai 80% Ibu yang mengimplementasikan ASI eksklusif dalam 5 tahun
* Memberi tugas khusus SKPD Dinas Kesehatan untuk memastikan kesiapan penerapan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui
* Memperbanyak pelatihan tenaga kesehatan
* Merekrut dan menambah jumlah konselor menyusui di puskesmas dan rumah sakit
* Memberikan pelayanan 10 menit membaca Kesehatan Ibu dan Anak di Puskesmas dan rumah sakit untuk menggencarkan sosialisasi]

Itu tadi adalah sebagian dari rangkaian janji kerja ttg perlindungan & pemberdayaan perempuan, anak & kelrg. Kami akan lanjutkan di hari2 berikutnya.




Perumahan
SANDIAGA UNO [ 11 November Twitter ]
Selamat sore Jakarta, saya & @aniesbaswedan akan memaparkan Janji Kerja kami yg ke-5: Mengatasi Besarnya Kekurangan Hunian Warga Jakarta.


[23 Janji Kerja Anies-Sandi
Mengatasi Besarnya Kekurangan Hunian Warga Jakarta

Meningkatkan Ketersediaan Hunian sesuai Kebutuhan Warga dengan mendorong inisiatif warga mengadakan bank tanah, dan mempermudah pemilikan hunian untuk warga kurang mampu melalui kredit murah berbasis tabungan.]

DKI Jakarta merupakan provinsi kedua dgn perumahan terbesar di Indonesia. Tapi, sebanyak 1,3jt rumah tangga belum memiliki rumah (BPS 2014).


[KEADAAN SAAT INI
* DKI Jakarta merupakan provinsi kedua dengan backlog perumahan terbesar di Indonesia. Sebanyak 1,3 juta rumah tangga belum memiliki rumah (BPS 2014)
* Harga tanah semakin mahal di DKI Jakarta. Harga lahan di DKI Jakarta tumbuh hingga 16% per tahun, sedangkan upah riil pekerja tumbuh di bawah 10%. Banyak pekerja kelas menengah bawah yang akhirnya harus tinggal di pinggiran DKI Jakarta.
* Hanya 51% penduduk DKI Jakarta yang memiliki rumah sendiri. Sisanya masih kontrak/sewa (34%), bebas sewa (13%), rumah dinas dan lainnya. (SUSENAS 2015)
* Para pekerja dan kelas menengah saat ini masih banyak yang kesulitan untuk membayar Down Payment (DP) apalagi memiliki rumah.]

Dulu, Jakarta diakui oleh dunia karena berhasil menata kampung melalui Program Muhammad Husni Thamrin. #Hunian3majuBersama



[ PERMASALAHAN DAN SOLUSI
1. PENATAAN KAMPUNG
PERMASALAHAN:
Dulu Jakarta diakui oleh dunia karena berhasil menata kampung melalui Program Muhammad Husni Thamrin (Kampung Improvement Program). Sekarang Jakarta dilihat dunia sebagai suatu metropolitan yang kumuh akibat inisiatif warga mengenai kampung deret tak terealisasi.

SOLUSI
* Memulai kembali program MH Thamrin Plus yang mengintegrasikan perbaikan infrastruktur dasar (saluran, infrastruktur air bersih, pengolahan sampah, dan sebagainya) dengan pemberdayaan sosial ekonomi warga kampung
* Merealisasikan kampung deret dengan melibatkan warga sejak perencanaan hingga pengelolaan]

Sekarang, Jakarta dilihat dunia sebagai suatu metropolitan yang kumuh akibat inisiatif kampung deret tidak terealisasi.


[PERMASALAHAN DAN SOLUSI
2. INSENTIF RUMAH SEWA
PERMASALAHAN:
Saat ini 47% masyarakat di DKI Jakarta masih tinggal di Rumah Sewa, baik kontrak/kost (34%), bebas sewa (13%). Namun, sebagian besar rumah sewa ini kondisinya mengkhawatirkan. Hanya sebagian kost-kostan yang memiliki fasilitas memadai, itupun harganya cukup mahal, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

SOLUSI:
Ada Program yang meningkatkan kualitas rumah sewa, yaitu:
* Bantuan perbaikan dan peningkatan kualitas rumah sewa, terutama yang berada di kawasan kumuh.
* Kemudahan pajak bagi rumah-rumah yang berada di sekitar kawasan perkantoran dalam mengalihfungsikan rumah/bangunannya menjadi rumah sewa
* Membuat sistem informasi rumah sewa berbasis aplikasi untuk memberikan kemudahan informasi ketersediaan dan harga rumah sewa serta mengawasi pengelolaannya. ]

Oleh karena itu, kami mencanangkan berbagai program, dan kami berharap program-program ini akan berjalan dengan cepat.


[PERMASALAHAN DAN SOLUSI
3. KREDIT MURAH BERBASIS TABUNGAN BAGI MASYARAKAT BERPENGHASILAN MENENGAH KE BAWAH
PERMASALAHAN:
Pekerja dan Kelas Menengah di DKI Jakarta hingga saat ini masih kesulitan membayar DP rumah (30% dari harga rumah). Sehingga mereka kesulitan untuk memperoleh KPR dari Bank.

SOLUSI:
Mendorong Bank DKI untuk mengganti persyaratan DP dengan jumlah tabungan calon konsumen yang disesuaikan dengan harga rumah (misal jumlah tabungan sebesar 10% dari harga jual jumlah rumah). Sehingga calon pembeli tidak perlu mengumpulkan DP, asalkan memiliki jumlah tabungan yang cukup selama masa tertentu (misal 6 sampai 12 bulan).]

Kami akan meningkatkan ketersediaan hunian sesuai kebutuhan warga dengan mendorong inisiatif warga, mengadakan bank tanah, dan...


[PERMASALAHAN DAN SOLUSI
4. MEMPERMUDAH INVESTASI RUMAH SUSUN
PERMASALAHAN:
* Ketentuan pembangunan rumah susun yang ada pada Peraturan Daerah Provinsi DKI No 1/2014 tentang RDTR & Peraturan Zonasi saat ini sangat memberatkan bagi pengembang, karena harga lahan yang mahal dan terbatas
* Masih berbelitnya prosedur investasi bagi pengembang rumah susun

SOLUSI:
* Perlu adanya deregulasi dalam investasi rusun di ibukota, untuk mempermudah minat investasi rumah susun.
* Pemerintah secara aktif membangun rumah susun , terutama untuk kalangan masyarakat berpenghasilan rendah. ]

mempermudah pemilikan hunian untuk warga kurang mampu melalui kredit murah berbasis tabungan.


[PERMASALAHAN DAN SOLUSI
5. MENGADAKAN BANK TANAH
PERMASALAHAN:
Mahalnya harga tanah berimbas pada harga jual rumah, sehingga diperlukan intervensi dari Pemerintah untuk mengendalikan harga tanah.

SOLUSI:
Mengadakan Bank Tanah.
Bank Tanah adalah sebuah program di mana pemerintah, melalui BUMD, mengendalikan harga tanah melalui kegiatan jual beli tanah dengan pendataan administrasi, yang akuntabel untuk dimanfaatkan bagi tujuan pembangunan (termasuk untuk pembangunan hunian).
Manfaat dari adanya Bank Tanah ini  antara lain membuat harga tanah menjadi lebih murah dan memungkinkan sebagai alat mempengaruhi pola pengembangan suatu daerah.]

Kami berharap adanya peran aktif dari seluruh elemen pemerintahan, legislatif dan masyarakat untuk merealisasikan berbagai program tsb.

January 09, 2017

Tya: Update Status Terkini: Kabar Sahal, Sayyid, Salman

January 09, 2017 11:09 PM

Pertama, saya gagal melaksanakan janji saya sendiri untuk tulis blog minimal 1 bulan 1 artikel.
karena bolong di April dan Desember.

April karena lagi rusuh2nya mau lahiran dan habis lahiran baby Salman,
Desember karena lagi sibuk2nya kerjaan... lelah jiwa raga

dan sudah sekian banyak draft blog yang akhirnya gak selesai2 haha.
ntah draft ini jadi dipublish atau nggak. kalau ada yang bisa baca blog ini selain saya ya berarti berhasil dipublish hahahah. Kalau nggak ya berarti Salman bangun minta nenen, lalu saya ketiduraaan haha

Terus saya bingung mau nulis apa ini.
cuma kangen aja lah nulis blog
karena emang hobby saya nge-blog dan baca novel

tapiii novel terakhir yang saya baca kayaknya itu di malam menjelang operasi. Novelnya tere liye Amelia dan Berjuta Rasanya. cuman yang berjuata rasanya gak selesai dibaca, karena membosankan (maaf ya bang Darwis, ini buku pertama yang saya anggap membosankan, mungkin karena biasa baca full novel tebel, pas baca mini seri gini jadi aneh hehe)

terus gimana kabar anak2?
Sabtu kemarin baru bawa Sahal ke dr Apin . Sakit kah??
Sahal itu gampang banget kena batuk pilek, baru sembuh beberapa hari, gak lama kemudian mulai lagi batuk pilek...
Saya kan jadi khawatir... dan ini udah lama banget.. lebih tepatnya sejak Sahal punya adik.
akhirnya bela-belain jauh2 periksa ke dr. Apin, soalnya aku butuh pendapat yang RASIONAL.
kalau ke dr umum..  takutnyaaa langsung ujuk2 disuruh rontgen, suspect FLEK (nama lain TBC sebenarnya).
terus akhirnya dijelasin sama dr. Apin, macam2 batuk. ada batuk kronis, ada batuk akut.
batuk kronis itu diantaranya TBC, alergi, pneumonia dan apa lagi saya lupa. itu biasanya batuk gak sembuh2 disertai demam, gagal tumbuh (gizi buruk) dll saya lupa lagi. catetannya ada si disimpen, tapi saya udah malas keluar kamar
terus kalau batuk akut, ya kayak sahal ini batuk beberapa minggu, terus sembuh, batuk lagi,
dan itu biasanya hanya COMMON COLD.
dan kebetulan karena Sahal lahir prematur  bisa jadi daya tahan tubuhnya memang tidak sekuat (misal) kakaknya. jadi ketemu sama temen yang lagi pilek ya nular.

terus gimana? buth suplemen segala macam?

dr Apin bilang GAK ADA SUPLEMENT peningkat daya tahan tubuh. itu buang2 duit aja..
intinya berdamai aja... terima kondisi ini. dan berdoa kali yaa...
toh kalau lihat dari berat badan, tinggi badan Sahal itu termasuk Gizi Baik kok... semua normal.
pfiuuuhhh tenang deh..
sebelumnya dag dig dug terus.. setiap bulan harus siap2 lihat Sahal batuk2, pilek muter2 aja.. udah kenyang ditanyain sama tetangga, keluarga "Itu sahal pilek gak sembuh2 perasaan" hehe

terus ngomongin apa lagi ya..
ohya Alhamdulillah Sahal udah mulai banyak kosa katanya. karena dulu sempet panik bangett... tapi2 lagi2 belajar berdamai untuk tidak membandingkan Sahal dengan teman2 seumurannya yang udah ceriwis banget dan lancar bicaranya. karena ya semua perkembangan Sahal memang telat. gigi pertama di usia 1 tahun, jalan baru bisa 18 bulan, bahkan ubun2nya baru ketutup di atas 2 tahun.
Jadi baru bisa ngomong di usia 3 tahun lebih ini, dinikmati saja...
Belajar bersyukur, dan menerima apa adanya.
Karena kelahiran Sahal bisa dibilang anugerah banget.
Saya hamil Sahal di tengah2 kondisi paling suliiiit di usia pernikahan kami ke 4 saat itu.
Kalau roller coaster, saat itu adalah titik paling rendah dan terbalik.
Karena itu saya tidak percaya diri dengan kehamilan saat itu, karena jiwa dan raga saat itu sedang benar2 diuji.
Mudah2an dewasa nanti Sahal juga jadi anak yang 'tahan banting' untuk menerima segala ujian dan cobaan. Aamiiin

Terus kabar apa lagi?
Sayyid.. Udha tahu kan Sayyid udah kelas 1.
Ini juga tadinya mau cerita tentang sekolah Sayyid..
dulu TK nya deket rumah aja?
dulu itu kan sempet kepingin banget homeschooling, tapi sadar diri GAK JADI
terus dulu sempet kebawa juga pingin masukin di TK yang katanya keren2 (red: mahal maksudnya)
tapi aku pikir ngapain siik?
TK itu mah taman kanak2...
saatnya main2 aja sambil belajar.
karena TK nya deket, jadiiiiiii Sayyid bisa jalan kaki ke sekolah

Terus meskipun di TK diajarin calistung, tapi ya aku biarin aja Sayyid ikutin semampunya.
Jadi itu ya kenyang deh kalau dikasih laporan sama Bundanya di TK kalau Sayyid itu salah satu 'biang ribut' hahahah
disuruh nulis bilangnya capek lah ini lah itulah

tapi habis itu lari2an ke sana kemarin gak ada capeknya
belum lagi kalau Sayyid lagi marah... tersinggung dikit maraah
dan marahnya ituuuu huffffffffff (temen kantor aku tahu nih kelakuan Sayyid kalau marah hahaha)

Jadi lulus TK Sayyid baru bisa baca 2 huruf aja...
Sempet ditawarin les, karena sebagian sekolah SD di sini iniiiiii ada tes calistungnya...
terus aku bilang ke Bunda nya.. gak usah lah Bun.. biarin aja sebisanya Sayyid..
pun capek juga udah pulang jam 10, masih disuruh les juga.. oh nooooo

Ohya bahkan di TK ini ada PR nya lho
ini yang bikin senewen
aku minta Sayyid tetep ngerjain bukan karena ingin dia bisa segera calistung, tapi belajar KOMITMEN untuk lakuin apa yang janji dia kerjakan.
jadi lihat hasil PR nya yang ruarbiasaaaaaak
pas awal2 itu tulisannya bisa 5 baris sendiri. sesuka2 dia aja laah
PR nya itu susah2 lah. disuruh tulis nama pahlawan, nama alat komunikasi dll
ya ampuuuuuun?
ya nyantai aja juga siii
itu kan artinya ORANGTUA nya yang musti ngajarin sambil cerita di rumah tho hoho
jadi gak perlu lah posting keluhan macam gini di pesbuk hahahah

terus akhirnya pas mulai daftar SD.
Setelah cari2 survey ke 3 sekolah which are 2 sekolah alam dan 1 SDIT
dipilihlah SDIT Insan Madani.
Tadinya Sayyid udah kepengen bangey masuk ke Sekolah Alam Bambu Item di Villa Nusa Indah.
Sampe sana langsung happy banget dia.. iya mi di sini aja mau mau mauuu
tapi karena pertimbangan jarak dan biaya juga (hahaha tetep aja mahal thooo)
akhirnya pilih SDIT Insan Madani.
Sedangkan Sekolah alam yang satunya Sayyid kurang sreg, karena kecil sekolahnya. terus karena lokasi lumayan jauh juga siii

SD Insan Madani ini bisa dibilang semi sekolah alam juga sii
Karena ada fasilitas outbound nya di belakang hahahaha
dan karena setelah hasil nguping oobrolan emak2 tetangga yang sekoolah nya nyebar di beberapa SD terdekat, aku pikir SDIM ini yang lebih tepat.
Masih pakai Kurikulum 2013 juga, terus kelihatannya anak2 gak terlalu terbebani dengan materi pelajarannya.
sekelas cuma 25 an
dan memang MAHAL hahaha
tapi Alhamdulillah lah Sayyid ada asuransi dan biayanya pas banget sesuai dengan biaya masuknya

Dan sampai sekarang Sayyid masih terlihat happy2 aja sekolah
belum ada keinginan SERIUS untuk bolos sekolah. sedangkan pas TK sempet beberapa kali ngambek gak mau sekolah :D

nah terus gimana Syayid udah punya 2 adik
entar aja deh cerita nya lain kali aja haha

nah terus Salman gimana kabar?
seriously ini bayi paaaaaaaaaaaaaaaaaaaaliiiiiiing 'rusuh' diantara kedua kakaknya
umur 6 bulan tau2 udah bisa duduk sendiri, udah bisa merangkak, udah punya gigi 2.
sekarnag udah berdiri2 merembet di kasur
terus kalau nangissssssss bikin OTAK SAYA BEKU. karena saking kencengnyaaa...
kalau digendong gak bisa diem.
intinya paling bikin saya pegel haha

nanti kapan2 diceritain lagi deeh
ini udah jam 11
mau BAK lalu bobo

bubbyeeeeeeee
Selamat tidur


December 29, 2016

JePe: Privacy Matters!

December 29, 2016 06:41 AM


We say something about what government do would hinder privacy and people would often put their finger to us. They would ignore the issue completely. Their standard argument, "if we are a good citizen, we should not be afraid."

Well, we should!

When Government do surveillance program, there is no counter nor audit. The program usually in secrecy and it's not under any provision. We would never know when something in the system go rogue until it's too late.

Who in charge of the system? When a party with agenda got her hand on it, how can we know when it is used against the constitution?

When Government do censorship, on what basic ground would the Government screens? What is the mechanism of appealing?

Can people take an appeal without having public shaming?

Vimeo still get blocked in Indonesia.

JePe: Rohingya Revisited

December 29, 2016 06:38 AM


I thought since my last post people of the world (UN, ASEAN, etc.) had already progressing against this apartheid schemes. Well, I know that in ASEAN apartheid is not just exclusive to Burma. It is a complicated story that was built upon years of bloodshed and political struggles.

Have a friend or two who work passionately in NGOs and you'll know what I mean. Or, you could be that one friend. I can't disclose any of those apartheid schemes here because it might impact their good works or the people within those government bodies that want to change things up.

Hate is a good tool to improve people's support. It plays well to sooth anxiety in people's heart.  Trump already prove that.

Everyone, including me, is a racist. I too once think of Indian with bad attitude. Their fast talk, their stinking body and how pushy they were to me made my anxiety. Along the way, I met many more good (and great) Indians. Now, I am not even ashamed learning from them.

Assholes are inclusive everywhere, no matter what the skin tone nor the languages.

According to many citizen of Burma stated in Quora, all of those Rohingya was a Bangladeshi. To make it worst, they weren't speaking national language nor singing national anthem. Because of their low education, they are prone to do bad things that in the end made the Burmanese anxious.

Like the article in Quora said, Burma has Kamein that predominantly Islam and living integrated and well in Burma. But, these Rohingya were sought as Bangladeshi illegal migrants. You know how even US feels about immigrants.

There is also a deep political bloodshed that happened in the past that made Burmanese felt deep hatred against them. Because of this also, they mistreated Rohingya people. Two had nurtured hatred over the years and you can't expect them to sit and having a couple cup of tea and everything is rainbow and unicorns.

So, what would be the answer?
  • Educate and naturalized Rohingya people to Burma?
  • Send them back?
Even though Dalai Lama had encourage Aung San Suu Kyi to help the Rohingya, she still reluctantly do so. Her party had the same feeling like the rest of the Burmanese. It would be a political suicide given she just got her freedom back. Besides, Dalai Lama is not the leader of the Buddhism that Burma people took.

Reconsiliation takes years.

Meanwhile, here's some read.
  • http://www.newmandala.org/rohingya-stalemate-tests-myanmar/
  • http://www.mykawartha.com/news-story/6964606-myanmar-says-34-people-killed-after-they-attacked-troops/
  • http://www.aljazeera.com/news/2016/11/rohingya-muslims-flee-myanmar-crackdown-bangladesh-161117062551006.html
  • https://www.hrw.org/news/2009/11/06/refugees-australia-should-rethink-indonesia-solution
  • http://www.nytimes.com/2016/11/14/world/asia/violence-escalates-between-myanmar-forces-and-rohingya.html?_r=0 
  • https://www.hrw.org/reports/2000/malaysia/maybr008-01.htm
  • https://en.wikipedia.org/wiki/Rohingya_people

JePe: That third hero that was forgotten. (Peter Norman)

December 29, 2016 06:28 AM

Hasil gambar untuk PETER NORMAN
That 3rd Person in the background of history.

Harvey Dent from the Nolan's Batman trilogy said, "...you either die a hero or live long enough to see yourself become the villain." But, a third hero in 1968 Mexico Olympic made a statement that there was a third option: "or, becomes a forgotten hero."
 
It's not a compelling option for our ego. But, religions like Christianity offer martyrdom for such cause. There is a "greater than life" purpose. To spread Good News (Gospel) and freedom. Peter Norman is one of the model for what a Christian should gives.

Salute!

Read More

December 19, 2016

Bimo: Bajak Laut dan Purnama Terakhir

December 19, 2016 04:52 PM

Novel Terbaru Adhitya Mulya Saya selalu punya masalah untuk menuliskan nama Adhitya. Pake huruf 'h' ga? Dimana letak huruf 'h' nya? Adit? Adhit? Adith? Ahhdit?? Tapi saya akui, kalau @adhityamulya adalah salah satu tokoh penulis favorit saya. Jomblo, Gege Mengejar Cinta, dan terakhir, yang bikin saya termehek-mehek saat membacanya : Sabtu Bersama Bapak. Nah, baru-baru ini penulis ini

December 09, 2016

Cynthia: blessing in disguise

December 09, 2016 01:01 PM


"Lain kali, jangan anggap remeh jatoh ya, langsung ke dokter tulang, jangan ditunda-tunda"
"Yakali dok, mosok saya jatoh langsung minta MRI, saya minta roentgen aja dibilang lebay sama temen saya, disuruh ke tukang urut aja katanya"
"Lah kalo udah begini emang temen kamu mau tukeran penyakitnya sama kamu?"
"........................................."

His words actually make sense. Padahal gue udah melakukan tahap-tahap pengobatan yang masuk akal menurut otak gue..

I went to the emergency room, instead of tukang urut. Checked.
I'm asking to have a roentgen straight after the fall. Checked.
I went to physiotherapy after that. Checked.



Gue pulang dari UGD Medistra setelah roentgen dan memastikan tulang gue gak kenapa2. Dokter jaganya pun menyarankan gue pake crutches untuk sementara, at least sampai bengkaknya hilang. Dengan berbekal obat penghilang rasa sakit, cold pack buat kompres, dan crutches ngembat dari kantor, akhirnya gue pulang dan bed rest selama 3 hari.


Hari keempat gue memberanikan diri buat turun ke bawah dan makan di mall karena gue bosaaaaan dengan makanan takeaway yang itu-itu aja. Gue kangen teppanyakinya Ichiban Sushi, hahaha.. Dan hari kelima gue dengan sok jagonya pergi ke Snappy tanpa crutches buat ngeprint kartu nama kerjaan dari kantor.


Minggu berikutnya, gue habiskan waktu gue dengan kunjungan fisioterapi. Mereka kasih gue Kinesiology Taping, macam aksesoris aja di kaki gue. They said it used to reduce the swollen and ease the pain. Entahlah tapi gue gak merasakan perbedaan apa2. Bahkan treatment fisioterapi yang ngefek banget pas nyembuhin sakit leher gue, berasa gak ada gunanya pas dipake di kaki.


Di momen ini mulailah orang pada komen. Udeh lah diurut aja. Takut banget ama sakit. Sakit bentar abis itu langsung sembuh kok. Daripada semingguan ngantor jalan pincang susah kaya gitu.

I have an unpleasant experience with tukang urut. Bukannya gue gak suka diurut ya, gue malah doyan pake banget, sebulan sekali minimal dateng ke tukang urut buat ngilangin pegel. Tapi kalo untuk urusan penyakit, gue gak percaya mereka punya pengetahuan yang cukup mengenai organ dalam (tulang, sendi, otot, ligamen dkk) sebaik dokter. Ankle kaki gue pernah kena juga dulu waktu kecil jatoh, trauma gue ke tukang urut, kelar diurut yang ada malah jalan gue gak normal dan kaki gue gak bisa ditekuk dengan leluasa. This time I stand with my own choice. Biar orang mau bilang apa terserah, gue kagak mau ke tukang urut!

Setelah seminggu fisioterapi gak kelar bengkak gue, sang terapis maksa gue ke dokter Ortopedi. In this case, dokter bedah tulang. Jeng jeng jeng jeng, alamakjan lebay amat keseleo doang sampe ke dokter spesialis. Tapi secara dibayarin kantor ya udah lah ya. Sempet melongo pas liat bill-nya, secara Medistra itu suka sadis ya kalo masalah harga, tapi karena hati gue udeh tertambat disini gue gak bisa ke lain hati.. *haseeek*

Seperti biasa, gue gugling sang dokter Ortopedi, soalnya walopun gue udah reserve dari 2 hari yang lalu, antrian gue No. 49 bok! Kepo dong gue kok ni dokter ngeheits banget. Wrong move sistah! Si dokter yang mukanya waktu masih muda mirip Lee Kwang Soo ini (iyeeee, gue kebanyakan maraton Running Man, aaaaaakk!!) menikah sama wanita yang sukses bikin gue merasa kayak remahan sari roti yang abis diinjek trus gak dibayar sama orang-orang diluar sana. Si bu dokter ini, mantan gadis sampul tahun 1981, dikasih gelar kebangsawanan sama keraton Surakarta dan honorary consul dari negara luar. Gak cuma itu, dia itu juga direktur di sebuah perusahaan yang lumayan terkenal dan pemilik cafe yang besar juga. Gak cuma itu, anaknya pembalap bo, dan lumayan berprestasi sampe diwawancarain sama Kompas segala. Huft, awesome people attracts each other ya. Apalah aku ini..

Ketemu sang dokter, abis lah gue dimarahin. Aselik ni dokter galak pake banget.

Udah tau kaki bengkak ngapain kamu masih jalan-jalan mondar mandir kayak gini, gak pake kruk lagi. Jatohnya udah dua minggu terus kamu baru ke saya sekarang? Ini kaki enggak diurut kan? Kaki bengkak tuh enggak boleh dipake jalan apalagi diurut.

Untung gue gak kasi tau doi kalo gue pulang pergi ngantor naik kereta plus kopaja. Bisa dijeblosin gue ke lubang penistaan tulang yang terdalam.

Akhirnya sang dokter nyuruh gue MRI. Gue langsung ngeriiiii, udeh berpikiran yang enggak2 dah pokoknya. Sebenernya kengerian terdalam karena gue gak yakin limit CC gue masih menyanggupi buat bayar, dan CC gue yang limitnya lumayan, gue sengaja tinggal di kamar karena gue ngeri kebobolan. Bener aja dong abis nggesek hari ini, CC gue langsung overlimit. Untung bayar MRI-nya bisa besok. Gilaaaaa, mahal bet dah ni Medistra, ckckckck..

Besoknya gue balik lagi buat MRI, ni ruangan dinginnya kayak masuk kulkas. Gue gak boleh gerak sama sekali selama 40 menit dan alatnya ampun dah berisik banget walopun udah pake headphone kedap suara dan diputerin lagu. Untung cuma kaki doang yang di-scan jadi badan gue masuk ke alatnya cuma sampai perut doang. Yang punya claustrophobia pasti gak bakal bisa masuk di ni alat. Ngeri bok.
 


Vonis sang dokter cukup bikin gue shock. Ternyata salah satu ligamen gue putus bok. Kenapa masih bisa jalan? Karena masih ada dua ligamen laen yang menyokongnya. Alhasil kaki gue digips dan enggak boleh pulang naek kereta! Hahahaha..

Another bed rest, yay! Tau aja gue lagi letih dan butuh kabur dari semua ini..



Day two of bed rest. Semoga minggu depan pas gips dibuka, kaki udah lumayan sehat jadi gak perlu di operasi, amiiiiinn..

Sebagai penutup postingan biar agak senengan dikit..
Tidaklah seorang muslim yang tertimpa gangguan berupa penyakit atau semacamnya, kecuali Allah akan menggugurkan bersama dengannya dosa-dosanya, sebagaimana pohon yang menggugurkan dedaunannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

December 07, 2016

Iang: Memprogram ESP8266 dengan Arduino Uno

December 07, 2016 08:39 AM

Beberapa waktu yang lalu saya butuh memprogram modul ESP8266 namun entah mengapa selalu gagal. Setelah coba macem2, sepertinya USB-to-Serial adapter yang saya gunakan itu bermasalah. Saya sudah pesan adapter baru namun butuh waktu lama untuk sampai; dan saya gak sabaran xD Untungnya saya menemukan artikel berisi petunjuk menggunakan Arduino Uno atau Nano untuk memprogram modul ESP8266 dan kebetulan saya punya Arduino Uno dan Nano yang bisa dipakai. Inilah cara yang saya pakai.

Perhatian! Panduan berikut ini BUKAN berisi panduan menggunakan ESP8266 dari Arduino, melainkan panduan untuk memprogram.

Arduino Uno dan Nano itu memiliki USB port yang bisa dipakai untuk memprogram dan keduanya memiliki jalur serial TX dan RX. Ternyata andai Arduino dibuat dalam mode Reset dengan cara menghubungkan RESET ke GND, maka si Arduino akan bertingkah sebagai USB-to-Serial adapter!

Sebelum lanjut, menurut yang saya baca, port Arduino itu bekerja dengan 5V sedangkan ESP8266 itu bekerja dengan 3.3V dan tidak memiliki toleransi sampai 5V. Sehingga sinyal dari Arduino yang dikirim ke ESP8266 berpotensi untuk merusak modul ESP8266 tersebut. Kebetulan saya lupa menyadari hal ini namun untungnya modul ESP8266 saya masih bisa berfungsi dengan baik. Supaya aman kita perlu mengubah sinyal 5V dari Arduino menjadi 3.3V sehingga aman dikonsumsi oleh ESP8266. Salah satu caranya adalah dengan membuat voltage divider.

Voltage Divider

Dengan memakai kombinasi R1 = 1KΩ dan R2 = 2KΩ, kita bisa mendapatkan sinyal 3.3V yang berasal dari 5V.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bagimana memberi pasokan listrik ke modul ESP8266. Menurut sebuah dokumen, ESP8266 dapat memakai arus listrik sampai 215mA sedangkan Arduino hanya dapat memasok sampai 200mA. Walau besar kemungkinan ESP8266 tidak akan memakai arus sebesar itu ketika diprogram, akan lebih baik jika kita menggunakan sumber listrik yang lain. Menurut eksperimen saya, bread board power supply biasa sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan pasokan listrik untuk ESP8266.

Mari lanjut dengan menghubungkan Arduino dengan ESP8266. Buat hubungan sebagai berikut.

  • Arduino TX ke ESP8266 TX
  • Arduino RX ke voltage divider input
  • Voltage divider output ke ESP8266 RX
  • Arduino RESET ke GND
  • Hubungkan semua GND
    • Arduino GND
    • ESP8266 GND
    • Voltage divider GND
    • Breadboard power supply GND
  • Breadboard power supply 3.3V ke ESP8266 VCC
  • ESP8266 CH_PD ke 3.3V via resistor 10KΩ
  • Untuk mengaktifkan mode pemrograman, hubungkan ESP8266 GPIO0 ke GND via resistor 10KΩ

Kalau digambarkan, kira2 akan terbentuk hubungan seperti berikut.

Koneksi ESP8266 dengan Arduino

Setelah semua siap, sambungkan Arduino via USB dan nyalakan breadboard power supply dan modul ESP8266 sudah bisa diprogram. Jika menggunakan Arduino IDE, cukup pilih board ESP8266 dan port USB yg dipakai.

Berdasar pengalaman saya, walau konfigurasi di atas ini sudah bisa berfungsi, kadang2 saya masih menemui kegagalan ketika proses pemrograman berlangsung. Saya belum tahu apa sebabnya namun biasanya setelah saya matikan dan nyalakan lagi si breadboard power supply, proses pemrograman berikutnya bisa berjalan lancar.

Have you tried turning it off and on again?

Selamat mencoba!

November 26, 2016

Cynthia: Big Old Chunk of 2016

November 26, 2016 05:48 PM

I noticed that I only write three times this YEAR T_T not only I'm lacking the mood to write, I barely have mood for everything. But thanks to my roommate, today she kinda bring back the reason for me getting up early in the morning to work again. Haha, black friday we love you!

Since I have a lot to catch up, maybe I'm just gonna re-post those scattered moments from Path in case I want to look back to year 2016 and smile.

January 2016, Malang I'm In Love

Another free vacation from the office. As usual I bring my Mom with me to visit this lovely city. We stayed at Singhosari Resort, Batu with my colleagues. This is my second visit to this area and I'm still in love with it. The less-polluted air, the beautiful scenery, and the tourist attractions. Batu Night Spectacular, Jatim Park, and Museum Angkut are some of their must visited!

May 2016, Villa Talaga Cikeas

Came here with some fellow photographer from the office to learn photography from scratch. The view is so green and calm and beautiful. If you need a place that is not too far from Jakarta yet very much different atmosphere from there, you can go here. The rate is quite affordable, though..


June 2016, Spontaneously Semarang

Actually it's like a closure coming here. Need to finish some unfinished business that is hard to taken care of. The three of us went there on weekend, stay at new Louis-Kienne Hotel in Simpang Lima Semarang. Their rooftop pool is so cool especially at night.

It is supposed to be a religious getaway since we did it during breakfasting month, haha. We visited Lawang Sewu on our first night. The place is beautiful yet so creepy. The guide is very knowledgeable and told us bunch of interesting stories regarding this used-to-be railway headquarters and prison. The next day we visited Pagoda Avalokitesvara Buddhaya - the tallest pagoda in Indonesia, Sam Poo Kong temple - the oldest Chinese temple in Semarang, and the magnificent Central Java Mosque. Proudly I can say that those places are very well maintained. Good Job, Semarang.



September 2016, Historical Short Course

We went to Jatiluhur dam since we have nothing else better to do that weekend, haha. Surprisingly the scenery is beautiful too. We took a stroll and had an early lunch on Istora Jatiluhur.

After that we follow-up on our late nationality epiphany, went straight to Rengasdengklok to visit historical house, Djiaw Kie Siong's house, where our first president brought after kidnapped in 1945. Unfortunately stories whatsoever are not available inside the house. It's sad since this place is quite significant in our nation memorial.


November 2016, Sinok Goes To Dieng

This trip was planned way too long ago and finally this trip is coming true! We are so proud of ourselves. The 18 of us independently arranging weekend getaway to Dieng. We went there by elf and arrived at Wonosobo after 13 hours of sitting in a crowded "luxury" elf. The elf itself is actually comfortable, but even a sofa won't be comfortable if you have to sit there for 13 hours T__T

This trip is sponsored by one of us who has big house in Wonosobo to minimize the cost. The house is comfortable for even 50 people having a rave party here. The family is very welcome, the atmosphere is really conducive, loved it here!

Dieng itself is a very interesting place to visit. Luckily it's not very cold up there at the moment. Be sure not to missed the movie in Dieng Theatre. For some people, the movie might be boring, but for me it is a nice to know information regarding this place.


Anyway, back to the topic why I suddenly had the mood to write again. Welcoming our most anticipated event in September 2017. Europe, wait for us!

~anakModis
~tiketMure
~nungguSetaon

November 21, 2016

Iang: Realtek USB WiFi dongle on Pine64 with Debian

November 21, 2016 02:42 PM

I have had a Pine64 since a while ago and just a few days ago I finally tried to turn it on! xD I plan to use it as a main home router since it has a gigabit ethernet.. well scrap that, I think I found a better device for that. Anyway, I still want to use it but now as another kind of (wireless) router that will route and bridge all my tiny bitty wireless devices based on ESP8266. I intentionally wanted to have them separated from the main home network.

So, also a while ago, I bought a USB wireless dongle because I didn’t buy the WiFi module from Pine64 guys. Apparently the dongle uses a Realtek chipset, RTL8188CUS. I plugged the device into my Pine64 and then.. nothing xD nothing showed up on the ifconfig -a device list. Ah, I used the Debian Base (Debian Base (3.10.102 BSP 2) to be precise) distribution for the Pine64 btw.

Google around, and I found a page on Debian Wiki that says I would need to have rtl8192cu module loaded. Sure enough, it’s not there. The search continued, this time with a more specific keyword. I then ended up on a GitHub page and looks like some is having a similar problem as mine. After trying here and there I finally made the device showed up! I haven’t configured it thogh.. but anyway.. here’s what I did.

  1. Apparently I had to upgrade the kernel of the Debian installed on the Pine64. It used to use Linux 3.10.65-7-pine64-longsleep. After the upgrade, it changed to 3.10.104-1-pine64-longsleep. What I had to do was just running the following command.

    $ sudo pine64_update_kernel.sh

    The script should come already with the distribution. It will download, verify, and install a new kernel. After it finished, you will be asked to restart the device.

  2. I tried to replug the USB dongle and nothing still showed up. I check the log using journalctl and found the following message.

    Nov 19 04:20:28 localhost.localdomain kernel: usb 2-1: new high-speed USB device number 3 using sunxi-ehci
    Nov 19 04:20:28 localhost.localdomain kernel: rtl8192cu: Chip version 0x10
    Nov 19 04:20:28 localhost.localdomain kernel: rtl8192cu: MAC address: 01:23:455:67:89:0a
    Nov 19 04:20:28 localhost.localdomain kernel: rtl8192cu: Board Type 0
    Nov 19 04:20:28 localhost.localdomain kernel: rtlwifi: rx_max_size 15360, rx_urb_num 8, in_ep 1
    Nov 19 04:20:28 localhost.localdomain kernel: rtl8192cu: Loading firmware rtlwifi/rtl8192cufw_TMSC.bin
    Nov 19 04:20:28 localhost.localdomain kernel: rtlwifi: Loading alternative firmware rtlwifi/rtl8192cufw.bin
    Nov 19 04:20:28 localhost.localdomain kernel: rtlwifi: Firmware rtlwifi/rtl8192cufw_TMSC.bin not available

    Looked like the kernel finally recognized the device but it could not continue to activate it because it did not have and could not load the suitable firmware.

    After I checked the GitHub page again, one comment there says I need to install a package named linux-firmware. So that’s what I did next.

    $ sudo apt-get install linux-firmware
  3. I then tried the dongle again.. now it seemed to be a success! If I typed ipconfig -a, I could see a new device albeit with a weird naming: wlx01234567890a.

So.. the setup can now continue. Hope this helps.

Maya: Catatan The Explorer

November 21, 2016 08:20 AM

Explorer? Me? Nah! Traveler paling malas sedunia lebih tepatnya, males nenteng backpack berat, males naik tangga, males bangun pagi, males tidur malem, males kejar2 itinerary dan list to-be-seen di suatu kota. Tapi paling hobi keluar Jakarta. Kalau ada assignment luar Jakarta (misalnya Depok wkwk) pasti gw bakal selalu unjuk2 jari (tapi entah mengapa jarang kepilih 😢)  kayanya kurang keahlian memanah hati bos-bos, atau kurang dianggap cowo (which is DUH, ya pastilah, kadar estrogen gw kan tinggi sangat)


Anyway keluar Jakarta itu (atau ke luar domisili di mana pun gw berada) buat gw selalu menyenangkan. Why? Karena i enjoy people-watching activities. Kalo gw maen di Game of Thrones, mungkin gw adalah naganya (ya kali). I mean gw bakal jadi Watchers of The Wall. (Sambil berpikir kayanya job desc kurang nyambung ama minat,  like always)


People watching is interesting because i always come into the same conclusion. 


(1) Di mana2 semuanya adalah sama. Orang Arab yang hidungnya mancung2 dan putih2 dan ganteng2 (relatif) yang kalo ke Indo bakal jadi bintang pelem atau wisatawan ke puncak, di negara mereka tetep aja ada yang shitty ada yang baek. Ada yang kaya ada yang kere. Ada yang bajingan ada yang malaikat. Di Indo kalau lewat pasar suka disahutin, "Mari kakaa.." Kalo di Maroko suka disahutin, "China?? India?? Japan?? Konnichiwa.." 


(2) Apa yang baik di negara orang belum tentu baik di negara kita. Contoh turban. Di negara padang pasir, turban ini adalah anugerah ilahi. Karena selain bisa bikin rambut gw terlihat abis bonding, kepala bisa adem dan pasir ga bisa masuk mulut/hidung. Kalau dipake di Indonesia, biasanya bakal disangka pelaku demo anarkis yang bawa-bawa pentung. 


(3) Apa yang baik di negara kita belom tentu baik di negara orang. Contoh sholat ke arah Barat. Ini agak kocak soalnya entah mengapa temen gw cerita pas di mesjid dia ud cek arah kiblat Barat di hape eh ternyata dikasi tau salah arah dong. Ehm? Tapi ya sudahlah, jadilah di mana langit dipijak di situ langit dijunjung.


(4) Alay akan selalu ada dan belum disinyalir akan punah. Jika alay di Indo akan nyapa dengan, "Lam knal." Maka alay di Maroko akan nyapa dengan, "Slt." Cukup lama gw berkontemplasi dengan arti kata slt ini. Dan gw berkesimpulan ini artinya either "Salamat" or "Salud" secara mereka suka pake French gtu. I mean, what is wrong with typing the whole word properly. It will not cost you any different. Jaman SMS harga per huruf udah lewat, bro! Plis! Kzl!


(5) Cinta ga kenal usia atau ras atau latar belakang (eaa). Tiap kali liat pasangan2 beda ras atau beda latar belakang pasti gw bakal awww sendiri. Padahal bisa aja mereka bukan pasangan HAHAHAHA. Tapi gw akan selalu menebak-nebak poin perbedaan apa yang bikin mereka berdua itu klop, apa yang dilengkapi oleh si A dan apa yang dilengkapi oleh si B. Gw diskusi serius (tapi sumpah ga penting) malem2 dengan topik ini ama temen gw. Dia selalu at first impression ngeliat persamaan dalam sebuah(?) pasangan. "Mereka kayanya sama2 tukang makan deh." "Mereka pasti suka traveling deh berdua." "Mereka pasti pecinta tato tuh". Kalau gw? Berhubung gw introvert dan ga suka nyapa orang, maka gw akan ngarang like this, "Ih cewenya bawel banget tapi cowonya pendiam ya." "Aww cowonya tinggi besar tapi cewenya kecil imut ya." "Wow cowonya ud mature banget dibanding cewenya yang masih lasak sana sini." Etc etc. Kalau kamu bagaimana? (Ala-ala pertanyaan majalah remaja)


Intinya...? Intinya banyak2lah keluar dari rumah biar bisa lihat dunia. Kalo belom ada rejeki ya banyak2lah lembur biar ada rejeki. Karena dunia ga selebar daun kelor (padahal hingga detik ini gw ga tau tampang daun kelor) but ironically the world is so small that you will be so impressed.


Hopefully next year I will travel and see new random places all over again and be amazed by it.


(Ditulis saat nungguin delay KLM selama sejam padahal mereka sok banget nyuru2 boarding satu setengah jam sebelum flight. See, ga pesawat mahal ga pesawat murah sama2 bakal delay at some point in time)


Reposted from my Facebook wall, 30 October 2016

November 17, 2016

Iang: Penyanggahan standar tentang tulisan terkait elektronika

November 17, 2016 08:46 PM

Sudah hampir satu tahun saya mulai ngoprek2 hal yang sedikit berbeda. Masih berbau2 dunia teknologi namun tidak sepenuhnya di dunia perangkat lunak: Elektronika! Yang dimaksud dengan elektronika ini adalah hal2 yang terkait dengan resistor, transistor, microcontroller, pcb, arduino dan sekitarnya. Walau dulu saya pernah ikutan tim robot di Univesitas Indonesia, namun saat itu saya hanya mengerjakan bagian perangkat lunaknya saja.

Nah ceritanya saya pengen menuliskan pengalaman terkait ngoprek2 elektronika di blog ini. Namun berhubung saya tidak punya pendidikan dan pengalaman formal, maka saya ingin membuat pernyataan “penyanggahan standar” terkait tulisan saya yang berhubungan dengan elektronika.

* * *

Saya tidak memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman formal di bidang elektronika. Dalam kegiatan ngoprek elektronika, saya hanya mencomot informasi dari sana-sini yang tersebar di jagad Internet. Saya tidak menjamin keakuratan rancangan dan kalkulasi yang saya lakukan. Jika Anda melihat kesalahan yang saya lakukan atau punya saran, tolong kasih tau saya! 🙂

PERHATIAN! Ngoprek2 dengan elektronika bisa sangat berbahaya terutama jika sudah berurusan dengan arus/voltase tinggi termasuk listrik di rumah. Tolong gunakan akal sehat dan penuh kehati-hatian selama ngoprek. Saya tidak bertanggung jawab atas musibah/kecelakaan yang mungkin terjadi.

* * *

I don’t have a formal education nor experience in electronics. I only gather information here and there mainly from the Internet during my electronics experimentation. I don’t guarantee the accuracy of my design or calculation. If you spot errors or have suggestions, please let me know! 🙂

WARNING! Working with electronics can be extremely dangerous, especially when you are dealing with high voltage/current, including the electricity at house. Please use common sense and be careful when experimenting. I do not take responsibility for any accident that may happen.

Iang: ESP8266 dan USB-to-Serial adapter abal-abal

November 17, 2016 08:46 PM

Beberapa waktu lalu saya mencoba untuk mengupload aplikasi ke ESP8266, tepatnya ke modul ESP-01. Seperti yang umum disebut di tutorial2 lain, saya menggunakan USB-to-Serial adapter untuk menghubungkan ESP-01 tsb dengan komputer yang saya pakai. Proses upload awalnya berjalan lancar dan aplikasi yang saya pasang bisa berjalan dengan baik. Namun belakangan proses upload sering gagal dengan indikasi proses upload selalu nyangkut di sekitar 99%-100% dan/atau aplikasi tidak dapat bekerja.

Salah satu karakteristik yang saya temukan adalah proses upload gagal ketika ukuran aplikasi sudah melebihi kisaran tertentu (sekitar 25%). Jika ukuran aplikasi sudah melebihi 25%, maka bisa dipastikan proses akan gagal. Jika kurang dari itu, kemungkinan besar proses akar berhasil namun saya juga mengalami beberapa kasus kegagalan.

Kalau saya nyalakan mode pemrograman, yaitu dengan menghubungkan GPIO0 ke GND, lalu mereset si modul, dan memantau data yang dikirim ke serial port, biasanya saya mendapatkan pesan seperti berikut.

ets Jan 8 2013,rst cause:4, boot mode:(3,7)

Setelah ngubek2 internet sana sini, dan juga ngikutin petunjuk memasang modul dengan benar (baca: pakai resistor untuk pull-up/pull-down, pasang capacitor, dsb), tetep aja proses upload ngga pernah berhasil. Sampai akhirnya ada yang menyarankan untuk mengecek USB-to-Serial adapter yang digunakan. Ada yang mencoba mengganti dengan adapter lain dan proses upload langsung berjalan lancar.

Adapter yang saya pakai bentuknya seperti gambar di bawah ini dan beli di AliExpress (atau eBay ya?). Mungkin saja chip yang dipakai (FTDI) adalah barang tiruan berhubung gosipnya FTDI itu relatif tidak murah walau terkenal.

Berhubung yang saya sedang kerjakan dengan modul ESP-01 ini ingin segera saya deploy (baca: pasang), maka akhirnya saya memutuskan untuk membeli model lain di AliExpress. Kali ini menggunakan chip CH340G yang juga terpasang di Arduino Nano clone yang saya miliki dan tidak bermasalah. Adapter yang saya beli kali ini bentuknya seperti gambar di bawah

Sekitar satu-dua hari setelah pemesanan (dan 2-3 minggu sebelum barang biasanya sampai), saya membaca tulisan di dzone.com mengenai memprogram ESP8266 dengan Arduino! Kalau dipikir2, Arduino Uno dan Nano itu kan pastinya berisi USB-to-Serial adapter juga. Ternyata ada caranya supaya kita bisa menggunakan adapter yang terdapat di Arduino Uno/Nano untuk sebagai adapter biasa, yang juga bisa dipakai untuk memprogram ESP8266! Silakan kunjungi tulisan tadi atau tunggu tulisan saja berikutnya 😛

Narpati: Program Kampanye Pasangan Calon no 1 DKI Jakarta Agus - Silvy

November 17, 2016 05:06 AM






1. Bantuan langsung ke warga miskin
2. Pengurangan pengangguran dan menciptakan lapangan kerja.
3. Peningkatan pendidikan dan kesejahteraan guru.
4. Peningkatan Kesehatan.
5. Peningkatan pertumbuhan ekonomi dan investasi modal
6. Peningkatan infrastruktur dan perumahan
7. Jakarta menjadi Kota pintar, kreatif dan ramah lingkungan.
8. Peningkatan kemanan kota dan kerukunan warga
9. Penegakan hukum bagi semua
10. Peningkatan kualitas pmerintahan dan birokrasi





BANTUAN LANGSUNG KEPADA GOLONGAN MISKIN DAN KURANG MAMPU
(Anggaran tambahan Rp 15 Triliun)
- untuk tingkatkan daya beli masyarakat
- untuk balita & lansia
- penguatan jaringan pengaman sosial lainnya

PENINGKATAN PENDIDIKAN DAN KESEJAHTERAAN GURU
- Peningkatan besaran KJP
- Peningkatan beasiswa miskin
- Peningkatan beasiswa prestasi
- Bantuan pendidikan sekolah negeri, swasta, madrasah, & agama lainnya
- Peningkatan kesejahteraan guru
- Mendirikan SMA Unggulan gratis untuk keluarga miskin


PENINGKATAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DAN PERUMAHAN
- Percepatan & Penambahan infrastruktur jalan
- Peningkatan prasarana perumahan rakyat
- Peningkatan prasarana air bersih

PENINGKATAN KUALITAS PEMERINTAHAN DAN BIROKRASI
- Pembangunan good governance dan birokrasi yang responsif
- Pencegahan penyalahgunaan makna diskresi oleh pemimpin
- Penjagaan hubungan yang sehat dan produktif antara Gubernur dan DPRD
- Peningkatan gaji dan kesejahteraan jajaran pemerintahan
- Pengurangan dana operasional Gubernur hingga 30%

PENEGAKKAN HUKUM DAN KEADILAN BAGI SEMUA
- Pemberantasan korupsi tanpa tebang pilih
- Pemberantasan kriminalitas kota
- Pemberantasan narkoba

PENINGKATAN PERTUMBUHAN EKONOMI, INVESTASI, DAN STABILISASI HARGA
(Sasaran Pertumbuhan 6,7%)
- Investasi termasuk pangan, energy, & air bersih
- Perbaikan penyerapan anggaran Jakarta yang rendah
- Menjaga daya beli rakyat
- Stabilisasi harga

PENINGKATAN KEAMANAN KOTA DAN KERUKUNAN WARGA
- Pemeliharaan keamanan lingkungan
- Neighbourhood Watch & Pemberdayaan Kelurahan, RW, & RT
- Pemeliharaan Toleransi dan kerukunan masyarakat



MENJADIKAN JAKARTA SEBAGAI KOTA PINTAR, KREATIF, & RAMAH LINGKUNGAN
- Penambahan transportasi publik & manajemen lalu lintas untuk kurangi kemacetan
- Pelayanan publik yang cepat, berkualitas, & murah
- Aplikasi ICT untuk pemerintahan, jasa, bisnis, & pendidikan
- Pengembangan industri kreatif dengan daya inovasi tinggi
- Tata ruang sehat yang sehat, ramah lingkungan, ramah rakyat, & ramah pedagang kaki lima
- Pengelolaan sampah & konversi ke energi listrik
- Penggunaan bahan bakar gas untuk kendaraan
- Penguatan pemberdayaan pasukan oranye & peningkatan kesejahteraannya
- Peningkatan efektivitas upaya mengatasi banjir
- Pembangunan ruang terbuka hijau & prasarana olahraga & rekreasi
- Pengembangan wisata kota, zona PKL, & kesenian, kerajinan & kuliner Betawi
- Penghijauan & penanaman 5 juta pohon

PENINGKATAN KESEHATAN
- Peningkatan besaran KJS
- Pembebasan bayaran BPJS layanan kategori kelas 3
- Penambahan Puskesmas, Posyandu, & fasilitas rawat inap puskesmas
- Penambahan mobil ambulans
- Pengadaan motor ambulans

PENGURANGAN PENGANGGURAN DAN PENCIPTAAN LAPANGAN KERJA
(anggaran tambahan Rp 10 Triliun)
- Pelatihan kerja & kewirausahaan
- Bantuan dana bergulir
- Pengembangan Koperasi dan UMKM
- Pengembangan ekonomi berbasis komunitas


Tambahan Program:
1 Milyar untuk pemberdayaan komunitas RT/RW

November 16, 2016

Iang: Halo 2016!

November 16, 2016 08:06 PM

Yap, ini udah bulan November dan ini adalah postingan pertama di tahun 2016 ini xD

mulai nulis lagi? we’ll see.. 😀

November 14, 2016

Tya: When there were no camera

November 14, 2016 09:25 PM

Duluuuu....

Ketika jalan2 dengan keluarga di anyer, saya pernah lihat fenomena halo bulan di tepi pantai di malam bulan purnama.. Seriously, its really beautiful... I just can say Subhanallah, indah banget....
Just it...
Saat itu saya gak punya kamera, masih kuliah... Saat itu juga kamera masih pake kamera film yoo.. Pake klise..

Terus suatu waktu pulang sekolah SMA apa kuliah gitu, malam setelah maghrib, turun dari angkot jalan kaki terus pas lihat ke atas, subhanallah saya lihat bulan indah banget, besar, terang, dengan awan2 sekitarnya, bintang gemerlapan... Dan I really enjoy it.. Every steps of my walk to go home i just look at the sky sambil mengucap Subhanallah...

Dan itu 2x terjadi... Entah itu supermoon atau bukan... Gak pernah nanya2 juga... Belum kenal google dulu kan..

Suatu waktu di kostan di depok... Dulu langit masih asiik utk dilihat memang, jadi saya sering duduk di jendela lihat kumpulan gugus2 bintang... Itu bikin hati tentram bangettt...

Hal yang langka bisa dilihat sekarang2 ini karena polusi cahaya...

Dan membuat garis di langit sambil menebak nama rasi bintang seperti di buku IPA adalah hal favorit saya... Itu yang membuat saya bercita2 jadi astronot hehe

Kemudian ini ingatan masa kecil saya yang paling menakjubkan... Inget gak siih kalau kita gambar matahari waktu kecil gimana? Yapp bikin lingkaran besar, terus ada garis2 sinar dari matahari ke luar...
Daaan saya pernah lihat ituu saat min di kebon belakang rumah sendirian. Matahari dengan pendaran cahaya berwarna warni... Indaah sekaliii...

Dan hari ini ada fenomena supermoon... Saya berkali bolak balik lihat ke luar... Tapi ukuran bulan tidak sebesar yang saya harapkan.. Memang lebih besar, tapi tidak sebesar harapan saya hehe

Dan sejujurnya, saya niat banget mau foto supermoon ini.. Tapi apalah daya udah malam gee... Saatnya kelonin baby... Hehe

Tapi saya jadi mikir, dulu apa yang kita lihat, kita rasakan, kita nikmati, semuanya kita hanya lihat, enjoy, rekam di otak sebagai memori berharga yang bisa kita ceritakan suatu saat nanti... Suatu yang kita lihat sambil tafakur, merenung, dan tentunya mengucap Maha Suci Allah Sang Pencipta Alam semesta...

Jadi, apa kesimpulan tulisan ini?
Entah haha

Selamat malam :)

Ini foto kiriman keponakan saya di depan rumahnya di pondok gede

posted from Bloggeroid

November 11, 2016

JePe: Make Drumpf Great Again

November 11, 2016 08:28 PM


People were shocked when they found out that Donald Trump was winning the 2016 election. They couldn't believe what was happening. As of this writing, there are still people marching against this.

Many of the US people neglected their right to vote. Considering election day in their country not a holiday, which is ridiculous, I too can't blame them for that. Someone needs to put food on the table.

The most shocked people were the political comedians. You could check their Youtube accounts. Some of them might looked like having trouble to go to sleep. They all are rooting for Democratic candidate, Clinton. Funny, thought, John Oliver admits that he might be suggesting some people to vote for Trump just for fun. Well, you could see how many celebrities reacted.

Why did Trump wins? I don't want to speculate for any conspiracies, but I am interested in knowing how Trump can win elections. This is a blog entry that sums my finding so I think I want to relax my writing by not citing here and there. If you find such, you could google them yourself or ask me in the comment. I might provide the link.

The Electoral College

I'm not an expert of other's complex political system. An article in this site would be more eligible explaining how the election works. In the end, Clinton winning the popular vote, but Trump winning the Electoral College

Electoral College is an interesting and funny concept. Each state has their own number of electors that represented them to vote for the president. The parties is responsible to bring their elector candidates.

Later, the US citizens vote for them. Yeah, they vote not the president, but the electors. Many of the states have the system of winner takes them all. It means, when your party elector got the majority, they would take all of the elector seats available in that particular state.

Conquering The Millenials

Democrat had its luck winning Obama by using Millenials. They had effectively using social media to elevate Obama. Many young US citizens who were eligible come and vote in the election day. They provided mouth-to-mouth campaign and awareness to their surrounding. At that time, Obama even defeated Clinton for presidential candidate using social media.

No Bernie Sanders, No Vote

It seems in 2016, Clinton again stumbled upon social media. When her team used many of the popular celebrities, she failed at one thing:

She did not communicate well why she won over Sanders. The millenials are very fond of Socialism over Capitalism that was offered by Sanders. She did not do justice by winning over him. Some people accused that she won by rigging things up. Some supporters of Bernie Sanders decided not to vote her if she ever winning.

See, a demography that won Obama which have overflowing access of Internet was taking their tantrum quietely for Clinton. Her team seems didn't even consider Sanders as a threat.
They might be not knowing that Sanders is a popular vote for the Millenials. Their polls might represented their contituents, but young voters didn't bother themselves for party.

If I must assumed, they took their data from Democratic conventions, but Sanders was a vote from third kind. A kind of people that don't bother themselves to go to the national conventions. They aren't affiliated with any of the party. This failing of capturing data from this third kind failed Clinton.

Emails

Millenials ain't no fool! Why would they vote for Clinton? If there is no better between Trump and Clinton, why would they choose either?

Wikileaks entry about Clinton dropped her popularity. Given that she had already had a big allegation of being a war criminal, she also must take the leak of her personal emails by Wikileaks.

Not enough with Wikileaks, on Friday she got FBI investigation. Because of this, Clinton had another blow to her trustworthy. She became more untrustworthy.

The SBY Effect

In 2004, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) won Indonesian election by defeating Megawati. His strategy was clear: 

making him a soap opera protagonist.

At that time, he was accused by Megawati neglecting his duty by campaigning while he was in active duty as a Minister. He took that accusation public and made his demeanor like a person that get bullied. Boom! The public sided with him.

I don't have any sites (that not bias) to call about this. But, from what I've been following in the news and his speeches recorded in Youtube, I can see that Donald Trump also making that call. He's positioning himself as a normal person bullied by the mass media and the elites.

Then, like the 2004 Indonesian election when the economy was still recovering, Donald Trump took issues of many middle-class workers (which is the most of US citizens that go to vote) and turned it into his argument that he would tackle those issues, thus "Make America Great Again".

Such issues like:
  • The immigrants was pitched as one of the major cause of job lost.
  • The failing of Obama and the notion that his government only helped the rich (bailout).
  • The war was burdening America and Clinton was part of that.
  • etc.
The point is, they are emotionally representated by Trump. It might be untrue, but they were representated by it. Trump becomes the champion of the marginal people.

My Prediction

From what of my understanding, Trump is almost in bankruptcy. I think his strategy might be similar to SBY. He would try his best to make everyone happy. He would be accomodative to many factions and interest groups while benefitting from that. He'll be glad to be a puppy of others as long as his assets are growing.

Usually, Indonesia mirroring the US. Things happened in the US first and then the pattern happened in Indonesia. But, this time I can assure you that the position is reversed. I feel weirdly proud of that. ;-(

Oh, well....

Apaan si? Apaan si? ™

Planet CSUI02 adalah tempat berkumpulnya blog-blog milik anak-anak Fasilkom 2002.

Potret

www.flickr.com
items in CSUI02 More in CSUI02 pool

Terakhir Mendarat

July 29, 2017 11:05 AM

Sindikasi